Nobar “Menolak Punah”, Ironi Negeri Padi dan Kapas

Nobar Menolak Punah
Share

digitalMamaID — Pernahkah Mama terpikir, sehelai pakaian yang kita kenakan setiap hari ternyata menyimpan jejak mikroplastik yang berpotensi membahayakan kesehatan?

Pertanyaan inilah yang sempat terlintas ketika nonton bareng dan diskusi film dokumenter Menolak Punah karya Dandhy Laksono dan Aji Yahuti yang digelar digitalMamaID bersama Kutub.co dan Tjap Sahabat pada Minggu, 7 Juni 2026.

Film independen yang merupakan hasil kolaborasi dengan Ekspedisi Indonesia BaruEkspedisi Indonesia Baru, The Body Shop Indonesia, Sunspirit, dan Sejauh Mata Memandang ini mengajak penonton untuk menelusuri sisi gelap industri fesyen cepat (fast fashion), mulai dari membanjirnya pakaian murah berbahan serat sintetis, limbah tekstil yang mencemari lingkungan, hingga ancaman mikroplastik yang kini ditemukan di laut, udara dan bahkan tubuh manusia. Di saat yang sama, film ini juga menyoroti upaya menjaga kapas sebagai serat alami yang hampir punah.

Fast fashion jadi limbah tekstil

Film ini dibuka dengan Aisyah, pegiat Komunitas Bersi-bersi Lemari di Jakarta yang setiap hari menerima donasi 20 paket pakaian bekas. Pakaian-pakaian bekas tersebut dengan cepat memenuhi berbagai sudut ruangan rumah hingga area kamar mandi.

Sebagian besar pakaian yang diterima sebenarnya masih dalam kondisi layak pakai. Tidak sedikit pula yang berasal dari merek-merek ternama. Bersama komunitasnya, Aisyah berupaya memperpanjang usia pakaian-pakaian tersebut agar dapat digunakan kembali dan tidak langsung berakhir sebagai limbah.

Dari titik inilah film Menolak Punah mengajak penonton menelusuri dampak budaya konsumsi dan industri fast fashion, yang mendorong masyarakat untuk membeli lebih banyak pakaian sekaligus membuangnya lebih cepat, bahkan ketika masa pakainya belum benar-benar habis.

Penduduk Indonesia ada 280 juta jiwa, umumnya memang suka membeli baju. Semakin murah, semakin banyak membeli bajunya. Dalam sejumlah studi, sejak tahun 2000 hingga kini, populasi global naik sekitar 30 persen. Namun, konsumsi pakaian melonjak 100 persen.

Di era modern, siklus konsumsi dan produksi pakaian saling terkait melalui model fast fashion. Ditandai oleh biaya produksi yang rendah, harga murah dan cepat dibuang oleh konsumen akibat buruknya kualitas produk atau pergantian tren yang cepat.

Indonesia sendiri diperkirakan menghasilkan sekitar 2,3 juta ton limbah tekstil setiap tahun. Secara global, limbah tekstil mencapai 92 juta ton per tahun dan sebagian besar berakhir di ‘clothing graveyard’, kawasan penumpukan pakaian bekas seperti di Gurun Atacama, Chili.

Fast fashion berkontribusi dalam pencemaran lingkungan

Maraknya tren fast fashion tidak hanya menghasilkan limbah dalam jumlah besar, tetapi juga berkontribusi terhadap pencemaran lingkungan.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by digitalMamaID (@digitalmamaid)

Ekspedisi penelitian yang dilakukan Ecoton menemukan dampak industri tekstil terhadap kualitas air sungai di sejumlah sungai di Pulau Jawa. Mereka menemukan limbah pewarna tekstil yang mengandung berbagai bahan kimia berbahaya seperti timbal, tembaga dan kapur. Zat-zat tersebut masuk ke dalam aliran sungai, dan dalam jangka panjang mempengaruhi kerja sistem saraf manusia.

Selain pencemaran air, industri mode disebut menyumbang sekitar 10 persen emisi karbon global. Angka ini bahkan disebut lebih besar dibandingkan gabungan emisi dari penerbangan internasional dan shipping.

Ancaman mikroplastik pada tubuh

Baju-baju yang membanjiri pasar Indonesia sebagian besar adalah baju impor berbahan sintetis polyester, baik baju baru maupun baju bekas. Harganya bisa 10 sampai 20 kali lebih murah.

Namun, berbeda dengan kapas sebagai serat alami, pakaian berbahan serat sintetis tidak dapat terurai secara alami. Seiring waktu, material ini akan melepaskan partikel mikroplastik dan nanoplastik ke lingkungan. Partikel-partikel tersebut dapat terbawa angin maupun aliran air hingga bermuara ke laut dan masuk ke rantai makanan manusia.

Sejumlah hasil penelitian menunjukkan keberadaan mikroplastik ada di berbagai bagian tubuh manusia. Mikroplastik ditemukan dalam air susu ibu, sperma, cairan ketuban, darah, hingga urin. Temuan lain dari penelitian Ecoton bersama jurnalis lingkungan menunjukkan bahwa hampir setengah polutan mikroplastik udara di Indonesia berasal dari serat (fiber) tekstil, dengan tingkat pencemaran tertinggi ditemukan di Jakarta.

Di tengah dominasi bahan sintetis tersebut, film ini mengajak penonton mengingat kembali serat-serat alami yang selama berabad-abad digunakan manusia, salah satunya kapas. Film ini menyoroti bagaimana kapas kini semakin terpinggirkan oleh bahan sintetis yang lebih murah dan lebih cepat diproduksi, meski memiliki dampak lingkungan yang nyata.

Ironi padi dan kapas

Dalam film diceritakan pula keyakinan suku Sasak bahwa seseorang harus menemui leang (kain kafannya) sendiri. Sulit membayangkan jika kafan terbuat dari serat sintetis, jasad seseorang tak akan menyatu dengan bumi karena dibalut plastik. Maka bagi orang Sasak, kapas adalah kunci.

Namun, Indonesia mengimpor 99 persen kebutuhan kapas untuk industri tekstil, kecantikan, dan farmasi. Artinya Indonesia hanya menghasilkan satu persen kapas untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.

Ironisnya, padi dan kapas adalah simbol keadilan sosial, yang dipakai hampir semua organisasi. Melambangkan dua kebutuhan dasar manusia yaitu sandang dan pangan, dari karang taruna, pemerintah daerah, hingga DPR, TNI, dan Polri termasuk Presiden semua memakai lambang padi dan kapas.

Namun beras dan kapas Indonesia keduanya impor. Tak hanya kapas, serat dan benang, pakaian, baju baru maupun baju bekas semuanya impor.

Program penanaman kapas dari pemerintah juga sudah dihapuskan. Padahal hanya dalam kurun waktu lima tahun saja, Indonesia bisa swasembada kapas tanpa perlu lahan yang besar jika negara mau mengembalikan kapas sebagai serat alami. Namun rezim-rezim pemerintah memilih impor karena lebih menguntungkan mereka.

Kesadaran baru

Silvia (40), salah satu peserta nobar mengaku mendapat perspektif baru mengenai sumber mikroplastik setelah menonton film ini. Selama ini ia hanya mengetahui bahwa mikroplastik masuk ke tubuh manusia melalui makanan atau penggunaan wadah plastik.

Namun, lewat film ini ternyata pakaian berbahan sintetis juga menjadi penyumbang mikroplastik yang dapat mencemari lingkungan dan kembali masuk ke tubuh manusia.

“Saya baru tahu bahwa saat pakaian berbahan sintetis dicuci, serat-serat mikroplastik dapat terlepas ke lingkungan dan pada akhirnya kembali lagi ke tubuh manusia. Ini menjadi pengetahuan baru bagi saya,” ujar Silvia pada digitalMama Minggu 7 Juni 2026.

Menurutnya, penting untuk mulai mempertimbangkan penggunaan bahan-bahan yang lebih alami. Meski produksi serat alami memiliki tantangan tersendiri, seperti kebutuhan air yang cukup besar. “Mungkin yang dapat dilakukan sekarang, jangan banyak beli baju dulu mungkin, ya,” tutupnya.

Film ini mengajak penonton untuk merefleksikan kembali hubungan mereka dengan pakaian yang mereka kenakan setiap hari. Bahwa di balik sehelai baju yang tampak sederhana, terdapat jejak lingkungan yang panjang. Mungkin solusi tidak selalu dimulai dari perubahan besar, tetapi dari pertanyaan sederhana sebelum membeli pakaian baru, apakah kita benar-benar membutuhkannya? [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE