digitalMamaID – Di tengah bencana longsor dan banjir bandang yang melanda Sumatera. Warga Pidie Jaya, Aceh, dilanda kepanikan massal karena tersebarnya berita bohong (hoaks) tsunami pada Senin 1 Desember 2025. Teriakan ‘air laut naik’ pada dini hari itu, membuat ribuan orang panik dan melarikan diri ke arah bukit dalam kondisi gelap.
Di tengah kekacauan yang terjadi, Muhammad (73), warga Gampong Beurawang meninggal dunia setelah mengalami serangan jantung ketika berusaha menyelamatkan diri. Hoaks yang diduga bermula dari keisengan bukan hanya menciptakan kepanikan dan kekacauan tetapi, juga merenggut nyawa.
Sebelumnya, masyarakat juga dibuat heboh dengan video kemunculan harimau di tengah banjir di Sibolga, Sumatera Utara, kemudian kemunculan hiu di permukiman warga di Padang dan beredarnya jumlah korban meninggal di Aceh yang mencapai hingga 400 orang, yang langsung ditepis oleh Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh.
Tidak berhenti di situ, linimasa juga dipenuhi video hasil rekayasa AI (artificial intelligent), foto-foto lama yang diedit, hingga data korban palsu. Arus informasi menyesatkan ini semakin menambah ketakutan warga. Kondisi seperti ini tentu sangat merugikan karena dapat membuat situasi tidak kondusif, memperlambat penyaluran bantuan, hingga membuat informasi resmi sulit dipercaya.
Ada dua jenis hoaks, evergreen dan momentum. Hoaks evergreen adalah informasi palsu yang tidak terikat waktu sehingga bisa muncul dan beredar kapan saja. Biasanya bentuknya sederhana dan terasa masuk akal. Misalnya tips kesehatan, peringatan umum, atau cerita yang memancing emosi. Karena kontennya tidak punya konteks waktu, hoaks jenis ini mudah kembali muncul di grup chat atau media sosial meski sudah lama dibantah.
Sementara itu, hoaks momentum adalah hoaks yang muncul mengikuti situasi tertentu, seperti saat ada bencana, isu politik, atau perayaan besar. Informasi palsu ini memanfaatkan tingginya perhatian dan emosi publik pada momen tersebut, sehingga penyebarannya cepat dan luas. Ketika momennya lewat, hoaks jenis ini biasanya ikut menghilang, tetapi dampaknya sering sudah terlanjur terasa.
Dampak hoaks saat bencana
Dilansir dari linimasa Siberkreasi, berikut adalah dampak-dampak hoaks yang beredar saat bencana, di antaranya;
- Kepanikan massal
Hoaks memicu panik, evakuasi serampangan, dan korban tambahan
- Gangguan penyelamatan
Info palsu bikin tim bantuan salah arah dan koordinasi kacau
- Penipuan donasi
Oknum pakai hoaks untuk donasi palsu yg rugikan korban
- Konflik dosial
Isu SARA dalam hoaks memicu kebencian dan perpecahan
- Turunnya kepercayaan
Maraknya hoaks buat masyarakat ragu pada info resmi
Lalu bagaimana tips melawan hoaks saat bencana?
- Cek sebelum menyebarkan
Jangan langsung percaya, lakukan cek dan ricek
- Gunakan rujukan benar
Acuan dari otoritas berwenang atau media massa kredibel
- Lakukan verifikasi mandiri
Cari tahu faktanya via lawanhoaks.id atau s.id/galifakta
- Edukasi orang sekitar
Klarifikasi hoaks dengan sopan, bagikan tautan berita resmi
- Bangun literasi digital
Ikut kegiatan literasi digital, pilah dan pilih informasi
Di masa-masa krisis, informasi benar itu sama pentingnya dengan bantuan. Jadilah penyambung informasi yang benar. Jangan sebar informasi sebelum memverifikasi kejelasannya. Jadi, sebelum share, pastikan untuk cek sumber (media resmi / lembaga pemerintah), cek tanggal & lokasi, bandingkan dengan sumber lain.
#PrayforSumatera [*]






