IBN Bangun Daya Kritis Warga Lewat Berbagi Keluh Kesah

Aktivitas IBN, Minggu, 27 September 2026
Share

digitalMamaID – Upaya membangun daya kritis warga terhadap pemerintah selaku pembuat kebijakan harus dilakukan terus-menerus. Indung Bandung Ngariung (IBN) melakukannya dengan membuka ruang “sambat” atau berkeluh kesah atas berbagai kebijakan yang dianggap merugikan masyarakat.

Kegiatan ketiga IBN ini bertajuk Minggu Berbagi Gelisah digelar di Taman Cibeunying, Minggu, 27 September 2026.
Setiap orang yang mengikuti kegiatan ini bebas mengutarakan keluh kesahnya. Peserta juga bisa menggambar di sehelai kain dan crayon yang disediakan oleh Semata Art School. Anak-anak yang datang bersama orangtuanya bisa mengikuti dongeng bersama Lamrimnesia, workshop membuat poster bersama Semata Art School, dan perpus gratis bersama Komunitas Taman Kota.

Keresahan warga

Salah seorang peserta yang baru bergabung pertama kali, Tyla (26) membagi kegelisahannya tentang asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan. Tyla merupakan perantau asal Bengkayang, Kalimantan Barat. Ia tak bisa tenang karena orangtua dan adik-adiknya terpapar asap setiap hari. “Kalau ibu saya tetap mengajar dan ayah saya tetap melaut itu bukan karena kondisinya baik-baik saja, tapi ya karena harus bertahan hidup,” katanya.

Adik-adiknya masih harus menjalani pembelajaran jarak jauh mengingat keadaan Udara yang masih berbahaya. Murid-murid ibunya di PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) juga masih belajar di rumah. Namun, ibunya tetap harus sibuk membagikan MBG (Makan Bergizi Gratis) yang diambil oleh orangtua.

“Ibu sudah berusaha untuk minta agar MBG ini dihentikan sementara selama anak-anak tidak ke sekolah, tapi sulit sekali,” ujarnya.

Meski kondisi tak kunjung membaik, ia melihat tidak ada upaya pemerintah untuk lebih sigap mengatasi asap ini. Masyarakat sendiri sudah lelah menghadapi asap yang terus melanda setiap kemarau. Semua juga sudah memahami setelah itu lahan akan ditanami sawit lagi. “Tidak ada yang bertanggung jawab, yang ditahan paling yang membakar saja. Siapa yang memerintahkan, tidak ada yang kena,” kata Tyla.

Angggota komunitas Ibu Bandung Ngariung (IBN) membentangkan poster di pinggir jalan sembari membagikan makanan kepada warga sekitar Taman Cibeunying, Minggu, 27 September 2026. (Catur Ratna Wulandari/digitalMamaID)*

Masyarakat dibuat lelah

Keresahan lainnya datang dari Bunga (32), warga Bandung yang tengah bekerja di Jakarta. Menurutnya, situasi saat ini warga memang dibuat lelah memenuhi kebutuhan hidup. “Sibuk bekerja sehingga tidak punya Waktu untuk melakukan kerja-kerja kolektif di komunitas,” katanya.

Setiap hari, ia dan banyak masyarakat kelas pekerja lainnya harus bekerja setidaknya delapan jam sehari. Waktu dan energi terkuras untuk mengupayakan kehidupan layak. Tidak tersisa Waktu dan energi untuk bergerak bersama warga lain.

“Uang gaji yang didapat dipotong pajak. Jangankan merasakan manfaatnya untuk diri sendiri, bahkan untuk bisa dimanfaatkan orang lain aja nggak,” tutur Bunga.

MBG dan Koperasi Desa Merah Putih menjadi dua kebijakan yang paling banyak dikeluhkan peserta. Kedua program itu menghabiskan banyak anggaran itu tidak membawa manfaat, tapi justru menambah beban masyarakat. Anak-anak keracunan MBG jumlahnya terus bertambah tanpa ada yang bertanggung jawab. Sedangkan Kopdes Merah Putih mengancam para pedagang kecil yang selama ini berdagang komoditas yang sama.

Berbagi makanan

Selain berbagi kegelisahan, IBN juga berbagi makanan gratis bagi warga sekitar. Inisiator IBN Susan Angelika mengatakan, aksi berbagi makanan ini mengggunakan dana swadaya anggota komunitas IBN.

Aksi ini sebagai kritik atas program MBG yang ngotot dilanjutkan pemerintah meski 50.000 siswa lebih mengalami keracunan. “Memberi makanan itu mudah saja, bisa dilakukan oleh siapa saja asalkan ada dananya. Tapi apakah makanan itu sampai dengan kualitas yang tetap sama itu bergantung pada penyelenggaranya,” kata Susan.

Tulisan keluh kesah warga yang dikumpulkan oleh komunitas Ibu Bandung Ngariung (IBN) di sela aktivitasnya di Taman Cibeunying, Minggu, 27 September 2026. (Catur Ratna Wulandari/digitalMamaID)*

Saat membagi makanan, warga juga diperkenankan menyampaikan keluhan yang dirasakan kepada pemerintah. Masyarakat jadi berani bersuara atas berbagai kebijakan pemerintah yang buruk. “Jadi ini memantik diskusi dengan masyarakat umum terkait keadaan dan pendapatnya tentang negara ini,” tuturnya.

Selanjutnya, IBN bertekad terus merawat ruang-ruang dialog di masyarakat seperti yang sudah dibangun selama ini. Lebih jauh, kata Susan, IBN ingin memperkuat anggotanya yang berasal dari berbagai kalangan. Ruang diskusi selanjutnya bisa elibatkan narasumber yang bisa memberi pengetahuan dan kesadaran baru bagi anggota IBN. “Kami ingin ada penguatan ke dalam. Ini akan jadi bagian pemberdayaan diri juga,” katanya.

Komunitas IBN awalnya berkumpul lewat media sosial secara organik dan sukarela. Mereka berkumpul karena mempunyai keresahan sama terhadap situasi negeri yang berdampak pada ruang keluarga. Setelah perjumpaan secara daring. Aksi perdana mereka dilakukan pada Juli 2026. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE