Belajar Mitigasi dari Pameran “Setanah, Tak Diam”, Bersiap Tanpa Cemas

Share

digitalMamaID – Edukasi soal tanggap bencana perlu terus dilakukan. Bukan untuk membuat masyarakat takut, tapi menyadari bahwa manusia mendiami bumi yang tidak pernah berhenti bergerak. Terlebih Indonesia berdiri di atas cincin api. Dengan risiko bencana yang besar, masyarakat harus bersiaga. Inilah yang menjadi misi pameran “Setanah, Tak Diam”.

Lebih dari 12 iuta anak sekolah di Indonesia terdampak bencana dalam 15 tahun terakhir. Ada 124 sekolah yang terletak dalam radius 1 km dari patahan Lembang. Latihan evakuasi dan memperkuat bangunan sekolah dapat mengurangi risikonya.

Selain itu, sekitar 1 dari 4 lansia di Jawa Barat tinggal bersama anak dan cucunya. Kerusakan pada satu rumah dapat berdampak pada tiga generasi sekaligus. Ini artinya, memperkuat satu rumah dapat melindung tiga generasi sekaligus.

Evakuasi pada saat bencana pun punya tantangannya. Di mana 47 persen lansia Jawa Barat memiliki keluhan kesehatan. Karena itu, edukasi evakuasi yang ramah lansia dapat mengurangi risikonya.

Penyandang disabilitas juga perlu mendapat perhatian. Hanya 8 persen penyandang disabilitas merasa kebutuhan mereka telah dipertimbangkan dalam rencana kebencanaan. Sebagian besar lainnya merasa tidak dilibatkan sehingga perencanaan yang inklusif dapat mengurangi risiko.

Situasi ini menunjukkan, mitigasi bencana harus terus dilakukan seinklusif mungkin. Merangkul kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, juga disabilitas.

Edukasi mitigasi bencana tanpa membuat cemas

Isu kebencanaan sering kali dibicarakan dengan narasi yang menakutkan. Berangkat dari kondisi tersebut, pameran “Setanah, Tak Diam: Merawat dan Membentuk Masa Depan di Tanah Bergerak” hadir untuk mengedukasi publik dengan penyampaian yang sederhana dari lintas ilmu.

Dosen Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung (ITB) sekaligus kurator pameran, Prasanti Widyasih Sarli atau yang biasa disapa Asih, ingin menyederhanakan ilmu kebencanaan agar lebih mudah diakses oleh masyarakat umum. Tujuan utamanya adalah menggeser fokus publik dari sekadar rasa takut menjadi kesadaran akan pentingnya mitigasi dan kesiapsiagaan.

“Tanah yang kita diami tidak pernah benar-benar diam. Pameran ini lahir dari kegelisahan melihat jarak yang jauh antara dahsyatnya dinamika alam dan kesadaran manusia. Melalui ruang temu di pameran ini, para peneliti, insinyur, seniman, perancang, serta berbagai komunitas di penjuru Indonesia mengajak setiap orang untuk memandang tanah bukan sekadar ruang hidup, melainkan sistem yang hidup dan menuntut untuk terus dipahami,” katanya, ketika ditemui Rabu, 23 September 2026.

Pameran ini terbagi ke dalam tiga perjalanan utama dalam ruang. Memasuki ruang pertama, pengunjung disuguhi simulasi tiga dimensi mengenai dua bencana besar yang sering melanda Indonesia, yaitu gunung meletus dan gempa bumi.

Simulasi berbasis proyektor ini dikembangkan melalui kolaborasi dengan ARAFURA dan Exposed Project Team. Visualisasi tersebut menampilkan beberapa tingkatan kerusakan untuk memberikan gambaran nyata mengenai potensi risiko yang ada di tanah air.

Manifestasi kecerdasan nenek moyang

Sejak dulu rumah tradisional adalah salah satu mahakarya ketahanan akan gempa. Sebuah sistem yang mengandalkan fleksibilitas dan pondasi berupa umpak. Diciptakan untuk membuat sambungan adaptif yang mampu meredam guncangan.

Kerangka rumah tradisional seperti tulang manusia. Sambungan-sambungannya saling mengunci supaya tetap kuat saat gempa datang.

Di ruangan kedua ini menyajikan area yang lebih luas dengan pembagian konsep yang unik pada dua sisinya: dinding putih di sisi kanan dan dinding kuning di sisi kiri. Menurut Asih, konsepnya adaalah menelusuri ragam cara manusia membaca dan merespons alam, mulai dari kearifan lokal yang melekat pada arsitektur dan ruang bermukim, hingga riset kebumian modern, rekayasa struktur, serta upaya mitigasi yang digerakkan bersama warga.

“Bayangkan sejarah 300.000 tahun keberadaan manusia dipadatkan menjadi satu hari penuh. Selama hampir 24 iam penuh, kita hidup di atas bumi yang bergerak tanpa pernah benar-benar memahami penyebabnya. Manusia hanya merasakan guncangan dan merangkai cerita secara intuitif baru pada 100 tahun terakhir atau “satu menit terakhir”. Di rentang ini pula, rahasia pergerakan lempeng tektonik mulai tersingkap,” katanya.

Sisi dinding putih memperlihatkan berbagai bentuk mitigasi gempa bumi yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat tradisional. Pengetahuan ini lahir dari pengalaman langsung dan proses adaptasi panjang di masa lalu.

Kehadiran instalasi pada area ini menegaskan bahwa masyarakat Indonesia sebenarnya sudah lama hidup berdampingan dengan risiko bencana. Kemampuan adaptasi lokal ini terbukti mampu menjaga keberlangsungan hidup kelompok masyarakat lintas generasi. Dokumentasi seperti foto rumah panggung dengan umpak di Kab. Sumedang dihadirkan. Juga, kerangka rumah tradisional masyarakat Sumba, hingga balok kayu yang digunakan.

Perkembangan sains kebumian dan kebencanaan modern

Kini, cara-cara tersebut berpadu dengan ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Kita bisa melihat penerapan teknik bangunan tahan gempa, alat pemantau yang canggih, hingga perencanaan tata ruang dan jalur evakuasi yang lebih aman. Ini artinya, mitigasi bencana tidak berdiri di atas satu bidang ilmu saja.

Dalam praktiknya, upaya mitigasi bencana membutuhkan keterlibatan berbagai disiplin ilmu yang saling melengkapi. Di sisi dinding kuning, para ahli bahu membahu memberikan sumbangsih untuk ilmu kebumian dan kebencanaan. Misalnya ahli geologi yang memetakan potensi dan jejak pergerakan gempa bumi dari masa ke masa.

Kemudian ada insinyur sipil yang menyusun standar dan kode desain bangunan tahan gempa. Penerapannya pun tidak selalu rumit; metode sederhana seperti penggunaan material kawat ayam juga dapat dimanfaatkan untuk memperkuat struktur.

Bahkan di bidang seni dan desain dapat berperan dalam edukasi visual, pembuatan petunjuk evakuasi, hingga perancangan alat permainan edukatif. Edukasi juga disisipkan pada benda sehari-hari seperti kalender, sarung, mug, atau jam dinding.

Pameran ini juga menampilkan bagaimana seni musik dapat menjadi media sosialisasi bencana yang efektif. Di Lebak Selatan, Banten, para siswa SMA Kepanggarangan menciptakan lagu untuk menjelaskan konsep gempa bumi dan tsunami setelah berinteraksi dengan peneliti.

Menariknya, karya tersebut kemudian diaransemen ulang secara mandiri oleh warga Desa Cikahuripan, Lembang. Fenomena ini menunjukkan tumbuhnya kesadaran kolektif di tingkat akar rumput bahwa mereka hidup di atas tanah yang terus bergerak.

Bersiap tanpa menunggu bencana

Bencana tidak dapat dipastikan kedatangannya. Namun, tidak boleh dijadikan alasan untuk lengah. Saat ini, panduan dan standar teknis bangunan tahan gempa sudah tersedia, salah satunya dapat diakses melalui laman resmi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

“Melalui pameran ini, bahasa riset yang rumit disederhanakan agar pesan mitigasi dapat diterima dengan baik. Kunci utama keselamatan saat ini terletak pada kemauan bersama untuk menerapkan standar-standar mitigasi yang sudah ada,” kata Asih.

Dan pengunjung akan tiba  di ruangan ketiga. Di mana rencana mitigasi bencana juga perlu mendengarkan suara, kecemasan, serta pengharapan dari mereka yang sering terpinggirkan dalam percakapan seputar kebencanaan, termasuk warga di wilayah tapal batas, kelompok rentan, dan generasi muda.

Pameran “Setanah, Tak Diam” merupakan kolaborasi antara ITB, BRIN, Gamma Metrics, serta berbagai lembaga internasional. Digelar di Selasar Sunaryo Art Space Kota Bandung, ini menjadi pameran pertama terkait mitigasi bencana yang memajang hasil karya riset dan instalasi di galeri yang sudah berdiri selama 28 tahun itu.

Guncangan bumi adalah sumber bahaya yang tak bisa diubah, tapi risiko dan dampaknya sepenuhnya ada dalam kendali kita. “Setanah, Tak Diam” mengingatkan kita, keselamatan bukanlah takdir, melainkan pilihan yang dibangun lewat mitigasi, kesiapsiagaan, dan kepedulian bersama. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE