digitalMamaID — Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan peningkatan tajam kasus campak yang telah menjadi wabah di 73 kabupaten/kota pada Januari 2026. Peningkatan kasus campak ini terjadi karena menurunnya cakupan imunisasi sehingga kekebalan kelompok (herd immunity) ikut menurun sehingga virus campak mudah menular di masyarakat.
Hal tersebut diungkapkan oleh dokter spesialis anak RSUD Pasar Rebo, Jakarta, dr. Tuty Rahayu, Sp.A (K). Menurut Tuty, campak menyebar melalui udara ketika orang yang terinfeksi batuk atau bersin. Penyakit ini sangat menular sehingga jika satu orang terkena campak, maka orang di sekitarnya yang tidak kebal juga akan tertular infeksi.
“Karena lingkungan banyak yang tidak vaksin, jadi kekebalan kelompoknya rendah. Kalau kekebalan kelompok bagus, anak-anak yang belum imunisasi karena belum waktunya akan ikut terlindungi,” terangnya.
Menurut Tuty, campak dimulai dengan gejala yang menyerupai pilek, demam, batuk, dan mata merah berair. Kemudian muncul ruam yang khas, menyebar dari kepala hingga kaki. Jika belum pernah mendapatkan imunisasi campak, menurutnya, penyakit ini bisa menyebabkan komplikasi yang lebih serius termasuk pembengkakan otak, pneumonia, hingga kematian.
Pentingnya imunisasi
Tuty kemudian menceritakan salah satu pengalamannya sebagai dokter yang banyak berjibaku di ruang ICU. Saat itu, kata dia, pasien anak remaja berusia sekitar 15 tahun datang bersama orangtuanya. Anak tersebut terus melakukan gerakan-gerakan berulang.
“Lama-lama kesadarannya makin turun, ternyata setelah di CT scan otaknya bolong-bolong,” ujar Tuty dalam sambungan telepon, Sabtu, 7 Februari 2026.
Menurut Tuty, remaja tersebut menderita Subacute sclerosing panencephalitis (SSPE) atau gangguan sistem saraf pusat dan sudah fatal. SSPE disebabkan oleh infeksi virus campak yang bermutasi dan menyerang otak.
Tuty mengonformasi ulang mengenai kelengkapan vaksin anak tersebut. Orangtuanya mengakui, anaknya tidak mendapatkan vaksin sama sekali.
“Jadi kenapa disuruh vaksinasi? Kenapa pemerintah sampai mau ngeluarin uang segitu besarnya? karena dampaknya kalau sudah kena itu bisa sangat parah. Itulah kenapa pentingnya imunisasi itu supaya angka kematiannya menurun,” tutur Tuty.
Namun sayangnya, masih banyak masyarakat Indonesia yang minim literasi terkait dengan vaksinasi tersebut. Justru banyak masyarakat yang termakan hoaks yang menyebut vaksin itu haram, mengandung babi, buatan Amerika, dan lain sebagainya.
“Orangtua harus diberi pengertian apa pentingnya imunisasi, cari sumber informasi yang benar dan tidak hanya dari satu sumber saja. Banyak anak yang sudah diimunisasi dapat tumbuh kembang baik karena tidak terhalang dengan terjadinya ‘sakit’ dari penyakit-penyakit yang sudah masuk dalam jadwal imunisasi,” terangnya.
Jika diperhatikan, lanjut Tuty, daerah -daerah yang sering langganan terjadi wabah adalah daerah yang cakupan imunusasinya rendah. Campak semestinya bisa dicegah dengan Vaksin MR (Measles Rubella /Campak Rubella).
Daya tahan lebih baik
Menurut Tuty, memberikan imunisasi lengkap sama halnya seperti memberikan investasi kesehatan bagi anak untuk masa depannya. Dengan imunisasi, sistem kekebalan tubuhnya akan jauh lebih kuat sehingga merangsang terbentuknya zat antibodi.
“Imunisasi itu adalah hak setiap anak, orangtua mempunyai kewajiban untuk memenuhi hak anak tersebut,” tegasnya.
Contoh nyata datang dari Idah, seorang ibu tiga anak di Indramayu, Jawa Barat. Idah mengaku tidak pernah absen membawa anak pertamanya ke Posyandu untuk ditimbang dan mendapatkan imunisasi.
Namun pada anak kedua, Idah mengaku sering absen dan menunda imunisasi anaknya. Lantaran hal itu, Idah merasa daya tahan tubuh anak keduanya tidak sekuat anak pertama. Anak kedua jadi lebih mudah mengalami sakit.
“Jadi saat punya anak ketiga, saya lebih ketat lagi biar engga bolong-bolong imunisasinya,” kata Idah.
Nada seorang ibu dua anak di Tangerang Selatan mengaku tidak pernah menggubris orang-orang yang antivaksin. Menurutnya, kesehatan anaknya tetap nomer satu.
“Biarkan saja mereka yang berpikir seperti itu (antivaksin), tapi saya tipikal orangtua yang strict untuk vaksin anak sesuai anjuran dokter,” ujarnya.
Menurut Nada, banyak orangtua khawatir anak rewel karena demam setelah imunisasi. Padahal, jika ingin imunisasi yang minim efek samping, masyarakat bisa melalui jalur berbayar, seperti di dokter spesialis anak atau di klinik swasta.
Jadwal pemberian imunisasi menurut rekomendasi IDAI
- BCG : usia 0-1 bulan
vaksin BCG untuk mencegah tuberkulosis (TB) berat. - Hepatitis B: Usia 0,1,3,4, dan 18 bulan.
Vaksin ini Mencegah infeksi hati kronis. Pemberian vaksin HB monovalen disuntikkan intramuskular kepada bayi segera setelah lahir sebelum berumur 24 jam, didahului penyuntikan vitamin K1 minimal 30 menit sebelumnya. - DPT (Difteri, Pertusis, Tetanus): usia 2,3,4 bulan. Booster pertama usia 18 bulan, booster selanjutnya usia 5-7 tahun, dan 10-18 tahun.
- Polio: usia 0, 2,3,4, dan 9 bulan
vaksin polio untuk mencegah kelumpuhan akibat polio. - Vaksin Campak-Rubella (MR/MMR) : usia 9, 15 bulan, dan 5-7 tahun
Vaksin anjuran (tambahan):
- Vaksin Hib: Mencegah infeksi Haemophilus influenzae tipe B, seperti meningitis. Dosis primer pada usia 2,3, dan 6 bulan. Dosis lanjutan pada usia 18 bulan.
- Vaksin Pneumokokus (PCV): Mencegah pneumonia. Dosis primer pada usia 2,3, dan 4 bulan. Dosis lanjutan pada usia 12-15 bulan.
- Vaksin Rotavirus: Mencegah diare berat. Monovalen diberikan dua kali pada usia 6 dan 10 minggu. Pentavalen diberikan tiga kali pada usia 6, 10, dan 14 minggu.
- Vaksin Influenza: Mencegah influenza (flu). Diberikan setiap tahun
- Vaksin Japanese Encephalitis (JE): Mencegah demam ensefalitis Jepang (di daerah endemis). Diberikan pada usia 9 bulan dan booster pada usia 1-2 tahun.
- Vaksin Varicella: Mencegah cacar air. Pemberian Satu kali pada usia 12-18 bulan.
- Vaksin Hepatitis A: Mencegah hepatitis A. Pemberian Dosis pertama diberikan pada usia 12-23 bulan dan dosis kedua diberikan dalam rentang 6-12 bulan setelah dosis pertama.
- Vaksin Tifoid Polisakarida: Mencegah penyakit tifoid. Pemberian satu kali pada usia 24 bulan dan diulang setiap 3 tahun.
- Vaksin Human Papilloma Virus (HPV): Mencegah kanker serviks (pada anak perempuan). pemberian dua dosis pada anak usia 9-14 tahun dengan interval 6-12 bulan antara dosis satu dan dua. Kemudian tiga dosis untuk anak usia 15 tahun ke atas.
- Vaksin Demam Berdarah (Dengue): Mencegah demam berdarah (di daerah endemis).
Jangan sampai menyesal di kemudian hari ya, Mama! Lengkapi imunisasi si kecil sesuai dengan anjuran dokter.






