Creators for Climate, Mengajak Lebih Banyak Ibu Bicara Soal Krisis Iklim

ilustrasi krisis iklim
Share

digitalMamaID — Isu perubahan iklim masih kerap dipandang sebagai persoalan yang jauh dari keseharian ibu. Padahal, dampak krisis iklim sudah dirasakan secara nyata. Mulai dari kenaikan harga pangan, cuaca yang semakin tidak menentu, hingga berkurangnya ketersediaan bahan baku kebutuhan rumah tangga maupun usaha kecil.

Perlu upaya untuk meningkatkan literasi krisis iklim bagi para ibu. Tidak hanya memahami penyebab dan dampak krisis iklim, tetapi juga menyadari keterkaitannya dengan keputusan dan kebiasaan yang diambil setiap hari. Kesadaran inilah yang menjadi dasar lahirnya program Creators for Climate yang diinisiasi digitalMamaID.

Melalui pendekatan yang menghubungkan isu iklim dengan pengalaman sehari-hari para ibu, program ini mengajak 10 kreator konten perempuan yang juga merupakan ibu dengan latar belakang dan niche yang beragam untuk mulai membicarakan isu iklim kepada audiens. 10 kreator konten itu adalah Syarifa Tika Irmasari, Riana Puji Rahayu, Rahma Maryama, Finna Yudharisman, Oktarina Prasetyowati, Leli Azizah, Irvina Anissa Meisari, Aretha Johanna Lim, Eka Kurnia Sari, dan Susanti Ainul Fitri.

10 konten kreator yang terlibat dalam Program Creators for Climate digitalMamaID

Sebelum memproduksi konten, para peserta terlebih dahulu mengikuti kelas literasi iklim yang dibawakan oleh ilustrator, kreator konten, sekaligus penulis Puty Puar. Dalam sesi tersebut, Puty menjelaskan mengapa para ibu perlu memahami sekaligus menyuarakan isu krisis iklim.

Kenapa ibu-ibu harus paham dan bersuara tentang krisis iklim?

Puty Puar mengatakan, pentingnya meningkatkan literasi iklim tidak terlepas dari besarnya ancaman krisis iklim yang akan dihadapi dunia dalam beberapa tahun mendatang. Ia merujuk pada temuan World Economic Forum (WEF) yang secara berkala memetakan berbagai risiko global. Dalam proyeksi 10 tahun ke depan, lima dari sepuluh risiko terbesar yang dihadapi dunia berkaitan dengan persoalan lingkungan, seperti cuaca ekstrem, perubahan kritis pada sistem bumi, hilangnya keanekaragaman hayati, menurunnya sumber daya alam, dan polusi.

Menurut Puty, berbagai risiko tersebut bukan lagi sekadar ancaman di masa depan, melainkan telah dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, banyak ibu yang belum menyadari dampak dari persoalan tersebut.
“Permasalahan lingkungan ini tuh benar-benar sudah kita alami sekarang dan akan makin parah ke depannya, dan boleh dibilang ibu-ibu itu jarang nih punya pemahaman yang langsung, ‘oh, ini tuh gara-gara krisis iklim loh, masalah aku sehari-hari ini gara-gara krisis iklim’ gitu,” ungkap Puty dalam Kick Off Program Creators for Climate pada Sabtu 18 Juli 2026.

Dengan memahami keterkaitan antara kerusakan lingkungan dan kehidupan sehari-hari, masyarakat khususnya para ibu diharapkan lebih kritis terhadap kebijakan yang berpotensi merusak lingkungan. Menurutnya, kesadaran seperti inilah yang disebut sebagai climate literacy. “Minimal kalau ada protes-protes kayak, ‘Oke, 100 hektar lahan di gunung ini akan kita tebang, mau kita ganti sawit’ nih misalnya. Kita bisa protes, kenapa? Karena kita tahu bahwa itu akan berpengaruh ke kita juga gitu,” jelas Puty.

Krisis iklim dan pemanasan global

Dalam pemaparannya, Puty menjelaskan, perubahan iklim merupakan perubahan jangka panjang pada pola cuaca dan suhu rata-rata bumi yang terjadi akibat terganggunya sistem alami bumi. Salah satu penyebab utamanya adalah meningkatnya emisi gas rumah kaca, seperti karbon dioksida (CO₂), yang dihasilkan dari aktivitas manusia, mulai dari pembakaran bahan bakar fosil, polusi industri, hingga deforestasi.

Menurut Puty, gas rumah kaca yang terperangkap di atmosfer membuat panas matahari semakin sulit dilepaskan kembali ke luar angkasa. Fenomena yang dikenal sebagai efek rumah kaca (greenhouse effect) ini menyebabkan suhu bumi terus meningkat dan memicu pemanasan global.

Puty menjelaskan, upaya menekan laju perubahan iklim saat ini berfokus pada pengurangan emisi karbon yang dihasilkan dari berbagai aktivitas manusia. Secara global, sektor energi menjadi penyumbang emisi terbesar, mulai dari pembangkit listrik berbahan bakar fosil hingga penggunaan kendaraan bermotor. Selain itu, emisi juga berasal dari sektor industri, pertanian, dan perubahan penggunaan lahan.

“Nah, itu global ya seluruh dunia. Kalau di Indonesia ini sebenarnya datanya aku pakai yang tahun 2021. Jadi, sektor energi itu sebenarnya kalau di Indonesia masih kalah dari sektor kehutanan. Kenapa? Karena di kita masih banyak yang mau membuka lahan itu hutannya dibakar. Itulah yang akhirnya melepaskan banyak banget karbon,” ungkapnya.

Semua aktivitas manusia, kata Puty, sebenarnya memiliki jejak karbon (carbon footprint), termasuk aktivitas sederhana seperti mengonsumsi semangkuk mie ayam. Menurutnya, emisi karbon dihasilkan pada setiap tahapan, mulai dari pembukaan lahan, peternakan yang menghasilkan gas metana dari kotoran, proses budidaya bahan pangan, distribusi, hingga makanan tersebut dikonsumsi. Bahkan, sisa mi ayam yang tiak habis akan berakhir di tempat pembuangan akhir (landfill) juga dapat menghasilkan gas metana saat terurai.

Meski jejak karbon dari satu orang relatif kecil, Puty mengatakan, dampaknya menjadi signifikan ketika dilakukan oleh miliaran penduduk dunia. Ia menilai, perubahan perilaku individu tetap penting dilakukan, terutama jika dilakukan secara kolektif untuk menekan emisi gas rumah kaca.

Selamatkan manusia!

Puty juga memperkenalkan sebuah framework bernama planetary boundaries, yakni kerangka ilmiah yang menjelaskan batas-batas aman sistem bumi dalam menopang kehidupan. “Jadi, gampangnya gini, bumi itu kan sebuah sistem yang sebenarnya akan berusaha untuk beradaptasi. Di dorong balik lagi, di dorong balik lagi. Manusia mau ngapain, mau menjahati bumi, bumi akan mencoba untuk stabil lagi gitu. Tapi, ada batas-batas ketika kita tuh sudah kelewatan banget batasnya, bumi rusaknya akan permanen,” jelasnya.

Jika bumi rusak permanen, keberlangsungan hidup manusia akan terancam, menurut Puty ini hal yang harus diingat. Karena itu, Puty menilai isu lingkungan tidak semata-mata tentang menyelamatkan bumi. “Sering kali kita mendengar istilah Save the Planet. Padahal, yang sebenarnya perlu kita selamatkan adalah diri kita sendiri dan mungkin anak-anak cucu kita,” katanya.

Ia menilai dampak krisis iklim akan terus memburuk apabila masyarakat tidak meningkatkan kesadaran dan tidak mendorong perubahan yang lebih luas. Selain melakukan perubahan perilaku dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat juga perlu mendesak para pembuat kebijakan agar mengambil langkah yang lebih berpihak pada perlindungan lingkungan. [*]

One thought on “Creators for Climate, Mengajak Lebih Banyak Ibu Bicara Soal Krisis Iklim”

  1. Pingback: Ketika Asap Kebakaran Hutan Masuk ke Ruang Hidup Warga - digitalMamaID

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE