digitalMamaID – Indonesia saat ini sedang menghadapi banyak bencana. Bencana terjadi di sejumlah wilayah, mulai dari gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT), kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan, hingga aktivitas gunung api yang meningkat. Berdasarkan data resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tercatat sudah ada 1.667 kejadian bencana alam yang terjadi dari periode 1 Januari hingga 3 September 2026.
Situasi tersebut tidak hanya menjadi perhatian orang dewasa. Anak-anak pun dapat mengetahui dan merasakan perubahan yang terjadi di lingkungan sekitarnya, baik melalui pemberitaan, media sosial dan percakapan orang dewasa. Lalu bagaimana dampaknya terhadap anak-anak yang terpapar informasi bencana berulang-ulang?
Dampak paparan informasi bencana pada anak
Dosen Psikologi Universitas Islam Bandung (UNISBA) Dinda Dwarawati S.Psi., M.Psi. mengatakan, paparan informasi bencana yang berulang-ulang dapat memengaruhi kondisi emosional anak. Akan tetapi, hal itu bergantung pada bagaimana informasi tersebut disampaikan. Jika informasi diberikan dalam bentuk edukasi, anak dapat memahami bencana secara lebih kognitif. Misalnya, anak mulai mengenali apa itu gempa, kebakaran, atau jenis bencana lainnya, kemudian muncul pertanyaan untuk memahami peristiwa tersebut.
Namun, ketika informasi yang diterima anak disertai dengan pemberitaan mengenai korban jiwa atau reaksi emosional korban, hal yang ditangkap anak bukan hanya informasi mengenai bencananya. Rasa takut orang yang mengalaminya juga terlihat oleh anak.
“Misalnya di berita ternyata ada korban jiwa, lalu ada ibu-ibu yang diselamatkan ketika kebakaran, tetapi keluarganya masih ada yang terjebak. Yang tertangkap sama anak bukan cuma informasi tentang kebakarannya, tetapi reaksi dari si ibu yang menangis dan merasa terancam. Itu bisa memunculkan emosional anak, bahwa ‘oh, akan semenakutkan itu ya’. Jadi pasti anak akan muncul rasa takut,” jelas Dinda ketika dihubungi digitalMamaID Rabu, 2 September 2026.
Oleh karena itu, paparan informasi mengenai bencana perlu disertai dengan pendampingan dan diskusi bersama anak. Orangtua dapat menjelaskan, rasa takut, sedih, atau khawatir merupakan reaksi yang wajar. Siapapun pasti akan merasa takut, sedih, dan reaksi itu normal.
“Jadi nggak apa-apa ya kalau nanti misalnya ada gempa, terus kemudian aku nangis karena aku misalnya nyariin Ibu? Ya nggak apa-apa, itu normal. Itu juga bisa jadi sinyal buat orang lain nanyain, ‘Mamanya mana, Dek? Bapaknya mana, Dek? (memberikan bantuan)’ seperti itu,” jelasnya.
Bagaimana orangtua menjelaskan bencana kepada anak tanpa membuatnya semakin takut?
Menurut Dinda, edukasi kebencanaan pada anak sebenarnya penting dilakukan sejak usia dini. “Sebetulnya BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) sendiri itu sudah bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan mengeluarkan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) yang artinya sekolah-sekolah sudah seharusnya memberikan edukasi tentang kebencanaan kepada anak-anak,” ungkap Dinda.
Namun, bagaimana caranya? Dinda menjelaskan, edukasi kebencanaan ini memang harus disesuaikan dengan tahapan perkembangan kognitif dan emosional anak. Menurutnya, itu menjadi satu hal yang dari sudut pandang psikologi perlu diperhatikan. “Jangan sampai membuat anak itu takut, tetapi justru membangun informasi yang benar tentang bencana. Sehingga anak paham bahwa bencana itu adalah sesuatu hal yang akan sangat mungkin terjadi,” jelasnya.
Bencana memang tidak bisa manusia kendalikan sama sekali. Namun, menurut Dinda, ada risiko yang sebenarnya masih bisa kita kendalikan atau kurangi. Edukasi kepada anak pada dasarnya merupakan upaya untuk mengajarkan mereka bagaimana melindungi diri dan mengenali faktor-faktor risiko yang ada di sekitarnya.
Jadi, yang pertama harus dilakukan memahami bahwa dalam memberikan edukasi kepada anak, perlu diperhatikan tahapan perkembangan kognitif anak.
Tiga hal yang perlu diperhatikan dalam edukasi kebencanaan
Menurut Dinda dalam konteks edukasi kebencanaan, ada tiga hal yang perlu diperhatikan. Paling utama adalah anak harus mengenali risiko. Misalnya, risiko kebakaran di rumah, anak dapat dikenalkan dengan bahaya listrik, seperti meninggalkan pengisi daya ponsel tetap terpasang atau tidak mencabut setrika setelah digunakan.
Setelah mengenali risiko, anak juga perlu mengetahui apa yang harus dilakukan ketika bencana terjadi. Dalam situasi gempa bumi, misalnya, orangtua dapat mengajarkan cara melindungi kepala, menentukan jalur evakuasi, mengenali area yang berpotensi tertimpa barang, hingga menentukan titik kumpul.
Hal ketiga yang tidak kalah penting adalah memastikan anak mengetahui kepada siapa mereka dapat meminta pertolongan. “Karena sangat mungkin sekali ketika bencana mereka di rumah sendiri misalnya, orangtuanya lagi belanja lah misalnya dan seterusnya,” katanya.
Apa yang harus dilakukan dan dihindari?
Lakukan hal-hal ini!
Pertama, yang harus diperhatikan kepada anak itu adalah kita menceritakan secara jujur dan sederhana. Penjelasan mengenai bencana kepada anak harus disampaikan secara konkret dan disesuaikan dengan usia mereka. Orangtua yang merasa kurang percaya diri dalam menjelaskan bencana juga dapat memanfaatkan berbagai literatur, buku, maupun video edukasi yang menggunakan perspektif anak.
“Kalau saya mengedukasi anak-anak biasanya pakai salah satu kartun judulnya Baby Bus. Disitu ada tentang menyelamatkan diri dari kebakaran, menyelamatkan diri dari bencana, lindungi kepalamu, bersikap tenang, ya seperti itu. Nah itu konkret,” katanya.
Karena sebetulnya proses kognitif anak, terutama yang anak-anak sebelum usia 11 tahun itu sangat konkret sekali berpikirnya. Mereka akan mengimitasi apa yang mereka lihat dari orang dewasa.
Dalam konteks bencana, misalnya gempa bumi memang idealnya keluarga mengajak anak untuk berdiskusi dan simulasi. Nanti kalau misalnya gempa, siapa yang nanti membawa anak pertama, siapa yang membawa anak kedua, hingga menentukan titik kumpul.
Setelah selesai simulasi, anak-anak diajak untuk diskusi setelahnya. Tanyakan bagaimana perasaannya ketika lari atau apakah ada perasaan takut dan perasaan lainnya. Kemudian, setelah itu latih anak cara untuk cepat menenangkan diri.
“Jadi karena anak itu kan sangat konkret, dengan contoh-contoh, itu menjadi sesuatu hal yang akan menjadi edukasi apa yang harus mereka lakukan,” imbuhnya.
Hindari hal-hal ini!
Jangan menakut-nakuti anak. “Misalnya keluar kalimat seperti, ‘kalau gempa nanti Mama nggak ada, kamu sendirian atau nanti kalau gempa kita bakalan terpisah’. Kalimat seperti itu justru dapat membuat anak semakin cemas,” ujarnya.
Alih-alih menakut-nakuti, orangtua sebaiknya memberikan informasi yang benar. Anak perlu memahami, bencana memang dapat terjadi, tetapi mereka juga memiliki hal-hal yang dapat dilakukan untuk melindungi diri.
Dengan demikian, edukasi kebencanaan tidak hanya membuat anak mengetahui bahwa bencana merupakan sesuatu yang mungkin terjadi. Lebih dari itu, anak memiliki pengetahuan mengenai risiko, tahu apa yang harus dilakukan, serta mengetahui kepada siapa mereka dapat meminta pertolongan ketika situasi darurat terjadi. [*]







2 thoughts on “Membicarakan Bencana dengan Anak Tanpa Membuat Anak Ketakutan”
Pingback: Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, IDAI Beri Rekomendasi untuk Orangtua - digitalMamaID
Pingback: Perempuan Jadi Aktor Penting Mitigasi Bencana - digitalMamaID