Teaching Nanny, Solusi untuk Ibu yang Minim Support System

Share

digitalMamaID – Sekitar 1 dari 5 ibu di dunia mengalami gangguan kesehatan mental setelah melahirkan. Di Indonesia, tekanan ini semakin terasa seiring meningkatnya jumlah keluarga inti yang minim dukungan, membuat banyak ibu menghadapi pengasuhan anak sendirian.

Data dari WHO menunjukkan bahwa sekitar 10–20% perempuan mengalami depresi postpartum. Kondisi ini kerap tidak tertangani dengan baik, terutama karena kurangnya dukungan sosial dan akses terhadap layanan kesehatan mental.

Jika ditarik ke konteks Indonesia, gambaran serupa juga terlihat. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan, prevalensi gangguan mental emosional pada penduduk usia di atas 15 tahun mencapai sekitar 9,8%. Angka ini menunjukkan besarnya potensi tekanan psikologis, termasuk pada ibu yang berada dalam fase pengasuhan anak.

Tekanan tersebut semakin kompleks ketika dikaitkan dengan perubahan struktur keluarga. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa tren keluarga inti di perkotaan terus meningkat. Artinya, semakin banyak keluarga yang tidak tinggal bersama orangtua atau kerabat, sehingga dukungan dalam pengasuhan anak menjadi semakin terbatas.

Kondisi inilah yang membuat banyak ibu berada dalam situasi serba dilema: membutuhkan bantuan, tetapi tidak selalu memiliki akses atau kepercayaan untuk mendapatkannya. Di tengah kebutuhan ini, muncul inisiatif yang mencoba menjawab dua hal sekaligus yaitu mendampingi anak dan memahami ibu.

Berawal dari ide sederhana

Di tengah realitas tersebut, hadir Care by Elma yang didirikan oleh Hilma Nanda pada 2025. Layanan ini menawarkan konsep teaching nanny, yaitu pendamping anak yang tidak hanya menjaga, tetapi juga memberikan stimulasi perkembangan.

Hilma, mahasiswi Psikologi berusia 22 tahun dari Universitas Muhammadiyah Bandung yang akrab disapa Miss Elma, mengaku ide ini berangkat dari rasa penasarannya terhadap program au pair di Jerman. Program au pair memungkinkan anak muda tinggal bersama keluarga angkat di luar negeri untuk membantu mengasuh anak, sekaligus belajar budaya dan bahasa setempat. Dari situ, Hilma melihat bahwa konsep serupa sebenarnya bisa diterapkan di Indonesia.

Menurutnya, persoalan minimnya dukungan terhadap ibu bukan hanya terjadi di satu negara, tetapi merupakan isu global. “Kalau bisa diterapin di Indonesia, aku nggak perlu jauh-jauh ke sana,” ujarnya kepada digitalMamaID saat ditemui pada Sabtu, 18 April 2026.

Gagasan tersebut kemudian menemukan momentum saat ia mengikuti mata kuliah Technopreneurship yang mendorong mahasiswa membangun startup. Dari sana, Hilma mulai melakukan riset sederhana, termasuk mengamati peluang melalui media sosial.

Ia menemukan bahwa kebutuhan akan jasa pengasuhan yang fleksibel sebenarnya sudah mulai muncul. Tanpa menunggu semuanya sempurna, ia langsung mencoba menawarkan jasanya melalui Threads, meski sempat diliputi keraguan. Hasilnya di luar dugaan. “Besoknya aku langsung dapat tiga klien,” ceritanya.

Unggahan Threads Hilma yang membuatnya ramai dihubungi ibu yang membutuhkan jasa teaching nanny. (Alin Imani/digitalMamaID)

Tiga klien pertama ini menjadi fondasi penting dalam perjalanan Care by Elma. Mereka tidak hanya menggunakan jasanya, tetapi juga memberikan masukan berdasarkan pengalaman mereka sebagai ibu. Dalam waktu kurang dari seminggu, jadwal Hilma pun langsung penuh, sesuatu yang bahkan tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Di balik perkembangan tersebut, Hilma juga mendapat dukungan penuh dari keluarga. Ia bersyukur, sejak awal hingga sekarang, keluarganya selalu memberi ruang dan kepercayaan untuk mengembangkan usahanya. Terlebih, sang ibu yang berprofesi sebagai tenaga pendidik dan pernah memiliki taman kanak-kanak, sangat memahami pentingnya dunia pengasuhan anak. “Mama setuju banget, silakan kamu kembangin,” ujarnya menirukan perkataan sang ibu.

Tumbuh dari lingkungan yang dekat dengan dunia pengasuhan

Ketertarikan Hilma pada dunia anak tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan terbentuk dari pengalaman sejak kecil. Neneknya merupakan seorang asisten bidan di kawasan Ciumbuleuit, Bandung, yang kerap membantu ibu-ibu pasca melahirkan. Hilma kecil sering diajak berkunjung ke rumah pasien, melihat langsung bagaimana bayi dirawat, dimandikan, hingga didampingi di masa awal kehidupannya.

Pengalaman ini membuatnya akrab dengan dunia pengasuhan sejak dini. “Pas kecil aku udah bisa mandiin bayi, karena sering diajak Nenek, dan aku suka banget sama anak-anak,” ceritanya antusias.

Selain itu, ia juga tumbuh dalam keluarga besar sebagai anak keempat dari tujuh bersaudara. Lingkungan ini membuatnya terbiasa mengasuh dan berinteraksi dengan anak-anak, sehingga peran sebagai caregiver menjadi sesuatu yang natural dalam kesehariannya.

Pengalaman tersebut kemudian diperkuat dengan ilmu psikologi perkembangan yang ia pelajari di bangku kuliah. Apa yang dulu ia jalani secara alami, kini semakin ia pahami secara ilmiah.

Ibu me time tanpa rasa bersalah

Di tengah tuntutan pengasuhan yang semakin kompleks, kebutuhan ibu tidak hanya soal bantuan fisik, tetapi juga ruang untuk beristirahat. Banyak orangtua menginginkan pendamping yang tidak hanya menjaga anak, tetapi juga mampu memberikan stimulasi sesuai usia. Namun di sisi lain, kelelahan sering membuat ibu sulit mengambil jeda. Melihat kebutuhan ini, Hilma menghadirkan layanan yang fleksibel.

“Misalnya ibunya mau istirahat atau pergi sebentar, anaknya bisa sama saya. Jadi nggak ninggalin anak dengan rasa bersalah,” ujarnya.

Pendampingan yang dilakukan pun disesuaikan dengan kondisi klien. Ia pernah mendampingi anak saat sang ibu mengikuti yusidium S2 juga mendampingi ibu yang sedang menjalani kuliah S3. Hal ini sangat membantu ibu untuk tetap berdaya tanpa adanya rasa khawatir meninggalkan anak terutama ketika anak masih sangat kecil.

Selain itu, Hilma juga menyediakan catatan observasi perkembangan anak. Jika diperlukan, ia membantu orangtua untuk mengarahkan ke psikolog untuk asesmen lanjutan.

Mayoritas kliennya saat ini adalah ibu pekerja yang membutuhkan bantuan fleksibel, bahkan hanya untuk beberapa jam. Menariknya, peran Hilma tidak berhenti pada pendampingan anak. Ia juga kerap menjadi tempat berbagi cerita bagi para ibu. “Banyak ibu tuh ngerasa kesepian, ingin ada teman ngobrol,” katanya.

Peran media sosial: suka dan duka

Seiring berkembangnya Care by Elma, media sosial menjadi salah satu pintu utama untuk menjangkau lebih banyak ibu. Melalui Instagram dan Threads, Hilma tidak hanya mendapatkan klien, tetapi juga berinteraksi langsung dengan berbagai cerita kehidupan ibu. “Banyak yang DM bukan untuk minta aku jadi nanny, tapi untuk curhat,” ujarnya.

Dari sana, ia semakin memahami bahwa banyak ibu sedang berjuang sendirian. Salah satu pengalaman yang paling membekas terjadi ketika seorang ibu mengirim pesan di tengah malam, mengaku sudah putus asa dan memiliki pikiran untuk mengakhiri hidupnya. Tanpa ragu, Hilma mendatangi rumah ibu tersebut untuk mendengarkan ceritanya. Pengalaman ini menjadi titik penting yang menguatkan keyakinannya bahwa support system untuk seorang ibu adalah kebutuhan yang sangat mendasar.

Namun, media sosial juga menghadirkan tantangan tersendiri. Ia pernah menerima ulasan negatif akibat miskomunikasi yang kemudian cukup viral di Threads. Hal tersebut sempat membuatnya stres hingga kehilangan nafsu makan selama dua hari. Meski demikian, pengalaman itu justru menjadi pembelajaran penting tentang komunikasi dengan klien.

Dukungan kemudian datang dari salah satu kliennya yang juga seorang psikolog, yang mengingatkannya bahwa kesalahan adalah bagian dari proses. “Aku disemangatin sama klien aku. Mereka itu tangan aku juga dalam bikin Care by Elma,” ujarnya.

Tidak bisa dipungkiri, pekerjaan di bidang layanan pengasuhan ini juga menguras energi, baik secara fisik maupun emosional. Terlebih, interaksi yang intens dengan anak dan orangtua, ditambah eksposur di media sosial, membuat Hilma sempat berada di titik kelelahan.

Ia menyadari pentingnya menjaga kondisi dirinya agar tetap bisa memberikan pendampingan yang optimal. Karena itu, saat ini ia mulai membatasi jadwal hanya 2–3 sesi pendampingan dalam sehari agar energinya bisa lebih terjaga.

Selain itu, Hilma juga mulai mencari cara untuk merawat dirinya sendiri. Ia rutin berolahraga di gym dan berencana mencoba aktivitas baru yang lebih menyenangkan. “Aku rencananya pengen ikut kelas balet, gara-gara beberapa kali nemenin anak-anak les balet saat jadi nanny,” ucapnya sumringah.

Teaching nanny: pendamping anak sekaligus support system ibu

Melalui Care by Elma, Hilma menghadirkan konsep teaching and nurturing nanny yang menggabungkan pengasuhan dengan stimulasi perkembangan anak. Dalam praktiknya, layanan ini mencakup:

  • Penyusunan aktivitas bermain sesuai tahap perkembangan
  • Pembuatan lesson plan sederhana
  • Pemberian catatan observasi
  • Diskusi dengan orangtua

Ia juga membawa alat bermain edukatif untuk mendorong eksplorasi anak tanpa bergantung pada screen time, meski tetap fleksibel sesuai keputusan orangtua.

Alat bermain dan edukasi yang biasa dibawa Hilma saat menjadi teaching nanny. (Alin Imani/digitalMamaID) 

Saat ini, Care by Elma telah mendampingi sekitar 100 anak dengan rentang usia 2 minggu hingga 11 tahun. Dari berbagai pengalaman tersebut, Hilma melihat pola yang sama bahwa ibu membutuhkan bantuan, tetapi selalu diiringi rasa khawatir. “Ada yang takut anaknya terlalu dekat dengan pengasuh, ada juga yang trauma,” katanya. Melalui pendekatan yang transparan dan komunikasi terbuka, ia berusaha membangun kepercayaan dengan orangtua.

Harapan ke depan

Saat ini, Hilma tengah mempersiapkan legalitas Care by Elma agar dapat berkembang lebih luas. Hal ini dilakukan agar layanannya lebih dipercaya lagi oleh para ibu. Ia juga berencana untuk mengembangkan beberapa layanan berbasis jasa untuk keluarga selain teaching nanny, yaitu penyediaan layanan caregiver, shadow teacher juga membantu orangtua dalam menyeleksi babysitter atau nanny yang menetap di rumah.

Banyaknya kekhawatiran, seperti beredarnya berita soal kekerasan yang terjadi dari pengasuh kepada anak banyak membuat orangtua maju mundur untuk menggunakan jasa nanny atau babysitter. Mengenai hal ini, Hilma menilai masalah itu secara objektif. “Harus dilihat secara keseluruhan, takutnya ada masalah lain yang memicu, walau tetep ya kekerasan kepada anak jelas nggak boleh dilakukan,” tuturnya.

“Harapanku semoga Care by Elma bisa berkembang dan bermanfaat bagi para ibu dan anak yang memerlukan,” ujarnya menutup obrolan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE