Dari Yoga hingga Titik Sambat, Cara Indung Bandung Ngariung Membangun Kesadaran Politik

Share

digitalMamaID – Menyuarakan aksi tidak harus selalu dengan bentuk protes yang frontal. Dengan mengokupasi ruang publik dan melakukan kegiatan yang tidak berbahaya tapi penuh muatan kritik dan suara kegelisahan, itu juga bentuk gerakan yang nyata.

Ini pula yang dijaga oleh komunitas Indung Bandung Ngariung (IBN) dalam pertemuan sambat keduanya. Gerakan yang diinisiasi para indung (ibu) di Bandung itu ingin tetap menyalurkan kegelisahannya pada persoalan politik bernegara. Ingin mengedukasi perempuan lainnya juga bahwa politik itu tidak jauh, tapi nyata terasa dalam keseharian.

Mulai dari sulitnya mendapat pekerjaan yang layak, beratnya perekonomian saat ini yang berdampak pada harga sembako yang mahal, hingga sajian di meja makan, itu adalah keputusan politik panjang yang semakin hari semakin dekat dengan masyarakat.

Menggandeng Sheni dari Yogini Punk, kali ini IBN mengajak para ibu untuk rehat dan healing sejenak melalui yoga restless. Selama satu jam di sore hari pada Minggu, 9 Agustus 2026 di Taman Cibeunying, belasan perempuan turut serta yoga bersama.

Poster-poster suara hati mereka digantung diantara pepohonan di ruang publik tersebut. Semakin menarik karena diskusi kemudian digelar santai sembari piknik sore yang mereka sebut sebagai Titik Sambat. Di mana semua yang hadir boleh meluapkan kegelisahannya, sambat bersama.

Aktivis perempuan yang juga seniman, Marintan Sirait yang hadir dalam kegiatan tersebut menilai upaya IBN untuk bersuara bisa berdampak besar, terutama pada perubahan perempuan. Menurutnya, aksi serupa pernah juga dilakukan untuk upaya antikorupsi.

“Aksi kami dulu adalah meditasi bersama. Saat ini, keluhan makin banyak dan membuat gelisah. Adalah penting tetap menjaga kewarasan dan kesehatan jiwa. Yoga jadi media yang baik untuk titik kulminasi kegelisahan kita, perempuan. Kebersamaan seperti dengan IBN juga penting. Ke depannya kita akan berhadapan dengan situasi ekonomi yang krusial sehingga sangat penting untuk memiliki jejaring yang saling mendukung. Kegiatan seperti ini bisa berdampak pada perputaran ekonomi yang baik,” katanya.

Seperti diketahui, IBN adalah ruang berkumpul organik yang lahir dari kegelisahan warga yang semuanya perempuan. Berawal dari unggahan sederhana di media sosial Threads, bergulir ke grup percakapan digital, hingga akhirnya menjelma menjadi tatap muka di ruang publik, IBN tumbuh tanpa sekat hierarki.

“IBN itu wadah terbuka. Tidak ada ketua, tidak ada struktur formal, apalagi pencatatan anggota. People come and go,” tutur Susan, inisiator IBN. Di komunitas ini, asas egaliter dan prinsip anarkisme damai menjadi pegangan, bahwa semua berada dalam posisi setara, di mana kebebasan berpendapat dijaga ketat oleh rasa saling menghargai

Dari MBG hingga resah diteror begal

Jika pada launching IBN fokus pada isu sentral Makan Bergizi Gratis (MBG), ruang ngariung kali ini membentangkan layar isu yang lebih luas yakni kehidupan warga sehari-hari di Kota Bandung. Kata Susan, salah satu yang memantik keresahan mendalam adalah maraknya aksi begal. Rasa tidak aman di jalanan Bandung belakangan ini berdampak nyata dan memukul denyut nadi ekonomi warga.

“Dampaknya mengular ke mana-mana, mulai dari ibu-ibu yang cemas menunggu anggota keluarganya pulang, para pengemudi ojek online (ojol) yang terpaksa mematikan aplikasi lebih cepat, hingga pedagang kaki lima,” katanya.

Susan menyayangkan, janji patroli dan keberadaan tim keamanan kota sering kali hanya ramai di media sosial, tapi penindakan langsung di lapangan belum dirasakan dampaknya oleh warga. Rasa aman yang menjadi hak paling mendasar warga kota, hingga kini masih terasa mewa

Ini juga berlaku pada keselamatan para indung di IBN saat menyuarakan aksinya. Di tengah iklim politik saat ini, di mana kritik sering kali direspons secara represif dan dianggap sebagai ancaman, isu keselamatan menjadi poin kunci. Terlebih, mayoritas anggota komunitas ini adalah ibu rumah tangga biasa, bukan aktivis yang terbiasa dengan risiko pergerakan hukum.

“Bagi perempuan, risiko hukum itu dampaknya berlipat. Kalau terjadi sesuatu pada ibu, anaknya ikut terdampak. Karena itu, bagi kami safety first,” ujar Susan.

Kesadaran kritis perempuan

Di balik isu jalanan yang mencekam, ada kesadaran yang terus dipupuk. Tia, seorang feminis antropolog asal Bandung menegaskan bahwa gerakan masyarakat yang kuat tidak boleh sekadar bersifat reaksioner layaknya pemadam kebakaran.

“Gerakan itu akan strategis kalau lahir dari kesadaran kritis. Banyak masyarakat yang anti bicara politik karena merasa politik itu jauh. Padahal, apa yang ada di meja makan kita hari ini—harga sembako yang mahal, kesempatan kerja, pendidikan, hingga kesehatan—itu semua adalah hasil dari proses keputusan politik yang panjang,” jelas Tia.

Dia juga mengajak para perempuan, khususnya ibu rumah tangga, untuk membongkar stigma internal. Kata ‘hanya’ yang sering disematkan pada status ibu rumah tangga harus dikikis habis.

“Kita harus take ownership with pride. Jangan pernah mengecilkan status ibu rumah tangga. Kerja perawatan di rumah itu adalah kegiatan produktif. Tidak ada aktivitas di luar rumah yang bisa berjalan kalau rumah tangga tidak ada yang mengurus,” tegasnya.

Oleh karena itu, IBN merancang ruang pergerakan yang sangat fleksibel, menyesuaikan dengan ‘jam kerja’ domestik perempuan. Waktu berkumpul sore hari dipilih dengan cermat agar tidak bertabrakan dengan jadwal mengantar anak atau mengurus rumah.

Untuk menjaga agar suara kritis tetap terdengar tanpa menyeret anggotanya ke tepi jurang bahaya, IBN berusaha menerapkan protokol keselamatan. Antara lain setiap narasi, pernyataan, hingga poster dikurasi ketat agar tidak menggunakan kata kasar atau menyebut nama orang/lembaga secara spesifik (naming).

Kemudian memilih pesan yang tidak frontal namun menyindir secara tajam, berbobot, dan dapat dipertanggungjawabkan secara intelektual. Di sini, aktivasi seperti yoga bersama jadi salah satu bentuk gerakan yang tidak bisa dianggap frontal.

Sebagai antisipasi dampak gerakan, Tia mengatakan IBN juga berjejaring dengan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) sebagai langkah mitigasi dan perlindungan jangka panjang. Atau, menyiapkan skenario penyelematan atau rencana keluar yang matang sebelum menggelar aksi.

Mengokupasi ruang publik, memantik keingintahuan

Ketimbang menghabiskan energi berdemonstrasi di depan gedung pemerintah yang kerap membalas dengan sikap tuli, IBN memilih taktik lain dengan mengokupasi ruang publik. Taman-taman kota disulap menjadi ruang diskusi dan arena aktivisme alternatif. Dengan hadir secara langsung di tengah aktivitas warga yang sedang berolahraga atau bersantai, IBN ingin menyebarkan kesadaran kritis secara organik.

“Ketika kami berkumpul di taman dan banyak orang melintas, timbul rasa ingin tahu (curiosity). ‘Ada apa ini ibu-ibu berkumpul?’ Dari sana dialog terbangun. Target utama kita adalah membangun kesadaran publik,” kata Tia.

Pada Titik Sambat kali ini, banyak perempuan mengutarakan keresahannya. Puri misalnya, warga Kota Cimahi ini dipusingkan dengan pengolahan sampah di kotanya yang masih berantakan. “Saya sudah memilah sampah sendiri, tapi oleh tukang sampahnya disatukan kembali sebelum dibuang begitu sja ke TPA. Kekhawatiran saya, TPA Sarimukti, kan, sudah tidak bisa menampung sampah lagi, jadi ke mana sampah-sampah itu nanti akan berakhir kalau tidak mulai dipilah sendiri dari rumah,” ujar Puri mempertanyakan.

Tera, pemilik usaha katering dan makanan juga bersuara terkait BPJS kesehatan. Dia menilai ada ketimpangan secara sistem yang mengorbankan masyarakat kalangan bawah. “Kasihan. Saya pernah datang ke rumah sakit besar dan bertemu seorang ibu dari Garut yang sengaja ke Bandung untuk berobat. Dia sudah menunggu lama sekali untuk bertemu dokter sampai sore hari. Katanya dokternya ada operasi. Memang dia pakai BPJS dan berobatnya gratis, tapi biaya yang dikeluarkan untuk akomodasinya besar, harus sewa ambulan juga. Saya ingin ada perbaikan sistem agar kasus seperti ibu tersebut bisa diantisipasi,” katanya.

Selain mereka, beberapa peserta yang hadir juga turut mengeluarkan unek-uneknya dan saling menanggapi. Diskusi menjadi lebih panas saat seorang peserta, Viny, menceritakan ada upaya doktrin terkait koperasi desa merah putih di sebuah desa di Kab. Bandung Barat kepada masyarakat.

Pertemuan sambat kali itu diakhiri dengan pernyataan semangat saling menjaga antarwarga, antarperempuan. Secara mandiri dan tanpa kebergantungan pada donatur eksternal, para perempuan di IBN membuktikan bahwa menyuarakan kebenaran tidak harus selalu riuh dengan kepalan tangan di depan barikade. Lewat obrolan hangat, kecermatan menjaga diri, dan keberanian merebut kembali ruang publik, mereka sedang merawat kota ini, mulai dari meja makan hingga ke jalanan. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE