FOMO, FOBO, FODA: Tiga Fase Kecemasan yang Perlu Mama Kenali di Era Digital

Ilustrasi FOMO FOBO FODA
Share

digitalMamaID – Pernahkah Mama merasa terus-menerus mengejar sesuatu karena takut ketinggalan, lalu begitu berhasil mendapatkannya, rasa puas itu ternyata tidak bertahan lama? Fenomena ini bukan sekadar perasaan sesaat, melainkan sebuah siklus psikologis yang kini banyak dikaji para peneliti generasi. Siklus itu adalah FOMO, FOBO, hingga FODA.

Ketiga istilah ini mencuat dalam podcast Raditya Dika bersama Dr. Muhammad Faisal pada 13 Juli 2026 lalu. Faisal adalah peneliti kajian generasi sekaligus penulis buku “Kembali ke Akar” dan “Filsafat Kecemasan” sekaligus founder Youth Laboratory Indonesia, sebuah lembaga independen yang berfokus pada perilaku, budaya dan tren anak muda Indonesia.

Menurut Faisal, ketiga istilah tadi bukan tiga fenomena terpisah. Akan tetapi, rangkaian tahapan yang saling berkaitan dan kini semakin nyata dialami banyak orang, termasuk anak-anak muda dan keluarga digital.

FOMO: Memilih karena takut, bukan karena ingin

Dibanding dua istilah lainnya, FOMO sudah lebih dulu akrab di telinga Mama. Istilah ini cukup sering muncul di media sosial maupun obrolan sehari-hari, terutama untuk menggambarkan rasa cemas ketika merasa tertinggal dari tren atau pencapaian orang lain. Namun, menurut Faisal, FOMO sebenarnya hanyalah titik awal dari sebuah siklus yang lebih panjang.

Fear of Missing Out atau FOMO adalah kondisi ketika seseorang membuat pilihan bukan berdasarkan keinginan otentik, melainkan karena rasa takut tertinggal dari orang lain. Menurut Faisal, pola pilihan semacam ini kini menjadi kajian tersendiri karena dampaknya terhadap kesejahteraan psikologis.

“Kita memilih sesuatu based on fear, itu enggak bagus,” ujar Faisal dalam podcast tersebut.

Ia menjelaskan, FOMO erat kaitannya dengan kebiasaan membandingkan diri di media sosial. Ketika linimasa kita dipenuhi pencapaian, gaya hidup, atau momen orang lain, muncul dorongan untuk terus mengejar hal yang sama agar tidak merasa “tertinggal”.

Fenomena ini bukan sekadar anggapan. Penelitian Kaloeti dkk. (2021) menemukan, sekitar 64,6 persen remaja di Indonesia mengalami FOMO akibat penggunaan media sosial, dengan dampak berupa kecemasan, stres, hingga ketidakpuasan sosial meski merasa terus “terhubung” secara digital.

Istilah FOMO sendiri, bersama FOBO, pertama kali dipopulerkan oleh penulis dan mantan investor asal Amerika Serikat, Patrick J. McGinnis, pada 2004. Ia kemudian menambahkan istilah FODA untuk menggambarkan tahap lanjutan ketika kedua kecemasan itu berujung pada kelumpuhan dalam mengambil keputusan.

FOBO: Ketika kepuasan selalu terasa singkat

Setelah berhasil mendapatkan sesuatu yang dikejar karena FOMO, banyak orang berharap muncul rasa lega. Namun menurut Faisal, kepuasan itu justru sering kali tidak bertahan lama. Fase inilah yang disebut FOBO, atau Fear of Better Option.

Faisal menjelaskan, begitu seseorang mendapatkan apa yang diinginkan, ia cenderung kembali mencari perbandingan, apakah ada opsi lain yang lebih baik. Media sosial mempermudah proses ini karena selalu menyajikan pencapaian atau pilihan lain yang tampak lebih menarik.

“’Ternyata setelah gua browsing, ada orang yang akhirnya achieve sesuatu yang lebih hebat dari gua’. Jadi senangnya cuma pendek, enggak awet,” kata Faisal.

Pola ini membuat rasa puas menjadi sesuatu yang sulit dicapai secara utuh, karena selalu ada pembanding baru yang muncul.

FODA: Ketika rasa lelah berubah jadi keengganan bertindak

Jika siklus FOMO dan FOBO terus berulang tanpa jeda, menurut Faisal, dampaknya bisa berkembang menjadi Fear of Doing Anything atau FODA. Pada tahap ini, seseorang mengalami semacam learned helplessness, yaitu kondisi psikologis ketika seseorang merasa usahanya tidak lagi berarti, sehingga memilih untuk berhenti mencoba sama sekali.

“Gua enggak senang-senang, akhirnya gua helpless. Ya udah, gua enggak memutuskan, di rumah rebahan aja,” jelas Faisal menggambarkan fase ini.

Ia mencontohkan fenomena serupa yang terjadi di Tiongkok, di mana sebagian anak muda memilih menarik diri dari aktivitas dan tekanan produktivitas, hingga pemerintah setempat turun tangan merespons gejala tersebut.

Contoh ini merujuk pada fenomena tang ping atau “lying flat”, tren yang mulai populer di Tiongkok sejak 2021 sebagai bentuk penolakan generasi muda terhadap budaya kerja berjam-jam dan tekanan sosial untuk terus mencapai standar hidup tertentu, seperti bekerja, menikah, hingga membeli rumah. Fenomena ini dianggap cukup meresahkan pemerintah Tiongkok karena berdampak pada tenaga kerja dan konsumsi domestik, sehingga sempat mendapat sorotan resmi dari otoritas setempat.

Krisis makna

Menurut Faisal, ketiga fase ini pada dasarnya berakar dari satu persoalan yang sama, yakni hilangnya makna atau meaning. Ia menilai, di tengah derasnya arus media sosial, hampir semua hal bisa “dimaknai” lewat perbandingan sosial, mulai dari pencapaian, gaya hidup, hingga hubungan personal. Namun semakin banyak hal yang dibandingkan, semakin sulit pula seseorang menemukan makna yang benar-benar personal dan tidak bergantung pada validasi orang lain.

Bagi Mama yang sehari-hari berinteraksi dengan anak remaja atau turut aktif di media sosial, memahami tiga fase ini bisa menjadi bekal penting. Bukan hanya untuk mengenali pola pikir sendiri, tetapi juga untuk lebih peka terhadap tanda-tanda serupa yang mungkin dialami anak, terutama di tengah tekanan media sosial yang semakin sulit dihindari dalam keseharian. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE