Membaca Senyap Bersama, Menemukan Kembali Waktu untuk Buku

Share

digitalMamaID — Minggu pagi, puluhan orang tampak berkumpul di area rumput hijau berkontur landai di Nara Park Bandung, 16 Agustus 2026. Hamparan rumput itu menjadi ruang untuk melakukan sesuatu yang sederhana, membaca senyap bersama Komunitas Baca di Bandung.

Di antara suasana ruang terbuka dan aktivitas pengunjung lainnya, selama sekitar dua jam peserta silent reading memilih menghabiskan waktu dengan buku masing-masing. Semua tertunduk pada bacaannya sendiri. Sebagian tampak bersandar santai di bantal duduk, sebagian lainnya terlihat serius mengikuti halaman demi halaman buku yang dibacanya.

Tidak banyak percakapan selama sesi berlangsung. Yang terdengar hanya lembaran buku yang dibalik dan percakapan tipis dari kejauhan.

Mencari waktu dan suasana membaca

Bagi Intan Permata Sari (31), salah seorang peserta, membaca kerap harus menunggu waktu luang. Sebagai karyawan yang bekerja dari Senin hingga Sabtu di Bandung, Minggu menjadi satu-satunya kesempatan untuk membuka buku. Namun, ketika membaca sendiri di rumah, fokusnya mudah terpecah oleh berbagai distraksi.

“Aku punya minat membaca, tapi karena dari hari Senin sampai Sabtu aku bekerja jadi hari Minggu itu memang satu-satunya waktu aku untuk membaca. Cuma karena membacanya sendiri jadi kayak banyak ke-distract,” kata Intan saat diawawancarai digitalMamaID usai kegiatan membaca bersama.

Intan Permata Sari, peserta silent reading club Baca di Bandung. Foto: Risanti/digitalMamaID

Gangguan kecil di rumah, seperti diajak berbicara atau diminta melakukan sesuatu, membuat kegiatan membaca mudah tertunda. Karena itu, Intan mencari lingkungan yang mendukungnya untuk kembali membaca bersama orang lain.

“Aku nyari-nyari komunitas yang sama-sama baca buku, jadi komunitas yang lingkungannya mendukung buat aku baca buku dengan nyaman. Supaya kondusif aja untuk membacanya,” kata dia.

Buku yang lama tertunda kembali dibaca

Suasana membaca bersama membantu Intan kembali melanjutkan buku yang sudah lama dibelinya tetapi belum selesai dibaca. “Buku ini udah lama aku beli, tapi belum selesai aku baca. Dengan ikutan komunitas di sini, nambah halaman yang aku baca,” ujar Intan sambil menunjukkan buku nonfiksinya.

Menurut Intan, bertambahnya beberapa halaman yang dibaca sangat berarti selama dilakukan secara konsisten. Berada di antara orang-orang yang juga membaca membuatnya merasa lebih mampu berkonsentrasi pada isi buku. “Jadinya lebih mengerti jalan cerita dalam bukunya, dibanding saat baca sendiri kok kadang diulang-ulang,” ujar Intan

Dari buku, bertemu pembaca lain

Awalnya Intan datang untuk mencari suasana membaca. Namun, kegiatan tersebut ternyata juga memberinya kesempatan bertemu dengan orang baru.

Peserta membawa buku yang berbeda-beda. Dari situ, rekomendasi bacaan dan percakapan kecil muncul secara alami. Intan pun mendapatkan pengalaman sosial yang sebelumnya tidak menjadi tujuan utamanya.“Dari ikutan komunitas ini aku juga jadi nambah teman secara nggak langsung, juga referensi buku baru,” ujarnya.

Menurut Intan, keberadaan komunitas membaca seperti ini penting karena sebenarnya banyak orang menyukai buku, tetapi aktivitas membaca sering dilakukan sendiri-sendiri. Dengan adanya ruang membaca bersama, orang-orang dengan minat serupa dapat bertemu tanpa harus membuat kegiatan yang terlalu formal.

Karena itu, Intan berharap kegiatan seperti ini terus tersedia dan berkembang. “Justru pengen terus ada, semakin berkembang dan semakin banyak juga komunitas kayak gini,” harapnya.

Menghidupkan kembali kesenangan membaca di ruang publik

Sesi membaca bersama di taman. Foto: IG Baca di Bandung

Ruang seperti yang dicari Intan memang menjadi bagian dari gagasan yang dibangun Silent Book Club Baca di Bandung. Inisiatif ini berangkat dari kecintaan terhadap membaca sekaligus keinginan menghidupkan kembali budaya membaca di ruang publik Bandung.

Inisiator Komunitas Baca di Bandung Balebat Buana Puspa mengatakan, Bandung memiliki banyak taman dan ruang publik yang sebenarnya dapat menjadi ruang tumbuh bagi budaya literasi. Namun, masih ada tantangan sederhana yang sering terlihat: orang masih merasa sungkan atau tidak terbiasa membaca buku di ruang publik.

“Baca di Bandung hadir dengan gagasan sederhana yaitu membuka akses terhadap literasi sekaligus menghidupkan kembali kesenangan membaca di ruang publik,” ujar Balebat.

Karena itu, kegiatan Baca Bersama dibuat sederhana. Peserta cukup datang, membawa buku masing-masing, lalu menikmati waktu membaca dalam suasana yang tenang di taman bersama peserta lainnya.

Format ini membuat orang dengan kebiasaan membaca yang berbeda dapat berada dalam satu ruang. Ada yang sudah terbiasa membaca, ada yang baru mulai, dan ada pula yang sudah lama tidak membuka buku.

Tiga cara menghidupkan budaya literasi

Sejak berdiri pada 2024, Baca di Bandung membawa tiga pendekatan utama, yaitu budaya literasi, akses literasi, dan eksplorasi literasi.

Budaya literasi diarahkan untuk membangun kembali kebiasaan membaca dalam kehidupan sehari-hari dengan cara yang menyenangkan. Akses literasi diwujudkan dengan menghadirkan buku dan kegiatan membaca di ruang yang mudah dijangkau masyarakat. Sementara eksplorasi literasi dilakukan dengan mencoba berbagai ruang dan pendekatan untuk menemukan bentuk kegiatan yang sesuai dengan masyarakat.

Kegiatan Baca Bersama kini rutin digelar sekitar dua kali dalam satu bulan. Komunitas yang sebelumnya berpindah-pindah melalui konsep safari taman kini juga menetap di Taman Badak dan Taman Sejarah.

Dalam perjalanannya, durasi membaca yang semula sekitar satu jam mulai dicoba menjadi dua jam sejak Agustus 2026. Hasilnya cukup menarik, antusiasme peserta tetap tinggi, bahkan jumlah peserta dalam beberapa kegiatan dapat mencapai lebih dari 100 orang.

Menurut Balebat, dua jam membaca tidak hanya menjadi soal lamanya seseorang berada di depan buku. Bagi sebagian peserta, mampu bertahan membaca dalam waktu yang lebih panjang juga dapat menjadi pencapaian personal.

“Ternyata peserta tidak hanya membangun kebiasaan membaca, tetapi menjadi achievement ketika berhasil menyelesaikan bukunya atau mampu menikmati proses membaca dalam waktu yang lebih panjang,” kata Balebat.

Ke depan, Balebat berharap gerakan ini dapat terus berkembang. Salah satu cita-citanya adalah menghadirkan perpustakaan fisik di Bandung yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat terhadap ruang literasi yang lebih terbuka dan relevan.

Membaca sebagai pengalaman bersama

Membaca memang dilakukan secara individual, tetapi ruang dan tempat seseorang membaca turut membentuk pengalamannya. Penelitian Reading and Company: Embodiment and Social Space in Silent Reading Practices tahun 2018, terhadap praktik silent reading di enam negara Eropa menunjukkan bahwa pengalaman membaca tidak sepenuhnya terlepas dari lingkungan sosial. Kehadiran orang lain dan ruang tempat seseorang membaca turut menjadi bagian dari pengalaman membaca dan cara pembaca menciptakan kondisi yang sesuai untuk membaca.

Temuan tersebut sejalan dengan pengalaman Intan. Ia tetap membaca buku pilihannya sendiri, tetapi berada di tengah orang-orang yang melakukan hal serupa memberinya waktu dan suasana yang lebih kondusif untuk membaca.

Bagi pembaca yang kesulitan menyediakan waktu atau mudah terdistraksi, menciptakan ruang khusus untuk membaca, baik melalui komunitas, perpustakaan, maupun tempat yang minim gangguan, dapat menjadi salah satu cara untuk kembali menyediakan waktu bagi buku.

Duduk bersama dalam satu ruang, membuka buku masing-masing, dan menyediakan waktu untuk membaca menjadi pengalaman yang ditawarkan Komunitas Baca di Bandung. Di tengah kesibukan dan berbagai distraksi sehari-hari, dua jam membaca bersama di akhir pekan menjadi kesempatan bagi pembaca untuk kembali membuka buku dan menikmatinya. [*]

One thought on “Membaca Senyap Bersama, Menemukan Kembali Waktu untuk Buku”

  1. Pingback: Mengenalkan Bencana Lewat Buku Cerita Anak - digitalMamaID

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE