Ramai-ramai Adopsi Orangutan Saat Karhutla Kalimantan, Seberapa Besar Dampaknya?

BOS Foundation
Share

digitalMamaID – Gerakan adopsi orangutan secara virtual ramai dilakukan masyarakat. Langkah ini sebagai bentuk kepedulian terhadap satwa yang habitatnya terus terancam, termasuk akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan.

Karhutla Kalimantan memunculkan kekhawatiran terhadap nasib orangutan dan habitatnya. Seperti dilansir ANTARA, sepanjang Agustus 2026, sebanyak enam orangutan telah dievakuasi oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan IAR Indonesia (YIARI). Orangutan ini menjadi korban karhutla di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

Situasi tersebut turut mengundang perhatian masyarakat. Di media sosial, kepedulian terhadap orangutan kemudian diwujudkan melalui gerakan ramai-ramai melakukan adopsi virtual melalui Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation.

Sejumlah warganet membagikan pengalaman setelah mengadopsi orangutan secara virtual, sekaligus mengajak masyarakat lain ikut memberikan dukungan. Adopsi menjadi cara sederhana untuk menunjukkan solidaritas terhadap orangutan dan habitatnya yang menghadapi ancaman.

View on Threads

 

BOSF sambut positif gerakan adopsi

CEO Yayasan BOS, Dr. Ir. Jamartin Sihite, MSc. mengatakan, BOS Foundation menyambut positif antusiasme masyarakat yang ramai-ramai melakukan adopsi virtual orangutan di tengah situasi karhutla Kalimantan.

“BOS Foundation menyambut positif antusiasme masyarakat yang ramai-ramai melakukan adopsi virtual orangutan sebagai bentuk dukungan terhadap upaya konservasi di tengah situasi karhutla di Kalimantan,” ujar Jamartin kepada digitalMamaID, Rabu, 2 September 2026.

Menurutnya, meningkatnya perhatian masyarakat terhadap orangutan merupakan bentuk kepedulian yang berarti bagi keberlangsungan upaya penyelamatan dan rehabilitasi orangutan yang dilakukan BOS Foundation.

Gerakan tersebut juga tidak terlepas dari dukungan influencer, content creator, dan media yang turut menyebarluaskan informasi mengenai program adopsi virtual. Masyarakat jadi bersedia ikut berkontribusi.

“Bagi kami, meningkatnya perhatian publik terhadap orangutan dan konservasi merupakan hal yang sangat positif,” kata Jamartin.

Program konservasi jadi terasa mudah dijangkau oleh masyarakat berkat peran media sosial apalagi hal ini terjadi secara organik.

Adopsi virtual, bukan memiliki orangutan

Meski menggunakan istilah “adopsi”, program BOS Foundation merupakan adopsi virtual, bukan kepemilikan satwa. Orangutan yang dipilih adopter tetap berada di pusat rehabilitasi dan mendapatkan perawatan dari tim BOS Foundation. Masyarakat dapat memilih individu orangutan yang ingin mereka dukung secara simbolis di situs resminya.

Sebagai bagian dari program, adopter akan mendapatkan informasi mengenai orangutan yang dipilih, termasuk foto dan background story. Adopter juga memperoleh pembaruan mengenai perkembangan orangutan tersebut. Informasi resmi BOSF menyebut program ini dirancang untuk memperkenalkan individu orangutan kepada masyarakat sekaligus mendukung upaya konservasi.

Dengan demikian, orang yang melakukan adopsi virtual tidak membawa pulang orangutan atau memiliki hak atas satwa tersebut. Dukungan diberikan untuk membantu keberlangsungan program penyelamatan dan rehabilitasi.

Dana adopsi digunakan untuk 334 orangutan

Masyarakat bisa memilih dana adopsi virtual sesuai dengan durasi waktu, yaitu 1 bulan, 6 bulan dan 12 bulan.

Jamartin menjelaskan, program adopsi virtual memberikan kontribusi yang berarti bagi upaya konservasi orangutan. Saat ini, terdapat 334 individu orangutan yang berada di dua pusat rehabilitasi BOS Foundation, yaitu Samboja Lestari di Kalimantan Timur dan Nyaru Menteng di Kalimantan Tengah.

Namun, ada hal yang penting dipahami oleh masyarakat. Dana adopsi tidak secara khusus digunakan hanya untuk orangutan yang dipilih dalam program. “Dana yang diperoleh melalui program ini digunakan untuk mendukung perawatan seluruh orangutan yang berada di pusat rehabilitasi BOS Foundation,” jelas Jamartin.

Kebutuhan tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari pakan, perawatan kesehatan, hingga kebutuhan operasional dalam proses rehabilitasi dan persiapan orangutan untuk kembali ke habitat alaminya.

Dengan kata lain, ketika seseorang melakukan adopsi virtual terhadap satu orangutan, kontribusinya ikut membantu kebutuhan orangutan lain yang berada di pusat rehabilitasi.

Tidak berhenti pada perawatan di pusat rehabilitasi

BOS Foundation telah melakukan upaya penyelamatan dan rehabilitasi orangutan selama lebih dari tiga dekade. Organisasi ini didirikan pada 1991 dan kini menjalankan program konservasi di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.

Orangutan yang berada di pusat rehabilitasi tidak hanya mendapatkan makanan dan perawatan medis. Mereka juga dipersiapkan agar dapat kembali hidup mandiri di alam.

Bagi orangutan yang kehilangan induk atau sebelumnya hidup dalam pemeliharaan manusia, proses rehabilitasi mencakup pembelajaran berbagai keterampilan yang dibutuhkan untuk bertahan hidup di hutan.

Di sekolah hutan, misalnya, orangutan belajar memanjat, mencari makanan alami, membuat sarang, dan mengembangkan kemampuan untuk hidup mandiri. Setelah dinilai siap, mereka dapat mengikuti proses pelepasliaran ke habitat yang sesuai.

Bahkan setelah dilepasliarkan, orangutan masih dipantau untuk memastikan mereka mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya.

Pada Juni 2026, BOS Foundation kembali melepasliarkan lima orangutan hasil rehabilitasi dari Nyaru Menteng ke Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, Kalimantan. Pelepasliaran tersebut menjadi yang ke-47 dari Nyaru Menteng.

Foto bayi orangutan dan bahaya AI

Di tengah ramainya tren adopsi virtual, muncul pula pembahasan mengenai foto bayi orangutan yang beredar di media sosial. Salah satu hal yang menjadi perhatian BOS Foundation adalah penggunaan teknologi AI untuk membuat visual yang menggambarkan seolah-olah manusia dapat menggendong, menyentuh, atau berinteraksi langsung dengan orangutan.

“Yang perlu dihindari terutama adalah penyebarluasan atau pembuatan foto bayi orangutan yang telah diedit menggunakan AI sehingga menciptakan visual seolah-olah yang mengadopsi atau manusia dapat menggendong, menyentuh, atau berinteraksi langsung dengan orangutan,” ujar Jamartin.

Menurutnya, visual semacam itu dapat memberikan persepsi keliru bahwa manusia dan orangutan dapat berinteraksi secara langsung. Interaksi langsung manusia dan orangutan hanya dilakukan seminimal mungkin.

Kontak langsung hanya dilakukan dalam kondisi tertentu atau ketika memang diperlukan, misalnya oleh dokter hewan dan ibu asuh untuk kebutuhan perawatan serta proses pembelajaran orangutan agar dapat kembali hidup liar.

Pembatasan kontak tersebut juga berkaitan dengan aspek kesehatan. Manusia dan orangutan memiliki kesamaan genetik yang sangat tinggi sehingga terdapat risiko penularan penyakit antara manusia dan orangutan maupun sebaliknya. Risiko penularan penyakit dari hewan ke manusia atau sebaliknya dikenal sebagai zoonosis.

Karena itu, menjaga jarak dan membatasi kontak langsung merupakan bagian penting dari upaya BOS Foundation melindungi kesehatan orangutan sekaligus manusia yang merawatnya.

Solidaritas yang tidak berhenti pada adopsi

Ramainya adopsi virtual di tengah perhatian terhadap karhutla menunjukkan bahwa masyarakat memiliki berbagai cara untuk menunjukkan kepedulian terhadap satwa liar.

Namun, konservasi orangutan pada dasarnya tidak hanya berbicara mengenai penyelamatan individu. Ada persoalan habitat yang tidak kalah penting.

Orangutan Kalimantan membutuhkan hutan sebagai tempat mencari makanan, berlindung, berkembang biak, dan menjalani seluruh siklus hidupnya. Karena itu, kehilangan habitat dapat menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan populasi orangutan di alam.

BOS Foundation pun menjalankan program yang berkaitan dengan pemulihan habitat. Salah satunya adalah program penanaman pohon untuk membantu menghutankan kembali kawasan yang terdegradasi. Jenis pohon yang ditanam antara lain merupakan pohon yang dapat menyediakan sumber makanan dan tempat bersarang bagi orangutan.

Di sinilah adopsi virtual dapat dipahami bukan sebagai tujuan akhir, melainkan salah satu bentuk dukungan masyarakat terhadap pekerjaan konservasi yang lebih luas.

Masyarakat yang ingin ikut menunjukkan solidaritas melalui media sosial tetap dapat membagikan informasi mengenai program adopsi dan mengajak orang lain berkontribusi. Namun, pesan yang disampaikan juga perlu mencerminkan prinsip konservasi, termasuk tidak menggambarkan orangutan sebagai hewan peliharaan yang dapat disentuh, dipeluk, atau diajak berinteraksi secara bebas. [*]

One thought on “Ramai-ramai Adopsi Orangutan Saat Karhutla Kalimantan, Seberapa Besar Dampaknya?”

  1. Pingback: Karhutla Berulang, Tanggung Jawab Siapa? - digitalMamaID

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE