Memutus Pola Asuh Negatif, Mama Butuh Buku Parenting Ini!

Buku parenting The Book You Wish Your Parents Had Read (Orang Tuamu Wajib Membaca Buku Ini, dan Anakmu Akan Senang Jika Kamu Melakukannya)

digitalMamaID – Pola asuh apa sih yang tepat untuk anak kita? Pertanyaan ini yang terus mendorong orang tua mencari referensi, salah satunya lewat buku parenting. The Book You Wish Your Parents Had Read (Orang Tuamu Wajib Membaca Buku Ini, dan Anakmu Akan Senang Jika Kamu Melakukannya) bisa menjadi pemandu menentukan pola asuh yang pas untuk anak kita.

Ketika saya berbicara yang keluar adalah ucapan ibu saya. Saat membaca kalimat itu, saya terdiam. Dheg! Ternyata ini jawaban atas pertanyaan saya sendiri. Kenapa setelah menjadi ibu, saya merasa makin mirip dengan ibu saya? Bahkan untuk hal-hal yang dulu saya tidak suka pun, saya secara tidak sadar telah menirunya.

Buku karya Philippa Perry seorang psikoterapis terkemuka dan penulis buku laris ini menitikkan perhatian pada masa lalu orang tua saat dibesarkan. Rupanya, hal itu sangat berpengaruh pada bagaimana orang tua membesarkan anaknya. Judul asli buku ini ialah “The Book You Wish Your Arents Had Read (and Your Children Will be Glad That You Did) yang kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Penerbit Renebook.

Memutus rantai pola asuh negatif

Kita sering mendengar, anak adalah peniru yang ulung. Semuanya terekam dalam benak anak. Saat menjadi orang tua, semua hal itu secara sadar dan tidak sadar menjadi referensi saat membesarkan anaknya. Pola asuh anak tak ubahnya seperti warisan yang diteruskan ke generasi berikutnya.

Jika pola asuh tersebut membuat anak merasa dicintai dan diinginkan, tentu semua itu tidak jadi soal. Tapi bagaimana jika sebaliknya? Hal-hal yang justru menyebabkan anak merasa tidak percaya diri, pesimisme, sikap defensif, dan ketakutan. “Kita hanyalah mata rantai dalam rantai yang terentang panjang selama berabad-abad entah hingga kapan,” tulis Philippa.

Tapi Mama, semua itu bisa diperbaiki. Sebagai orang tua, kita bisa membangun hubungan yang lebih baik dengan anak kita. Selain memahami anak-anak, kita juga perlu menoleh ke belakangan. Mencari akar mengapa kita bertindak seperti ini.

Dalam buku tersebut dicontohkan, ada orang tua yang merasa terganggu dengan anak-anaknya. Suara-suara yang ditimbulkan oleh anak-anak dianggap sebagai gangguan yang harus segera dibungkam. Ternyata, setelah ditelusuri ke belakang, saat kecil ia diperlakukan serupa di rumahnya. Bukan, bukan karena ia memiliki orang tua yang jahat. Akan tetapi, situasinya ketika itu ia lahir saat ayahnya sudah berusia lanjut. Ia tumbuh saat bersama ayah yang sakit keras. Maka ia harus berjalan dengan berjinjit. Jika ia membuat keributan ia akan mendapat masalah. Saat ia menjadi orang tua, hal serupa ia terapkan saat membesarkan anaknya.

Kesadaran untuk menoleh ke belakang, memahami masa lalunya, dan kesediaan untuk memperbaiki hubungan dengan anak menjadi sangat penting untuk memutus rantai pengasuhan. Kecemasan dan kekhawatiran yang terbentuk dari pola pengasuhan dari generasi sebelumnya tak perlu diwariskan pada anak kita.

Memvalidasi Perasaan

Hal menarik lain dari buku ini ialah soal pentingnya memvalidasi perasaan anak. Bagaimana cara orang tua mengelola perasaan dan naluri akan mempengaruhi cara bayi dan anak belajar mengelola perasaan mereka.

Dengan kata lain, kepekaan naluri itu merupakan hasil latihan sejak bayi dan kanak-kanak. Itu sebabnya, perasaan anak tidak boleh diabaikan, Mama! Saat ia takut, cemas, khawatir, marah, dan sebagainya, perasaan-perasaan itu perlu divalidasi. Jika tidak, akan berisiko menumpulkan nuraninya.

Jangan cengeng! Jangan lebay! Masa gitu aja enggak bisa, sih? Jangan konyol, ah! Enggak boleh sedih! Kata-kata seperti ini yang membuat perasaan anak dianggap tidak penting. Anak akan melatih untuk menekan emosinya dan mengabaikannya. Nalurinya jadi tidak terasah. Padahal, naluri itu bisa menjadi pemandu bagi anak menuju tempat yang aman. Kok bisa?

Di buku parenting ini diceritakan, seorang anak perempuan yang izin untuk berenang bersama teman-temannya. Belum lama, ia kembali ke rumah. Sang ibu bertanya, kenapa sudah pulang. Lalu, sang putri bercerita di sana ada laki-laki yang lebih besar darinya dan menjilati kaki mereka. Teman-temannya merasa itu sesuatu yang lucu, tetapi ia merasa risih. Itu sebabnya, ia memutuskan untuk pulang.

Nalurinya telah menyalakan alarm dalam dirinya dan mendorong membuat keputusan yang menyelamatkannya. Jika ia dilatih untuk terus mengabaikan perasaannya, alarm tanda bahaya tidak akan berbunyi. Itu sebabnya, memvalidasi perasaan sangat penting.

Jika Mama penyuka buku parenting yang berisi tips dan trik, hal-hal seperti itu tidak akan ditemukan di buku ini. Tapi, Mama akan membaca banyak pengalaman orang tua lain. Bagaimana mereka menghadapi persoalan dan memperbaikinya. Tentu ini sebuah kabar baik yang melegakan. Orang tua tidak dituntut untuk sempurna. Kesalahan-kesalahan yang kita perbuat bisa diperbaiki.

Selama kita mau menoleh ke belakang, melihat ke dalam diri kita, maka kita bisa membangun hubungan baru yang lebih baik dengan anak.

Jangan cemas dengan pola pengasuhanmu. Kau adalah ibu terbaik di dunia dan satu-satunya yang kuinginkan. (Philippa Perry)

[*]

 

2 thoughts on “Memutus Pola Asuh Negatif, Mama Butuh Buku Parenting Ini!

  1. Pingback: Menjadi Bahagia dan Bebas Stres ala Buku The Lazy Genius Way

  2. Pingback: The Smartest Kids in The World: Cerita dari Negeri Terdidik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *