Menggunakan cloth diaper (clodi) atau popok kain cuci ulang masih kerap dianggap merepotkan. Di sisi lain, penggunaan popok sekali pakai juga menyisakan persoalan sampah yang terus menjadi perhatian.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kelahiran di Indonesia pada 2023 mencapai sekitar 4,6 juta bayi. Angka tersebut diperkirakan menghasilkan potensi penggunaan sekitar 17,44 juta popok sekali pakai per hari atau sekitar 3.488 ton limbah popok setiap harinya.
Ida (26), warga Kabupaten Bandung, jadi salah satu pengguna popok sekali pakai untuk anaknya yang berusia 11 bulan. Popok sekali pakai hanya dipakai saat malam hari. Pada siang hari, ia menggunakan popok kain biasa. “Biar irit celana dan nggak keganggu tidurnya,” katanya kepada digitalMamaID, akhir Juni 2026.
Itu pun ia sudah menghabiskan hampir dua kemasan popok isi 32 buah. Ia beli yang paling murah, biasanya saat menawarkan potongan harga. Sebulan lebih dari Rp100 ribu habis untuk popok saja.
Sulitnya menangani sampah popok sekali pakai
Sebenarnya, ia lebih suka popok kain. Tinggal dicuci sudah beres. Sementara popok sekali pakai menghasilkan sampah yang sulit ditangani. Di tempat tinggalnya tidak terlayani petugas pengangkut sampah. Ia harus mengumpulkan sampah popok untuk kemudian dibawa ke rumah mertuanya. Di sana, sampah popok itu diangkut petugas. Jika tak bisa menitipkan, terpaksa ia membakar popok bekas bersama dengan sampah yang lain.
Ia tahu cara itu tidak ideal, akan tetapi dia tak punya cara lain untuk mengatasi sampah itu. Produsen sampah juga penjualnya, tidak pernah menginformasikan bagaimana membuang sampah popok itu.
Popok sekali pakai menjadi salah satu jenis sampah rumah tangga yang paling sulit ditangani karena tersusun dari campuran plastik, pulp, dan polimer penyerap (superabsorbent polymer) yang sulit dipisahkan dan didaur ulang. Selain membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai, popok bekas juga mengandung feses dan urine yang dapat membawa bakteri, virus, maupun patogen lain jika tidak dibuang dan dikelola dengan benar.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menekankan, kotoran manusia, termasuk feses bayi, tetap berpotensi menyebarkan penyakit sehingga seharusnya dibuang ke toilet terlebih dahulu sebelum popok dibuang. Namun, praktik ini masih jarang dilakukan, sehingga popok sekali pakai tidak hanya menambah beban tempat pembuangan akhir, tetapi juga meningkatkan risiko pencemaran lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Berawal ingin hemat
Di tengah persoalan tersebut, sebagian keluarga memilih menggunakan clodi sebagai alternatif yang dapat digunakan berulang kali sehingga membantu mengurangi timbulan sampah.
Hal itu pula yang dialami Widia Anggia Vicky, Community Director Komunitas Mama Berclodi. Perempuan yang akrab disapa Vicky ini, pertama kali menggunakan clodi bukan karena alasan lingkungan, melainkan keinginan untuk menghemat pengeluaran keluarga. Namun, seiring waktu, ia mulai menyadari, kebiasaan tersebut juga memberikan dampak positif bagi lingkungan.
Saat mempersiapkan kelahiran anak pertamanya, Vicky mulai menghitung berbagai kebutuhan bayi. Salah satu pengeluaran yang cukup besar adalah popok sekali pakai yang harus digunakan selama bertahun-tahun.
“Awalnya jujur niatnya mau hemat saja. Waktu menghitung kebutuhan bayi, ternyata biaya popok sekali pakai cukup besar. Akhirnya mencari alternatif yang lebih ekonomis dan bertemu dengan clodi,” ujar perempuan Vicky pada digitalMamaID, 25 Juni 2026.
Ia kemudian mengikuti kelas tentang penggunaan clodi dan membeli perlengkapannya. Namun, setelah anak lahir, clodi belum langsung digunakan. Sebagai ibu baru yang kembali bekerja ketika anaknya baru berusia sekitar 1,5 bulan, Vicky merasa belum memiliki waktu dan energi untuk beradaptasi dengan penggunaan popok kain.
“Clodi sebenarnya sudah ada di rumah, tetapi belum berani memakainya karena masih sibuk beradaptasi menjadi ibu baru sekaligus bekerja,” ujarnya.
Menemukan dukungan lewat Mama Berclodi
Sekitar lima bulan setelah melahirkan, Vicky menemukan komunitas Mama Berclodi melalui media sosial. Meski telah memahami teori penggunaan clodi, ia merasa membutuhkan teman yang memiliki pengalaman serupa.
Mama Berclodi merupakan komunitas daring yang menyediakan edukasi dan wadah saling mendukung bagi orangtua yang menggunakan atau ingin mulai menggunakan clodi.
“Saya sebenarnya sudah tahu cara pakainya, tapi saya merasa butuh teman. Di lingkungan sekitar tidak ada yang memakai clodi, jadi rasanya benar-benar sendirian,” kata dia.
Vicky kemudian bergabung sebagai peserta kelas batch pertama Mama Berclodi. Dari sana, ia mulai konsisten menggunakan clodi untuk anaknya. Pengalaman tersebut mendorongnya bergabung sebagai volunteer.
Kini, bersama para relawan lainnya, Vicky aktif mengedukasi dan mendampingi orangtua yang ingin mulai menggunakan clodi melalui berbagai program Mama Berclodi.
Sudah tahu clodi, tapi takut memulai
Selama mendampingi para orangtua, Vicky menemukan fakta menarik. Tantangan terbesar ternyata bukan memperkenalkan clodi, melainkan membantu orangtua mengatasi keraguan.
“Yang mengejutkan, sebenarnya banyak orangtua sudah tahu apa itu clodi. Mereka juga tahu manfaatnya. Tapi mereka ragu karena membayangkan penggunaannya ribet,” jelas perempuan yang juga aktif kampanye gaya hidup minim sampah melalui akun pribadinya @anggiapiki
Menurut dia, persepsi mencuci clodi akan menghabiskan banyak waktu menjadi penyebab utama banyak calon pengguna akhirnya mengurungkan niat. Padahal, lanjut Vicky, sebagian besar keraguan tersebut muncul karena kurangnya informasi.
Vicky mengaku pernah berada di posisi yang sama. Ia sudah memiliki pengetahuan dan perlengkapan clodi, tetapi tetap menunda penggunaannya karena merasa tidak memiliki teman berdiskusi.
“Kegalauan saya baru hilang ketika bertemu Mama Berclodi. Saya jadi sadar ternyata banyak orangtua lain yang juga menggunakan clodi. Rasanya tidak sendirian lagi,” tambahnya.
Menurut dia, komunitas memiliki fungsi yang jauh lebih besar daripada sekadar berbagi informasi. Kehadiran komunitas mampu memberikan dukungan emosional sehingga orang tua lebih percaya diri menjalani proses adaptasi.
Mencuci clodi tidak serumit yang dibayangkan
Berdasarkan survei yang dilakukan Mama Berclodi, terdapat empat alasan utama yang membuat orang tua ragu menggunakan clodi.
Pertama, orangtua khawatir proses mencuci dan merawat clodi akan merepotkan. Kedua, tidak mendapat dukungan dari pasangan maupun keluarga besar. Ketiga, biaya awal pembelian clodi yang cukup ttinggi. Keempat, tidak memiliki tempat bertanya ketika menghadapi kendala.
“Jadi, banyak orang sebenarnya tinggal butuh sedikit dorongan saja. Mereka sudah tertarik, tinggal diyakinkan bahwa mereka mampu menjalankannya,” kata Vicky.
Vicky kerap menemukan anggapan keliru bahwa clodi harus langsung dicuci setiap kali selesai digunakan. Menurutnya, clodi tidak harus dicuci satu per satu setelah dipakai. Selama disimpan dengan benar, clodi dapat dikumpulkan terlebih dahulu, kemudian dicuci sekaligus pada waktu yang telah dijadwalkan sehingga lebih efisien.
Melalui kelas Mama Berclodi, peserta dapat mempelajari cara merawat clodi dengan langkah-langkah sederhana, mulai dari penyimpanan setelah digunakan, teknik mencuci, penggunaan mesin cuci, hingga berbagai tips agar proses perawatannya tidak terasa membebani.
Ia juga menekankan bahwa setiap keluarga perlu menemukan ritme yang paling sesuai dengan kondisi rumah masing-masing. “Setiap rumah berbeda. Orang tua bekerja tentu ritmenya berbeda dengan ibu yang full di rumah. Karena itu perlu trial and error sampai menemukan cara yang paling nyaman,” katanya.
Mengapa memilih clodi?
Di balik berbagai tantangannya, clodi juga menawarkan sejumlah manfaat yang membuatnya menjadi pilihan sebagian keluarga. Dalam salah satu unggahan di akun Instagramnya, Vicky membagikan beberapa manfaat yang kerap menjadi pertimbangan orangtua untuk menggunakan clodi, antara lain:
-
- Lebih hemat dalam jangka panjang. Clodi dapat dicuci dan digunakan berulang kali sehingga membantu mengurangi pengeluaran untuk membeli popok sekali pakai.
- Mendukung gaya hidup yang lebih ramah lingkungan. Penggunaan clodi membantu mengurangi timbulan sampah popok sekali pakai karena dapat digunakan berulang kali.
- Lebih nyaman bagi bayi. Bahan kain pada clodi dinilai memberikan sirkulasi udara yang lebih baik sehingga banyak orangtua merasa bayi lebih nyaman saat menggunakannya.
- Membantu mengurangi risiko ruam popok. Sebagian orangtua memilih clodi karena mempertimbangkan kenyamanan kulit bayi. Namun, kondisi kulit setiap bayi berbeda dan risiko ruam juga dipengaruhi oleh kebersihan serta frekuensi penggantian popok.
- Hadir dengan beragam motif dan desain. Clodi modern tersedia dalam berbagai pilihan warna dan motif yang menarik sehingga menjadi nilai tambah bagi sebagian keluarga.
Tidak harus sempurna
Namun, Vicky mengingatkan, berbagai manfaat tersebut tidak berarti penggunaan clodi harus dijalani secara kaku. Menurutnya, pendekatan yang lebih fleksibel justru membantu orangtua mempertahankan kebiasaan menggunakan clodi dalam jangka panjang.
Salah satu penyebab orangtua berhenti menggunakan clodi adalah ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap diri sendiri. Sebagian merasa harus selalu menggunakan clodi dalam semua kondisi, termasuk saat bepergian atau mudik.
“Padahal tidak harus sempurna. Kalau sesekali menggunakan popok sekali pakai karena situasi tertentu, itu tidak apa-apa. Yang penting jangan sampai keinginan untuk sempurna justru membuat kita berhenti sama sekali,” ujarnya.
Pendekatan yang lebih fleksibel dinilai jauh lebih membantu orang tua mempertahankan kebiasaan menggunakan clodi dalam jangka panjang.
Clodi menjadi gerbang menuju gaya hidup minim sampah
Penggunaan clodi menjadi titik awal perubahan gaya hidup Vicky. Dari kebiasaan mengganti popok anak, ia mulai menaruh perhatian pada persoalan sampah rumah tangga secara lebih luas.
“Awalnya saya sadar soal sampah popok. Lama-lama saya jadi belajar memilah sampah, membuat kompos, sampai mencari cara mengurangi sampah rumah tangga yang lain,” ujar Vicky yang juga menginisiasi toko curah minim sampah di Gresik, Jawa Timur bernama @tokorefeel.
Menurutnya, perubahan kecil yang dimulai dari rumah dapat berkembang menjadi gaya hidup yang lebih berkelanjutan.
Perubahan kecil dari rumah
Vicky menilai edukasi mengenai penggunaan clodi tidak bisa hanya dibebankan kepada komunitas. Pemerintah, produsen popok, komunitas, akademisi, media, hingga masyarakat memiliki tanggung jawab masing-masing untuk mendorong pengurangan sampah popok sekali pakai.
“Isu ini tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Semua harus menjalankan perannya agar masyarakat punya lebih banyak pilihan yang ramah lingkungan,” tambahnya
Ia juga berharap produsen popok mulai memikirkan inovasi produk yang lebih berkelanjutan, baik dari sisi material maupun desain.
Vicky mengajak keluarga Indonesia untuk tidak meremehkan dampak dari perubahan kecil yang dilakukan di rumah. “Jangan menganggap kita hanya satu keluarga sehingga tidak akan berpengaruh. Rumah tangga justru merupakan penyumbang sampah terbesar. Ketika satu keluarga berubah, lalu diikuti ribuan keluarga lain, dampaknya akan menjadi sangat besar,” paparnya.
Penggunaan clodi merupakan salah satu langkah awal. Hal yang lebih penting adalah tumbuhnya kesadaran bahwa setiap keluarga memiliki peran dalam mengurangi sampah dan menjaga lingkungan, dimulai dari rumah sendiri. [*]






