Asap Karhutla Ancam Pernapasan Anak, IDAI Anjurkan 8 Langkah Ini

Share

digitalMamaID – Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat memburuk dengan cepat dan berdampak pada kesehatan pernapasan anak. Partikel halus yang terkandung dalam asap dapat masuk jauh ke saluran pernapasan hingga memperburuk asma dan penyakit paru lainnya.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengimbau orangtua lebih waspada selama karhutla dan melakukan sejumlah langkah untuk mengurangi paparan asap pada anak.

Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia, DR Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp Kardio(K), menyatakan keprihatinannya terhadap dampak karhutla bagi kesehatan anak.

“Karhutla bukan sekadar bencana lingkungan, tetapi juga darurat kesehatan anak dan kelompok rentan. Asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 yang sangat berbahaya bagi saluran pernapasan anak dan kelompok rentan,” kata dr. Piprim dalam siaran pers yang diterima digitalMamaID, Sabtu, 26 September 2026.

Menurutnya, PM2.5 dapat menembus jauh hingga saluran napas bagian bawah, bahkan diserap masuk ke aliran darah. Anak menjadi kelompok yang rentan karena mereka menghirup lebih banyak udara relatif terhadap berat badannya, sementara sistem pernapasan dan imunnya masih berkembang.

Mengapa asap karhutla berbahaya bagi anak?

Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, Dr. Wahyuni Indawati, Sp.A, Subsp Respi(K), mengatakan dampak asap karhutla terhadap kesehatan pernapasan anak perlu mendapat perhatian, terutama pada anak usia di bawah lima tahun.

“PM2.5 dari asap kebakaran hutan dapat hingga 10 kali lebih berbahaya bagi pernapasan anak dibanding PM2.5 dari sumber lain karena komposisi kimianya memiliki potensi oksidasi dan pro-inflamasi yang lebih tinggi. Dampak terbesar terutama pada anak usia di bawah 5 tahun,” kata dr. Wahyuni.

Ia menambahkan, meta-analisis mencatat setiap kenaikan 10 µg/m³ PM2.5 akibat kebakaran hutan berasosiasi dengan peningkatan sekitar 6 persen rawat inap karena asma dan 7 persen kunjungan IGD terkait asma.

Asap karhutla tidak hanya memicu ISPA, tetapi juga dapat menyebabkan eksaserbasi akut pada asma, bronkiektasis, dan penyakit paru kronik lainnya.

Anak dengan penyakit jantung bawaan atau riwayat displasia bronkopulmonal juga termasuk kelompok yang berisiko mengalami perburukan akibat paparan asap.

Data kasus ISPA pada anak

Dampak karhutla terhadap kesehatan terlihat dari meningkatnya kasus gangguan pernapasan di sejumlah wilayah terdampak.

Kementerian Kesehatan RI mencatat 113.336 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat karhutla hingga 9 September 2026 di tujuh provinsi terdampak. Sebanyak 26.545 kasus di antaranya terjadi pada balita.

Di Riau, tercatat 10.783 kasus ISPA pada Agustus–September 2026, dengan kasus terbanyak pada anak usia 0–9 tahun. Sementara itu, Kalimantan Selatan melaporkan 524 kasus pneumonia selama periode kemarau dan karhutla.

Rumah Sakit Bhayangkara Pontianak juga mencatat kenaikan kasus ISPA dan pneumonia sebesar 10–20 persen sejak karhutla di Kalimantan Barat.

Karhutla yang meluas di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat juga telah memicu ASEAN menetapkan status Siaga Alert Level 3 sejak 26 Agustus 2026.

Asap karhutla dapat menyebar jauh

Karhutla merupakan peristiwa terbakarnya vegetasi hutan dan/atau lahan yang menghasilkan kabut asap. Asap kemudian dapat menyebar mengikuti arah angin hingga ratusan kilometer dari sumber kebakaran.

Kondisi tersebut membuat anak dapat terpapar udara yang buruk meskipun berada jauh dari titik kebakaran.

Asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 dan PM10 serta gas berbahaya seperti karbon monoksida (CO) yang dihasilkan dari pembakaran biomassa.

Karhutla tahun ini diperparah oleh fenomena El Nino dan kekeringan yang meluas, termasuk kebakaran lahan gambut yang sulit dipadamkan dan dapat terus membara dalam waktu lama. Akibatnya, anak-anak di wilayah terdampak berisiko mengalami paparan asap secara berulang dan berkepanjangan.

8 Langkah melindungi anak dari asap karhutla

Unit Kerja Koordinasi Respirologi IDAI merekomendasikan sejumlah langkah pencegahan yang dapat dilakukan orangtua:

  1. Pantau kualitas udara. Periksa Air Quality Index (AQI) atau Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) secara rutin selama musim kebakaran, meskipun titik api tidak berada di dekat lokasi anak.
  2. Siapkan ruang bersih di rumah. Pilih ruangan dengan sedikit jendela dan pintu. Jika tersedia, gunakan alat pembersih udara portabel yang bukan tipe ozone-generating.
  3. Tutup pintu dan jendela. Selama kabut asap berlangsung, jaga anak tetap di dalam rumah. Jika menggunakan AC, atur agar tidak menarik udara dari luar.
  4. Hindari sumber polusi di dalam rumah. Rokok, kompor gas atau kayu bakar, perapian, lilin, semprotan aerosol, memanggang atau menggoreng daging, serta menyedot debu dapat memperburuk kualitas udara dalam ruangan.
  5. Batasi aktivitas fisik di luar ruangan. Terutama ketika udara terlihat atau berbau berasap atau kualitas udara dilaporkan buruk.
  6. Gunakan masker dan kacamata. Jika harus keluar rumah, anak berusia 2 tahun atau lebih dapat menggunakan masker untuk mengurangi paparan partikel asap. Kacamata dapat digunakan untuk mencegah iritasi mata.
  7. Pastikan obat tersedia. Anak dengan asma, alergi, atau kondisi kronis lain perlu memiliki obat rutin, termasuk obat pereda cepat.
  8. Segera cari bantuan medis. Bawa anak ke fasilitas kesehatan jika mengalami kesulitan bernapas, sangat mengantuk, atau menolak makan dan minum.

Bagaimana dengan kegiatan sekolah?

Perlindungan anak selama karhutla juga mencakup kegiatan pembelajaran di sekolah. Moda pembelajaran di daerah terdampak karhutla ditentukan pemerintah daerah berdasarkan nilai ISPU harian.

ISPU wajib dipantau minimal dua kali sehari, yaitu sebelum pembelajaran dimulai dan pada pertengahan hari. Ketentuannya sebagai berikut:

  1. ISPU 1–50 (Baik): Pembelajaran tatap muka berlangsung normal.
  2. ISPU 51–100 (Sedang): Tatap muka tetap berjalan, tetapi aktivitas di luar ruangan seperti upacara, olahraga, dan ekstrakurikuler dibatasi atau dipindahkan ke dalam ruangan.
  3. ISPU 101–200 (Tidak Sehat): Tatap muka dibatasi secara ketat dan kelompok rentan, termasuk anak-anak, diarahkan belajar dari rumah.
  4. ISPU 201–300 (Sangat Tidak Sehat): Seluruh peserta didik beralih ke Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), baik daring, luring, maupun kombinasi keduanya.
  5. ISPU di atas 300 (Berbahaya): Seluruh kegiatan pembelajaran dilaksanakan secara jarak jauh.

Perubahan moda pembelajaran berlaku paling lama tiga hari dan wajib dievaluasi ulang setiap hari mengikuti perkembangan ISPU. Satuan pendidikan dapat kembali melaksanakan pembelajaran tatap muka ketika kualitas udara membaik.

Penghentian sementara tatap muka tidak berarti peserta didik diliburkan karena hak mereka atas layanan pembelajaran tetap harus dipenuhi.

Jika pembelajaran dilakukan secara luring, sekolah dapat menggunakan modul belajar cetak, penugasan mandiri di rumah, atau pendampingan orangtua/wali. Pelaksanaannya disesuaikan dengan ketersediaan listrik, jaringan internet, dan perangkat di masing-masing daerah.

Satuan pendidikan juga dapat memanfaatkan dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP) untuk mendukung kebutuhan tersebut, termasuk penggandaan modul luring, pengadaan masker, dan alat penjernih udara.

Kapan anak perlu dibawa ke dokter?

IDAI mengimbau orangtua tidak menunda mencari pertolongan medis jika anak menunjukkan gejala gangguan pernapasan.

“Kesehatan anak adalah prioritas utama. Jangan ragu untuk segera membawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat jika muncul gejala sesak napas, batuk berkepanjangan, atau penurunan kesadaran. Pencegahan dan deteksi dini adalah kunci,” tegas dr. Piprim.

Dr. Wahyuni juga mengajak orangtua, guru, tenaga kesehatan, dan pemerintah daerah untuk bersama-sama melindungi anak dari bahaya asap karhutla.

Selain melakukan langkah pencegahan, orangtua perlu memantau kualitas udara secara berkala dan memastikan kondisi anak tetap terpantau, terutama bagi mereka yang memiliki asma, alergi, atau penyakit kronis lainnya. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE