digitalMamaID – Polemik latar belakang pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kembali menjadi perbincangan setelah Mahkamah Konstitusi membacakan putusan terkait dokumen pendidikannya pada 6 Oktober 2026. Pencalonan diri putra sulung Presiden RI ke-7 Joko Widodo ini, sebelumnya juga berpolemik karena ia maju setelah MK membuat putusan yang menghilangkan syarat usia.
Perjalan politik Gibran lebih mulus. Berbagai hambatan itu berhasil disingkirkan. Disadari atau tidak, sebagai orangtua ingin memuluskan langkah anak. Tapi, sejauh mana orangtua perlu membantu anak menghadapi tantangan?
Dalam pengasuhan, ada istilah bulldozer parenting, yaitu pola ketika orangtua berusaha menyingkirkan hambatan dan menyelesaikan masalah anak agar mereka terhindar dari kesulitan.
Psikolog Gerry Olvina Faz menjelaskan, dalam psikologi dikenal beberapa konsep pola asuh seperti authoritative parenting, authoritarian parenting, dan permissive parenting. Sementara itu, bulldozer parenting atau snowplow parenting dikenal sebagai istilah populer untuk menggambarkan orangtua yang berusaha menyingkirkan hambatan dalam kehidupan anak.
“Ada dua aspek penting dalam pengasuhan, yaitu warmth atau kehangatan serta structure yang mencakup struktur dan ketegasan. Keduanya dibutuhkan anak untuk tumbuh dan berkembang,” ujar Gerry kepada digitalMamaID, Kamis, 15 Oktober 2026.
Gerry menggambarkan bulldozer parenting sebagai pola ketika orangtua sangat menyayangi anak, tetapi kurang memberikan struktur atau ketegasan. Orangtua cenderung membereskan masalah anak karena tidak ingin mereka mengalami kesulitan atau pengalaman tidak menyenangkan.
“Kasih sayang juga dapat ditunjukkan melalui ketegasan. Orangtua perlu mempertimbangkan kapan anak butuh pujian, kapan perlu diberikan batasan dan kapan harus diberi kesempatan menghadapi masalahnya sendiri,” katanya.
Dengan begitu, anak tetap merasa disayangi sekaligus belajar memahami batasan, menghadapi masalah, dan mengembangkan kemandirian.
Mengapa orangtua bisa terjebak dalam pola ini?
Menurut Gerry, salah satu hal yang dapat mendorong pola pengasuhan bulldozer parenting adalah pengalaman masa kecil orangtua sendiri. “Beberapa kasus yang saya temui, salah satunya adalah orangtua belum selesai dengan pengalaman masa lalunya,” ungkapnya.
Misalnya, dahulu orangtua pernah mengalami kesulitan, merasa malu, atau menghadapi perlakuan tidak menyenangkan. Kemudian, pengalaman tersebut diproyeksikan kepada anak sehingga muncul keinginan agar anak tidak merasakan hal yang sama.
Padahal, lanjut Gerry, kesulitan yang pernah dialami bisa menjadi bagian dari proses yang membentuk diri seseorang hingga berada pada titik kehidupannya sekarang. Namun, pengalaman tersebut belum tentu berhasil dimaknai dari sudut pandang yang berbeda. “Orangtua mungkin hanya mengingat penderitaan yang dialami dan tidak ingin anak mengalami hal serupa,” katanya.
Faktor lain adalah keinginan melindungi anak dari penilaian orang lain. Ada orangtua yang mengerjakan tugas anak karena khawatir anak memperoleh nilai buruk, mengalami perundungan, atau dipermalukan. Dalam situasi ini, tindakan orangtua bisa berangkat dari kecemasan dan keinginan melindungi. Namun, perlindungan yang terus-menerus diberikan tanpa mempertimbangkan kemampuan anak berisiko membuat anak semakin bergantung pada orang lain.
Ambisi orangtua agar anak berhasil juga perlu dibedakan dari kecenderungan mengambil alih seluruh persoalan anak. Orangtua yang sangat mengontrol, misalnya, bisa menetapkan target tinggi dan menuntut anak mencapai target tersebut sendiri.
“Sementara orangtua yang cenderung melakukan bulldozer parenting bisa memilih mengerjakan atau menyelesaikan persoalan anak agar anak tidak perlu menghadapi kesulitannya,” jelas Gerry.
Bantuan yang tepat bergantung pada usia anak
Gerry menekankan pentingnya menyesuaikan bantuan dengan tahap perkembangan anak. Orangtua perlu memahami keterampilan apa yang sudah dapat dilakukan anak dan apa yang masih membutuhkan pendampingan.
“Anak berusia lima tahun, misalnya, mungkin sudah bisa belajar mengenakan pakaian sendiri. Namun, ia belum tentu siap bepergian sendirian. Setiap keterampilan memiliki tahap perkembangan yang perlu diperhatikan,” ucapnya.
Dalam proses belajar, orangtua dapat menerapkan scaffolding, yaitu memberikan bantuan secukupnya agar anak mampu menguasai keterampilan baru. Ketika anak semakin mampu, bantuan dikurangi secara bertahap.
Lima cara memberi anak ruang untuk belajar mandiri
Orangtua dapat mulai mengevaluasi kebiasaan sehari-hari melalui beberapa pertanyaan: apakah mereka langsung membantu ketika anak mengalami kesulitan sebelum anak sempat mencoba? Apakah mereka mengambil alih karena khawatir pekerjaan anak tidak selesai dengan baik? Apakah anak sudah diberi kesempatan mengambil keputusan sesuai usianya?
Pertanyaan tersebut dapat membantu orangtua melihat apakah bantuan yang diberikan sudah sesuai dengan kebutuhan anak.
Berikut beberapa cara yang bisa diterapkan di rumah.
1. Kenali kemampuan anak sesuai usianya
Pelajari tahap perkembangan anak, mulai dari keterampilan mengurus diri, merapikan barang, bersosialisasi, hingga mengelola kekecewaan. Dengan begitu, orang tua bisa mengetahui kapan anak membutuhkan bantuan dan kapan ia sudah bisa mencoba sendiri.
2. Jangan buru-buru turun tangan
Ketika anak kesulitan, beri waktu untuk mencoba sebelum menawarkan bantuan. Jika anak belum berhasil, berikan petunjuk atau contoh sederhana tanpa langsung mengambil alih seluruh pekerjaan.
Misalnya, saat anak kesulitan memakai kancing baju, orang tua bisa menunjukkan caranya, lalu membiarkan anak mencoba sendiri. Jika belum berhasil, berikan petunjuk sederhana.
3. Ajak anak mencari pilihan
Ketika anak menghadapi masalah, ajukan pertanyaan seperti, “Menurutmu, apa yang bisa kita lakukan?” atau “Kalau cara pertama belum berhasil, apa pilihan lainnya?”
Pertanyaan semacam ini membantu anak berlatih mempertimbangkan pilihan dan mengambil keputusan sesuai usianya.
4. Biarkan anak menghadapi konsekuensi yang aman
Jika anak lupa merapikan mainan, ajak ia membereskannya. Jika ia melakukan kesalahan dalam tugas yang menjadi tanggung jawabnya, bantu ia memahami apa yang perlu diperbaiki.
Konsekuensi perlu masuk akal, tidak membahayakan, dan disampaikan tanpa mempermalukan anak. Tujuannya agar anak memahami hubungan antara tindakan dan akibatnya.
5. Terima perasaan anak, tetap tegaskan batasan
Anak boleh merasa marah, sedih, kecewa, atau frustrasi. Orangtua bisa mengakui perasaannya sambil tetap menetapkan batas perilaku.
Misalnya, anak boleh marah karena mainannya rusak, tetapi ia tidak boleh melampiaskan kemarahan dengan merusak barang lain. Setelah lebih tenang, ia dapat diajak mencari cara memperbaiki atau membereskan akibat perbuatannya.
Anak perlu belajar gagal dan mencoba lagi
Menurut Gerry, ketika orangtua terlalu sering menyelesaikan masalah anak, kesempatan anak untuk membangun keyakinan terhadap kemampuannya sendiri dapat berkurang.
“Anak perlu mengalami proses mencoba, berhasil, dan sesekali gagal. Ketika berhasil melakukan sesuatu setelah beberapa kali mencoba, ia belajar bahwa dirinya mampu menghadapi tantangan,” ujarnya.
Pengalaman ini juga membantu anak mengembangkan kemandirian dan kemampuan mengambil keputusan. Anak belajar bahwa kesalahan dapat diperbaiki dan masalah dapat dicari jalan keluarnya. Namun, memberi kesempatan kepada anak untuk belajar bukan berarti membiarkannya menghadapi semua situasi sendirian.
Orang tua tetap perlu melindungi anak dari bahaya, kekerasan, dan perundungan. Tantangan yang diberikan pun harus sesuai dengan usia serta kemampuannya. Gerry memahami, tidak semua orang tua bisa langsung menerapkan cara tersebut. Bahkan, ketika sudah memahaminya, masih diperlukan upaya yang konsisten.
“Hal terpenting adalah orang tua masih memiliki keinginan untuk belajar, memperbaiki diri dan kembali mencoba setelah melakukan kesalahan, mereka sudah berada di jalur yang tepat,” papar Gerry. [*]






