Cemas Melihat Kerusakan Lingkungan? Kenali Eco-anxiety dan Cara Mengatasinya

Ilustrasi media sosial dan kesehatan mental
Share

digitalMamaID — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla), banjir, cuaca ekstrem, hingga kerusakan habitat satwa mengancam kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Paparan berita tentang kerusakan lingkungan juga dapat memicu kecemasan terhadap masa depan bumi. Kecemasan ini dikenal sebagai eco-anxiety.

Psikolog Cahaya Afriani Napitupulu menjelaskan, kerusakan lingkungan dapat memengaruhi kesehatan mental, mulai dari memicu kecemasan dan kekhawatiran berlebih hingga trauma akibat pengalaman menghadapi bencana. Dampak tersebut dapat dirasakan oleh orang yang mengalami bencana secara langsung maupun mereka yang menyaksikannya dari jauh.

Pengalaman menghadapi banjir atau karhutla, misalnya, dapat meninggalkan tekanan psikologis. Sementara itu, paparan berita tentang kerusakan hutan dan bencana yang berulang dapat memunculkan kekhawatiran terhadap kondisi lingkungan dan masa depan.

Kerusakan lingkungan juga dapat berdampak pada kondisi fisik. Asap karhutla, misalnya, dapat mengganggu pernapasan. Di sisi lain, kekhawatiran terhadap bencana dan perubahan kondisi lingkungan dapat membebani pikiran seseorang.

Mengenal eco-anxiety dan bedanya dengan kekhawatiran biasa

Eco-anxiety merupakan kecemasan yang berkaitan dengan kekhawatiran terhadap kondisi lingkungan dan masa depannya. Perasaan ini dapat muncul ketika seseorang memikirkan kerusakan hutan, perubahan iklim, hilangnya habitat satwa, atau merasa tidak berdaya menghadapi persoalan lingkungan.

Menurut Cahaya, perbedaan antara kekhawatiran yang masih wajar dan kecemasan yang mulai mengganggu dapat dilihat dari lamanya berlangsung, tingkat keparahan, serta dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari. “Bedanya bisa dilihat dari kekronisannya, kemudian tingkat dampaknya terhadap keseharian, dan dari tingkat keparahan,” ujar Cahaya pada digitalMamaID, Rabu, 28 Oktober 2026.

Seseorang dapat merasa sedih atau marah ketika melihat hutan terbakar. Perasaan tersebut merupakan respon yang dapat dipahami ketika seseorang menyadari kerusakan yang terjadi. Namun, jika kekhawatiran terus berulang, sulit dikendalikan, dan mengganggu aktivitas, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian lebih lanjut.

Cahaya menambahkan, pengalaman menghadapi bencana bukan satu-satunya hal yang dapat memengaruhi kondisi psikologis. Seseorang yang tinggal jauh dari lokasi karhutla atau banjir pun dapat merasa cemas setelah berulang kali melihat berita dan konten media sosial tentang kerusakan lingkungan.

Paparan informasi yang terus-menerus dapat membuat seseorang memikirkan berbagai kemungkinan buruk, mulai dari bencana yang semakin sering terjadi hingga masa depan lingkungan yang terasa tidak menentu. “Seseorang yang tidak terdampak langsung bisa saja kalau misalnya dia banyak melihat berita, kemudian dia tidak bisa mengendalikan pikirannya, artinya menjadi sebuah kecemasan yang sangat dalam,” ujarnya.

Respons setiap orang terhadap informasi lingkungan memang berbeda. Ada yang dapat mengikuti perkembangan berita tanpa merasa terlalu terbebani, tetapi ada pula yang terus memikirkannya hingga kesulitan beristirahat atau berkonsentrasi. Mengenali pengaruh informasi terhadap kondisi diri menjadi langkah penting. Kepedulian terhadap lingkungan tetap dapat dijaga tanpa harus mengikuti setiap berita atau konten yang muncul sepanjang hari.

Kenali tanda kecemasan yang mulai mengganggu

Kekhawatiran terhadap lingkungan perlu mendapat perhatian ketika mulai memengaruhi aktivitas sehari-hari. Kecemasan yang berat dapat disertai keluhan emosional maupun fisik.

Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Gangguan tidur. Kesulitan tidur karena terus memikirkan kondisi lingkungan atau kemungkinan terjadinya bencana.
  • Kesulitan berkonsentrasi. Pikiran tentang kerusakan lingkungan mengganggu pekerjaan, kegiatan belajar, atau aktivitas sehari-hari.
  • Ketakutan berlebihan. Rasa takut dan cemas muncul begitu kuat hingga sulit dikendalikan.
  • Keluhan fisik. Kecemasan dapat disertai jantung berdebar, tangan berkeringat atau gemetar, sakit kepala, hingga mual.

Gejala tersebut tidak serta-merta menunjukkan eco-anxiety. Tingkat keparahan, frekuensi, dan dampaknya terhadap aktivitas sehari-hari perlu diperhatikan. Jika kecemasan mulai mengganggu pekerjaan, kegiatan belajar, atau kemampuan berkonsentrasi, hingga memunculkan ketakutan berlebihan, seseorang perlu mencari bantuan profesional.

“Kalau misalnya itu memang mengganggu aktivitas, mengganggu pekerjaan, mengganggu sekolah, nggak bisa belajar, nggak bisa fokus, ketakutan luar biasa, kecemasan luar biasa, nah, itu harus mencari bantuan,” jelas Cahaya.

Cara mengelola eco-anxiety tanpa mengabaikan lingkungan

Cahaya menyarankan agar seseorang mengelola pikiran dan emosi ketika kekhawatiran terhadap lingkungan mulai membebani. Salah satu langkah yang dapat dilakukan ialah mengatur paparan informasi dan mengenali batas kemampuan diri.

Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan:

  1. Batasi paparan berita dan media sosial. Atur waktu untuk membaca berita tentang bencana dan kerusakan lingkungan. Jika konten tertentu terus memicu kecemasan, seseorang dapat membisukan akun atau mengurangi paparan sementara.
  2. Kenali dan atur emosi. Sadari perasaan yang muncul ketika melihat kerusakan lingkungan. Beri diri sendiri waktu untuk beristirahat ketika pikiran terasa penuh, tanpa menganggap bahwa jeda berarti mengabaikan persoalan.
  3. Bicarakan perasaan dengan orang tepercaya. Berbagi cerita kepada keluarga atau teman dapat menjadi salah satu cara menghadapi kecemasan. Jika kecemasan semakin berat atau mengganggu keseharian, pertimbangkan untuk mencari bantuan profesional.
  1. Pilih informasi yang bermanfaat. Selain mengikuti kabar tentang kerusakan lingkungan, cari informasi praktis yang dibutuhkan. Bagi warga di wilayah terdampak karhutla, misalnya, informasi tentang keselamatan, lokasi aman, dan akses bantuan dapat lebih bermanfaat.

Cahaya mengingatkan, membatasi paparan informasi bukan berarti seseorang tidak peduli terhadap lingkungan. “Ketika kita membuat batasan, bukan berarti kita tidak peduli. Bentuk kepedulian itu kan bentuknya macam-macam,” katanya.

Dengan mengatur paparan informasi dan memilih tindakan yang realistis, seseorang tetap dapat mengikuti persoalan lingkungan sekaligus memberi ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat.

Bagaimana mendampingi orang yang mengalami kecemasan?

Keluarga dan teman juga memiliki peran ketika seseorang merasa cemas terhadap kerusakan lingkungan. Dukungan dapat dimulai dengan mendengarkan ceritanya dan tidak meremehkan perasaan yang sedang dialami. Cahaya mengingatkan bahwa respon yang merendahkan dapat membuat seseorang merasa tidak dipahami. Orang terdekat perlu memberikan ruang untuk bercerita tanpa langsung menghakimi atau menganggap kekhawatirannya berlebihan.

Beberapa hal yang dapat dilakukan ketika mendampingi orang yang mengalami kecemasan antara lain:

  • Dengarkan tanpa meremehkan. Hindari respons yang menganggap kecemasan sebagai hal sepele atau menyuruhnya berhenti memikirkan persoalan lingkungan begitu saja.
  • Akui perasaannya. Berikan kesempatan untuk bercerita dan tunjukkan bahwa kekhawatirannya didengar.
  • Tawarkan dukungan yang realistis. Tanyakan dukungan apa yang dibutuhkan dan jangan memaksanya segera merasa lebih baik.
  • Bantu mencari pertolongan. Jika kecemasan mengganggu aktivitas sehari-hari atau terasa semakin berat, dukung dia untuk mencari bantuan profesional.

Cahaya menekankan pentingnya dukungan mental dari orang-orang terdekat. Kehadiran dan kesediaan mendengarkan dapat menjadi langkah awal untuk membantu seseorang menghadapi perasaannya. “Sebagai keluarga atau sebagai teman yang baik, kita jangan meremehkan. Jadi, dukungan secara mental itu harus penuh,” jelasnya.

Mengubah kecemasan menjadi tindakan sesuai kemampuan

Kepedulian terhadap lingkungan juga dapat disalurkan melalui tindakan nyata. Cahaya menyarankan agar setiap orang mengenali kemampuan dan keahlian masing-masing untuk menentukan bentuk kontribusi yang realistis. Namun, dia juga mengingatkan, persoalan lingkungan memiliki cakupan luas dan tidak semuanya dapat diselesaikan oleh individu.

“Seseorang mungkin merasa khawatir terhadap kerusakan hutan dan dampaknya bagi kehidupan, tetapi tidak memiliki kuasa untuk menentukan kebijakan lingkungan. Kondisi ini dapat memunculkan perasaan tidak berdaya,” tambahnya.

Berikut beberapa cara menyalurkan kepedulian terhadap lingkungan:

  1. Menyebarkan informasi yang akurat. Penulis, pekerja media, juga pemengaruh dapat menyampaikan informasi tentang kerusakan lingkungan, dampak bencana, serta upaya perlindungan alam. Informasi yang tepat membantu masyarakat memahami persoalan dan mengetahui cara berkontribusi.
  2. Memberikan edukasi sesuai keahlian. Pendidik dan komunitas literasi dapat mengenalkan persoalan lingkungan melalui buku cerita, kegiatan membaca, atau aktivitas edukatif lainnya. Setiap profesi memiliki ruang untuk membantu meningkatkan pengetahuan masyarakat.
  3. Berpartisipasi sesuai kemampuan. Masyarakat dapat membantu warga terdampak, berdonasi sesuai kapasitas, menjadi relawan, atau mendukung kegiatan pemulihan lingkungan. Pilih bentuk keterlibatan yang sesuai dengan kondisi kesehatan, waktu, dan kemampuan diri.
  4. Menyampaikan aspirasi kepada pemerintah. Masyarakat dapat menyampaikan pengalaman, kebutuhan, dan masukan kepada pembuat kebijakan. Langkah ini penting agar penanganan kerusakan lingkungan mempertimbangkan kondisi warga di lapangan.

“Kita perlu mengupayakan kekhawatiran kita berubah menjadi tindakan positif sesuai dengan kemampuan dan keahlian masing-masing,” ujar Cahaya.

Peran komunitas dan pemerintah

Komunitas dapat menjadi ruang untuk berbagi informasi, memperluas pengetahuan, dan mengajak masyarakat terlibat dalam upaya menjaga lingkungan. Namun, tanggung jawab menangani persoalan lingkungan tidak dapat dibebankan kepada individu dan komunitas saja.

Menurut Cahaya, pemerintah perlu mendengarkan masukan para ahli dan masyarakat, termasuk warga yang mengalami langsung dampak kerusakan lingkungan. Penanganan bencana juga perlu mencakup pencegahan, mitigasi, dan pemulihan pascabencana.

Evaluasi terhadap penyebab bencana dan upaya pencegahan yang belum berjalan diperlukan untuk mengurangi risiko kejadian serupa. Dengan begitu, kepedulian masyarakat dapat berjalan beriringan dengan langkah nyata dari pemerintah.

Cahaya menegaskan, menjaga lingkungan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, tidak terbatas pada relawan atau orang yang memiliki keahlian khusus di bidang lingkungan. “Semua punya peran,” ujarnya. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE