Belanja Online Meningkat, Bisakah Sampah Kemasan Dikurangi?

ilustrasi sampah kemasan
Share

Belanja online telah menjadi bagian dari keseharian banyak keluarga Indonesia, termasuk saat membeli buku dan permainan edukatif untuk anak. Di balik kemudahannya, hampir setiap paket yang tiba di rumah meninggalkan jejak berupa kardus, plastik pembungkus, bubble wrap, hingga lakban yang seringkali berakhir menjadi sampah. Padahal, sebagian besar material sampah kemasan tersebut masih memiliki peluang untuk digunakan kembali jika dikelola dengan lebih bijak.

Menurut Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup, berdasarkan data dari 319 kabupaten/kota yang melaporkan pada 2024, timbulan sampah mencapai sekitar 34,27 juta ton per tahun. Plastik menjadi salah satu penyumbang terbesar dalam komposisi sampah nasional. Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) juga mencatat sekitar 6,8 juta ton di antaranya merupakan sampah plastik dan lebih dari 60 persen belum didaur ulang. Sebagian besar sampah tersebut berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA) atau mencemari lingkungan, termasuk sungai dan laut. Pertumbuhan perdagangan daring turut meningkatkan penggunaan kemasan sekali pakai, terutama plastik. Hal ini mendorong produsen mengurangi sampah dari produk dan kemasan.

Di tengah meningkatnya timbulan sampah kemasan, sejumlah pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) memilih menerapkan pengemasan minim sampah sebagai bagian dari komitmen terhadap lingkungan. Salah satunya adalah toko buku anak Cilikba dan Sahabat Alam Cilik. Keduanya menerapkan prinsip pengemasan minim sampah sebagai bagian dari nilai yang dibangun.

Berawal dari kepedulian terhadap lingkungan

Berdiri pada 2019, Cilikba hadir sebagai toko buku online yang menyediakan berbagai buku anak untuk usia 0–10 tahun. Pendirinya, Ayuta F. Ladiba atau yang akrab disapa Fusi, awalnya ingin berbagi rekomendasi buku untuk dinikmati bersama keluarga, sekaligus membantu lebih banyak orangtua mendapatkan buku anak dengan harga terjangkau.

Fusi mengatakan, keputusan menggunakan kemasan less waste berangkat dari pengalaman pribadi ketika mengunjungi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwi Gajah di Bandung. Melihat hamparan sampah dalam jumlah besar di lokasi yang pernah mengalami tragedi longsor tersebut meninggalkan kesan mendalam. Pengalaman itu kembali teringat ketika tren belanja daring meningkat dan hampir setiap paket dibungkus dengan lapisan plastik maupun bubble wrap yang berlebihan.

“Dulu pernah berkunjung ke TPA Leuwi Gajah yang sebelumnya pernah meledak dan longsor. Setelah itu masuk masa hype belanja online, rasanya ‘gatal’ melihat packaging berlebihan yang sebenarnya tidak perlu,” ujar Fusi pada digitalMamaID, 16 Juni 2026.

Upaya serupa juga dilakukan Sahabat Alam Cilik, ruang belajar berbasis eko-literasi yang diinisiasi oleh pegiat lingkungan DK. Wardhani. Melalui buku, permainan edukatif, serta berbagai kegiatan yang diselenggarakan secara daring maupun luring, Sahabat Alam Cilik mengajak keluarga membangun kebiasaan yang lebih ramah lingkungan.

Menurut Citra Demi Karina, admin Sahabat Alam Cilik, kepedulian terhadap lingkungan tidak cukup hanya diajarkan melalui buku atau kegiatan belajar, tetapi juga perlu diwujudkan dalam praktik sehari-hari. “Kami percaya bahwa merawat alam merupakan bagian dari amanah seorang muslim sebagai khalifah di bumi,” ujar Citra.

Mengurangi sampah dimulai dari kemasan

Sejak awal berdiri, Cilikba konsisten mengembangkan sistem pengemasan minim sampah. Pada mulanya, buku hanya dibungkus menggunakan koran bekas dengan penggunaan selotip seminimal mungkin. Seiring bertambahnya pengalaman dan masukan dari pelanggan, sistem pengemasan tersebut terus disempurnakan melalui berbagai proses trial and error.

Kini, toko buku tersebut memanfaatkan bubble wrap bekas dari paket penerbit, dipadukan dengan dus bekas atau corrugated paper agar buku tetap aman selama pengiriman. Untuk perekat, Cilikba memilih selotip kertas yang lebih mudah dilepas sehingga kemasan masih berpeluang digunakan kembali oleh penerima.

“Kami berusaha mencari titik tengah antara mengurangi sampah dan memastikan buku tetap aman sampai ke tangan pembeli,” kata Fusi.

Sementara itu, Sahabat Alam Cilik menerapkan prinsip serupa dengan memanfaatkan map bekas dari salah satu kantor anggota, kardus bekas yang masih layak, hingga bubble wrap bekas yang diperoleh dari Sapa Bumi, tempat pilah sampah yang juga diinisiasi oleh DK. Wardhani. Saat kebutuhan pengiriman meningkat, komunitas tersebut bahkan menerima kiriman dua hingga tiga karung bubble wrap bekas untuk digunakan kembali. Pada kondisi tertentu, mereka juga memilih menggunakan lem sebagai alternatif pengganti selotip.

“Pesan hijau” yang ditulis para reseller Sahabat Alam Cilik. Mereka mengajak pembeli memperpanjang umur kemasan yang bisa dipakai ulang. (Dok. Sahabat Alam Cilik)*

Selain menggunakan kembali bahan kemasan, mereka menyisipkan “pesan hijau” yang mengajak pelanggan menggunakan kembali kemasan yang diterima.

“Kami percaya bahwa nilai ramah lingkungan perlu diwujudkan dalam praktik, bukan hanya disampaikan melalui materi belajar,” kata Citra.

Titik tengah antara keamanan dan keberlanjutan

Baik Cilikba maupun Sahabat Alam Cilik mengakui bahwa menerapkan kemasan ramah lingkungan tidak selalu mudah.

Bagi Cilikba, tantangan terbesar adalah menyesuaikan ukuran kemasan bekas dengan beragam ukuran buku, sekaligus menanggung biaya corrugated paper dan selotip kertas yang lebih tinggi dibandingkan bahan konvensional. Meski demikian, Fusi memilih mempertahankan penggunaan bahan tersebut sebagai bagian dari komitmen usaha.

Di sisi lain, Sahabat Alam Cilik juga masih harus menyesuaikan jenis kemasan dengan kondisi pengiriman. “Ada kalanya kami tetap perlu menggunakan pelindung tambahan agar buku sampai dalam kondisi baik. Yang terpenting adalah niat dan ikhtiar kami menerapkan konsep minim sampah,” papar Citra.

Keduanya sepakat, kemasan ramah lingkungan bukan berarti mengorbankan keamanan produk. Namun yang diutamakan yaitu keseimbangan antara melindungi barang dan mengurangi sampah yang tidak perlu. Misalnya, setelah pernah menerima laporan adanya benturan pada sampul buku hard cover, Cilikba menambah lapisan pelindung khusus untuk pengiriman tertentu agar kualitas buku tetap terjaga.

Berdasarkan pengalaman kedua pelaku usaha tersebut , ada beberapa langkah yang dapat diterapkan pelaku UMKM untuk mengurangi sampah kemasan:

  • Memanfaatkan kembali kardus, map, amplop, atau bubble wrap yang masih layak digunakan.
  • Mengurangi lapisan kemasan yang sebenarnya tidak diperlukan.
  • Memilih perekat yang lebih mudah dilepas atau digunakan kembali bila memungkinkan.
  • Menyesuaikan tingkat perlindungan dengan jenis produk dan jarak pengiriman.
  • Menyisipkan pesan sederhana yang mengajak pelanggan menggunakan kembali kemasan yang diterima.

Pelanggan dan reseller jadi bagian dari perubahan

Upaya tersebut ternyata mendapat sambutan positif. Fusi mengaku banyak pelanggan mengapresiasi konsep pengemasan minim sampah. Bahkan, beberapa pelanggan secara khusus meminta agar paket dikirim tanpa bubble wrap jika memungkinkan.

Sebagai bagian dari edukasi, setiap paket juga disertai pesan singkat pada kertas reuse. Tidak sedikit pelanggan yang kemudian membagikan pengalaman menerima paket minim sampah tersebut melalui media sosial maupun menyampaikan apresiasi secara langsung.

“Ada pelanggan yang request tanpa bubble wrap karena ingin mengurangi sampah,” ujarnya.

Sahabat Alam Cilik juga melihat antusiasme serupa dari pelanggan maupun jaringan reseller mereka yang tersebar di berbagai daerah. Reseller tidak hanya membantu penjualan, tetapi juga diajak menjadi bagian dari gerakan edukasi melalui panduan pengemasan minim sampah.

Menurut Citra, keberadaan reseller juga membantu memperpendek jarak distribusi sehingga proses pengiriman menjadi lebih efisien dan berpotensi mengurangi emisi karbon, kebutuhan bahan bakar, serta penggunaan kemasan tambahan. Meski demikian, ia mengakui belum semua reseller menerapkan kebiasaan minim sampah. Justru kondisi tersebut menjadi peluang untuk terus belajar dan saling menguatkan.

UMKM bisa memulai dari langkah sederhana

Bagi Fusi maupun Citra, penerapan pengemasan minim sampah merupakan proses yang terus dipelajari dan disempurnakan. Keduanya sepakat, langkah kecil yang dilakukan secara konsisten jauh lebih penting daripada menunggu kondisi yang sempurna. Pelaku UMKM didorong untuk mulai memanfaatkan kemasan yang masih layak, mengurangi bahan yang tidak diperlukan, serta terus mengevaluasi praktik pengemasan berdasarkan kebutuhan produk dan masukan pelanggan.

Pengalaman Cilikba dan Sahabat Alam Cilik menunjukkan bahwa mengurangi sampah kemasan tidak selalu membutuhkan inovasi besar. Memanfaatkan kembali bahan yang masih layak, mengurangi penggunaan material yang tidak diperlukan, dan terus mengevaluasi cara pengemasan merupakan langkah sederhana yang dapat mulai dilakukan oleh pelaku usaha maupun keluarga. Jika semakin banyak pihak menerapkannya secara konsisten, kebiasaan kecil tersebut dapat memberikan dampak yang lebih besar bagi lingkungan.

“Kami percaya menjaga bumi adalah tanggung jawab bersama, dan setiap kemasan yang digunakan dengan lebih bijak adalah bagian dari ikhtiar tersebut,” tutup Citra. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE