Singapura Siapkan Hampir Rp1 Miliar per Anak, Dukungan Sejak Lahir hingga Usia 17 Tahun

Share

digitalMamaID – Singapura kembali memperbesar dukungan untuk keluarga di tengah angka kelahiran yang terus menurun. Pemerintah negara tersebut mengumumkan dukungan finansial langsung yang secara kumulatif mencapai hampir 70.000 dolar Singapura untuk setiap anak warga negara Singapura sejak lahir hingga usia 17 tahun. Kebijakan ini diumumkan dalam National Day Rally (NDR) 2026 yang berlangsung pada 23 Agustus 2026.

Jika dikonversikan secara kasar dengan asumsi kurs 1 dolar Singapura  sekitar Rp13.000, nilainya setara dengan sekitar Rp910 juta. Namun, angka tersebut bukan uang tunai yang diberikan sekaligus kepada orangtua. Dukungan diberikan dalam berbagai bentuk dan disalurkan sepanjang masa pertumbuhan anak.

Selain memperbesar dukungan finansial, Singapura juga menambah childcare leave atau cuti pengasuhan anak bagi orangtua yang bekerja. Jumlah cuti tersebut akan semakin besar sesuai jumlah anak dalam keluarga.

Angka kelahiran Singapura capai titik terendah

Data Singapore Department of Statistics menunjukkan, total fertility rate (TFR) penduduk residen Singapura pada 2025 hanya 0,87, turun dari 0,97 pada 2024. Angka tersebut merupakan TFR terendah yang pernah tercatat di Singapura. Satu dekade sebelumnya, pada 2015, TFR Singapura masih berada di angka 1,24.

Penurunan fertilitas ini merupakan bagian dari tren demografi yang berlangsung selama bertahun-tahun. Pada saat yang sama, Singapura menghadapi populasi yang semakin menua. Lebih dari satu dari lima warga negara Singapura telah berusia 65 tahun atau lebih.

Kondisi tersebut membuat rendahnya angka kelahiran menjadi persoalan jangka panjang bagi negara. Namun, pemerintah tidak melihat masalah ini sesederhana anggapan bahwa masyarakat tidak ingin memiliki anak.

Dalam berbagai konsultasi dan kajian pemerintah Singapura menunjukkan, sebagian masyarakat tetap menginginkan pernikahan dan anak, tetapi menghadapi berbagai hambatan untuk mewujudkannya. Hambatan tersebut antara lain biaya membesarkan anak, keterbatasan waktu, tuntutan pekerjaan, serta tekanan dalam menjalankan peran sebagai orangtua.

Bukan hanya baby bonus

Dalam paket baru yang diumumkan pada Agustus 2026, pemerintah memperkenalkan SG Child Support Package. Paket ini memberikan dukungan hingga 62.000 dolar Singapura untuk setiap anak warga negara Singapura. Berikut isi paket dan nominalnya.

  1. Baby Gift: S$10.000
  2. Child Credits, usia 1–16 tahun S$2.000 per tahun selama 16 tahun
  3. CDA First Step Grant S$5.000
  4. Pemerintah mencocokkan tabungan CDA Hingga S$5.000
  5. Top-up PSEA pada usia 17 tahun S$10.000
  6. Dukungan tambahan, termasuk MediSave Grant dan Edusave Sekitar S$7.500

Total hampir 70.000 dolar Singapura merupakan akumulasi berbagai bentuk dukungan pemerintah sepanjang masa kanak-kanak hingga usia 17 tahun, bukan uang tunai yang diberikan sekaligus kepada orangtua.

Dalam paket baru tersebut, pemerintah Singapura mengubah pola dukungan yang sebelumnya lebih terkonsentrasi pada tahun-tahun awal kehidupan anak. Kini, dukungan diberikan secara lebih berkelanjutan sepanjang perjalanan anak hingga remaja.

Paket baru ini juga berlaku sama untuk setiap anak, terlepas dari urutan kelahirannya. Artinya, keluarga yang memiliki lebih banyak anak secara otomatis akan memperoleh total dukungan yang lebih besar.

Orangtua mendapat lebih banyak waktu

Pemerintah Singapura menyadari, dukungan bagi keluarga tidak cukup diberikan ketika anak baru lahir. Perdana Menteri Lawrence Wong mengatakan, pemerintah ingin melakukan perubahan mendasar dalam cara mendukung keluarga, dari kebijakan yang sebelumnya banyak terkonsentrasi di sekitar kelahiran menjadi dukungan yang diberikan secara konsisten sepanjang perjalanan membesarkan anak.

Salah satu bentuknya adalah penambahan childcare leave untuk orangtua dengan anak berusia 12 tahun atau lebih muda. “Salah satu hadiah terbesar yang dapat kita berikan kepada orangtua adalah lebih banyak waktu bersama anak-anak mereka,” kata Wong.

Orangtua dengan satu anak akan mendapatkan 8 hari cuti per tahun. Jumlahnya meningkat menjadi 10 hari untuk keluarga dengan dua anak dan 12 hari untuk keluarga dengan tiga anak atau lebih.

Hak tersebut berlaku untuk masing-masing orangtua. Dengan demikian, pasangan bekerja yang memiliki tiga anak berusia 12 tahun ke bawah secara teoritis memiliki total 24 hari cuti pengasuhan per tahun.

Pemerintah juga akan mengganti biaya cuti terkait anak kepada pemberi kerja hingga batas penggantian yang berlaku. Kebijakan ini diharapkan mengurangi beban perusahaan sekaligus membuat orangtua lebih leluasa mengambil cuti ketika anak membutuhkan mereka.

Mengapa Singapura memperbesar dukungan untuk keluarga?

Dalam berbagai konsultasi dengan masyarakat, pemerintah Singapura menemukan, biaya finansial dan perkiraan stres dalam membesarkan anak merupakan dua hambatan terbesar bagi mereka yang belum memiliki anak.

Anak muda juga mempertimbangkan bagaimana memiliki anak akan memengaruhi karier, gaya hidup, kualitas hidup mereka sebagai orangtua, serta waktu berkualitas yang dapat diberikan kepada anak.

Pemerintah mengakui, budaya kerja keras dan tuntutan untuk berprestasi telah membantu perkembangan Singapura. Namun, tekanan untuk bekerja dan mengejar pencapaian dapat mengurangi waktu untuk beristirahat, menjaga kesejahteraan, serta menjalani kehidupan di luar pekerjaan, termasuk membangun keluarga.

Oleh karena itu, tambahan childcare leave menjadi bagian penting dari kebijakan baru selain peningkatan dukungan finansial.

Persoalan lain yang ditemukan adalah tekanan untuk menjadi orangtua yang “sempurna”. Pemerintah menemukan adanya kekhawatiran mengenai perfect parenting dan perlombaan pendidikan. Sebagian orangtua merasa harus menyediakan sumber daya terbaik agar anak berhasil, sementara pada saat yang sama khawatir tidak mampu memenuhi standar tersebut.

Tekanan semacam ini dapat membuat keputusan memiliki anak terasa semakin berat. Oleh karena itu, pemerintah berusaha menangani persoalan fertilitas melalui pendekatan yang lebih luas, bukan hanya uang, tetapi juga waktu, childcare, pendidikan, perumahan, dan lingkungan kerja yang lebih ramah keluarga.

Apakah insentif ini akan berhasil?

Pada akhirnya, pemerintah Singapura menyadari, insentif sebesar apa pun tidak serta-merta dapat menentukan keputusan seseorang untuk memiliki anak. Lawrence Wong menegaskan, keputusan untuk memiliki anak tetap merupakan pilihan yang sangat personal dan tidak dapat diwujudkan hanya melalui kebijakan pemerintah.

Namun, pemerintah dapat menciptakan kondisi yang membuat pilihan tersebut lebih memungkinkan. Mulai dari meringankan biaya membesarkan anak hingga memberikan lebih banyak waktu bagi orangtua untuk mengasuh. “Kebijakan saja tidak dapat mewujudkannya,” ujar Wong.

Karena itu, hampir 70.000 dolar Singapura dukungan finansial per anak bukanlah solusi tunggal untuk membalikkan tren kelahiran Singapura. Dukungan tersebut merupakan bagian dari pendekatan yang lebih luas untuk mengurangi berbagai beban yang membuat keputusan memiliki anak terasa semakin sulit, mulai dari biaya, waktu, pengasuhan hingga tekanan dalam membesarkan anak.

Pemerintah mungkin tidak dapat menentukan apakah seseorang akan menjadi orangtua, tetapi dapat menentukan seberapa besar dukungan yang tersedia ketika seseorang memilih untuk menjalani peran tersebut. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE