digitalMamaID – Bau sangit menyambut pagi di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Minggu, 30 Agustus 2026. Langit tak lagi biru, melainkan putih keabuan di bawah selimut asap yang perlahan menebal.
Di berbagai ruas jalan, asap menyelimuti pandangan hingga jarak pandang semakin terbatas. Menjelang tengah hari, matahari tampak oranye kemerahan dan redup di balik kepulan asap. Langit berubah kekuningan seiring asap yang kian pekat.
Partikel abu beterbangan dan menempel di berbagai permukaan. Tanaman, jalanan, kendaraan, hingga jemuran tak luput dari lapisan abu yang berukuran cukup besar. Sebagian abu bahkan menyusup melalui ventilasi dan terbawa masuk ke dalam rumah.
Masker yang dikenakan warga tak sepenuhnya mampu menghalau aroma khas asap. Bau sangit masih tercium. Mata terasa pedih dan tenggorokan ikut perih saat menghirup udara.

Kondisi tersebut mengganggu aktivitas warga. Sejumlah pengendara memilih mengurangi kecepatan karena jarak pandang yang terbatas, sementara warga lainnya berusaha membatasi aktivitas di luar rumah untuk menghindari paparan asap.
Kualitas udara memburuk
Kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang semakin pekat sejalan dengan memburuknya kualitas udara Palangka Raya. Berdasarkan pantauan aplikasi IQAir pada Minggu, 30 Agustus 2026 sekitar pukul 18.00 WIB, konsentrasi particulate matter (PM2.5) mencapai 867,4 mikrogram per meter kubik.
Angka tersebut masuk kategori berbahaya. Pada periode yang sama, konsentrasinya bahkan sempat mencapai 1.068,9 mikrogram per meter kubik. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menetapkan konsentrasi PM2.5 di atas 250,5 mikrogram per meter kubik sebagai kategori berbahaya.
PM2.5 merupakan partikel udara berukuran 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Ukurannya yang sangat halus memungkinkan partikel tersebut masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.
Situasi tersebut berlangsung di tengah meluasnya areal kebakaran hutan dan lahan. Berdasarkan data SIPONGI Kementerian Kehutanan, luas areal terbakar di Kalimantan Tengah sepanjang 2026 mencapai 7.634,46 hektare. Angka ini melonjak dibandingkan 2025 yang tercatat 4.803,99 hektare.
Asap mengubah keseharian
Sih Rahayu (47), ibu rumah tangga di Palangka Raya, mengatakan dampak asap mulai terasa sejak awal Agustus. Memasuki pekan kedua, kondisi udara mulai mengganggu pernapasan. Aktivitas keluarganya di luar rumah pun dikurangi, termasuk jalan-jalan, olahraga, dan menghadiri kegiatan di ruang terbuka.
“Banyak yang berubah karena asap. Aktivitas di luar hanya untuk yang penting saja. Sekolah melalui Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), anak-anak bermain di rumah, aktivitas lain daring juga seperti kajian dan pertemuan lain,” ujar Rahayu saat diwawancarai digitalMamaID, Jumat, 29 Agustus 2026.
Asap yang masuk ke dalam rumah membuat pekerjaan domestik bertambah. Partikel abu yang menempel di berbagai permukaan membuat keluarganya lebih sering membersihkan rumah.
“Pemakaian listrik juga jadinya bertambah karena banyak menggunakan air untuk menyirami halaman, menyalakan AC dan kipas setiap hari,” ujarnya.

Perlindungan terhadap keluarga Rahayu sejauh ini masih dilakukan secara mandiri. Mulai dari menggunakan masker ketika keluar rumah hingga menjaga asupan air putih dan konsumsi buah-buahan.
“Kendalanya, semua pencegahan dan upaya untuk menjaga keluarga dari paparan asap dilakukan mandiri. Ini berat, apalagi kalau sampai tahap gangguan kesehatan, karena tidak ada bantuan dari pemerintah, misalnya bantuan masker, vitamin atau oksigen bagi kasus sesak napas berat,” katanya.
Rahayu mengaku mulai merasakan pusing, sesak, hingga mual. Sementara anak-anak harus beradaptasi dengan cara belajar baru dan ruang bermain yang semakin terbatas.
Tetap bekerja di tengah asap
Pengalaman lain dirasakan Dina Nur Safitri (25), pekerja swasta di Palangka Raya. Menurutnya, menghindari paparan asap tidak semudah membatasi aktivitas di luar rumah. Ia tetap harus bepergian menuju tempat kerja yang berjarak cukup jauh dari rumah.
Jika pada pekan sebelumnya bepergian tanpa masker masih memungkinkan, terutama pada pagi hari, kondisi berubah pada pekan ini. Asap semakin pekat hingga membuat dada terasa sesak meski sudah menggunakan masker.
“Minggu ini, kondisi kebakaran hutannya semakin meluas, bahkan dengan penggunaan masker pun rasanya tetap membuat sesak di dada,” ujarnya.
Dina tetap diwajibkan masuk kerja tepat waktu. Untuk mengurangi paparan asap, ia mengandalkan masker dan kacamata saat bepergian serta membawa obat-obatan untuk mengantisipasi flu dan batuk.
Di Pontianak, keluarga ikut membatasi aktivitas
Dampak kabut asap juga dirasakan keluarga di Pontianak, Kalimantan Barat. Tri Umiati (36), ibu rumah tangga, mengatakan kondisi udara dalam sepekan terakhir jauh lebih buruk.
“Sepekan ini kabut asap lebih tebal dari minggu-minggu sebelumnya. Tanggal 28 Agustus, langit Pontianak sempat menguning, mulai tengah hari sampai sore,” ujar Tri saat dihubungi digitalMamaID.
Tri dan keluarganya berusaha mengurangi paparan dengan membatasi aktivitas di luar rumah, menutup pintu dan jendela, serta menyalakan air conditioner dan air purifier. Masker dan kacamata digunakan ketika harus keluar rumah.
Sejauh ini, Tri mengatakan keluarganya belum mengalami gangguan kesehatan. Namun, ia mendapat informasi mengenai warga Pontianak yang mulai mengalami batuk dan sesak.
“Kalau kondisi asap dan udara buruk ini terus berlanjut, akan berpengaruh pada pernapasan, mata, dan kulit, terlebih rentan pada anak-anak. Apalagi, titik api mulai muncul di dekat permukiman dan pertokoan,” kata ibu dua anak ini.

Ketika asap terus terhirup
Melansir Antara News, Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Tjandra Yoga Aditama, mengatakan partikel PM2.5 dalam asap karhutla dapat masuk hingga alveolus, bagian terdalam paru-paru. Partikel tersebut juga dapat memicu peradangan dan dalam kondisi tertentu berdampak melalui peredaran darah.
Asap karhutla juga mengandung sejumlah senyawa kimia yang dapat membahayakan kesehatan apabila terhirup. Paparan asap dapat menyebabkan gangguan pernapasan dan meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), asma, serta gangguan kardiovaskular.
Mengurangi paparan
Menghindari paparan menjadi langkah utama selama kualitas udara memburuk. Tjandra menyarankan masyarakat di wilayah terdampak menghindari perjalanan yang tidak terlalu diperlukan. Jika harus keluar, warga dianjurkan menggunakan masker yang baik, bahkan respirator apabila harus berada di sekitar kawasan kebakaran.
Warga yang mengalami gangguan pernapasan atau nyeri dada setelah terpapar asap juga disarankan segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan. Bagi keluarga dengan anak, pembatasan aktivitas luar ruang menjadi semakin penting ketika asap terlihat pekat.
Aktivitas fisik seperti olahraga juga perlu dikurangi karena membuat frekuensi napas meningkat sehingga lebih banyak udara dan polutan masuk ke paru-paru.
Di dalam rumah, orangtua dapat menutup pintu dan jendela ketika konsentrasi asap dari luar meningkat serta menghindari sumber polusi tambahan seperti asap rokok dan pembakaran sampah.
Penggunaan air purifier dengan penyaring udara mekanis berdaya saring tinggi juga dapat menjadi perlindungan tambahan untuk membantu mengurangi konsentrasi partikel halus di dalam ruangan.
Api mendekati permukiman
Karhutla kali ini terasa semakin serius karena ancamannya tidak berhenti pada asap. Api mulai mendekati ruang hidup masyarakat. Dari pengalaman Rahayu, kebakaran lahan di Palangka Raya telah merembet hingga area permukiman.
Kondisi itu membuat warga menghadapi dua ancaman sekaligus, yaitu udara yang tercemar asap dan kemungkinan api menjangkau rumah.
“Jadi ancamannya bukan hanya dari asap, tapi juga dari api yang sulit untuk dipadamkan,” ungkap Rahayu.
Dina juga melihat kebakaran permukiman dan tempat usaha sebagai tanda bahwa situasi karhutla semakin serius. Menurutnya, dampak kebakaran tidak hanya dirasakan manusia, tetapi juga satwa liar yang kehilangan habitat.
“Banyak yang merasakan penderitaan, bukan manusia saja, satwa liar juga kena dampak yang serius,” tambahnya.
Perempuan dan anak paling terdampak
Pantau Gambut menilai kabut asap karhutla tidak hanya mengancam kesehatan, tetapi juga berdampak lebih berat pada perempuan dan anak.
Anak menjadi kelompok rentan karena sistem pernapasannya belum berkembang sempurna. Sementara perempuan menghadapi risiko kesehatan, termasuk gangguan kehamilan, sekaligus tambahan beban domestik selama krisis berlangsung.
Dalam siaran pers Pantau Gambut pada 20 Agustus 2026, Ketua Badan Eksekutif Komunitas Solidaritas Perempuan (SP) Mamut Menteng, Irene Natalia Lambung, menilai perempuan, khususnya perempuan adat di Kalimantan Tengah, belum ditempatkan sebagai subjek yang setara dalam upaya mitigasi krisis iklim.
“Solusi yang ada sekadar cuci tangan dan membiarkan perempuan menanggung dampak krisis secara mandiri,” tegas Irene.
Pantau Gambut mendesak pemerintah menghentikan kompromi atas nama pembangunan yang mengorbankan perlindungan ekosistem gambut. Di tengah kembali maraknya karhutla, lembaga ini meminta Menteri Pertanian dan Menteri Kehutanan segera mengevaluasi izin konversi lahan gambut oleh korporasi skala besar.
Pantau Gambut menilai tata kelola gambut perlu diarahkan pada perlindungan ekosistem sekaligus keselamatan masyarakat, terutama perempuan dan anak. [*]







4 thoughts on “Ketika Asap Kebakaran Hutan Masuk ke Ruang Hidup Warga”
Pingback: Ramai-ramai Adopsi Orangutan Saat Karhutla Kalimantan, Seberapa Besar Dampaknya? - digitalMamaID
Pingback: Membicarakan Bencana dengan Anak Tanpa Membuat Anak Ketakutan - digitalMamaID
Pingback: IBN Bangun Daya Kritis Warga Lewat Berbagi Keluh Kesah - digitalMamaID
Pingback: Asap Karhutla Ancam Pernapasan Anak, IDAI Anjurkan 8 Langkah Ini - digitalMamaID