Aku seorang ibu rumah tangga. Aku punya tiga anak dan tiga cucu.
Awal kehidupanku adem ayem. Meskipun pekerjaan suamiku tidak menentu, tapi alhamdulillaah untuk makan dan kepentingan lain masih tercukupi walaupun belum bisa menabung.
Aku orang yang senang berkumpul dan punya banyak teman, meskipun tetap saja ada kekosongan di hati. Aku aktif di media sosial. Mulai dari Facebook sampai TikTok, semua ada. Di situ lah aku berkenalan dengan yang namanya paylater.
Awal-awal menggunakan paylater, apa yang diinginkan bisa dibeli. Pikirku, toh bisa bayar belakangan. Di situ lah tragedi dimulai…
Aku mungkin tergolong orang yang tidak tegaan. Ada seorang kawan yang ikut membeli barang menggunakan akun paylater-ku. Mulai dari perabot rumah tangga, kosmetik, sampai fashion. Semua dibeli dengan nebeng di akun paylater atas namaku.
Sebut saja namanya C. Pada awalnya pembayaran lancar sampai akhirnya mulai ada kendala. Saat itu pula, aku pun mulai tidak terkendali menggunakannya dan berpikir hanya iseng semata. Pembayaran jadi sulit.
Aku cari solusi dengan menggunakan pinjaman online yang iklannya berseliweran di medsosku. Dari satu aplikasi, bertambah terus jadi lima aplikasi.
Ternyata, temanku C adalah orang dengan gengsi tinggi tapi tidak punya kemampuan (ekonomi). Aku tidak sadar kalau selama ini uang yang digunakan untuk membayar cicilan di satu aplikasi lain didapat dari meminjam di aplikasi lain.
Ada teman lain yang juga meminjam dari paylater atas namaku, sebut saja namanya N. Pada mulanya, ida tekun membayar cicilan tanpa aku harus putar otak untuk menutup pembayarannya. Meskipun akhirnya cicilan itu macet juga. Ujung-ujungnya harus menambal ke aplikasi lain.
Lama-kelamaan, aku yang hanya berutang sedikit jadi terkena imbasnya. Aku malu kalau harus meminjam ke anak, saudara, juga teman. Bukan dikasih pinjam, malah jadi bahan ghibah ke yang lain.
Sekarang, si C sama sekali tidak ada pembayaran. Si N masih berusaha mencicil.
Aku yang kena imbasnya. Aku menutup semua medsos. Kartu SIM yang sudah menemani bertahun-tahun aku ganti. Setiap hari hati tidak tenang. Pikiran selalu terpusat ke cicilan pinjol.
Sedang kan si C dengan enteng mau membayar tapi aku yang harus mencari pinjaman lagi. Sungguh miris hidupku.
Mama A di Bandung






