digitalMamaID — Aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Lampung Selatan, kembali menunjukkan erupsi pada Selasa, 8 September 2026. Setelah sempat dinyatakan mengakhiri episode erupsi menerus yang berlangsung sejak Jumat, 4 September 2026, Gunung Anak Krakatau kembali mengalami empat kali erupsi pada hari ini.
Berdasarkan pemantauan yang disampaikan BPBD Lampung, erupsi terjadi pada pukul 05.08 WIB selama 15 detik, pukul 05.34 WIB selama 10 detik, pukul 07.49 WIB selama 19 detik, dan pukul 11.34 WIB selama sekitar 17 detik.
“Eruption detection alert,” tulis BPBD Lampung melalui akun media sosial resminya.
Aktivitas tersebut menunjukkan bahwa Gunung Anak Krakatau masih perlu dipantau. Hingga kini, tingkat aktivitas gunung api tersebut masih berada pada Level III (Siaga).
Episode erupsi berakhir
Sebelumnya, Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus yang dimulai pada Jumat, 4 September 2026, sekitar pukul 23.07 WIB. Erupsi disertai suara gemuruh, dentuman, serta fenomena lava fountain. Episode erupsi menerus tersebut berlangsung hingga Minggu, 6 September 2026 pukul 00.04 WIB.
Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan, berakhirnya episode erupsi menerus tidak berarti aktivitas Gunung Anak Krakatau berhenti sepenuhnya. Setelah episode tersebut berakhir, masih teramati tiga kali erupsi strombolian dengan kolom erupsi berwarna hitam.
“Kembalinya erupsi strombolian yang merupakan karakteristik khas Gunung Anak Krakatau, untuk sementara diinterpretasikan sebagai akhir dari episode erupsi menerus yang cukup panjang tersebut,” ujar Lana Saria di Bandung, Senin, 7 September 2026.
Namun, perkembangan pada Selasa, 8 September 2026, menunjukkan aktivitas erupsi kembali terjadi.
Abu vulkanik menyebar ke sejumlah wilayah
Salah satu dampak yang paling dirasakan dari rangkaian erupsi ini adalah sebaran abu vulkanik.
Dalam siaran pers BNPB, berdasarkan pemantauan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dan VAAC Darwin, sebaran abu vulkanik sebelumnya terpantau mencapai sekitar FL480 atau 14,6 kilometer di atas permukaan laut.
Arah sebaran abu dominan ke barat hingga barat daya. Namun, arah dan luas sebarannya dapat berubah mengikuti perkembangan aktivitas erupsi serta kondisi meteorologi, terutama arah dan kecepatan angin. Abu vulkanik telah terpantau di sejumlah wilayah Banten, Jawa hingga Sumatra.
Profesor Klimatologi dan Perubahan Iklim Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Erna Yulihastin menjelaskan, letusan Anak Krakatau membentuk kolom abu yang sangat tinggi. Estimasi ketinggiannya mencapai 13–14 kilometer atau menyentuh lapisan tropopause.
Menurut Erna, ketinggian kolom abu tersebut membuat arah angin menjadi salah satu faktor penting yang menentukan seberapa luas abu vulkanik dapat tersebar.
“Pada waktu-waktu tertentu, ketika terbentuk angin laut yang kuat dan tekanan rendah di Banten, sebaran awal piro ini bisa saja menuju ke wilayah Serang, Banten dan seterusnya,” kata Erna melalui unggahan di akun Instagram pribadinya.
Suara gemuruh terdengar hingga Bandung
Erupsi Gunung Anak Krakatau tidak hanya menghasilkan abu vulkanik. Suara gemuruh dan getaran juga dilaporkan terdengar atau dirasakan di sejumlah wilayah, mulai dari pesisir Lampung dan Banten hingga Bandung.
PVMBG menduga suara gemuruh dan getaran tersebut berkaitan dengan pelepasan energi akustik dari aktivitas erupsi menerus Gunung Anak Krakatau.
Energi akustik yang besar dapat merambat hingga ratusan kilometer akibat kondisi atmosfer, termasuk pembiasan suara serta pengaruh suhu dan arah angin pada lapisan atmosfer bagian atas.
PVMBG juga menyampaikan tidak terdapat aktivitas gempa tektonik signifikan di wilayah Jawa Barat yang dapat menjelaskan fenomena tersebut.
Status Gunung Anak Krakatau masih siaga
Aktivitas erupsi yang terjadi saat ini merupakan kelanjutan dari peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau sejak Juli 2026. Pada 2 Juli 2026 pukul 14.05 WIB, terjadi erupsi dengan kolom abu sekitar 200 meter di atas puncak atau sekitar 357 meter di atas permukaan laut. Kolom abu berwarna kelabu hingga hitam tebal bergerak ke arah barat laut. Seismograf mencatat amplitudo maksimum 23 milimeter dengan durasi erupsi sekitar 20 detik.
Menyusul peningkatan tersebut, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) pada 2 Juli 2026 pukul 16.30 WIB. Hingga perkembangan terbaru pada 8 September, status tersebut masih berlaku.
Kepala Badan Geologi Lana Saria mengimbau, masyarakat yang terdampak abu vulkanik untuk mengurangi aktivitas di luar rumah atau menggunakan masker guna menghindari gangguan pernapasan.
Ia juga meminta masyarakat di wilayah pesisir Banten dan Lampung tetap tenang dan tidak mempercayai informasi hoaks mengenai erupsi yang dikaitkan dengan potensi tsunami.
Imbas sebaran abu vulkanik anak gunung krakatau berdampak juga terhadap operasional penerbangan. Tercatat, sebanyak delapan bandara mengalami penutupan sementara sebagai langkah keselamatan penerbangan, yakni Bandara Soekarno-Hatta, Bandara Halim Perdanakusuma, Bandara Radin Inten II Lampung, Bandara Budiarto Curug, Bandara Pondok Cabe (Tangerang Selatan), Bandara Muhammad Taufiq Kiemas (Pesisir Barat, Lampung), serta Bandara Atungbusu (Sumatra Selatan).
Bukan hanya itu, sejumlah daerah juga menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) sebagai langkah antisipasi dan pencegahan untuk melindungi anak-anak dari paparan abu vulkanik. Berikut ini beberapa daerah yang menerapkan PJJ pada 7-9 September 2026, yaitu Lampung, Serang, Tangerang, Kota Tangerang, Tangerang Selatan, DKI Jakarta, Kabupaten Bogor, dan Bogor Kota.
Mengapa abu vulkanik berbahaya bagi anak?
Dosen Teknik Geologi Institut Teknologi Sumatera (ITERA) sekaligus pakar vulkanologi Happy Christin Natalia, S.T., M.T. menjelaskan, abu vulkanik merupakan material vulkanik berukuran sangat kecil atau mikro dengan bentuk partikel yang bersudut tajam. Karakteristik tersebut membuat abu vulkanik perlu diwaspadai karena dapat membahayakan kesehatan manusia, khususnya sistem pernapasan.
“Kandungan abu vulkanik, umumnya sama dengan unsur yang terdapat dalam magma, seperti silika, aluminium, dan lainnya. Namun, yang paling berbahaya sebenarnya adalah bentuk partikelnya yang berukuran sangat kecil dan bersudut tajam, sehingga dapat mengiritasi atau melukai saluran pernapasan,” ujar Happy.
Dengan ukuran yang sangat kecil, abu vulkanik dapat masuk ke saluran pernapasan. Selain mengganggu pernapasan, abu juga dapat mengiritasi mata dan kulit.
Oleh karena itu, anak-anak perlu mendapat perlindungan ekstra ketika wilayah tempat tinggal mereka terdampak sebaran abu.
IDAI: Jangan biarkan anak terlalu banyak beraktivitas di luar
Yogi melanjutkan, dalam jangle panjang paparan kronis abu vulkansk dapat memicu Pneumonoultramicroscopicsilicovolcanoconiosis (PUSVC), yakni penyakit paru-paru berat dari yang disebabkan oleh paparan kronis dari menghirup abu vulkanik dan debu silika yang sangat halus.
Oleh karena itu, IDAI merekomendasikan beberapa langkah perlindungan utama yang bisa dilakukan orang tua pada anak dari rumah, yaitu tunda activistas di luar rumah dan memindahkan permainan anak ke dalam rumah.
Tutup rapat pintu, pendela, serta usahakan lantai tetap bersih dengan cara mengepel basah, bukan hanya menyapu kering yang justru mengakibatkan abu beterbangan kembali.
Jika terpaksa keluar rumah, gunakan baju dan celana yang menutupi tubuh dan menggunakan kacamata renang serta masker. Saat kembali ke rumah, jangan lupa untuk mandi dan mengganti baju.
Selain pencegahan-pencegahan tersebut, dr Yogi juga menekankan pentingnya pendekatan komunikasi pada anak untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi, tentunya dengan bahasa yang mudah dipahami anak-anak. Sedangkan pada anak remaja, libatkan mereka dalam menyiapkan tas siaga keluarga. [*]






