Tebing Pabeasan 125, Benteng Terakhir Karst Padalarang yang Diselamatkan Para Pemanjat

Tebing Pabeasan 125
Share

digitalMamaID – Puluhan tahun lalu, deretan tebing karst menjulang di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Kini sebagian besar telah hilang digerus pertambangan pasir. Di tengah perubahan itu, Tebing Pabeasan 125 masih berdiri kokoh. Bukan semata karena status kawasan, melainkan karena selama puluhan tahun menjadi rumah bagi para pemanjat tebing.

Dunia panjat tebing di Padalarang bisa jadi dimulai tahun 1976 saat Harry Suliztiarto rajin datang ke tebing di desa Pabeasan, Kecamatan Padalarang, Kab. Bandung Barat (KBB). Tahun 1977 ia mendirikan Skygers, sebuah wadah bagi para penakluk panjat tebing. Mimpinya satu, tebing ada untuk dikasihi, dan yang perlu ditaklukkan adalah mental lemah manusianya.

Langkah Harry membawa dampak hebat. Sebuah ruang aman bagi tebing bersejarah itu. Menjulang setinggi 125 meter, tebing karst (batu kapur) di Desa Pabeasan ini menjadi salah satu “last man standing” di wilayah tersebut. Puluhan tahun lalu, tebing-tebing putih bermunculan laksana stalagmit dari dasar laut. Namun seiring perubahan zaman, semakin banyak gunung kapur yang hilang digeregoti oleh industri tambang pasir.

Kini tersisa sebagian saja. Selain tebing 125, ada tebing 90, dan tebing 48. Tebing 125 juga punya nama beken, Citatah 125. Oleh Yoga, salah seorang warga lokal, pegiat di BUMD desa, dan juga pegiat panjat tebing, penyebutan itu ditentang habis-habisan.

“Dulu ada perusahaan tambang pasir, namanya Citatah. Dan jadi penunjuk, penanda arah, kalau mau ke tebing ini. Tapi nama yang benar adalah tebing Pabeasan 125. Bagi saya, penyebutan ini jangan sampai salah. Karena ada sejarah di dalamnya,” ujar Yoga ketika ditemui dalam kegiatan Media Field Journal, awal Juli 2026.

Terancam penambangan pasir

Dia mengaku senang dengan aktivitas panjat tebing di tiga lokasi tadi. Dengan masifnya kegiatan panjat, membuat tebing kapur ini tak dapat disentuh industri tambang.

Yoga cukup mencemaskan eksistensi tebing karst yang perlahan hilang dari Padalarang. Rata-rata habis oleh aktivitas penambangan pasir.

“Dengan adanya aktivitas panjat, dan jadi destinasi kunjungan dan wisata, kami bisa mempertahankan keberadaannya,” kata dia.

Upaya yang dilakukan untuk melestarikan karst di Padalarang sudah dilakukan. Tahun 2010, warga desa pernah menyampaikan aspirasi yang mendorong Pemprov Jabar untuk memoratorium pertambangan di kawasan karst Rajamandala. Hasilnya, tahun 2012 keluar Peraturan Daerah Rencana Tata Ruang Tata Wilayah yang menetapkan jika kawasan Pabeasan menjadi kawasan cagar alam geologi yang didasari oleh hasil penelitian Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB).

Media Field Jornal
Diskusi pada Media Field Journal yang digelar awal Juli 2026 membahas tentang upaya pelestarian kawasan karst di Kabupaten Bandung Barat. (Eva Fahas/digitalMamaID)*

Sialnya, pengakuan itu hanya sepihak dari Dinas Tata Ruang dan Lingkungan Hidup. Sedangkan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Jawa Barat tidak mengakuinya. Alhasil di 2024, status kawasan ini dihapus dan berubah menjadi kawasan keunikan bentang alam dan kawasan konservasi.

Menurut Yoga, terminologi ini membahayakan. Meski mirip, tapi berbeda karena dampak hukumnya juga beda. Contohnya, Goa Pawon dan Stone Garden (kawasan geowisata dan sejarah di KBB) saat ini dasar hukumnya bukan kawasan konservasi, tapi cagar budaya.

Dia menyayangkan status itu, karena kurang kuat melindungi kelestarian situs geologi tersebut. Upaya lain yang cukup mendesak menurutnya adalah peralihan mata pencaharian masyarakat sekitar situs. Hingga saat ini, sebesar 70% lapangan kerja di sana ada di sektor pertambangan pasir. Hal ini menjadi celah yang terus diintip industri pasir jika peralihan lapangan kerja tidak dilakukan.

“Salah satu yang berpotensi masih di sektor pariwisata. Di KBB pendapatan daerahnya besar didapat dari pariwisata, sekitar Rp 45 miliar per tahun. Sedangkan sektor tambang sebesar Rp 5 miliar. Jadi kenapa tidak dikembangkan saja sektor yang potensial itu. Saya akui tantangannya ada di regulasi,” ujar Yoga.

Karst Citatah perlu perhatian

Warga desa lainnya yang tergabung dalam Forum Pemuda Peduli Karst Citatah (FPPKC) , Husen Husaeri menyebutkan jika sebelum ada aktivitas panjat tebing, masyarakat kerap memanjat tebing karst untuk mencari sarang burung seperti walet dan jalak. Sebelumnya, warga tidak memakai alat modern untuk memanjatnya, tapi pakai perlengkapan tradisional dan sehari-hari.

Senada dengan Yoga, Husen juga menginginkan perhatian lebih bagi kekayaan alam kampung halamannya yang merupakan sebuah laboratorium alam sekaligus penjaga ekosistem wilayah. Meski keras dan padat, batuan karst rupanya berperan menjaga cadangan air tanah dengan kemampuannya menyerap air.

“Tidak bisa jika hendak dibuat galian sumur. Karena batuannya solid, keras. Namun, manusia bisa memanfaatkan air tanah yang ditampung batuan karst melalui mata air yang keluar dari celah-celah karst. Tinggal dicari saja titik mata airnya,” kata Husen.

Sebagai forum advokasi, FPPKC terus mengupayakan pelestarian karst citatah, salah satunya mengakses mata air yang tersebar di banyak titik. Salah satu titik yang debitnya besar justru ada di dalam wilayah salah satu pabrik tambang pasir yang berada tepat di bawah tebing 125.

Sehingga, untuk mengalirkan air ke wilayah tebing 125 dan sekitarnya, digunakan sumber air dari mata air Ciseureuh yang terletak 2 kilometer dan kini telah terhubung dengan pipa. “Kesulitan kami mengedukasi warga karena sektor wisata seperti panjat tebing belum terlalu kelihatan potensi nilai uangnya. Sehingga mayarakat masih berpikir yang paling menguntungkan adalah kerja di sektor tambang pasir,” ujar Husen.

Tempat berlatih atlet panjat tebing

Di bidang lain, keberadaan tebing 125 juga menjadi modal besar pembinaan atlet panjat tebing dari KBB. Sayangnya, Husen sebagai Sekretaris Federasi Panjat Tebing Indonesia KBB itu mengatakan kesulitan melakukan pembinaan. Selain ketatnya persaingan dari atlet panjat dari luar daerah yang banyak berlatih di tebing-tebing pemanjatan KBB, juga masih terbatasnya infrastruktur penunjang pembinaan.

“Saat ini ada beberapa titik tebing yang dipakai untuk berlatih selain tebing 125, salah satunya area Tebing Hawu. Sekarang prestasinya masih di kelompok umur untuk tingkat nasional. Untuk memajukan cabor panjat tebing kami juga aktif mendorong pembentukan ekskul di sekolah-sekolah, seperti di MI Al Mujtahidin Padalarang,” kata Husen.

Saksi sejarah

Keinginan untuk melestarikan sekaligus mendorong potensi wisata tebing 125 mendapat perhatian dari salah satu brand perlengkapan outdoor tanah air. “Kami perlu berbuat sesuatu untuk tebing 125. Selain demi menjaga kelestariannya, betapa pentingnya keberadaan karst untuk cadangan air masyarakat, tebing ini juga menjadi saksi sejarah perjalanan para founder kami, terutama EAST (Eiger Adventure Service Team),” ujar PR Executive Eiger Adventure Shulhan Syamsur Rijal.

Sebagai bentuk dukungan, brand ini menyediakan fasilitas penunjang aktivitas panjat tebing di kawasan ini. Dengan membuat tonggak batu, area shelter untuk beristirahat, hingga kamar mandi umum yang airnya dipasok dari mata air Ciseureuh tadi.

Dia berharap, upaya ini menjadi penanda jika tebing 125 aktif digunakan masyarakat. Bukan kawasan kosong dan tidak bertuan. Sehingga selanjutnya, tebing terjauh dari aktivitas penambangan pasir kapur.

Diceritakan, nama Eiger diambil dari Gunung Eiger di Swiss yang didaki oleh para pemanjat yang biasa berlatih di tebing 125, tahun 1985 silam. Salah seorang pendaki saat itu adalah Mamay S. Salim yang mendirikan EAST di tahun 2000. Dalam sesi nonton bareng film pendek berjudul Tebing Tuhan Aku, ia mengisahkan perjuangan menaklukan tebing Eiger yang dijuluki Mordwand atau dinding pembunuh itu.

“Latihannya panjang, yang dilatih kedisiplinan dan konsistensi. Tebing 125 itu lokasi pertama saya latihan panjat, diajak oleh Mas Harry yang lulusan sekolah mountaineering di Swiss. Ketika itu yang mau manjat belum banyak, paling preman-preman di Bandung,” ujar Mamay.

Mamay S. Salim pendiri EAST yang berhasil mendaki Gunung Eiger di Swiss pada 1985 silam. (Eva Fahas/digitalMamaID)*

Menjajal panjat tebing

Dunia panjat tebing memang tidak untuk semua orang. Tapi, bukan berarti setiap orang tidak boleh mencoba.

Ahmad Taopik (35) misalnya. Dalam kegiatan tersebut, jurnalis sebuah laman daring itu betul-betul baru pertama kali panjat tebing. “Kesulitannya ketika awal naik. Masih bingung harus bagaimana. Agak berat juga angkat badannya. Kaki dan tangan harus kuat. Tapi yang paling menegangkan itu saat sedang bersiap-siap. Sedikit gugup tapi penasaran. Ternyata tinggi sekali, ya. Ketika sudah sampai di puncak, giliran turun sedikit was-was. Karena harus pakai tali turunnya,” kata dia.

Lain cerita dengan jurnalis perempuan dari PRSSNI Evy Damayanti (40). Pengalaman memanjatnya dimulai di usia SMP saat kegiatan pramuka. Namun setelahnya, tidak pernah manjat lagi.

“Jadi, memanjat di tebing 125 ini jadi pengalaman ketiga saya. Kesulitan tetap ada, dibanding naik, lebih susah turun. Seru sekali bisa ikut panjat tebing lagi. Apalagi ketika tangan harus cari lubang untuk pegangan lalu mengangkat badan dan yang pasti deg degan takut tiba-tiba jatuh,” katanya.

Memanjat tebing karst jadi perdana bagi ibu anak tiga itu. Kesannya, debu dari pasir kapur membuat matanya perih dan menodai pakaian seperti ditaburi salju.

Kendati begitu, ia sangat terkesan dengan keindahan tebing karst. Namun ia menyayangkan kondisinya. “Saat ini banyak yang dikikis sehingga sudah tidak seindah dulu. Contoh di tebing 125 ada spot bagus di atas, seperti gua untuk di foto. kalau dikikis terus ke depan bakal terlihat rata seperti tembok (dinding) saja. Dan makin lama kita enggak punya alam yang buat jadi cerita untuk anak cucu. Kenapa tidak seperti negara orang yang alamnya dipertahankan dijaga bukan malah dirusak,” ujar Evy.

Sehingga dia berharap, ada regulasi yang melarang pertambangan mendekati kawasan karst. Karena dengan status cagar alam geologi, masih ada celah untuk bisa menambang.[*]

One thought on “Tebing Pabeasan 125, Benteng Terakhir Karst Padalarang yang Diselamatkan Para Pemanjat”

  1. Pingback: Mengenalkan Bencana Lewat Buku Cerita Anak - digitalMamaID

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE