Film Pangku: Saat Perempuan Menanggung Beban Terberat dari Sistem yang Timpang

Share

digitalMamaID — Bagaimana rasanya harus memilih antara bertahan hidup atau mempertahankan nilai diri? Lewat film Pangku (atau On Your Lap dalam judul internasional) yang rilis pada 2025 dan kini sudah tersedia di Netflix, Mama diajak masuk ke dunia di mana perempuan sering kali tidak benar-benar punya pilihan. Yang ada hanyalah keterpaksaan yang dibentuk oleh keadaan.

Sebagai karya debut, film Pangku garapan Reza Rahadian berhasil menghadirkan cerita yang sangat kuat meski disajikan dengan sederhana. Minim scoring, dialog yang tidak berlebihan, tetapi kaya emosi. Film yang diproduksi oleh Gambar Gerak, dan ditulis skenarionya oleh Reza Rahadian dan Felix K. Nesi ini memotret fenomena sosial “kopi pangku” yang cukup dikenal di berbagai daerah di Indonesia, khususnya jalur Pantura seperti Indramayu.

Sinopsis singkat

Film Pangku berfokus pada perjalanan Sartika (Claresta Taufan), perempuan muda yang tengah hamil besar dan harus bertahan hidup di tengah kerasnya kehidupan Pantura. Menumpang truk di malam hari, Tika diturunkan di Eretan Kulon, kawasan peristirahatan sopir truk dengan deretan warung semi permanen dan hiburan malam lokal, termasuk kopi pangku.

Di sana, Tika bertemu Maya (Christine Hakim), seorang pemilik warung yang sepi. Melihat kondisi Tika yang hamil dan sendirian, Maya menawarkan pekerjaan sebagai penjual kopi pangku. Awalnya, Tika menolak. Namun, latar waktu krisis ekonomi akhir 1990-an membuat pilihan hidup terasa sempit. Lapangan pekerjaan sulit, dan banyak orang bertahan dengan cara apa pun.

Tika kemudian melahirkan anak laki-lakinya yang diberi nama Bayu Kesuma (Shakeel Fauzi) di rumah Maya, dibantu Tini (TJ Ruth). Untuk bertahan hidup, ia sempat bekerja kasar sambil membawa bayinya. Namun, upah yang kecil membuatnya kembali mempertimbangkan tawaran sebelumnya.

Ketika Maya mendandani Tika dengan riasan sederhana, alas bedak dan lipstik merah. Tika menangis. Riasan itu terasa seperti topeng yang menutupi perasaannya yang sebenarnya menolak. Namun, hidup memang tidak selalu memberi ruang untuk hal ideal, terutama bagi perempuan dalam kondisi rentan.

Tidak ada karakter antagonis

Yang membuat film Pangku terasa berbeda adalah absennya karakter antagonis yang jelas. Tidak ada sosok yang bisa disalahkan sepenuhnya atas apa yang terjadi dalam cerita. Semua karakter, Maya, Hadi (Fedi Nuril), hingga Tika sendiri, hidup dalam sistem yang sama. Sistem yang memaksa mereka bertahan dengan pilihan terbatas.

Dalam kajian global, fenomena ini dikenal sebagai feminization of poverty. Data dari UN Women menunjukkan, mayoritas dari sekitar 1,5 miliar orang yang hidup dalam kemiskinan ekstrem di dunia adalah perempuan. Mereka tidak hanya menghadapi keterbatasan ekonomi, tetapi juga akses yang minim terhadap sumber daya penting seperti pendidikan, layanan kesehatan, kepemilikan aset, hingga pengambilan keputusan dalam keluarga maupun masyarakat. Selain itu, pekerjaan perempuan sering kali tidak diakui atau tidak dibayar secara layak, sehingga semakin mempersempit peluang mereka untuk keluar dari lingkaran kemiskinan.

Dalam situasi krisis, perempuan sering kali harus mengambil pekerjaan apa pun yang tersedia, termasuk yang berisiko, demi memastikan anak mereka tetap hidup. Dalam konteks ini, keputusan Tika bukan sekadar pilihan pribadi, tetapi bentuk bertahan hidup dalam sistem yang tidak memberi banyak ruang aman bagi perempuan.

Tika tidak hanya bekerja, tetapi juga mengurus anaknya, Bayu. Ia menghadapi tekanan ekonomi, stigma sosial, dan keterbatasan pilihan kerja, semuanya dalam waktu bersamaan.

Stigma terhadap ibu tunggal juga tergambar jelas dalam film ini. Salah satunya terlihat saat Tika mencoba mendaftarkan Bayu ke sekolah negeri. Ia dipersulit karena tidak mencantumkan nama ayah pada data administrasi. Bahkan untuk mengakses pendidikan sebagai hak dasar, masyarakat kecil masih harus berhadapan dengan sistem yang kaku dan tidak ramah terhadap kondisi mereka.

Adegan hangat yang membekas

Di tengah kerasnya cerita, Pangku menyelipkan momen-momen hangat yang membekas. Salah satunya saat Tika berjalan-jalan bersama Hadi dan Bayu ke pantai. Mereka makan mi ayam sambil memandang laut yang sepi di Indramayu. Dalam adegan itu, muncul bayangan ayah Tika yang dulu berjualan mi ayam. Tanpa banyak dialog, penonton bisa merasakan kedekatan emosional Tika dengan masa kecilnya.

Adegan lain yang tak kalah kuat adalah saat Tika dan Bayu berpamitan kepada Maya setelah ia menikah dengan Hadi. Sosok Bapak (Jose Rizal Manua), yang hampir tanpa dialog, memberikan pelukan hangat kepada Tika. Pelukan itu terasa penuh berisi rasa terima kasih, kehilangan, sekaligus harapan akan kehidupan yang lebih baik.

Sederhana, tapi menghantam

Secara keseluruhan, Pangku adalah film sederhana dengan cerita yang sangat kuat. Ia tidak menawarkan konflik besar atau solusi instan, tetapi menghadirkan realitas sosial yang dekat.

Tak heran jika film ini mendapat banyak apresiasi di festival film internasional. Film Pangku ditayangkan di Busan International Film Festival ke-30, pada bagian Visions – Asia pada  September 2025 dan berhasil meraih empat penghargaan. Film Pangku juga memenangkan 4 penghargaan Film Terbaik di Festival Film Indonesia 2025 dan Film Pilihan Tempo 2025.

Walau saat ditayangkan serentak di bioskop tanah air jumlah penonton tak menyentuh 1 juta, film Pangku sangat patut ditonton. Film ini mengingatkan kita, dalam sistem yang timpang, perempuan sering kali menjadi pihak yang menanggung beban paling berat.  Dan dari kesederhanaannya, film Pangku berhasil menyampaikan, bertahan hidup, bagi sebagian orang, adalah perjuangan yang tidak pernah benar-benar selesai. Seperti apa yang diucapkan Maya saat Tika bersedih ketika Hadi mengkhianatinya, “Hidup itu jangan dipikirin, jalani aja,”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE