digitalMamaID – Seorang eksekutif muda, kaya raya dan punya segalanya tiba-tiba harus masuk ke dunia utopia di mana laki-laki diperlakukan seperti perempuan di dunia nyata. Begitu kira-kira premis film terbaru Netflix berjudul “Ladies First” yang dirilis tahun ini.
Dibintangi oleh aktor kawakan Sacha Baron Cohen dan Rosamund Pike, film ini menampilkan satir terhadap cara dunia memperlakukan perempuan di masa modern. Dari mulai di dunia profesional, media serta dalam hal paling dekat dengan semua orang: keluarga.
Peringatan: konten ini mengandung spoiler Film “Ladies First”

Dunia terbalik: laki-laki diperlakukan seperti perempuan dan sebaliknya
Damien, direktur di perusahaan korporat, terbentur tiang listrik. Ketika bangun, ia masuk ke dunia yang sangat tidak sama dari yang ia kenal. Di dunia nyatanya, Damien dianggap sebagai laki-laki nyaris sempurna, yang juga disegani oleh berbagai kalangan. Ia juga seorang chauvinis yang memandang rendah kaum perempuan.
Di dunia barunya, Damien merasakan betapa selama ini ia telah memperlakukan perempuan dengan tak baik. Ia menyaksikan laki-laki dipandang sebelah mata di dunia profesional, diseksualisasi berlebihan oleh media juga tak dihargai oleh pasangannya sendiri di rumah. Segala hal yang biasa ia lihat terjadi pada perempuan di sekitarnya di dunia nyata.
Untuk kembali ke dunia aslinya, ia ditantang harus membuat perubahan signifikan yang membuatnya diperlakukan baik. Ia pun bekerja keras untuk menjadi CEO di perusahaan tempat ia bekerja, walau harus berjuang dengan kandidat perempuan yang dijagokan oleh para pemegang saham.
Satir terhadap dunia yang tak adil pada perempuan
Yang membuat “Ladies First” menarik bukan sekadar konsep “dunia terbalik”-nya, melainkan bagaimana film ini memperlihatkan berbagai bentuk ketidakadilan yang selama ini dianggap normal.
Saat Damien hidup sebagai laki-laki di dunia yang dikuasai perempuan, ia mengalami hal-hal yang sering dialami perempuan di dunia nyata. Pendapatnya diabaikan dalam rapat, penampilannya lebih diperhatikan dibanding kemampuannya, hingga mendapat komentar-komentar yang merendahkan tanpa dianggap sebagai masalah besar.
Film ini juga menyoroti fenomena double standard yang masih sering terjadi. Karakter perempuan yang ambisius dipuji sebagai pemimpin kuat, sementara karakter laki-laki yang menunjukkan sifat serupa justru dianggap agresif atau tidak menyenangkan. Situasi ini menjadi cerminan dari apa yang sering dialami perempuan di kehidupan nyata.
Tak hanya di tempat kerja, ketimpangan juga terlihat dalam kehidupan rumah tangga. Laki-laki di dunia tersebut diharapkan menjadi pihak yang mengurus keluarga, mendukung karier pasangan, serta mengorbankan ambisi pribadinya demi kepentingan rumah tangga. Sebuah ekspektasi yang terasa tidak adil ketika dialami oleh laki-laki, tetapi sering kali dianggap biasa ketika dibebankan kepada perempuan.
Lewat pendekatan komedi dan satir, Ladies First mengajak penonton melihat kembali berbagai norma sosial yang selama ini diterima begitu saja. Film ini seolah bertanya: jika perlakuan tersebut terasa tidak nyaman ketika dialami laki-laki, mengapa kita masih menganggapnya wajar ketika dialami perempuan?
Mengajak penonton berempati, bukan sekadar tertawa
Meski dibalut humor yang menghibur, pesan utama film ini sebenarnya cukup serius. Ladies First bukan tentang membalikkan posisi laki-laki dan perempuan untuk mencari siapa yang lebih unggul. Sebaliknya, film ini menunjukkan bahwa ketidakadilan akan tetap terasa menyakitkan, siapa pun yang mengalaminya.
Perjalanan Damien menjadi pengingat bahwa empati sering kali muncul ketika seseorang merasakan langsung pengalaman orang lain. Hal-hal yang sebelumnya ia anggap sepele ternyata memiliki dampak besar terhadap rasa percaya diri, kesempatan karier, hingga kualitas hidup seseorang.
Bagi para orangtua, film ini juga bisa menjadi bahan diskusi menarik bersama anak-anak yang sudah cukup usia untuk menontonnya. Film ini membuka ruang percakapan tentang kesetaraan, rasa hormat, dan pentingnya melihat seseorang berdasarkan kemampuan serta karakternya, bukan gendernya. [*]






