Skip to content
digitalMamaIDdigitalMamaID
  • Home
  • Literasi Digital
  • Parenting Era Digital
  • Gaya Hidup Digital
  • Review
  • Tutorial
  • Ragam
  • Screenscore
  • Cerita Mama
  • Rekomendasi
  • Editor's Choice, Parenting Era Digital

Remaja Produktif di Dunia Digital: Dari Scroll Time ke Skill Time

  • POSTED ON December 22, 2025
  • 11:33 pm
  • BY Mabruroh
ilustrasi scroll to skill
Share

digitalMamaID — Di hadapan layar yang sama, remaja bisa sekadar menghabiskan waktu atau malah menemukan arah. Aktivitas scrolling yang sering dianggap pasif, sesungguhnya bisa menjadi petunjuk awal minat dan bakat mereka. Konten yang berulang kali mereka tonton menyimpan sinyal tentang rasa ingin tahu, ketertarikan, bahkan cita-cita yang sedang tumbuh.

Di sinilah pendekatan scroll to skill menjadi penting. Bukan sekadar membatasi layar, tetapi menemani anak, membaca pola, dan membantu mereka mengubah konsumsi konten menjadi proses belajar yang bermakna. Dan tentu saja, tanpa menutup mata pada risiko dunia digital.

Ketika konten menjadi petunjuk minat anak

Seorang ibu dari Sulawesi Selatan, Ni Nyoman Anna Marthanti mengatakan, di zaman sekarang menjadi guru, pilot, dokter bukan lagi cita-cita primadona bagi anak-anak. Cita-cita anak zaman sekarang justru sering berubah, mengikuti konten apa yang sedang mereka konsumsi.

Anak remajanya pernah ingin menjadi YouTuber, ingin menjadi volunteer karena sering melihat konten tentang volunteer di Afrika, dan terakhir ingin menjadi relawan kemanusiaan karena saat ini sering melihat berita tentang bencana banjir di Sumatera.

“Kebetulan dia dengar tentang berita bencana di Sumatera, ya dia juga ingin bisa menjadi petugas kemanusiaan seperti itu,” ujar Anna saat Live Instagram bersama digitalMamaID, Senin, 8 Desember 2025.

Hal serupa juga terjadi pada keponakannya yang gemar dengan tontonan dari Korea, seperti K-pop dan K-drama. Alih-alih melarang, orangtuanya memilih mengimbangi ketertarikan tersebut dengan mengajaknya mengikuti les Bahasa Korea.

Begitu pula saat gemar bermain gim bersama teman-temannya. Ibu dua remaja ini justru memberikan les coding agar anaknya bisa membuat gambar dan gim sendiri. “Nah itukan contoh hal-hal yang ketika kita mendampingi anak dalam scroll time-nya, apa sih yang menjadi passion-nya, hobinya, sambil kita mengajari mereka terkait literasi digital,” ujar dia.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa scroll time tidak selalu harus dimusuhi. Dengan pendampingan yang tepat, layar justru bisa menjadi pintu masuk pengembangan keterampilan.

Founder Educourse, Mutiara Hikma Mahendradatta berpenapat, selama konten yang dikonsumsi anak bersifat positif, tugas orangtua adalah mendukung dan mengarahkan.

“Jadi, ketika anak memang sudah ada minat itu, why not kita tangkap itu sebagai momentum gitu, bahkan ketika dia ingin jadi YouTuber ya kita belikan ring light-nya, kita beli studio hijau-hijaunya gitu. Kita coba untuk memenuhi keinginan anak, kita coba support sebaik mungkin,” ungkap Mutiara.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by digitalMamaID (@digitalmamaid)

Literasi digital saja tidak cukup, anak perlu 4C

Di era derasnya perkembangan teknologi, dukungan dan membekali anak-anak dengan literasi digital saja tidak cukup. Anak-anak perlu memiliki empat keterampilan penting agar bisa beradaptasi dengan dunia digital yang dinamis. Empat keterampilan itu ialah 4C, yaitu critical thinking (berpikir kritis), creativity (kreativitas), communication (komunikasi), dan collaboration (kolaborasi).

Menurut Mutiara, dengan bekal yang tepat anak-anak tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memanfaatkan teknologi dengan tepat dan bertanggung jawab. Dengan begitu, cita-cita atau profesi apapun yang akan digeluti anak di masa depan nanti, anak-anak tetap harus dibekali dengan 4C.

“Jadi 4C ini kapan pun di mana pun pasti selalu dibutuhkan. Misalnya kita butuh nih problem solving critical thinking, bagi seorang programmer ini memang paling mendekati dengan problem solving karena di mana kita mendapatkan bug, kita harus menyelesaikannya. Jadi, sifat berpikir komputasi ini terus dibutuhkan,” jelasnya.

Tips praktis mengubah scroll time jadi skill time

Mama bisa membantu remaja lebih produktif di ruang digital. Waktu layarnya tidak sekadar scroll time, tapi bisa jadi wahana menemukan minat dan mengasah skill baru. Mama bisa ikuti beberapa tips berikut ini:

1. Amati pola konten, bukan hanya durasi layar

Sebelum menegur soal durasi screen time, perhatikan dulu konten apa yang paling sering dikonsumsi anak. Pola ini sering kali menjadi petunjuk awal minat, rasa ingin tahu, dan potensi keterampilan yang bisa dikembangkan.

2. Reset Explore untuk membaca ulang minat remaja

Bagi pengguna remaja Meta, konten yang muncul di tab Explore itu bisa diatur lho, Mama! Jika konten yang muncul di beranda akun remaja Meta remaja kita sudah terasa tidak relevan atau tidak sesuai usianya, Mama bisa mengatur ulang algoritma.

Caranya:

  • Buka profil Instagram
  • Pilih Setting (Pengaturan)
  • Pilih Preferensi Konten (Content Preferences)
  • Ketuk Reset Konten yang Disarankan (Reset Suggested Content)

Langkah ini membantu orangtua melihat ulang arah konsumsi konten remaja dari awal.

3. Aktifkan Kontrol Konten Sensitif (Sensitive Content Control) sesuai kebutuhan

Demi ruang digital remaja yang aman dari paparan konten dewasa atau tidak pantas di platform Meta, Mama bisa mengaturnya.

Caranya:

  • Buka profil Instagram
  • Pilih Pengaturan (Setting)
  • Pilih Preferensi Konten (Content Preferences)
  • Pilih Konten Sensitif (Sensitive Content)
  • Pilih tingkat penyaringan: lebih sedikit (less), standar (standard), lebih banyak (more)

Remaja tetap bisa bereksplorasi, dengan perlindungan yang lebih aman.

4. Lindungi ruang emosional anak dengan Hidden Words

Komentar dan pesan langsung kerap menjadi sumber luka remaja saat menggunakan media sosial. Di Meta Teen Account, kata-kata negatif yang menyakiti bisa diatur untuk tidak ditampilkan.

Caranya:

Pengaturan → Privasi → Hidden Words

Orangtua dapat menyaring kata-kata yang berpotensi menyakiti. Meta Teen Acoount juga bisa membatasi siapa yang boleh mengirim pesan (direct message), menandai (tag), juga menyebut (mention).

5. Arahkan minat ke aktivitas nyata, bukan sekadar melarang

Ketika anak menunjukkan ketertarikan dari konten yang mereka tonton, orangtua bisa mengarahkannya ke aktivitas nyata. Misalnya dengan mengikuti kelas, bergabung dengan komunitas, atau mempelajari keterampilan baru. Di sinilah scrolling perlahan berubah menjadi proses belajar.

Namun, sebaik apapun fitur dan pengaturan yang digunakan, pendampingan digital tidak akan efektif tanpa kepercayaan. Terutama pada remaja, pendekatan kontrol penuh justru berisiko memicu jarak dan konflik.

Meregulasi ruang digital remaja: Percaya, bukan mengintai

Orangtua asal Bali, Luh De Suriyani mengatakan, upaya kontrol penuh justru kerap memicu perlawanan. Remaja sebagai digital natives memiliki kemampuan teknis yang sering kali lebih mahir dibandingkan orangtuanya.

“Kalaupun kita sembunyi-sembunyi pakai family (parental) control, anak digital native ini pasti tahu caranya mengelabui orangtua. Jadi menurut saya, kita tidak bisa melakukan kontrol penuh pada remaja,” ujar Suriyani.

Ia mencontohkan pengalamannya ketika sejumlah situs diblokir. Anaknya tetap dapat mengaksesnya menggunakan VPN. VPN atau Virtual Private Network merupakan layanan yang memungkinkan pengguna bisa mengakses situs secara privat melalui server jaringan lain. Dari sanalah ia menyadari bahwa memata-matai aktivitas digital remaja bukanlah solusi yang realistis.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by digitalMamaID (@digitalmamaid)

Psikolog Klinis dari Bounceback Indonesia, Ni Putu Putri Puspitaningrum, menambahkan, remaja memiliki tingkat sensitivitas emosi yang lebih tinggi dibandingkan orangtua. Karena itu, pendekatan yang langsung menghakimi benar dan salah justru berisiko memutus koneksi.

“Kalau kita fokus hanya pada salah benar, koneksi biasanya terputus cepat kalau sama remaja,” ungkap Putri.

Menurut Putri, ketika remaja merasa tidak aman untuk bercerita, dunia digital justru menjadi tempat pelarian.

“Dulu tidak ada perbandingan antara komunikasi di dunia nyata dan digital. Artinya dia nggak punya pilihan selain tetap berinteraksi di dunia nyata. Tapi sekarang anak punya alternatif yaitu dunia digital. Kalau dia nggak suka dunia nyata, ya dia punya pelarian di dunia digital,” ujar Putri.

Karena itu, kunci membuat aturan digital dengan remaja adalah membangun kepercayaan. Kesepakatan screen time pada remaja tidak bisa disamakan dengan anak-anak. Aturan perlu dibagi antara yang bersifat wajib dan tidak bisa ditawar, serta yang bersifat opsional dan terbuka untuk negosiasi.

“Aturan yang memang siftnya wajib itu misalnya jangan sampai screen time-nya mengganggu waktu tidur. Kita beritahu alasannya, kalau waktu tidur itu penting, kurang tidur bisa mempengaruhi gejolak emosinya, bisa mempengaruhi moodnya, bisa mengganggu jam belajarnya di sekolah, nilai akademiknya,” ujar Putri.

Sementara untuk aturan opsional, ruang dialog tetap perlu dibuka.

“Di sinilah bisa negosiasi. ‘Masa cuma dua jam, PR-nya sebanyak ini’, misalnya begitu ya. Jadi kita buat aturan fleksibel kalau misal PR nya banyak dan semuanya butuh buat browsing di internet ya durasinya bisa diperpanjang. Jadi aturan itu konsisten tapi fleksibel,” kata Putri.

Di era digital, peran orangtua bukan menjadi polisi online, melainkan teman refleksi. Dengan membaca minat anak dari konten yang mereka sukai, membekali literasi dan keterampilan, serta memanfaatkan fitur perlindungan yang ada, scrolling tak lagi sekadar membuang waktu, melainkan langkah awal menuju skill masa depan.

Mama bisa unduh gratis Smart Digital Parenting Toolkit sebagai panduan mendampingi remaja di era digital ini. [*]

PrevPreviousAPJII Dorong Pemerataan Akses Internet Jadi Prioritas 2026
NextJabar Siaga Darurat Bencana, Apa yang Harus Disiapkan Masyarakat?Next

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

Ilustrasi cara menggunakan aplikasi CertiEye untuk memeriksa keaslian emas

Cara Menggunakan Aplikasi CertiEye untuk Periksa Keaslian Emas

Membicarakan Stereotip Gender dengan Anak

Cerita Perjalanan Anakku di SLB

Film Lebih Dari Selamanya

Film Lebih dari Selamanya: Potret Jatuh Cinta Sekali Seumur Hidup Pasangan Suami Istri

Mama Hobi Posting Foto Anak? Eit, Ada Aturannya Lho!

Friend map

Cara Menggunakan dan Menonaktifkan Friend Map Instagram

ORDER MERCHANDISE

Digitalmama

Tentang kami
Hubungi kami
Pedoman media siber
Copyright 2026 © Digitalmama.id
  • Home
  • Literasi Digital
  • Parenting Era Digital
  • Gaya Hidup Digital
  • Review
  • Tutorial
  • Ragam
  • Screenscore
  • Cerita Mama
  • Rekomendasi
  • Newsletter