Pengaruh Gadget terhadap Keterlambatan Bicara Anak, Begini Penjelasan Ilmiahnya

Ilustrasi pengaruh gadget pada keterlambatan bicara anak/Bukbis Ismet Candra/digitalMamaID
Share

digitalMamaID Kaitan antara pengaruh gadget terhadap keterlambatan bicara anak sudah terkonfirmasi secara ilmiah, lho, Mama! Sebuah penelitian menunjukkan, penggunaan smart media pada anak bisa menurunkan keterampilan berbahasa dan keterlambatan bicara.

Melibatkan perangkat media pintar seperti smartphone, tablet, televisi, komputer hingga perangkat elektronik lainnya ke dalam keseharian anak-anak menjadi semakin umum di era digital ini. Pola asuh modern telah memasukkan perangkat pintar untuk memfasilitasi pengasuhan anak. Hal ini tentu ada manfaatnya, namun juga ada dampak negatifnya. Pengaruh gadget terhadap keterlambatan bicara anak ternyata bisa berhubungan negatif. Bisa mempengaruhi perkembangan anak dalam penggunaan bahasa dan keterampilan komunikasinya.

Hal ini pun terkonfirmasi dalam penelitian yang dilakukan oleh Manal M. Alamri, Muath A. Alrehaili, Wejdan Albariqi, Manal S. Alshehri, Kholood B. Alotaibi yang berjudul ‘Relationship Between Speech Delay and Smart Media in Children: A Systematic Review’. Penelitian yang bisa diakses di National Library of Medicine ini mengemukakan, paparan media elektronik yang berkepanjangan pada anak-anak berhubungan negatif dengan kosa kata ekspresif dan keterampilan bahasa pada anak-anak, penurunan skor bahasa dan keterlambatan bicara (speech delay).

Anak usia dua tahun

Jika pengenalan perangkat pintar pada tahap perkembangan usia 24 bulan ke atas dikaitkan dengan perkembangan bahasa yang positif, akan tetapi pengenalan yang terlalu awal dikaitkan dengan keterlambatan bicara. Anak-anak di bawah dua tahun yang terpapar, empat kali berisiko mengalami gangguan bahasa dan keterlambatan bicara. Padahal penguasaan bahasa sejak dini sangat penting untuk perkembangan kognitif, sosial, emosional dan pendidikan.

Perkembangan bahasa adalah tahap kunci dalam pertumbuhan kognitif, sosial, dan emosional anak usia dini. Proses rumit dalam memperoleh keterampilan berbahasa dipengaruhi oleh genetika dan interaksi. Pengalaman awal yang positif, seperti interaksi responsif dan paparan bahasa yang bervariasi, membangun kemampuan bahasa yang kuat.

“Penelitian ini sendiri menyoroti hubungan antara penggunaan layar yang berlebihan dan keterlambatan bicara pada anak. Namun, membuktikan hubungan sebab-akibat langsung adalah hal yang rumit karena berbagai faktor yang mempengaruhi seperti metode pengasuhan anak, status sosial ekonomi, dan lingkungan komunikasi secara keseluruhan,” papar Manal M. Alamri dalam jurnalnya.

Sebuah teori terkemuka menyatakan, paparan layar yang berlebihan dapat menggantikan interaksi tatap muka yang penting antara orangtua atau pengasuh dan anak-anak. Hal ini berdampak negatif pada perkembangan bahasa. Oleh karena itu, American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan batasan waktu menatap layar kurang dari 1-2 jam per hari untuk anak di bawah usia dua tahun.

Sedangkan untuk anak di atas dua tahun, di rekomendasikan konten interaktif dan mendidik dalam menggunakan perangkat media pintar untuk menyeimbangkan interaksi layar dengan aktivitas perkembangan lainnya. Beberapa penelitian juga menunjukkan, penggunaan media interaktif yang terkontrol (menarik dan mendidik) dapat mendorong pembelajaran, sedangkan konsumsi media pasif (menonton video) mungkin berdampak negatif terhadap perkembangan anak.

Waktu layar orangtua

Paparan media elektronik dalam jangka waktu lama pada anak-anak dan orangtua  juga diyakini berkaitan erat dengan kemampuan berbahasa anak. Dampaknya bisa terjadi penurunan kosakata ekspresif pada anak dan buruknya kemampuan berbahasa, termasuk keterampilan leksikal.

Waktu layar orangtua juga memengaruhi kemampuan berbahasa anak. Sebuah penelitian lainnya, menemukan kemungkinan besar waktu layar berlebihan pada anak yang orangtuanya menonton televisi selama lebih dari dua jam. Selain itu juga menghabiskan lebih dari dua jam menjelajahi web dan terlibat di media sosial selama lebih dari dua jam.

Waktu layar melebihi dua jam dan menonton TV selama tiga hingga empat jam setiap hari juga berdampak negatif. Hal ini dikaitkan dengan penurunan skor bahasa reseptif dan ekspresif serta keterlambatan bicara. Selain itu, kemungkinan lebih tinggi juga terjadi waktu menonton di depan layar pada anak-anak yang menonton sendirian, dibandingkan anak-anak yang menonton bersama orangtua atau orang dewasa.

Ini penting sebagai pengingat untuk kita, Mama. Sebelum mengatur screen time anak, kita juga perlu mengaturnya untuk diri sendiri! [*]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bingung cari konten yang aman untuk anak?
 
Dapatkan rekomendasi menarik dan berikan pendapatmu di Screen Score!
Ilustrasi melatih anak bicara/Bukbis Ismet Candra Bey/digitalMamaID