Presiden Prabowo Gunakan Kata “Goblok”, Apa yang Akan Dipelajari Anak?

Share

digitalMamaID – Ucapan Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya kembali menjadi kontroversi. Ia menggunakan kata “goblok” dalam pidato di forum resmi.

Kontroversi itu terjadi saat presiden memberi sambutan di  HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta, Jumat, 18 September 2026. “Saking pintarnya jadi goblok,” kata Prabowo. Ucapan itu ditujukan kepada kalangan akademisi atau pakar yang mengkritiknya.

Di tengah derasnya distribusi potongan video di media sosial, ucapan tersebut juga dapat dengan mudah sampai kepada anak-anak. Padahal, ketika seorang pemimpin menggunakan kata-kata kasar, mengejek, atau merendahkan orang lain, anak tidak hanya mendengar kata-katanya. Mereka juga dapat mengamati bagaimana seseorang yang memiliki kekuasaan memperlakukan orang lain dan bagaimana lingkungan meresponsnya.

Lantas, apa yang sebenarnya dipelajari anak ketika melihat figur yang mereka anggap penting berbicara dengan cara demikian? Apakah mereka akan menganggap perilaku tersebut sebagai sesuatu yang wajar dan boleh ditiru, atau justru mempertanyakannya? Lebih jauh, bagaimana paparan semacam ini dapat memengaruhi generasi berikutnya?

Apa yang terjadi ketika anak melihat figur berkuasa menggunakan kata-kata kasar

Dosen Psikologi Universitas Jenderal Achmad Yani (UNJANI) Miryam Ariadne Sigarlaki mengatakan, sebenarnya anak dapat mempelajari kata-kata yang digunakan sekaligus cara memperlakukan orang lain. “Dalam teori belajar sosial dari Albert Bandura, hal ini disebut sebagai observational learning, yaitu belajar melalui pengamatan. Jadi anak memperhatikan perilaku seseorang serta respon lingkungan terhadap perilaku tersebut,” kata Miryam ketika dihubungi digitalMamaID Rabu, 30 September 2026.

Menurutnya, dalam penelitian Bandura menunjukkan, konsekuensi yang diterima seorang model dapat mempengaruhi apakah anak menampilkan perilaku yang telah diamatinya. Dalam konteks figur publik, salah satu pesan yang mungkin ditangkap anak adalah bahwa berbicara dengan cara tertentu dapat membuat seseorang didengar atau terlihat kuat.

“Jadi, itu pola meniru. Terlebih apabila ucapan yang merendahkan disambut tawa, pujian atau dukungan gitu,” jelas Miryam.

Namun, menurut Miryam, respons anak tidak selalu berupa peniruan. Anak bisa merasa bingung karena ucapan atau perilaku tersebut bertentangan dengan aturan di rumah atau di sekolah. Kemudian usia, pengalaman, kedekatan dengan figur tersebut dan penjelasan orang dewasa ikut memengaruhi pemaknaannya.

“Jadi, menurut saya yang perlu menjadi perhatian adalah ketika ucapan digunakan untuk menghina, mempermalukan atau merendahkan. Padahal, ketegasan tetap dapat disampaikan dengan menghormati martabat orang lain,” katanya.

Anak perlu memisahkan kedudukan seseorang dan kepantasan perilakunya

Miryam juga melihat adanya kemungkinan anak menangkap pesan bahwa perilaku tertentu menjadi ‘boleh’ karena dilakukan oleh seseorang yang memiliki jabatan atau kekuasaan.

Ia merujuk pada penelitian mengenai prestige bias learning. Penelitian itu menunjukkan, anak dapat lebih memilih belajar dari orang yang mendapatkan perhatian atau penghormatan dari orang lain. Meski penelitian tersebut tidak secara khusus menguji ucapan pemimpin politik, temuan itu dapat membantu menjelaskan mengapa perilaku sosok yang dipandang penting berpotensi memiliki pengaruh khusus bagi anak.

“Anak mungkin membuat kesimpulan sederhana. Kesimpulannya begini, dia orang penting, dihormati, berarti yang dilakukannya itu boleh. Di sini orang dewasa perlu membantu anak memisahkan kedudukan seseorang dari kepantasan perilakunya,” katanya.

Orangtua dapat menjelaskan kepada anak bahwa seseorang tetap perlu dihormati karena jabatannya, tetapi setiap orang, termasuk pemimpin, dapat mengucapkan sesuatu yang kurang tepat. Anak juga perlu diajak menilai apakah ucapan tersebut menghargai atau justru menyakiti orang lain.

Jadi, anak perlu belajar membedakan antara menghormati seseorang karena jabatannya dengan menganggap semua yang dilakukan orang tersebut sebagai sesuatu yang benar.

Risiko normalisasi

Kekhawatiran terbesarnya adalah ucapan yang semula dianggap tidak pantas menjadi terasa biasa saja karena sering terlihat dan mendapat penerimaan. Dengan kata lain, menormalisasi perilaku yang tidak baik. “Anak kemudian mungkin memandang ejekan atau penghinaan sebagai cara yang wajar untuk menyampaikan ketidaksetujuan,” katanya.

Oleh karena itu, Miryam melihat, normalisasi sebagai risiko yang perlu diantisipasi. Ia juga mengingatkan, viralnya sebuah pernyataan tidak selalu berarti pernyataan tersebut diterima. Sebuah ucapan dapat viral justru karena mendapat kritik.

“Penjelasan dan respons yang menyertai tayangan ikut menentukan pelajaran yang diperoleh anak,” katanya.

Dengan demikian, orangtua dan sekolah masih memiliki ruang untuk membentuk standar komunikasi anak melalui contoh sehari-hari, percakapan, dan aturan yang konsisten.

Beberapa hal yang bisa diterapkan

Miryam menyarankan orangtua mendampingi anak ketika mereka melihat tayangan yang menampilkan perilaku komunikasi yang dianggap tidak pantas.

Langkah pertama dapat dilakukan dengan bertanya kepada anak mengenai pendapatnya. Misalnya, orangtua dapat bertanya, “Menurut kamu, bagaimana cara beliau berbicara?” atau “Apa yang mungkin dirasakan orang yang disebut seperti itu?”

Menurut Miryam, orangtua sebaiknya mendengarkan terlebih dahulu pemahaman anak sebelum memberikan penjelasan. Dengan begitu, orang tua dapat mengetahui bagaimana anak memaknai tayangan yang dilihatnya.

Kedua, ajarkan anak memeriksa konten. Bagi anak yang lebih besar, periksa sumber dan bagian sebelum, sesudah potongan video. Sebab, potongan video dapat menghasilkan pemaknaan yang berbeda dibandingkan ketika seseorang melihat keseluruhan peristiwa. Anak juga diajak membahas siapa yang berbicara, apa persoalannya, dan apakah kata-kata yang digunakan membantu menyelesaikan masalah.

“Kemudian latih kalimat pengganti. Misalnya gini, ‘Saya tidak setuju karena..’ atau misalnya ‘Saya sedang marah dan perlu waktu untuk tenang’. Nah, anak perlu memiliki cara konkret untuk menyampaikan emosi dan keberatan,” imbuhnya.

Lalu berikan contoh dan perbaiki kesalahan. Ketika orangtua atau guru terlanjur berbicara dengan cara yang menyakitkan, mereka dapat meminta maaf dan mengakui kesalahannya. Dengan begitu, anak belajar bahwa orang dewasa juga bertanggung jawab terhadap perkataannya

Selanjutnya bangun praktik di sekolah. Guru dapat menggunakan diskusi kasus sesuai usia, bermain peran dan latihan berbeda pendapat. “Nah, aturan tentang penghinaan harus konsisten termasuk ketika pelakunya siswa populer atau berprestasi. Jangan sampai karena dia siswa populer atau berprestasi jadi di normalisasi atau dimaklumi gitu ya. Nah, anak yang menjadi sasaran juga perlu mendapatkan dukungan,” jelasnya.

Untuk anak yang lebih kecil, pembicaraan dapat dibuat konkret. Misalnya dengan mengajarkan bahwa anak boleh marah, tetapi sampaikan tanpa menghina orang lain. Sementara bagi remaja, pembahasan dapat berkembang pada hubungan antara kekuasaan, tanggung jawab, dan dampak dari ucapan. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE