digitalMamaID – Kematian seorang siswa sekolah dasar (SD) di Pemalang, Jawa Tengah, setelah diduga mengalami kekerasan oleh kakak kelasnya, kembali menyoroti persoalan kekerasan yang melibatkan anak. Peristiwa ini menjadi alarm keras bagi orangtua dan pendidik untuk lebih serius memahami agresivitas anak dan cara mencegahnya.
Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mencatat 60 kasus kekerasan di satuan pendidikan sepanjang 2025. Dari jumlah tersebut, kekerasan fisik menjadi bentuk yang paling banyak ditemukan, yakni 27 kasus atau 45 persen. FSGI juga mencatat peserta didik sebagai pelaku dalam 25 kasus, jumlah tertinggi dibandingkan kelompok pelaku lainnya. Data yang dihimpun dari kanal pengaduan FSGI dan pemberitaan media massa ini memperlihatkan, peserta didik juga terlibat dalam kasus kekerasan di lingkungan pendidikan.
Dosen Bimbingan Konseling Islam di Universitas Islam Negeri Palangka Raya Gerry Olvina Faz menjelaskan, perilaku agresif pada anak dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Untuk menanganinya secara tepat dan memastikan keselamatan korban, orangtua dan guru perlu melihat lebih jauh dari tindakan yang tampak, mulai dari proses tumbuh kembang emosi, contoh di lingkungan sosial, hingga relasi kuasa dalam dinamika pertemanan.
Gerry menjelaskan, anak masih belajar mengelola dorongan emosinya sehingga respons orangtua berperan penting dalam proses tersebut. Jika orangtua selalu menuruti keinginan anak setiap kali ia mengamuk agar situasi kembali tenang, anak kehilangan kesempatan untuk belajar menghadapi kekecewaan dan menunda keinginan. Di sisi lain, anak juga belajar dari perilaku yang dicontohkan orang-orang di sekitarnya.
Mengapa anak bisa melakukan kekerasan?
Pada masa kanak-kanak, kemampuan mengendalikan emosi dan dorongan masih dalam tahap berkembang. Ketika merasa marah, kecewa, atau frustrasi saat keinginannya tidak terpenuhi, sebagian anak menunjukkan reaksi agresif seperti memukul, mendorong, atau melempar barang.
Gerry menjelaskan, anak masih belajar mengelola dorongan emosinya sehingga respons orangtua berperan penting dalam proses tersebut. Jika orangtua selalu menuruti keinginan anak setiap kali ia mengamuk agar situasi kembali tenang, anak kehilangan kesempatan untuk belajar menghadapi kekecewaan dan menunda keinginan. Di sisi lain, anak juga belajar dari perilaku yang dicontohkan orang-orang di sekitarnya.
“Anak-anak belajar menyelesaikan masalah dari apa yang mereka lihat dan saksikan,” ujar Gerry pada digitalMamaID, Selasa, 06 Oktober 2026.
Ketika anak terbiasa menyaksikan kekerasan, ancaman, atau gertakan digunakan untuk menyelesaikan masalah, ia dapat meniru pola tersebut dalam interaksinya dengan teman sebaya. Hal ini sejalan dengan teori belajar sosial Albert Bandura yang menjelaskan bahwa anak dapat mempelajari perilaku melalui pengamatan dan peniruan.
Oleh karena itu, orangtua perlu memberikan contoh cara menyampaikan kemarahan, menetapkan batasan, dan menyelesaikan perbedaan pendapat tanpa menyakiti orang lain. Meski demikian, perilaku agresif tidak selalu muncul dari satu penyebab. “Pengalaman anak, situasi yang dihadapi, dan lingkungan sosial perlu diperiksa untuk memahami perilaku tersebut,” kata dia.
Relasi kuasa dan tekanan teman sebaya
Dalam pertemanan, ketimpangan relasi kuasa dapat membuat seorang anak lebih dominan daripada anak lain. Dominasi ini bisa muncul karena kekuatan fisik, dukungan kelompok, pengaruh di antara teman-temannya, atau posisi sosial yang membuatnya merasa berhak mengatur orang lain. Anak yang berada pada posisi lebih lemah mungkin kesulitan menolak, membela diri, atau meminta pertolongan. Ia juga bisa khawatir akan dikucilkan atau menjadi sasaran berikutnya jika melawan.
Tekanan teman sebaya (peer pressure) turut memperkuat situasi tersebut. Sebagian anak mungkin ikut mengejek atau menyakiti temannya karena ingin diterima kelompok, takut kehilangan pertemanan, atau menganggap tindakan tersebut sebagai sesuatu yang wajar di lingkungannya.
Dalam kondisi tertentu, ketimpangan relasi kuasa berkaitan dengan perundungan (bullying). Namun, tidak setiap tindakan agresif otomatis termasuk perundungan. Pola kejadian, relasi antara anak yang terlibat, dan kemampuan anak untuk membela diri perlu diperhatikan sebelum menentukan bentuk masalah dan penanganannya.
Pahami penyebab sebelum menentukan penanganan
Ketika terjadi kekerasan antaranak, orang dewasa perlu segera menghentikan tindakan yang membahayakan dan memastikan anak yang menjadi korban berada dalam kondisi aman. Setelah itu, konteks kejadian perlu ditelusuri agar penanganannya sesuai dengan masalah yang dihadapi.
“Kita cek dulu akarnya. Pertama, penyebabnya kenapa. Apakah bercanda yang berujung kecelakaan, perundungan, atau ada masalah di keluarga,” tegas Gerry.
Penelusuran tersebut bukan untuk membenarkan tindakan yang menyakiti orang lain. Langkah ini membantu orangtua dan sekolah memahami apakah kejadian berkaitan dengan konflik sesaat, perilaku agresif yang berulang, tekanan kelompok, atau persoalan lain yang membutuhkan pendampingan.
Pembedaan ini juga penting untuk mengenali perundungan. Perundungan umumnya melibatkan perilaku menyakiti yang berulang dan ketimpangan kekuatan antara pihak yang terlibat. Meski suatu kejadian belum memenuhi ciri-ciri tersebut, tindakan kekerasan tetap perlu ditangani secara serius, terutama jika menimbulkan cedera atau membuat anak merasa tidak aman.
Ajarkan anak berani bercerita dan meminta pertolongan
Kemampuan anak mengenali situasi yang tidak aman dan mencari pertolongan perlu dibangun melalui percakapan sehari-hari. Anak perlu mengetahui bahwa mereka dapat bercerita kepada orang dewasa tanpa langsung disalahkan atau dianggap berlebihan.
Untuk anak usia sekolah dasar, Gerry melanjutkan, perlu mendapat dorongan dari orang dewasa untuk melaporkan kejadian kepada orangtua atau guru. Kemampuan anak mempertimbangkan risiko juga perlu diperhatikan ketika mereka melihat temannya mengalami kekerasan.
Misalnya, ketika melihat seorang teman melakukan kekerasan fisik terhadap anak lain, anak tidak harus menegur pelaku secara langsung jika tindakan itu berisiko membahayakan dirinya. Ia bisa mencari guru atau orang dewasa yang dapat membantu.
Menurut Gerry, ada tiga hal yang perlu dibangun agar anak berani mengambil tindakan untuk melapor:
- Keterbukaan dalam berkomunikasi. Biasakan anak bercerita tentang kesehariannya, termasuk pengalaman di sekolah dan hubungan dengan teman-temannya. Dengarkan tanpa buru-buru menghakimi agar anak merasa aman untuk menyampaikan masalah.
- Kepercayaan diri. Bantu anak belajar menyampaikan keberatan, mengenali situasi yang membuatnya tidak nyaman, dan mencari bantuan ketika menghadapi ancaman. Kepercayaan diri tidak berarti anak harus menghadapi pelaku sendirian.
- Mengenali orang dewasa yang bisa membantu. Pastikan anak tahu kepada siapa ia dapat melapor ketika orang tua tidak berada di dekatnya, misalnya guru kelas, wali kelas, atau guru BK.
Kedekatan emosional antara orangtua dan anak turut mendukung kebiasaan tersebut. Orangtua dapat membangun komunikasi melalui obrolan tentang kegiatan sekolah, pengalaman sehari-hari, dan lingkungan pertemanan anak. Dengan begitu, anak belajar bahwa menolong tidak selalu berarti menegur pelaku secara langsung. Ketika situasi terasa tidak aman, melapor kepada orang dewasa merupakan langkah untuk membantu teman sekaligus melindungi diri.
Langkah orangtua dan sekolah mencegah keekerasan
Kemampuan anak mencari pertolongan perlu didukung oleh lingkungan yang merespons laporan dengan serius. Keluarga dan sekolah memiliki peran untuk membantu anak mengelola emosi, menghormati orang lain, serta memahami konsekuensi tindakannya.
Di rumah, orangtua bisa melakukan beberapa hal berikut:
- Memberikan teladan dalam mengelola emosi. Tunjukkan cara menyelesaikan perbedaan pendapat tanpa ancaman, bentakan, atau kekerasan. Anak belajar menghadapi konflik dari perilaku yang mereka lihat sehari-hari.
- Memperhatikan perubahan perilaku anak. Sikap mudah marah, menarik diri, ketakutan, atau enggan berangkat sekolah bisa menjadi alasan untuk mengajak anak berbicara dan mencari tahu kondisinya. Perubahan tersebut perlu dipahami lebih lanjut, bukan langsung dianggap sebagai bukti bahwa anak mengalami kekerasan.
- Menangani perilaku agresif dengan tegas. Hentikan tindakan yang menyakiti orang lain, bantu anak memahami dampaknya, dan dampingi ia belajar bertanggung jawab atas perbuatannya.
-
Mengembangkan empati anak. Bantu anak memahami perasaan dan kondisi orang lain, termasuk ketika temannya merasa takut, kesakitan, atau kesulitan. Anak perlu belajar bahwa kekuatan dan kemampuan yang dimilikinya dapat digunakan untuk membantu orang lain, bukan untuk menekan atau menyakiti mereka.
Gerry menekankan bahwa penanganan terhadap anak yang melakukan kekerasan perlu berfokus pada perubahan perilaku, dengan tetap memperhatikan keselamatan anak yang menjadi korban. “Tujuan utamanya bukan untuk menyalahkan atau cuci tangan, tetapi membantu agar anak bisa diterima oleh lingkungannya, sikap agresifnya menurun, dan tidak membahayakan atau menyakiti temannya,” jelas Gerry.
Sekolah harus menjadi tempat aman untuk melapor
Keberanian anak untuk melapor perlu didukung oleh sistem sekolah yang jelas. Anak perlu mengetahui kepada siapa mereka bisa meminta bantuan dan bagaimana laporan akan ditangani. Gerry mengingatkan, imbauan saja tidak cukup jika tidak disertai pembiasaan nilai dalam keseharian. “Poster atau imbauan saja tidak cukup. Penanaman nilai harus dilakukan secara masif melalui keseharian dalam pembelajaran kelas,” tegas Gerry.
Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan guru dan sekolah untuk membangun lingkungan yang aman bagi siswa.
- Mengenali dinamika dan ketimpangan relasi kuasa. Guru perlu mengamati interaksi siswa, termasuk pola dominasi, pengucilan, dan tekanan teman sebaya. Pengaturan kelompok belajar secara bergantian dan pembagian peran yang merata dapat membantu mencegah dominasi kelompok tertentu. Guru juga perlu memberi kesempatan kepada siswa yang cenderung pasif untuk terlibat.Gerry menjelaskan, jika kecenderungan perundungan muncul dalam kelompok tertentu, guru dapat mengatur ulang kelompok untuk mengurangi dominasi dan membuka interaksi dengan teman lain.
- Menyediakan jalur pelaporan yang aman dan mudah diakses. Sekolah perlu memastikan anak mengetahui kepada siapa mereka bisa bercerita atau meminta bantuan. Identitas pelapor juga perlu dijaga agar anak tidak mengalami intimidasi atau pembalasan. Guru dan pihak sekolah perlu membangun suasana yang membuat anak merasa aman ketika menyampaikan masalah.
- Menindaklanjuti laporan dengan cermat. Guru perlu mendengarkan cerita anak tanpa menghakimi, memeriksa informasi dari pihak terkait, dan mengutamakan keselamatan anak yang mengalami kekerasan. Penanganan juga perlu menelusuri penyebab kejadian agar sekolah dapat menentukan langkah yang sesuai dan mencegah masalah serupa terulang.
Dalam proses tersebut, Gerry menekankan pentingnya kerja sama antara keluarga dan sekolah dalam menangani permasalahan. Penanganan yang dilakukan harus berfokus pada keselamatan anak, penelusuran penyebab, dan perbaikan perilaku.
Membangun sistem perlindungan bersama
Gerry menilai, perbedaan pandangan antara guru dan orangtua dapat menghambat penyelesaian masalah jika masing-masing pihak lebih sibuk mempertahankan posisinya. “Guru dan orangtua harus berada dalam satu tim yang sama untuk membantu menyelesaikan masalah,” ujar Gerry.
Kerja sama tersebut diperlukan agar anak yang mengalami kekerasan mendapat perlindungan, sementara anak yang melakukan kekerasan memperoleh pendampingan untuk memperbaiki perilakunya. Memahami latar belakang tindakan anak tetap penting, tetapi tidak boleh mengaburkan dampak yang ditimbulkan maupun tanggung jawab atas perbuatannya.
Gerry mengingatkan bahwa penanganan perlu dilakukan secara hati-hati dengan menelusuri kejadian dan faktor yang mungkin memengaruhi perilaku anak. Sekolah dan orangtua perlu memeriksa informasi dari berbagai pihak, termasuk kemungkinan adanya masalah di lingkungan keluarga atau sekolah
Kekerasan antaranak tidak bisa dianggap sebagai persoalan sepele atau konflik biasa yang akan selesai dengan sendirinya. Jika dibiarkan, dampaknya dapat semakin serius, mulai dari luka fisik dan tekanan psikologis hingga mengancam nyawa.
“Orangtua dan sekolah perlu mengenali tanda-tanda kekerasan sejak dini, menindaklanjuti laporan, dan memastikan setiap kejadian mendapat penanganan yang tepat,” tambah Gerry.
Pencegahan kekerasan tidak cukup dengan meminta anak bersikap baik atau berani melapor. Orang dewasa perlu memastikan setiap laporan ditanggapi, perilaku agresif ditangani, dan anak yang terlibat mendapat pendampingan sesuai kebutuhannya.
“Dengan begitu, kekerasan dapat dihentikan sebelum berkembang menjadi tindakan yang lebih parah dan menimbulkan dampak yang tidak dapat dipulihkan,” papar Gerry. [*]






