70 Juta Anak Tumbuh di Era AI, Platform Harus Lindungi Pengguna Anak

Share

digitalMamaID — Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Nezar Patria menyebutkan, ada sekitar 70 juta anak yang akan tumbuh di lingkungan digital dan akan mengeksplorasi teknologi baru seperti AI. Nezar mengingatkan pentingnya kolaborasi bersama antara pemerintah, platform digital, dan orangtua dalam menciptakan ruang digital yang aman dan sehat bagi anak-anak.

“Saya kira kita semua para orangtua yang berada di ruangan ini memiliki keresahan yang sama. Kita memikirkan bagaimana cara terbaik dalam menghadapi anak-anak kita yang aktif menggunakan platform digital, termasuk penggunaan AI yang sudah sangat masif,” kata Nezar saat memberikan sambutan dalam acara “Kelas Pengasuhan Digital” yang digelar di Jakarta, Jumat, 16 Oktober 2026.

Menurutnya, lebih dari 80 persen anak-anak menggunakan platform digital, termasuk banyak dari mereka yang memanfaatkan AI untuk berbagai aktivitas. Anak-anak sekarang, menurut Nezar, cenderung lebih suka bertanya pada AI untuk mengerjakan tugas maupun mencari saran-saran daripada bertanya kepada orangtuanya sendiri.

Jika dibiarkan, kata dia, kondisi ini akan berbahaya untuk perkembangan emosi dan daya kritis anak. Mereka akan kehilangan kepercayaan diri, kehilangan kemampuan untuk berpikir kritis karena selalu mengandalkan AI untuk segala hal. 

Wakil Menteri Komdigi Nezar Patria
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Nezar Patria (Mabruroh/digitalMamaID)*

“Jika itu terjadi bisa timbul atrofi pada kemampuan otak, di mana otak tidak terbiasa lagi digunakan untuk memecahkan masalah sehari-hari ataupun melakukan analisis mendalam. Ini yang saya kira paling berisiko buat generasi kita ke depan,” jelasnya.

Belum lagi ancaman-ancaman lainnya seperti kecanduan gawai yang dapat memicu gangguan psikologis (kesehatan mental) dan kesehatan fisiologis (kesehatan fisik), hingga keamanan data pribadi anak.

Melihat ancaman yang semakin nyata, lanjut Nezar, penting bagi platform digital untuk patuh terhadap Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP TUNAS) sebagai landasan membangun ekosistem digital yang lebih aman dan sehat bagi anak.

Upaya platform lindungi anak

Apa yang sudah dilakukan aplikasi WhatsApp dengan meluncurkan fitur Parental Control untuk melindungi anak-anak di ruang digital, menurutnya menjadi bagian dari upaya platform dalam mematuhi PP Tunas. Untuk itu Komdigi akan terus mendukung upaya-upaya baik WhatsApp bersama ICT Watch dan Keluarga Kita melalui Kelas Pengasuhan Digital ini.

“Penerapan literasi digital untuk membentuk ruang yang aman bagi anak-anak kita harus terus digalakkan dan semoga kita bisa terus mendampingi anak-anak tumbuh besar dalam lingkungan yang baik di era digital ini,” ujarnya.

Wakil Presiden Business Operations and External Affairs WhatsApp Victoria Grant mengatakan, Kelas Pengasuhan Digital mencakup pengenalan fitur terbaru WhatsApp “Parental Control” yang dapat digunakan orangtua dalam mendampingi anak-anak dan remaja saat menggunakan aplikasi pesan dengan sehat dan aman. 

“Kami ingin memastikan para orangtua mengetahui keberadaan fitur-fitur ini dan memahami cara menggunakannya. Karena itulah, kami meluncurkan fitur ini bersamaan dengan program edukasi atau pelatihan yang bekerja sama dengan mitra-mitra yang sudah dipercaya oleh para orangtua di Indonesia,” ujar Victoria.

Kelas Pengasuhan Digital

Ia menjelaskan, fitur ini tidak akan membuat anak remaja terkesan dimata-matai oleh orangtua. Ini merupakan cara yang aman bagi orangtua untuk tetap dekat dengan anak, tetapi di saat yang bersamaan bisa melindungi anak remaja dari bahaya-bahaya di ruang digital.

“Menjaga keselamatan anak tidak harus memata-matai dengan membaca setiap pesan yang terkirim, itu justru akan melukai kepercayaan mereka dan bisa jadi anak akan beralih ke aplikasi pesan yang lebih rahasia. Padahal, rasa saling percaya itulah yang menjaga keamanan anak-anak kita,” ungkap Victoria.

Victoria menjelaskan, melalui fitur Parental Control yakni Parental Managed Account, orangtua tidak perlu mengubah pengaturan apa pun untuk mendapatkan semua proteksi. Pada akun anak di bawah usia 13 tahun, WhatsApp hanya bisa digunakan untuk telepon dan berkirim pesan. Sedangkan untuk masuk grup percakapan, harus ada verifikasi dari orangtua. Jika ada pesan dari kontak baru, maka tidak akan bisa langsung dibaca. Anak-anak juga tidak memiliki akses ke Meta AI, saluran, status, dan berbagi lokasi.

Namun demikian, Victoria mengatakan, kebutuhan tiap-tiap usia anak berbeda. Oleh karena itu, WhatsApp juga menyediakan fitur Parental Control opsional untuk remaja usia 13-17 tahun. Sehingga orangtua dapat memilih dan menyesuaikan pengaturannya berdasarkan kebutuhan keluarga.

“Parental Control ini melengkapi perlindungan privasi dan keamanan yang sudah tersedia di WhatsApp. Jadi remaja tetap mendapatkan manfaat dari berbagai fitur privasi dan keamanan bawaan WhatsApp, baik parental control diaktifkan maupun tidak,” jelas Victoria.

Victoria menambahkan, fitur secanggih apa pun tidak akan membantu jika orangtua tidak tahu cara menggunakannya. Oleh karena itu, ia menegaskan pentingnya Kelas Pengasuhan Digital ini bekerja sama dengan Komdigi, ICT Watch, Keluarga kita, dan para mitra untuk membantu mengedukasi para orangtua di seluruh Indonesia untuk bersama-sama mempelajarinya.

Cara mengaktifkan akun WhatsApp anak yang dikelola orangtua 

Siapkan WhatsApp di perangkat anak, lakukan langkah-langkah berikut:

    1. Unduh WhatsApp di Google Play Store atau Apple App Store di perangkat anak.
    2. Pilih bahasa, lalu ketuk “Setuju” dan lanjutkan.
    3. Ketuk “Opsi lainnya” dan pilih “Buat akun yang dikelola orangtua”.
    4. Daftar dan verifikasi nomor telepon anak.
    5. Masukkan tanggal lahir anak dan konfirmasi usianya.
    6. Ketuk “Lanjut” untuk menautkan ke akun orangtua.

Tautkan akun anak dari telepon orangtua

  • Pindai kode QR yang ditampilkan di perangkat anak dengan kamera telepon, lalu ketuk tautan yang akan membawa ke WhatsApp.
  • Ketuk “Setuju” dan lanjutkan.
  • Memverifikasi bahwa Mama adalah orang dewasa.
  • Buat PIN orang tua 6 digit. PIN ini diperlukan untuk mengakses dan mengubah pengaturan privasi anak dan tidak boleh dibagikan dengan anak.
  • Konfirmasikan PIN orangtua, lalu “Lanjut”.
  • Ketuk “Selesai” dan selesaikan penyiapan akun di perangkat anak.
  • Pada perangkat anak, masukkan PIN orangtua, lalu ketuk “Lanjut”.

Mengaktifkan fitur Parental Control Opsional

Orangtua dapat menghubungkan perangkat mereka dengan akun WhatsApp remaja untuk mengaktifkan fitur Parental Control opsional.

Cara mengaturnya:

    1. Mulai proses pengaturan melalui perangkat remaja.
    2. Masukkan usia remaja
    3. Hubungkan perangkat orangtua menggunakan kode QR.
    4. Lakukan verifikasi usia berbasis wajah pada perangkat orangtua untuk memastikan bahwa orangtua telah memenuhi batas usia yang dipersyaratkan.
    5. Setelah terhubung, orangtua dapat mulai mengelola pengaturan Parental Control melalui perangkat remaja.

Pesan instan makin krusial

Direktur Eksekutif ICT Watch Indriyatno Banyumurti mengingatkan, betapa krusialnya peran aplikasi pesan instan saat ini. Orangtua sebenarnya juga merasa khawatir terhadap risiko-risiko digital yang mengintai anak-anak mereka. Oleh karena itu, melalui Kelas Pengasuhan Digital, ia berharap dapat membantu para orangtua di seluruh Indonesia untuk bersama-sama mendampingi dan memberikan perlindungan terhadap tumbuh kembang anak-anak Indonesia.

“Kami berharap inovasi ini dapat membantu kita sebagai orangtua dalam mendampingi anak-anak kita menghadapi berbagai risiko-risiko di dunia digital,” terangnya.

Melalui Kelas Pengasuhan Digital, ICT Watch berkomitmen membantu orangtua untuk bisa mendampingi anak mereka secara bertahap melalui empat tingkatan. Tahapan tersebut dimulai dari mengenal dunia digital, memahami esensi aplikasi pesan instan serta perbedaannya dengan media sosial, mempelajari cara mendampingi anak secara tepat, hingga mempraktikkan langsung fitur parental control pada aplikasi WhatsApp. 

Oleh sebab itu kata dia, Kelas Pengasuhan Digital tidak hanya digelar di Jakarta saja tetapi akan berlanjut dari di kota-kota lain seperti Cirebon dan Padang. “Kami berharap fasilitas ini dapat dimanfaatkan secara optimal. Bapak dan ibu yang hadir di sini bukan hanya sekadar orangtua, melainkan juga para pegiat literasi yang kami harapkan dapat ikut menyebarluaskannya,” ujar Indriyatno. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE