digitalMamaID – Membantu anak memahami bullying (perundungan) bisa dimulai dari cerita yang dekat dengan keseharian. Lima buku anak ini dapat menjadi teman Mama untuk membuka percakapan tentang perasaan, keberanian, dan cara memperlakukan orang lain dengan baik.
Apakah anak Mama mulai bercerita tentang teman yang suka mengejek, mengucilkan, atau memanggilnya dengan julukan yang tidak disukai? Mama mungkin bertanya-tanya bagaimana menjelaskan bahwa perilaku tersebut bisa menyakiti orang lain.
Membicarakan perundungan dengan anak memang tidak selalu mudah. Anak mungkin belum memahami batas antara bercanda dan menyakiti, belum tahu cara menolak perlakuan yang membuatnya tidak nyaman, atau takut membela teman yang sedang dirundung.
Buku cerita bisa menjadi salah satu cara untuk membuka percakapan tentang bullying. Melalui pengalaman tokoh-tokohnya, anak dapat belajar mengenali perasaan orang lain, menerima perbedaan, memahami dampak perundungan, serta berani mencari bantuan ketika melihat teman diperlakukan buruk.
Berikut lima rekomendasi buku dari digitalMamaID yang bisa Mama baca bersama sikecil:
1. Panggil Aku Namaku
Penulis dan Ilustrator: Barbara Eni
Penerbit: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan, Kebudayaan dan Riset Teknologi
Jenjang pembaca: B3/ Usia 8-10 tahun
Pernahkah anak Mama merasa kesal karena dipanggil dengan julukan yang tidak disukainya? Pengalaman ini dialami Puspa dalam Panggil Aku Namaku. Teman-temannya memanggil Puspa dengan sebutan yang membuatnya sakit hati. Puspa kemudian mengambil keputusan agar mereka memanggilnya dengan nama yang benar.
Cerita Puspa dekat dengan keseharian anak. Julukan yang dianggap lucu oleh satu anak bisa terasa menyakitkan bagi anak lainnya. Jika terus diulang dan membuat seseorang tidak nyaman, candaan bisa berubah menjadi perundungan.
Buku ini bisa menjadi pintu masuk bagi Mama untuk mengajak anak belajar menghormati orang lain melalui hal sederhana, seperti memanggil teman dengan nama yang sesuai. Anak juga dapat elajar menyampaikan keberatan ketika mendapat perlakuan tidak menyenangkan. Buku ini bisa diakses secara gratis. Mama bisa membacanya melalui tautan ini.
2. Kejutan Kungkang
Penulis dan Ilustrator : Andina Subardja
Penerbit: Noura Kids
Jenjang Pembaca: Usia 4 tahun ke atas
Kungkang memiliki kebiasaan yang berbeda dari teman-temannya, ia bergerak sangat lambat. Ketika hendak menghadiri acara ulang tahun temannya, Kungkang perlu menyiapkan segala sesuatu lebih awal. Teman-temannya memahami kebiasaan tersebut dan tidak mempermasalahkannya. Dengan caranya sendiri, Kungkang akhirnya tiba tepat waktu di acara ulang tahun.
Kisah ini mengajak anak memahami setiap orang memiliki tempo dan cara berbeda dalam melakukan sesuatu. Ada anak yang cepat menyelesaikan tugas, sementara anak lain membutuhkan waktu lebih lama. Perbedaan seperti ini tidak perlu menjadi bahan ejekan atau alasan untuk merendahkan teman.
Kungkang juga menunjukkan pentingnya mengenali kebutuhan diri dan menyesuaikan diri dengan kemmapuan yang dimiliki. Buku ini bisa membantu Mama mengajak anak menghargai perbedaan sekaligus mengingatkan bahwa setiap anak berhak diberi ruang untuk berkembang dengan kecepatannya sendiri.
3. Jubah Oranye
Ilustrator: Emmanuel Volant
Penerbit : Clavis
Jenjang pembaca: Usia 5+
Cody selalu mengenakan jubah oranye ke sekolah. Kebiasaannya membuatnya menjadi sasaran perundungan teman-temannya. Namun, Cody memiliki alasan tersendiri untuk mengenakan jubah itu. Kisah ini mengajak pembaca mengenal Cody dan memahami cerita di balik penampilannya.
Buku Jubah Oranye juga memperkenalkan peran active bystander atau upstander, yaitu orang yang menyaksikan perundungan dan memilih melakukan sesuatu untuk membantu. Anak dapat belajar bahwa ketika melihat teman dirundung, mereka bisa mengambil tindakan yang aman atau meminta bantuan orang dewasa.
Pesan ini penting agar anak memahami bahwa mereka tidak harus ikut mengejek atau diam ketika melihat orang lain diperlakukan buruk. Kepedulian dapat ditunjukkan melalui tindakan yang membuat teman merasa aman.
4. The Missing Colour – Warna yang Hilang
Penulis: Waitatiri
Ilustrator: Kartika Paramita
Jenjang pembaca: Usia
Putra merasa dirinya abu-abu dan tidak terlihat setelah dirundung di sekolah. Suatu hari di taman, ia bertemu kelompok anak-anak berwarna-warni yang menerimanya apa adanya dan memberinya pelukan hangat, sehingga membuat Putra merasa utuh kembali dan berwarna seperti pelangi.
Kisah The Missing Colour atau Warna yang Hilang menggunakan metafora warna untuk menggambarkan perasaan seorang anak yang terluka oleh perlakuan teman-temannya. Cerita ini memperlihatkan bagaimana perundungan dapat memengaruhi perasaan anak, sementara sikap ramah dan penerimaan dapat membuatnya merasa tidak sendirian.
Mama bisa menggunakan cerita ini untuk membantu anak mengungkapkan perasaan yang mungkin sulit disampaikan dengan kata-kata. Misalnya, Mama dapat mengajak anak membayangkan warna yang menggambarkan perasaannya hari itu, lalu mendengarkan ceritanya tanpa menghakimi.
Buku Warna yang Hilang ini dapat dibaca melalui tautan ini. Menurut informasi yang menyertai buku, telah diadopsi ke dalam platform REACH di Harvard University dan digunakan sebagai bahan ajar literasi emosional di berbagai sekolah di Amerika Serikat.
5. Bicaralah, Sami!
Penulis: Shabana Hussain
Ilustrator: Mariam Aldacher
Penerbit: Yaumi Kids
Jenjang pembaca: Usia 3 – 8 tahun
Sami adalah anak pendiam yang tidak suka pergi ke sekolah. Keadaan mulai berubah ketika Gamba hadir sebagai murid baru. Sami kemudian melihat Gamba mengalami ejekan dari teman-temannya. Ia ingin membantu, tetapi harus menemukan keberanian untuk bersuara.
Bicaralah, Sami! mengangkat dilema anak yang menyaksikan perundungan, ingin menolong teman, tetapi belum tahu apa yang harus dilakukan.
Buku ini merupakan cersi terjemahan bahasa Indonesia dari buku anak internasional berjudul Speak Up, Sami! karya penulis asal Inggris.
Melalui kisah Sami, Mama dapat menjelaskan bahwa membantu teman yang dirundung tidak perlu menghadapi pelaku secara langsung. Anak bisa menemani temannya mengajaknya menjauh dari situasi yang tidak aman, mengajak teman lain membantu, atau melapor kepada guru dan orang dewasa tepercaya. Anak juga perlu memahami bahwa meminta bantuan adalah sebuah tindakan berani untuk melindungi orang lain.
Mendampingi anak untuk menumbuhkan empati, menghargai orang lain dan membangun keberanian untuk mencari bantuan merupakan bagian penting menghindarkan anak dari perundungan. Melalui buku cerita ini, Mama bisa memulainya perlahan dengan cara yang menyenangkan. Selamat membersamai anak, Mama! [*]











