Membuka Akses Kaki Palsu bagi Penyandang Disabilitas Lewat Kolaborasi Indonesia-Malaysia

Share

digitalMamaID – Akses terhadap kaki palsu bagi penyandang disabilitas di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan. Persoalannya bukan hanya ketersediaan teknologi, tetapi juga kondisi sosial ekonomi, pendataan penerima manfaat, hingga layanan rehabilitasi yang belum merata. Di tengah tantangan tersebut, kolaborasi teknologi prostetik Indonesia–Malaysia mulai menjajaki pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk membantu proses pembuatan alat bantu yang lebih sesuai dengan kebutuhan pengguna.

Co-Founder dan CEO PT Bangga Teknologi Produktif (KARLA) Arief Indra Muharam mengungkapkan, salah satu kendala utama penyandang disabilitas di Indonesia terbatas dalam mendapatkan kaki palsu rata-rata karena kondisi sosial ekonominya. “Jadi ciri khasnya adalah pekerja kerah biru yang kecelakaan kerja, sehingga mereka tidak bisa kembali bekerja dan biasanya belum ter-cover oleh BPJS Ketenagakerjaan. Itu masalah utamanya sehingga mereka itu kalau yang dapat peluang pendanaan dapat sendiri, kalau nggak memang kita harus cari dananya,” ungkap Arief ketika ditemui di acara peluncuran Kolaborasi Indonesia-Malaysia untuk Teknologi Protestik di ITB Innovation Park Teknopolis Summarecon, Jumat, 9 Oktober 2026.

Karena itu, KARLA tidak hanya mengembangkan dan memproduksi teknologi prostetik, tetapi juga berupaya mencari pendanaan agar alat bantu tersebut dapat diakses oleh mereka yang membutuhkan. Berdasarkan data internal KARLA, sekitar 90 persen penerima manfaat yang mereka dampingi membutuhkan dukungan pendanaan, sedangkan 10 persen lainnya mampu membeli perangkat secara mandiri. “Jadi kita harus bikin teknologinya, manufaktur juga, kemudian cari pendanaannya,” katanya

Pendataan kebutuhan masih menjadi pekerjaan rumah

Selain pendanaan, tantangan lain yang dihadapi adalah keterbatasan data mengenai penyandang disabilitas yang membutuhkan alat bantu.

Menurut Arif, data dari instansi pemerintah, seperti Dinas Sosial, Kementerian Sosial, dan Badan Pusat Statistik (BPS), belum sepenuhnya menggambarkan kebutuhan di lapangan. Karena itu, KARLA turut mengandalkan komunitas, grup Facebook, dan jaringan akar rumput untuk menemukan data yang akurat.

“Pendataan dulu yang paling penting. Karena kalau data BPS kita standarnya adalah disabilitas semua disamakan, daksa. Sekarang kita udah turun ke daksa, tangan dan kaki aja udah beda kebutuhannya. Terus kakinya juga terbagi lagi ada beberapa, ada atas siku, bawah siku,” ungkapnya.

Penting juga untuk ukuran dan bentuk soket, bagian yang menghubungkan kaki palsu harus disesuaikan dengan kondisi pengguna. Soket yang tidak pas dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan membuat kaki palsu pada akhirnya tidak digunakan. Risiko ini semakin besar ketika perangkat diberikan tanpa pengukuran dan penyesuaian yang memadai.

Kolaborasi Indonesia–Malaysia untuk memperluas akses

Menjawab berbagai tantangan tersebut, KARLA berupaya memperluas akses terhadap teknologi prostetik di Indonesia melalui kolaborasi antara dengan Empowered Solutions Sdn. Bhd., perusahaan teknologi medis asal Malaysia.

Peluncuran Kolaborasi Indonesia-Malaysia untuk Teknologi Protestik di ITB Innovation Park Teknopolis Summarecon, Jumat, 9 Oktober 2026. (Penny Yuniasri/digitalMamaID)*

Kolaborasi ini akan mengeksplorasi penerapan teknologi prostetik berbasis AI dalam konteks Indonesia, sekaligus membuka peluang pengembangan layanan dan ekosistem teknologi prostetik yang lebih sesuai dengan kebutuhan lokal.

Kolaborasi KARLA dan Empowered Solutions tidak diarahkan semata-mata sebagai transfer teknologi, tetapi sebagai proses untuk menguji, mengadaptasi, dan mengembangkan penerapan teknologi sesuai dengan kebutuhan dan ekosistem Indonesia.

Salah satu kolaborasi teknologi awal yang akan diperkenalkan adalah digital workflow untuk pengembangan prosthetic socket, mulai dari 3D scanning, de-identifikasi atau pseudonimisasi sebelum nantinya diproses ke dalam aplikasi AI-assisted socket design, hingga pemilihan komponen prostetik yang sesuai melalui digital procurement workflow.

Teknologi protestik berbasis AI

Teknologi yang dihadirkan dalam kolaborasi ini adalah KIRIN AI, teknologi kecerdasan buatan yang dikembangkan oleh Empowered Solutions Malaysia secara mandiri, dengan arsitektur AI khusus yang tidak bergantung pada large language model (LLM) generatif pihak ketiga seperti ChatGPT.

Co-Founder dan CEO Empowered Solutions Hafiz Hashim sedang menjelaskan gambaran alur teknologi (Penny/digitalMamaID)*

Pendekatan ini memungkinkan pengembangan sistem yang dirancang secara spesifik untuk kebutuhan produksi socket prostesis, sekaligus memberikan kendali lebih besar terhadap arsitektur dan pengelolaan teknologi. Dengan pendekatan tersebut, KIRIN AI berpotensi mendukung penerapan teknologi yang lebih terarah serta pengelolaan data yang sesuai dengan kebutuhan layanan ortotik dan prostetik.

Selain KIRIN AI, Empowered Solutions Malaysia juga mengembangkan teknologi berkonsep Prosthetic Partpicker, sebuah platform yang dirancang untuk menghubungkan praktisi ortotik dan prostetik dengan produsen komponen prostetik secara langsung. Teknologi ini diharapkan dapat memperluas akses terhadap komponen yang dibutuhkan, mempermudah koneksi antara penyedia layanan dan produsen, serta membuka peluang akses pasar yang lebih luas bagi produsen di industri ortotik dan prostetik.

Di Indonesia, KARLA akan mengembangkan flagship hub yang mengusung konsep klinik spesialis ortosis dan prostesis terintegrasi, dengan layanan yang dipimpin oleh dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi. Hub ini dirancang untuk mengintegrasikan konsultasi medis, rehabilitasi, serta asesmen dan pembuatan alat bantu sesuai kebutuhan pengguna, dengan mengadaptasi teknologi KIRIN AI serta prostethic partpicker tersebut ke dalam proses produksi socket prostesis.

Teknologi ini juga diharapkan lebih mudah diadopsi oleh praktisi ortotik dan prostetik karena tidak membutuhkan keterampilan tambahan seperti desain 3D. Dengan proses produksi yang telah didukung secara lebih efisien oleh teknologi, praktisi ortosis prostesis diharapkan dapat lebih memaksimalkan kualitas pelayanan terhadap pasien.

Membuka peluang ekosistem prostetik regional

Empowered Solutions merupakan perusahaan MedTech Malaysia yang mengembangkan solusi berbasis teknologi untuk layanan prostetik dan rehabilitasi, dengan fokus pada personalisasi dan perluasan akses terhadap layanan prostetik.

Perusahaan tersebut mendapatkan dukungan melalui Cradle Fund CIP Spark, program pemerintah Malaysia untuk mendukung perusahaan teknologi tahap awal, serta terlibat dalam kegiatan validasi teknologi dan klinis bersama Cheras Rehabilitation Hospital (CRH) melalui MRANTI HealthTech Hub Sandbox.

Di Indonesia, kolaborasi dengan KARLA dan mitra terkait diharapkan dapat menjadi tahap awal untuk mengeksplorasi penerapan teknologi tersebut dalam konteks lokal, termasuk pengembangan kapasitas, implementasi teknologi, serta peluang komersialisasi dan pengembangan layanan.

Bagi KARLA, kolaborasi ini juga menjadi bagian dari upaya mengembangkan teknologi asistif dan rehabilitasi yang tidak berhenti pada pengembangan produk, tetapi dapat terhubung dengan kebutuhan pengguna dan ekosistem pelayanan di lapangan.

“Tantangan dalam teknologi prostetik bukan hanya bagaimana membuat teknologinya, tetapi bagaimana memastikan teknologi tersebut dapat digunakan dan memberikan manfaat dalam konteks lokal. Karena itu, kami melihat kolaborasi ini sebagai kesempatan untuk belajar, mengadaptasi, dan membangun model penerapan yang relevan untuk Indonesia,” ujar Arief.

Dari kolaborasi teknologi menjadi akses yang nyata

KARLA sendiri merupakan perusahaan teknologi sosial yang mengembangkan teknologi asistif, rehabilitasi, dan adaptive technology dengan pendekatan multidisipliner yang menggabungkan desain, engineering, dan ilmu sosial.
Salah satu produk yang dikembangkan KARLA adalah Raga Arm, perangkat prostetik anggota gerak atas yang dikembangkan untuk meningkatkan akses terhadap teknologi prostetik yang lebih terjangkau dan sesuai dengan kebutuhan pengguna.

Melalui kolaborasi dengan Empowered Solutions, pengalaman pengembangan teknologi di Indonesia dapat dipertemukan dengan teknologi dan pengalaman pengembangan prostetik dari Malaysia.

Kedua pihak melihat peluang kolaborasi bukan hanya dalam pengembangan teknologi, tetapi juga dalam membangun kapasitas lokal, model implementasi, dan jejaring regional yang dapat mendukung perkembangan teknologi prostetik di Asia Tenggara.

“Kami melihat Indonesia memiliki kebutuhan sekaligus potensi yang besar untuk pengembangan teknologi prostetik. Kolaborasi dengan mitra Indonesia memungkinkan teknologi yang kami kembangkan untuk dipelajari dan disesuaikan dengan kondisi lokal, bukan sekadar dipindahkan dari satu negara ke negara lain,” ujar perwakilan Empowered Solutions Sdn. Bhd.

Kolaborasi ini diharapkan dapat menjadi salah satu langkah awal dalam memperkuat hubungan inovasi teknologi antara Indonesia dan Malaysia sekaligus membuka peluang bagi pengembangan teknologi prostetik yang lebih mudah diakses di kawasan. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE