digitalMamaID – Ketika ingin mencari informasi, ke mana biasanya Mama mencari jawaban? Jika dulu mesin pencari seperti Google menjadi pilihan utama, kini kebiasaan tersebut mulai berubah. Banyak pengguna internet mulai mencari informasi di TikTok untuk menemukan rekomendasi produk, tutorial, hingga berbagai tips praktis dalam kehidupan sehari-hari.
TikTok tidak lagi hanya menjadi ruang hiburan, tetapi juga berkembang menjadi tempat masyarakat menemukan dan mempelajari informasi. Berbeda dengan mesin pencari yang menyajikan daftar tautan berdasarkan kata kunci, TikTok menghadirkan pengalaman yang lebih visual melalui video singkat, cerita personal, dan rekomendasi dari sesama pengguna.
Fenomena ini menunjukkan adanya perubahan cara masyarakat memperoleh informasi di era digital. Pengguna kini tidak hanya mencari jawaban, tetapi juga mencari pengalaman dari orang lain yang dianggap lebih dekat dan relevan dengan kebutuhan mereka.
Video lebih mudah dipahami
Perubahan perilaku ini juga dirasakan oleh Ai Sri (35), ibu dua anak asal Bandung. Ia mengaku kini lebih sering mencari informasi melalui TikTok dibandingkan Google. Mulai dari resep masakan, referensi kado untuk ibu yang baru melahirkan, hingga mencari lagu.
Tidak hanya untuk kebutuhan pribadi, Ai Sri juga memanfaatkan TikTok untuk mendukung proses belajar anaknya. Ia kerap mencari materi pembelajaran, terutama Bahasa Inggris, karena format video membuat penjelasan dari kreator terasa lebih mudah dipahami dan diikuti.
“Kalau lewat video, biasanya lebih enak diikuti karena bisa melihat langsung cara menjelaskannya,” katanya pada digitalMamaID, Jumat, 17 Juli 2026.
Meski menggunakan TikTok sebagai sumber informasi, Ai Sri mengaku belum selalu melakukan verifikasi terhadap setiap konten yang ditontonnya. Ia lebih banyak memilih video berdasarkan kesesuaian dengan kebutuhannya, bukan berdasarkan jumlah penonton atau popularitas akun. “Yang penting jelasinnya enak,” ujarnya.
Namun, pengalaman menggunakan TikTok juga tidak selalu memberikan hasil positif. Ai Sri mengaku beberapa kali melakukan pembelian impulsif setelah melihat rekomendasi produk dari kreator di TikTok.
Pengalaman Ai Sri memperlihatkan bahwa TikTok memang memudahkan pengguna menemukan informasi yang relevan dan praktis. Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan ketika pengguna terlalu cepat mempercayai rekomendasi tanpa mempertimbangkan kebutuhan maupun kredibilitas sumber informasi.
TikTok jadi ruang baru untuk mencari informasi
Perubahan perilaku ini didukung oleh besarnya pengguna TikTok di Indonesia. Laporan Digital 2026 Indonesia dari DataReportal menunjukkan, TikTok memiliki potensi jangkauan iklan hingga sekitar 180 juta pengguna dewasa di Indonesia. Besarnya jangkauan ini membuat TikTok berkembang menjadi ruang untuk mencari berbagai jenis informasi, mulai dari rekomendasi produk, informasi kesehatan, tips parenting, hingga mengikuti isu terkini.
Fenomena tersebut juga sejalan dengan Digital News Report 2026 dari Reuters Institute yang menunjukkan, media sosial dan platform video semakin menjadi pintu utama masyarakat menemukan berita dan informasi. TikTok bahkan menjadi salah satu platform dengan pertumbuhan konsumsi berita tercepat secara global.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa cara masyarakat memperoleh informasi terus berubah, terutama di kalangan generasi muda. Lantas, mengapa TikTok terasa semakin nyaman digunakan untuk mencari informasi? Apakah TikTok bisa menggantikan peran mesin pencari konvensional?
Peneliti Center for Digital Society (CfDS) Universitas Gadjah Mada, Ayom Mratita Purbandani, menilai fenomena tersebut bukan sekadar perpindahan dari Google ke TikTok, tetapi perubahan yang lebih mendasar dalam cara masyarakat memperoleh dan memahami pengetahuan.
Bukan hanya mencari jawaban, tetapi juga pengalaman
Menurut Ayom, TikTok menghadirkan informasi dalam format yang berbeda dibandingkan mesin pencari konvensional. Jika Google umumnya menyajikan daftar tautan menuju berbagai sumber informasi, TikTok menawarkan video pendek yang diproduksi langsung oleh sesama pengguna.
Format tersebut membuat pengguna tidak hanya memperoleh informasi yang bersifat faktual, tetapi juga melihat pengalaman autentik, cerita personal, hingga konteks sosial di balik suatu topik.
“Pengguna tidak sekadar mencari jawaban atas suatu pertanyaan, tetapi juga mencari konteks sosial dan pengalaman yang membantu mereka memahami suatu fenomena, produk, atau tempat,” jelas Ayom kepada digitalMamaID, Kamis, 16 Juli 2026.
Menurutnya, kecenderungan ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin menyukai informasi visual dan audiovisual yang dianggap lebih cepat dipahami dibandingkan teks panjang. Perubahan tersebut juga mencerminkan pola konsumsi media generasi digital yang tumbuh dengan video sebagai format komunikasi sehari-hari.
Algoritma TikTok lebih personal
Selain format video, cara kerja algoritma TikTok juga menjadi alasan platform ini semakin sering digunakan untuk mencari informasi.
Ayom menjelaskan bahwa mesin pencari konvensional bekerja berdasarkan kata kunci yang diketik pengguna. Sementara itu, TikTok menggabungkan fungsi pencarian dengan mekanisme content discovery, yaitu sistem yang merekomendasikan konten berdasarkan minat, interaksi, dan kebiasaan pengguna.
Akibatnya, batas antara mencari informasi dan menikmati konten menjadi semakin kabur. Seseorang mungkin awalnya hanya ingin mencari resep bekal anak, tetapi kemudian menemukan berbagai konten lain yang berkaitan dengan parenting, pendidikan anak, atau rekomendasi produk keluarga.
“Fenomena ini tidak sekadar menunjukkan perpindahan platform pencarian informasi, tetapi merupakan transformasi yang lebih mendasar dalam cara pengetahuan diproduksi dan disirkulasikan,” ujar Ayom.
Ia menambahkan bahwa jika sebelumnya otoritas informasi banyak ditentukan oleh media massa, institusi pendidikan, atau mesin pencari, kini otoritas tersebut semakin dinegosiasikan melalui pengalaman pengguna, algoritma platform, serta interaksi di komunitas digital.
Tetap perlu memiliki literasi digital
Meski menawarkan kemudahan, TikTok bukan berarti selalu menjadi sumber informasi yang paling akurat.
Ayom mengingatkan bahwa masyarakat perlu mampu mengevaluasi kredibilitas sumber informasi. Pengguna perlu memahami siapa pembuat konten tersebut, apakah memiliki keahlian pada bidang yang dibahas, serta apakah informasi yang disampaikan didukung oleh bukti atau referensi yang dapat diverifikasi.
Informasi yang ditemukan di TikTok juga sebaiknya dibandingkan dengan sumber lain yang lebih otoritatif, seperti media berita tepercaya, institusi pemerintah, lembaga pendidikan, maupun publikasi ilmiah. Ia menilai pemahaman terhadap algoritma juga menjadi bagian penting dari literasi digital.
“Banyak pengguna menganggap konten yang muncul di beranda sebagai representasi dari informasi yang paling penting atau paling benar. Padahal, algoritma TikTok dirancang untuk memaksimalkan keterlibatan pengguna dan bukan untuk menjamin akurasi informasi,” jelasnya.
Karena itu, konten yang sering muncul di beranda belum tentu merupakan informasi yang paling valid.
TikTok mungkin menjadi pintu pertama untuk menemukan informasi, tetapi bukan tempat terakhir untuk memastikan kebenarannya. Fenomena mencari informasi di TikTok menunjukkan bahwa cara masyarakat belajar dan memperoleh pengetahuan terus berubah.
Di tengah derasnya arus konten yang dipersonalisasi algoritma, kemampuan berpikir kritis, memeriksa sumber, dan membandingkan informasi dari berbagai referensi menjadi bekal penting bagi setiap pengguna.
Untuk orangtua, kebiasaan ini bukan hanya melindungi diri sendiri dari misinformasi, tetapi juga menjadi teladan bagi anak dalam membangun budaya digital yang sehat di rumah. [*]






