digitalMamaID – Indonesia memiliki bentang alam yang beragam, sekaligus menyimpan berbagai potensi bencana. Gempa bumi, banjir, letusan gunung api, hingga kebakaran hutan dan lahan dapat terjadi di berbagai wilayah. Anak-anak pun tumbuh di tengah lingkungan yang memiliki beragam risiko tersebut.
Kesiapsiagaan perlu dikenalkan sejak dini. Percakapannya bisa dimulai dari sesuatu yang dekat dengan dunia anak. Salah satunya melalui buku cerita. Buku bisa menjadi sarana berdiskusi dengan anak.
Mama dapat menanyakan apa yang anak pikirkan atau rasakan, lalu mengikuti arah percakapan sesuai rasa ingin tahu dan kesiapannya.
Melalui buku cerita, anak dapat melihat situasi apa yang terjadi, bagaimana tokoh menghadapi kondisi tersebut, apa yang mereka rasakan, siapa yang membantu, dan bagaimana para tokohnya menjaga diri.
Berikut rekomendasi buku pilihan digitalMamaID yang bisa menjadi teman membaca bersama untuk mengenalkan beragam bencana kepada anak:
Ada Apa dengan Gugu
Penulis: Nindia Maya
Ilustrator: Evieriel N. Primadani
Penerbit: Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Gugu adalah gunung berapi yang menjadi tokoh dalam cerita. Melalui ilustrasi dan cerita sederhana, anak diajak mengenali tanda-tanda gunung akan meletus, seperti udara yang terasa panas, hewan-hewan yang gelisah, hingga perubahan yang terjadi di sekitar gunung.
Dengan alur yang ringan, buku ini bisa menjadi pilihan untuk anak yang baru mulai mengenal tema bencana. Setelah membaca, Mama dapat mengajak anak membicarakan apa yang terjadi pada Gugu dan bagaimana orang-orang di sekitarnya menjaga keselamatan. Bukunya dapat diakses secara digital melalui Repositori Kemendikdasmen. Baca di sini!
Saat Banjir Datang
Penulis: Witaru Emi
Ilustrator: Poppy Rahayu
Penerbit: The Asia Foundation – Let’s Read
Bagaimana dunia anak berubah ketika air mulai memenuhi lingkungan sekitar? Cerita ini mengenalkan banjir melalui imajinasi Banyu. Saat air mulai masuk, benda-benda di sekitarnya terlihat seperti berbagai hewan laut. Situasi yang membuat Banyu takut disampaikan dengan ringan dan imajinatif.
Buku ini bisa menjadi pintu masuk untuk membicarakan perasaan anak ketika menghadapi keadaan yang tidak biasa. Mama juga bisa mengajak anak melihat bagaimana tokoh mencari tempat yang aman dan menerima bantuan. Dapat diakses secara digital dan gratis melalui aplikasi Let’s Read. Baca di sini.
Smong, Si Raksasa Laut
Penulis: Maya Lestari
Ilustrator: Gilang Ayyoubi Hartanto
Penerbit: Bhuana Ilmu Populer (BIP)
Smong, Si Raksasa Laut mengajak anak mengenal tsunami melalui kisah Banta di sebuah desa di pinggir pantai. Suatu hari, Naga Smong yang selama ini tertidur di dasar laut terbangun. Penduduk desa panik dan berlari menuju bukit untuk menyelamatkan diri.
Namun, Banta memilih menghadapi Smong bersama seekor elang laut besar. Mampukah Banta membuat raksasa laut itu kembali tidur?
Lewat cerita yang memadukan imajinasi dan kearifan masyarakat pesisir, anak dapat mengenal ancaman tsunami. Selain itu juga memahami pentingnya mengenali tanda bahaya dan mencari tempat yang lebih tinggi saat gelombang besar datang.
Smong tersedia dalam bentuk buku fisik dan dapat diakses secara digital di Literacy Cloud. Baca di sini.
Teman Sejati
Penulis: Evi Indriani
Pengembang: Yayasan Literasi Anak Indonesia
Penerbit: PT Penerbitan Pelangi Indonesia
Teman Sejati mengajak anak mengikuti kisah Oro saat Gunung Sinabung erupsi dan penduduk kampung harus segera mengungsi. Di tengah situasi yang serba terburu-buru, Oro terpisah dari sahabatnya, Monang.
Oro kemudian berusaha mencari Monang di tengah suasana pengungsian. Akankah ia menemukan kembali teman sejatinya?
Melalui kisah persahabatan dan kepedulian, anak dapat mengenal pengalaman menghadapi bencana dengan cara yang dekat dengan dunia mereka.
Ceritanya juga dapat menjadi awal percakapan tentang perasaan ketika harus meninggalkan rumah, berpisah dengan orang yang dikenal, dan mencari tempat yang aman. Teman Sejati dapat diakses secara gratis melalui Literacy Cloud. Baca di sini.
Dongeng ala Mia
Penulis: Dian Onasis
Ilustrator: Novita Elisa Fahmi
Penerbit: ProVisi Education dan Room to Read
Ketika gempa terjadi di Lombok, Mia harus berada di tempat pengungsian. Di tengah keadaan yang berubah, dunia anak tetap diisi cerita dan imajinasi.
Kisah Mia dapat membantu anak melihat pengalaman pengungsian dari sudut pandang yang dekat dengan keseharian mereka. Mama bisa menggunakannya untuk membicarakan tempat aman setelah bencana terjadi, apa yang bisa dilakukan untuk membantu korban bencana, serta bagaimana keluarga saling menjaga ketika harus meninggalkan rumah sementara.
Mama bisa membaca Dongeng Ala Mia di perpustakaan anak terdekat atau cek di marketplace kesayangan, ya! Tersedia buku fisiknya.
Srinti
Penulis: Sofie Dewayani
Ilustrator: Cecillia Hidayat
Penerbit: Yayasan Litara
Srinti membawa pembaca mengikuti kisah dua anak setelah gempa Yogyakarta. Di tengah reruntuhan, mereka kehilangan anggota keluarga sekaligus menemukan sebuah boneka yang kemudian menemani mereka melewati masa kehilangan. Ceritanya disampaikan dengan lembut, tetapi menyentuh emosi yang cukup dalam.
Buku ini dapat dikenalkan ketika anak sudah cukup siap membicarakan kehilangan, kesedihan, dan perubahan. Mama bisa membacanya perlahan dan memberi ruang jika anak ingin bercerita tentang perasaannya sendiri.
Srinti dapat diakses dengan membaca buku fisiknya. Bisa cari di perpustakaan anak terdekat atau cek di marketplace jika ingin memilikinya.
Itam dan U
Penulis: Yovita Siswati
Ilustrator: Evi Shelvia
Penerbit: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi
Itam dan U berkisah tentang seorang anak yang kehilangan keluarga dan rumah setelah tsunami. Dalam kesendiriannya, Itam menemukan sebuah pohon kelapa yang kemudian ia beri nama U.
Lewat perjalanan Itam, pembaca diajak mengenal berbagai perasaan setelah kehilangan orang-orang yang disayanginya. Ada kesedihan dan penolakan, hingga perlahan Itam belajar menerima pertolongan dan menemukan cara untuk membantu orang lain.
Dengan tema kehilangan yang cukup kuat, buku ini lebih cocok dikenalkan kepada anak yang usianya lebih besar dan sudah mulai siap membicarakan emosi serta pengalaman yang tidak mudah. Mama bisa mendampinginya saat membaca dan banyak memberi ruang untuk menyampaikan perasaan anak.
Itam dan U dapat diakses gratis dalam bentuk digital melalui Literacy Cloud. Baca di sini.
Hikayat Negeri Cincin Api
Penulis: Isyani
Penerbit: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
Hikayat Negeri Cincin Api mengajak anak mengenal Indonesia sebagai negeri yang berada di kawasan Cincin Api, tempat gunung api aktif dan gempa bumi menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Lewat buku ini, pembaca diajak melihat bagaimana kondisi alam turut membentuk kehidupan dan budaya masyarakat Indonesia. Mulai dari rumah adat yang dirancang untuk menghadapi gempa hingga tradisi yang tumbuh dari kedekatan masyarakat dengan gunung api.
Buku ini cocok untuk anak yang mulai tertarik memahami mengapa Indonesia memiliki banyak gunung api dan gempa bumi. Setelah membaca, Mama bisa mengajak anak melihat peta Indonesia, mencari letak gunung api, atau mengenali bagaimana kondisi alam di sekitar tempat tinggal mereka memengaruhi kehidupan sehari-hari.
Memilih buku sesuai kesiapan anak
Mama mungkin menemukan rekomendasi buku yang mencantumkan rentang usia tertentu. Namun, angka usia bukan satu-satunya pertimbangan ketika memilih bacaan tentang bencana. Perhatikan pula pengalaman, minat, kemampuan mengikuti cerita, dan kesiapan anak dalam memahami tema.
Anak yang baru mengenal bencana bisa lebih nyaman dengan cerita sederhana dan ilustrasi yang kuat. Sementara itu, anak yang sudah lebih terbiasa membaca cerita dengan konflik dapat mulai dikenalkan pada kisah tentang pengungsian, perubahan, kehilangan, atau proses pemulihan.
Respons anak selama membaca juga bisa menjadi petunjuk. Apakah ia tertarik bertanya? Apakah ia ingin mengetahui kelanjutan cerita? Apakah ia nyaman membicarakan tokoh dan peristiwa dalam buku setelah cerita selesai?
Jika anak terlihat takut atau tidak nyaman, Mama tidak perlu memaksakan cerita sampai selesai. Buku bisa ditutup dan dibicarakan kembali pada kesempatan lain ketika anak sudah lebih siap.
Lanjutkan dengan percakapan
Membaca buku tentang bencana dapat menjadi awal percakapan bersama anak. Mama bisa mengajak anak membicarakan apa yang dialami tokoh, bagaimana perasaannya, dan apa yang dilakukan untuk menjaga keselamatan.
Save the Children melalui Reading to Ready Booklist menggunakan buku cerita sesuai usia sebagai salah satu cara mengenalkan kesiapsiagaan bencana kepada anak melalui tokoh dan cerita.
Percakapan bisa dimulai dari hal-hal yang ada di dalam cerita. Mama tidak perlu langsung memberikan penjelasan tentang bencana. Ajak anak melihat apa yang dialami tokoh dan bagaimana ia menghadapi situasi tersebut.
Misalnya:
“Menurutmu, kenapa tokoh itu melakukan hal tersebut?”
“Kalau kamu ada di sana, siapa yang akan kamu cari?”
“Apa yang membuat tokoh itu merasa aman?”
Jawaban anak bisa menjadi pintu untuk melanjutkan percakapan. Mama dapat mengajak anak menghubungkan cerita dengan hal-hal yang dekat dengan kehidupan keluarga. Misalnya, siapa yang harus dihubungi saat keadaan darurat, ke mana keluarga akan pergi jika harus meninggalkan rumah, atau di mana tempat berkumpul keluarga.
Dari sini, Mama bisa mulai mengenalkan mitigasi dan kesiapsiagaan bencana melalui kegiatan sederhana. Ajak anak mengenali bahaya di sekitar rumah, mengetahui jalur keluar yang aman, mengenal titik kumpul, dan memahami apa yang perlu dilakukan ketika terjadi bencana.
Kegiatan juga bisa disesuaikan dengan usia anak. Anak yang lebih kecil dapat diajak mengenali tempat aman dan orang yang bisa dimintai pertolongan. Anak yang lebih besar dapat dilibatkan dalam membuat rencana keluarga, menyiapkan tas siaga, atau berlatih jalur evakuasi.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana melalui Panduan Kesiapsiagaan Bencana untuk Keluarga mengajak keluarga mengenali ancaman di sekitar tempat tinggal, melakukan langkah mitigasi, dan menyusun rencana kesiapsiagaan.
Buku panduan kesiapsiagaan ini juga dapat menjadi bahan bacaan bagi Mama dan keluarga untuk mempelajari langkah-langkah yang bisa dilakukan sebelum, saat, dan setelah bencana.
Dengan cara ini, buku cerita menjadi pintu masuk untuk mengenal bencana dengan lebih dekat. Anak belajar memahami perasaan, mengenali lingkungan, tahu kapan dan kepada siapa meminta pertolongan, serta mengetahui langkah sederhana untuk menjaga diri.
Melalui buku cerita dan diskusi bersama keluarga, perlahan anak belajar bahwa bencana memang bisa terjadi, tetapi ada hal-hal yang dapat dipelajari dan dipersiapkan bersama. [*]













