Warga Bandung Piknik Tanpa Plastik, dari Bawa Wadah hingga Belajar Mengolah Sampah

Piknik tanpa plastik
Share

digitalMamaID – Piknik biasanya identik dengan makanan, minuman, dan berbagai perlengkapan sekali pakai. Namun, pemandangan berbeda terlihat di Taman Panatayuda, Bandung, Minggu, 30 Agustus 2026.

Warga Bandung datang untuk menikmati waktu bersama dalam Pawai Bebas Plastik Bandung. Alih-alih membawa perlengkapan sekali pakai, para peserta membawa wadah makanan dan botol minum dari rumah.

Kegiatan ini menjadi bagian dari gerakan Pawai Bebas Plastik yang mendorong masyarakat mengurangi penggunaan plastik sekali pakai sekaligus mengenalkan berbagai kebiasaan yang lebih ramah lingkungan.

“Pawai Bebas Plastik sebagai kampanye kolektif terus berkomitmen meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai dampak penggunaan plastik sekali pakai terhadap lingkungan dan kesehatan manusia,” ujar Egar Anugrah, Country Lead River Cleanup Indonesia, salah satu inisiator Pawai Bebas Plastik Bandung.

Menurut Egar, Bandung dipilih sebagai salah satu kota untuk memperluas gerakan tersebut. Format piknik digunakan agar pesan mengenai pengurangan plastik terasa lebih dekat dengan keseharian masyarakat.

Melalui kegiatan ini, warga juga diperkenalkan pada sejumlah alternatif sederhana, seperti menggunakan kantong belanja kain, membawa botol minum guna ulang, hingga memilih kemasan yang lebih berkelanjutan.

Bersepeda sambil bawa pesan bebas plastik

Rangkaian kegiatan dimulai dengan Bike Tour yang digelar bersama komunitas Bike to Work Bandung. Para peserta bersepeda dari kawasan Kosambi menuju Taman Panatayuda.

Sepanjang perjalanan, mereka membawa sejumlah pesan kampanye, seperti “Less Plastik More Piknik”, “Harta, Tahta, Bawa Wadah Ke Mana-mana”, dan “Plastic is Not Fantastic”.

Tidak berhenti pada bersepeda, para peserta juga diajak melakukan aksi bersih-bersih di bantaran Sungai Cikapundung.

Mochammad Andi Nurfauzi dari Bike to Work Bandung mengatakan, kegiatan tersebut menjadi pengingat, bersepeda bukan sekadar aktivitas rekreasi atau pilihan transportasi. “Buat kami bersepeda itu bukan hanya hobi,” katanya.

Menurut Andi, bersepeda juga dapat menjadi bagian dari gaya hidup yang lebih ramah lingkungan dan bisa dilakukan bersama berbagai kelompok masyarakat, termasuk anak-anak.

Belajar mengurangi sampah dari rumah

Sesampainya di lokasi piknik, peserta bisa mengikuti berbagai aktivitas yang berkaitan dengan lingkungan dan pengelolaan sampah.

Greenpeace Indonesia bersama River Cleanup Indonesia, misalnya, mengajak peserta memainkan Kartu Rumah Minim Sampah. Permainan ini memperkenalkan berbagai kebiasaan sederhana yang bisa diterapkan untuk mengurangi sampah dari rumah.

Ada pula workshop linocut yang digelar Mari Isi Ulang (MIU), dengan menggunakan bahan-bahan alami dan biodegradable. Sementara itu, Ngadaur mengajak peserta belajar membuat kompos melalui lazy composting workshop.

Aktivitas lainnya meliputi melukis tas kanvas, silent reading, hingga merangkai bunga ramah lingkungan.

Bukan hanya kegiatan yang bersifat praktik, peserta juga diajak berdiskusi mengenai persoalan lingkungan yang lebih luas.

Kopi Celah Kota dan Petani Kopi membahas hubungan antara kopi dan krisis iklim. Sementara Ngadaur dan YPBB mengajak warga membicarakan persoalan sampah di Bandung yang mencapai sekitar 1.500 ton per hari.

Di tengah krisis sampah, PSEL bukan satu-satunya solusi

Persoalan sampah juga menjadi pembahasan dalam diskusi mengenai rencana Pengelolaan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di Jawa Barat.

WALHI Jawa Barat bersama Nexus3 dan YPBB menyoroti potensi persoalan dari pembangunan PSEL. Koordinator Tim Advokasi Persampahan WALHI Jawa Barat, M. Jefry Rohman, menilai pendekatan tersebut bukan solusi berkelanjutan jika tidak dibarengi dengan upaya mengurangi sampah sejak dari sumbernya.

Ia mendorong pemerintah untuk memprioritaskan pengurangan sampah dari hulu, termasuk menerapkan larangan plastik sekali pakai secara bertahap dan memperkuat kebijakan Extended Producer Responsibility (EPR).

Pengomposan sampah organik di tingkat rumah tangga, komunitas, dan kawasan juga dinilai perlu diperkuat.

“Partisipasi publik yang bermakna dalam setiap keputusan persampahan juga harus dijamin,” tegas Jefry.

Pemerintah sendiri telah memulai pembangunan PSEL Legok Nangka di Kabupaten Bandung. Proyek yang masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada 2029.

Selain Legok Nangka, pemerintah juga telah menyiapkan rencana pembangunan PSEL di tiga lokasi lain di Jawa Barat, yakni Kota Bekasi, Kota Bogor, dan Kabupaten Bogor.

Namun, menurut Juru Kampanye Zero Waste Greenpeace Indonesia Ibar Akbar, semangat warga yang terlihat dalam Pawai Bebas Plastik Bandung justru menunjukkan bahwa ada pilihan lain yang bisa diperkuat, yaitu penggunaan kembali (reuse) dan pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.

“Dari acara Pawai Bebas Plastik Bandung, kita bisa melihat betapa kuatnya komitmen warga Bandung untuk mengurangi sampah sekali pakai,” ujar Ibar.

Ia berharap pemerintah memberikan dukungan dan insentif agar kebiasaan tersebut dapat berkembang lebih luas.

Sebab, mengurangi sampah bukan hanya soal apa yang dilakukan setelah sampah dihasilkan. Pilihan untuk membawa wadah sendiri, menggunakan botol minum berulang kali, memilah sampah, membuat kompos, hingga menggunakan kembali barang-barang yang masih layak juga merupakan bagian dari solusi.

Pawai Bebas Plastik Bandung bisa menjadi kontribusi pada lingkungan dengan cara sederhana. Warga bisa berkumpul, makan bersama, bersepeda, belajar, dan bersenang-senang dengan minim sampah. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE