digitalMamaID — Kapan terakhir kali Mama benar-benar berjalan tanpa terburu-buru? Tanpa notifikasi ponsel, tanpa percakapan, bahkan tanpa tujuan untuk segera sampai.
Bagi banyak ibu, rasanya hampir mustahil. Pikiran terus dipenuhi daftar pekerjaan, kebutuhan anak, urusan rumah, hingga pekerjaan kantor. Tubuh memang bergerak, tetapi kepala tak pernah benar-benar beristirahat. Ini yang membuat ibu kerap mengalami burnout.
Di tengah padatnya rutinitas itu, silent hiking menawarkan pengalaman yang berbeda. Bukan tentang menaklukkan gunung, melainkan memberi ruang bagi diri sendiri untuk kembali hadir di momen saat ini.
Menikmati perjalanan
Iin, seorang ibu pekerja yang baru saja pensiun di usia 56 tahun, merasa hidupnya berputar di pekerjaan, merawat keluarga, dan mengurus rumah. Menurutnya, semakin bertambah usia, dia merasakan penurunan ambisi dan ekspektasi. Dia hanya ingin hidup dengan sehat. Ia berusaha menjaga kebugaran dengan melakukan perjalanan seperti hiking.
“Saya baru pertama kali ikut silent hiking. Ternyata, saya menemukan banyak makna dalam diam selama perjalanannya,” ujar Iin dalam sharing session silent hiking di Lembang, Sabtu, 18 Juli 2026.
Selama ini trip yang diikutinya selalu bicara tujuan. Jika hiking, ingin sampai puncak. Jika travelling ingin mendatangi beberapa destinasi. Tak pernah bicara menikmati perjalanannya. Menghormati setiap hal yang dilalui selama perjalanan, dan menjadi awas dengan detil kecil.
Berjalan berjarak dalam diam, menghormati setiap ruang hening masing-masing, jadi konsep kegiatan ini. Digagas oleh Silent Hiking Indonesia, mereka ingin setiap orang berhenti sejenak dan menjadi sadar akan momen saat ini.
Silent Hiking Indonesia meyakini, tanpa disadari sebagian besar waktu kita dihabiskan dengan pikiran yang mengembara, memikirkan masa lalu yang sudah berlalu atau masa depan yang belum tentu terjadi.
“Di era modern ini, pikiran kita hampir tidak pernah benar-benar hadir di momen yang sedang terjadi. Di sinilah mindfulness berperan,” ujar fasilitator Silent Hiking Indonesia, Fajar Tanira.

Melatih mindffulness
Secara sederhana, mindfulness adalah kemampuan untuk hadir sepenuhnya di momen saat ini. Menyadari apa yang sedang terjadi, baik di dalam diri maupun di sekitar kita, dengan sikap yang terbuka dan tanpa menghakimi atau melabeli.
“Satu-satunya momen yang benar-benar bisa kita hidupi adalah sekarang. Mindfulness mengajarkan kita untuk tidak melewatkan momen itu,” tutur Fajar.
Mengupayakan mindfulness tidak sełalu berarti duduk diam bermeditasi. Ia dapat dipraktikkan dalam aktivitas sehari-hari, atau berjalan sambil memusatkan perhatian pada langkah, napas, dan pengalaman indrawi di sekitar.
Ketika pikiran melayang, cukup menyadarinya lalu perlahan mengembalikan perhatian ke momen saat ini. “Inilah yang menjadi dasar dari Silent Hiking Indonesia, menghadirkan hutan bukan hanya sebagai tempat berjalan, tetapi sebagai ruang untuk kembali hadir, memulihkan diri, dan mendengarkan diri sendiri,” ujarnya.
Berkumpul sejak pagi hari, udara segar hutan segera menyapa peserta perjalanan. Setelah briefing singkat, peserta berjalan tenang dan berjarak antara 5-10 meter dari sesamanya.
Langkah pelan dan hening, menajamkan seluruh indera dan menaruh kepercayaan sepenuhnya pada diri sendiri. Meninggalkan sesaat kebergantungan pada orang lain, dengan tetap tidak menurunkan kewaspadaan.
Menyusuri track dengan rute sesekali masuk ke hutan lebat jadi sensasi lain. Insting diasah dalam diam, tetapi kaki terus melangkah dengan percaya diri.
Jarak sejauh 2-3 kilometer, ternyata ramah bagi pemula juga lansia. Sayangnya, belum disarankan mengajak anak-anak karena aturan perjalanannya tidak boleh berbarengan.
Mengambil pelajaran
Niza, seorang pekerja di perkantoran ibukota yang sengaja ke Bandung untuk ikut silent hiking. Pada testimoninya, dia mengaku sempat memiliki perasaan gemas karena terbiasa hidup dalam tempo cepat. Sehingga lelah jika menunggu, tak sabar ingin mendahului.
“Tapi setelah ikut trip ini, saya bisa bilang ke diri sendiri, pelan-pelan saja. Mau ke mana? Kan tujuannya sudah jelas kembali ke semula. Sekarang saatnya menikmati prosesnya,” katanya.

Cerita lain datang dari Qory, yang juga domisili Jakarta. Hadir dengan emosi memuncak karena satu dan lain hal. Namun ia bersyukur bisa mengikuti trip sampai selesai.
“Tadinya mau batal saja. Sudah bad mood, kesal sekali. Tapi terima kasih Tuhan, saya tetap datang dan ikut. Banyak pelajaran yang saya dapat,” ujarnya.
Emosinya perlahan menguap saat ia berjalan sendirian. Saat sibuk dengan pikirannya, ia segera mengalihkannya pada hal-hal yang bisa ia lihat, dengar, dan sentuh selama hiking.
Lambat laun, hatinya menghangat. Rasa haru menyeruak, apalagi saat menemukan satu pohon besar yang kelihatannya hadir menghalangi jalan.
“Mula-mula saya pegang-pegang saja. Kok ada rasa yang enggak bisa saya jelaskan, ya. Lama-lama saya peluk pohonnya, saya merasa ada sesuatu yang mengalir. Saya nangis, dan saya lakukan itu beberapa kali selama perjalanan. Di akhir sesi, rasanya beban di hati saya jauh lebih ringan,” tuturnya.
Cerita serupa kerap didengar Fajar sebagai fasilitator perjalanan. Bersama timnya, ia sudah memulai konsep mindfull selama hiking ini sejak awal tahun.
Di batch ke-15 ini, sebanyak 14 peserta terdiri dari perempuan semua. Hal yang baru bagi tim fasilitator.
Journaling dan grounding
Pada pertengahan trip, peserta akan beristirahat di ‘ruang tuang’ dan masing-masing diberi kertas dan pulpen. Ini adalah sebuah open-space yang bisa digunakan peserta untuk journaling, meluapkan isi hatinya, atau mengosongkannya saja juga tidak masalah.
Tidak ada bagus atau jelek, benar atau salah, semua ekspresi, diterima. Setelahnya, peserta kembali berjalan berjarak dalam hening menuju pos terakhir.
Di mana 200 meter sebelum tiba, semua diminta grounding, membuka alas kakinya, dan merasakan indera perasa di telapak kaki menyentuh bumi. Ada rasa dingin tanah lembab khas hutan pinus, ada tekstur kasar dedaunan kering yang meranggas, ada basah yang terasa saat melewati aliran air, dingin kerasnya bebatuan, akar pohon yang menonjol, juga sensasi menggelitik dari rerumputan yang terinjak.
Di pos terakhir, peserta diberi ruang untuk menyendiri sekira satu jam. Bebas eksplorasi, meditasi, membaca buku, menggambar, mewarnai, atau bahkan tidur.
“Yang baru di batch ini, adalah mindfull eating. Makan dalam hening. Sebelumnya, acara makan digabung dengan sharing session. Ternyata, tidak semua orang pernah makan dalam diam. Benar-benar menikmati setiap suapan, mengamati kehadiran makanan, mensyukurinya, itu bisa membantu menarik kita ke momen sekarang,” ujar Fajar.
Pada akhirnya, seluruh peserta sukses menjalani perjalanan selama lebih kurang 6 jam. Tanpa distraksi digital karena ponsel dikumpulkan sebelum perjalanan dimulai.
Rupanya, menghilang sejenak di rimbunnya hutan, menyusurinya dalam diam, membawa pulang banyak makna, tentang apa yang diri kita butuhkan tetapi sempat terlupakan. [*]






