Toko Curah, Jalan Tengah antara Kebutuhan Keluarga dan Sampah Kemasan Sachet

Toko curah eco minimarket Jaga Bumi Nusantara
Share

Pernahkah Mama menghitung berapa banyak kemasan sachet yang dibuang dari rumah setiap hari? Mungkin hanya satu bungkus kopi, sampo, deterjen, atau bumbu dapur. Terlihat sepele. Namun jika dikumpulkan selama sebulan, lalu dikalikan dengan jutaan rumah tangga di Indonesia, jumlahnya menjadi sangat besar.

Kemasan sachet telah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian masyarakat Indonesia. Hampir semua kebutuhan rumah tangga kini tersedia dalam ukuran kecil dengan label “lebih hemat” dan “lebih praktis”. Bagi banyak keluarga, memilih sachet bukan sekadar soal kebiasaan, melainkan strategi bertahan di tengah harga kebutuhan pokok yang terus meningkat.

Di balik kepraktisannya, sachet menyimpan persoalan besar. Ukurannya yang kecil membuat kemasan ini sulit dikumpulkan dan didaur ulang. Akibatnya, sebagian besar berakhir di tempat pembuangan akhir, sungai, bahkan laut.

Namun, apakah adil jika seluruh tanggung jawab dibebankan kepada konsumen?

kemasan sachet
Produk berkemasan sachet yang populer digunakan masyarakat (Catur Ratna Wulandari/digitalMamaID).

Ketika sachet menjadi pilihan paling masuk akal

Bagi Wanti (26), warga Cimenyan, Kabupaten Bandung, membeli produk dalam kemasan sachet adalah keputusan yang sangat rasional.

Menurutnya, meski harga per mililiter lebih mahal dibandingkan kemasan botol, sachet membuat pengeluaran rumah tangga lebih mudah dikendalikan.

Ia mencontohkan sampo. Satu renceng berisi 12 sachet dengan total isi sekitar 120 mililiter dijual sekitar Rp6.000 di warung, bahkan bisa diperoleh sekitar Rp5.000 di toko grosir. Sementara itu, sampo kemasan botol berukuran 180 mililiter dijual dengan harga sekitar Rp18.000 hingga Rp25.000.

Dalam dua bulan, Wanti biasanya menghabiskan tiga renceng sampo untuk dirinya dan sang suami. Jika dihitung, total biaya yang ia keluarkan masih lebih rendah dibandingkan membeli beberapa botol sampo selama periode yang sama.

Baginya, sachet membantu mengontrol penggunaan. “Sebelumnya pernah juga pakai yang botolan. Rasanya malah jadi boros. Satu botol yang mestinya untuk sebulan malah sudah habis duluan. Ambilnya kebanyakan atau tumpah,” ujarnya kepada digitalMamaID, Senin, 29 Juni 2026.

Satu sachet berarti satu kali keramas. Takaran itu membuat kebutuhan sampo lebih terukur sehingga persediaan dapat bertahan hingga akhir bulan.

Wanti menyadari kebiasaannya menghasilkan sampah plastik. Selain sampah organik dari dapur, sebagian besar sampah rumah tangganya berasal dari kemasan sampo, deterjen, pembersih lantai, hingga berbagai produk kebutuhan sehari-hari lainnya.

Namun baginya, di tengah pendapatan keluarga yang tidak menentu, sachet tetap menjadi pilihan yang paling memungkinkan.

Jutaan sachet yang dibuang setiap hari

Pilihan yang diambil Wanti ternyata juga dilakukan oleh jutaan keluarga Indonesia lainnya.

Penelitian Universitas Indonesia bersama Dietplastik Indonesia menunjukkan rata-rata satu orang Indonesia menghasilkan sekitar empat kilogram sampah sachet setiap tahun, sebagian besar berasal dari produk makanan dan minuman. Tanpa intervensi yang memadai, diperkirakan 1,1 juta ton sampah sachet akan berakhir sebagai sampah yang tidak terkelola pada 2030.

Organisasi lingkungan Break Free From Plastic bahkan menyebut sachet sebagai salah satu jenis kemasan sekali pakai yang paling bermasalah. Selain ukurannya yang kecil, sachet umumnya dibuat dari beberapa lapisan material plastik yang menyatu sehingga sangat sulit dipilah maupun didaur ulang.

Sumber: Laporan Evaluasi Dampak Lingkungan dan Sosial dari Pemanfaatan Sachet dan Pouch Serta Ekspansi Solusi Guna Ulang di Jabodetabek.

Akibatnya, sebagian besar kemasan tersebut berakhir di tempat pembuangan akhir atau bocor ke sungai dan laut, mencemari ekosistem sekaligus mengancam kesehatan masyarakat.

Persoalan ini memang pelik, bagaimana memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan kemampuan ekonomi yang terbatas.

Mengapa sachet begitu sulit ditinggalkan?

Menurut Co-Founder Jaga Bumi Nusantara, Nur Afif Aulia, budaya mengonsumsi produk dalam kemasan sachet bukanlah fenomena yang muncul dalam beberapa tahun terakhir. Kebiasaan itu telah dibangun selama puluhan tahun, seiring berkembangnya industri plastik dan strategi pemasaran produk kebutuhan sehari-hari.

Awalnya, plastik diciptakan untuk mempermudah kehidupan manusia. Bahannya ringan, kuat, dan murah diproduksi. Seiring waktu, industri memanfaatkan keunggulan tersebut untuk menghadirkan produk dalam kemasan kecil yang mudah dijangkau masyarakat.

“Selama puluhan tahun kita dibiasakan menganggap membeli produk dalam kemasan plastik kecil itu lebih murah. Lama-kelamaan kebiasaan itu membentuk gaya hidup konsumen,” ujar Afif.

Akibatnya, sachet tidak lagi sekadar menjadi pilihan kemasan, tetapi telah menjadi bagian dari pola konsumsi masyarakat.

Kini, dampaknya mulai terlihat. Timbunan sampah plastik terus meningkat, sementara krisis iklim semakin nyata. Menurut Afif, kondisi ini seharusnya menjadi momentum untuk mulai beralih menuju pola konsumsi yang lebih berkelanjutan.

Namun, perubahan itu tidak sesederhana meminta masyarakat berhenti membeli sachet.

Secara hitung-hitungan, membeli produk isi ulang atau kemasan besar memang lebih hemat. Akan tetapi, keputusan seseorang saat berbelanja tidak hanya ditentukan oleh harga. Ada faktor lain yang sama pentingnya. Sebut saja waktu, tenaga, kemudahan, dan kemampuan mengeluarkan uang dalam jumlah besar sekaligus.

“Kalau secara matematika memang lebih murah. Tapi untuk menjalani gaya hidup yang lebih ramah lingkungan, ada effort yang harus dikeluarkan,” katanya.

Menurut Afif, masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah umumnya menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bekerja dan mencari nafkah. Dalam situasi seperti itu, pilihan yang cepat, praktis, dan mudah diakses menjadi lebih masuk akal.

Dengan kata lain, gaya hidup serba instan tidak selalu lahir karena masyarakat enggan peduli terhadap lingkungan. Sering kali, pilihan tersebut merupakan respons terhadap keterbatasan waktu dan kondisi ekonomi.

Sumber: Laporan Evaluasi Dampak Lingkungan dan Sosial Dari Pemanfaatan Sachet dan Pouch Serta Ekspansi Solusi Guna Ulang di Jabodetabek (Dietplastik Indonesia dan Daya Makara Universitas Indonesia, 2024).

Bukan persoalan konsumen saja

Pandangan serupa disampaikan Pendiri Toko Nol Sampah, Siska Nirmala. Menurutnya, akar persoalan penggunaan sachet berada jauh di hulu, yakni pada sistem produksi dan distribusi yang dibangun produsen.

“Saya percaya ekosistem bisa berubah kalau sistemnya disiapkan. Karena produsennya menyediakan produk dalam kemasan sachet, akhirnya masyarakat terbiasa menganggap sachet sebagai pilihan yang paling ekonomis,” katanya.

Selama ini, menurut Siska, beban pengelolaan sampah lebih banyak dibebankan kepada masyarakat. Setelah produk digunakan, konsumen diminta memilah, membuang, hingga mendaur ulang kemasannya. Sementara itu, produsen relatif tidak menanggung biaya untuk mengelola kembali limbah yang mereka hasilkan.

Padahal, biaya lingkungan akibat penggunaan kemasan sekali pakai tidak pernah benar-benar hilang. Beban itu hanya berpindah kepada masyarakat yang menghasilkan lebih banyak sampah dan hidup di sekitar tempat pembuangan, kepada pemerintah yang harus mengelola sampah, hingga kepada lingkungan yang terus menanggung pencemaran.

Siska menilai perubahan perilaku konsumen saja tidak akan cukup. Produsen juga perlu mengambil tanggung jawab yang lebih besar, mulai dari merancang kemasan yang lebih mudah didaur ulang, menyediakan sistem isi ulang, hingga mengembangkan model distribusi yang menghasilkan lebih sedikit sampah.

“Harga produk yang kita bayar hari ini belum mencerminkan biaya kerusakan lingkungan yang ditimbulkannya,” ujarnya.

Menurutnya, selama biaya lingkungan tidak ikut diperhitungkan dalam proses produksi, produk dengan kemasan sekali pakai akan selalu terlihat lebih murah dibandingkan alternatif yang lebih berkelanjutan. Murah di kasir belum tentu murah bagi bumi.

Toko curah sebagai jalan tengah

Di tengah dominasi produk sekali pakai, sejumlah pelaku usaha mulai menawarkan cara berbelanja yang berbeda. Salah satunya melalui bulk store atau toko curah, konsep yang memungkinkan konsumen membeli produk sesuai kebutuhan tanpa harus membawa pulang kemasan baru setiap kali berbelanja.

Di toko seperti ini, pembeli dapat membawa wadah sendiri atau menggunakan kemasan pakai ulang yang disediakan. Produk dijual secara curah, mulai dari bumbu dapur hingga kebutuhan rumah tangga lainnya.

Konsep tersebut diterapkan oleh Toko Nol Sampah yang didirikan Siska Nirmala pada 2020.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Toko Nol Sampah (@tokonolsampah)

Ide itu berawal dari pengalaman pribadinya. Saat mulai menjalani gaya hidup minim sampah, Siska kesulitan menemukan tempat yang menjual kebutuhan sehari-hari tanpa kemasan plastik.

“Saya butuh support system untuk menjalani gaya hidup zero waste. Dulu mencari bumbu dapur tanpa kemasan seperti garam, gula, atau kaldu saja sulit. Dari situ muncul ide membuat bulk store atau toko curah,” katanya.

Pada awalnya, Toko Nol Sampah hanya menjual bumbu dapur secara curah. Kini produknya berkembang, mulai dari sabun isi ulang, kebutuhan rumah tangga ramah lingkungan, hingga berbagai produk UMKM yang mengusung prinsip keberlanjutan.

Seluruh produk dikurasi. Tidak hanya kualitasnya, tetapi juga proses produksinya. Produk yang dipilih sebisa mungkin meminimalkan kemasan plastik, dapat diisi ulang, atau memiliki sistem pengembalian kemasan setelah digunakan.

Meski sempat ragu karena menyasar pasar yang sangat spesifik, Siska mengaku jumlah pelanggan terus bertambah seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan.

Pilihan yang lebih ramah lingkungan

Upaya serupa juga dilakukan Jaga Bumi Nusantara. Melalui eco minimarket yang mereka kembangkan, berbagai produk lokal ramah lingkungan dipasarkan dalam satu ruang agar masyarakat lebih mudah mengenal alternatif selain produk sekali pakai.

Awalnya, produk yang dijual hanya berasal dari peserta Greenpreneur Academy. Kini, toko tersebut juga membuka ruang bagi berbagai pelaku usaha hijau lain yang memiliki visi serupa.

Menurut Afif, setiap produk yang masuk melalui proses kurasi. Penilaiannya tidak hanya melihat produk akhirnya, tetapi juga bagaimana produk tersebut diproduksi, dikemas, hingga didistribusikan.

“Kami melihat aspek ramah lingkungannya sejak proses produksi sampai distribusi. Jadi bukan hanya produknya, tetapi juga bagaimana produk itu dibuat dan dikirim,” ujarnya.

Meski demikian, Afif mengakui model bisnis seperti ini belum bisa bersaing sepenuhnya dengan sistem ritel konvensional.

Dari sisi keuntungan, toko ramah lingkungan memang tidak selalu menghasilkan pendapatan sebesar toko pada umumnya. Namun bagi Jaga Bumi, tujuan utamanya bukan sekadar berjualan.

Lebih dari itu, eco minimarket menjadi ruang edukasi agar masyarakat bisa melihat bahwa pilihan lain sebenarnya ada.

Perubahan harus dibuat lebih mudah

Ketika pilihan yang paling murah sekaligus paling mudah justru menghasilkan lebih banyak sampah, maka bukan hanya perilaku konsumen yang harus berubah. Sistem yang membentuk pilihan itu juga harus berubah.

Keberadaan bulk store menjadi pilihan yang ramah lingkungan. Tapi tak boleh dilupakan, produsen dan pemerintah perlu menciptakan sistem yang membuat pilihan tersebut lebih mudah diakses. Mulai dari memperluas layanan isi ulang, mengembangkan sistem pengembalian kemasan, hingga memberikan insentif bagi pelaku usaha yang mengurangi kemasan sekali pakai.

Dan di tengah sistem yang belum sepenuhnya berubah, kehadiran bulk menginspirasi untuk berbelanja dengan lebih sedikit kemasan, secukupnya sesuai kebutuhan, dan lebih ramah bagi bumi. (Catur Ratna Wulandari, Penny Yuniasri) [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE