Perjalanan Minum Rempah Indonesia (MRI) Mempopulerkan Manfaat Jamu

Share

digitalMamaID — Seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup sehat, masyarakat kini tidak hanya mencari kesegaran dalam sebuah minuman. Konsumen mulai mempertimbangkan minuman yang berbahan alami dan berkhasiat bagi tubuh. Jamu, minuman tradisional dengan banyak manfaat menjadi pilihan populer lagi.

Minum Rempah Indonesia (MRI) hadir sebagai pionir minuman sehat yang mengangkat kembali tradisi jamu dan rempah nusantara dalam kemasan yang lebih modern. Berawal dari gerobak sederhana di kawasan Cibaduyut, hingga kini terhitung sudah ada 10 outlet yang tersebar di Bandung.

Co-Founder MRI Desti Nopianti mengatakan, lebih dari sekadar berjualan, lewat MRI ia ingin menghadirkan produk yang memberi manfaat nyata bagi tubuh. “Nggak sekadar transaksi, nggak sekadar jualan, tapi ingin meringankan hari-hari pelanggan. Makanya, ketika kita develop produk itu benar-benar dipikirin komposisinya, takarannya. Biar benar-benar manfaatnya itu bisa dirasakan sama pelanggan,” ungkap Desti pada digitalMamaID Kamis, 12 Februari 2026.

Berawal dari jamu

Berawal dari 2021, Desti dan suaminya yang saat itu tengah dalam perjalanan pulang setelah liburan, memutuskan singgah di sebuah rest area. Mulanya, ia berniat membeli produk herbal instan di minimarket, namun perhatiannya tiba-tiba teralih pada penjual jamu tradisional di sana. Ia pun memesan jamu sesuai dengan kondisi yang dirasakan saat itu.

Sepanjang perjalanan pulang menuju Bandung, suaminya takjub dengan khasiat jamu tersebut karena tubuh yang dirasa lebih nyaman. Pengalaman sederhana itu akhirnya memunculkan sebuah ide baru untuk membuat ini di Bandung.

Dua minggu setelah liburan usai, ide itu langsung dieksekusi. Berbekal literasi kilat tentang jejamuan, mulai dari membaca buku Jurus Sehat Rasulullah (JSR) karya dr. Zaidul Akbar, menonton YouTube hingga berdiskusi dengan keluarga yang mahir meracik jamu, MRI lahir dalam bentuk gerobak sederhana dengan modal awal sekitar Rp 30 juta.

“Jadi dulu tuh mikirnya yang penting jualan dulu aja, yang penting ada wadah untuk menyimpan ide. Karena kalau punya ide nggak langsung eksekusi, khawatir menyusut,” ungkapnya.

Awal yang tidak mudah

Staf MRI sedang meracik minuman rempah untuk konsumen

Namun, realitas di lapangan tak selalu sejalan dengan ide awal. Pada dua tahun pertama, penjualan MRI masih sepi dan belum menunjukkan hasil yang memuaskan. “Ternyata mungkin menu-menu yang dulu kita jual nggak begitu relate sama kebutuhan market. Sampai akhirnya kita sempat riset customer secara sederhana, dengan banyak ngobrol dan minta saran pada customer. Jadi lebih mematangkan konsep lah,” tuturnya.

Di sisi lain, ia juga mendapati tantangan lain di tengah masyarakat. Meski jamu dikenal sebagai warisan turun-temurun, masih banyak orang yang termakan mitos dan hoaks terkait jamu seperti takut pahit, takut gagal ginjal, takut rahim kering dan isu-isu lainnya.

Padahal, minuman berbahan rempah dapur yang sederhana dan akrab di rumah sejatinya aman dikonsumsi setiap hari, selama tujuannya untuk menjaga kesehatan dan meredakan keluhan ringan. Justru, konsumsi rutin rempah-rempah seperti itu dinilai baik untuk membantu meningkatkan daya tahan tubuh.

Situasi tersebut sempat membuatnya pesimis, di satu sisi banyak yang mengapresiasi produk inovasinya tapi, di sisi lain juga banyak yang merespons sebaliknya. “Sampai akhirnya kita mikir nih, MRI itu jualan sudah lama terus nggak laku-laku. Kita mikir gimana caranya biar produk ini tuh dikenal dan diminati. Sampai akhirnya satu tahun kita jeda dulu untuk memperbaiki konsep. Kita banyak melakukan perubahan hingga akhirnya jadilah resep-resep yang sekarang ada,” lanjutnya.

Edukasi pun menjadi tantangan sekaligus strategi utama MRI. Melalui media sosial, MRI gencar melakukan pemasaran dan membuat konten untuk mengedukasi masyarakat terkait minuman rempah yang sebetulnya aman dikonsumsi dan benar-benar bermanfaat untuk tubuh. Beberapa konten MRI pun berhasil ditonton jutaan kali dan viral.

Transformasi MRI

Antrian pembeli di outlet MRI jalan Dipatiukur No. 62A, Bandung

Perlahan, MRI bertransformasi. Perubahan ini terjadi tidak begitu saja, melainkan ia pelajari secara bertahap. Jika pelaku bisnis memulai dari menentukan menu terlebih dahulu, MRI justru membalik pendekatan tersebut dengan membaca kebutuhan pelanggan terlebih dulu. “Kalau kita sekarang baca dulu kebutuhan customer-nya tuh apa. Kita perhatikan dulu behavior mereka dengan target market yang tertuju,” ungkapnya.

Dari berbagai permintaan yang muncul, MRI kemudian mengembangkan produk berdasarkan kebutuhan nyata konsumen. Pendekatan ini membuat mereka semakin memahami apa yang benar-benar dibutuhkan pelanggan. Seiring waktu, MRI pun berkembang dari usaha gerobakan menjadi jaringan outlet. Menurut Desti, perkembangan ini juga sejalan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan.

Dalam pengembangan produk, MRI secara konsisten mengedepankan suara pelanggan. Tim MRI rutin membangun relasi dengan konsumen, mendengarkan kritik dan saran secara langsung di outlet, lalu mengumpulkan masukan tersebut sebagai bahan evaluasi dan pengembangan. “Jadi jangan sampai nih kita ciptain produk tapi, ternyata nggak dibutuhin,” ujar Desti.

Salah satu contohnya adalah peluncuran Kunyit Latte. Produk ini lahir dari banyaknya pelanggan yang mengaku menyukai kopi, tetapi sudah tidak kuat mengonsumsinya karena masalah lambung. Menjawab kebutuhan tersebut, MRI mengembangkan minuman dengan sensasi dan pengalaman menyerupai kopi, namun tanpa kandungan kopi. Kunyit Latte kini menjadi salah satu menu unggulan MRI.

Sebelumnya, MRI juga merespons tren minuman boba dengan menghadirkan Immune Booster Series, minuman segar dengan tambahan puding kunyit sebagai alternatif rendah gula bagi konsumen yang ingin menikmati minuman kekinian tanpa mengorbankan kesehatan.

Berbagai ruang dengan kompetitor

Seiring meningkatnya tren minuman sehat, Desti menyadari, pelaku usaha dengan konsep serupa kini semakin banyak bermunculan, terutama di media sosial. Berbeda dengan masa awal MRI berdiri, ketika mereka nyaris tidak ada kompetitor. Sepenuhnya mengandalkan proses trial and error, tanpa tengok kanan kiri, percakapan langsung dengan konsumen dan riset konsumen. Lanskap usaha minuman rempah kini jauh lebih ramai.

Meski demikian, kehadiran kompetitor tidak dipandang sebagai ancaman. Bagi MRI, munculnya berbagai brand jamu justru menjadi kabar baik, karena jamu merupakan produk tradisional yang sarat manfaat namun tidak mudah diterima pasar. “Kami tahu betul susahnya mengedukasi masyarakat, khususnya di Bandung, untuk mau minum jamu,” ujar Desti. Ia berharap, semakin banyaknya brand jamu dapat memperkuat upaya bersama dalam mengedukasi publik agar lebih memilih minuman alami berbasis rempah.

Tantangan lain datang dari maraknya peniruan produk. Desti mengaku kerap menerima informasi dari pelanggan maupun pengikut di media sosial mengenai menu-menu yang dinilai meniru MRI. Desti sendiri memilih menyikapinya dengan lapang. Menurutnya, hal tersebut sebagai bagian dari dinamika usaha sekaligus cara berbagi rezeki dengan yang lain.

Namun ia menegaskan, setiap produk MRI lahir dari proses panjang. Mulai dari riset bertahun-tahun, kebiasaan berdialog dengan pelanggan, hingga pertimbangan filosofis di balik penamaan dan manfaat setiap menu.

Setiap minuman dinamai berdasarkan bahan rempah utama yang digunakan, seperti Rempah Kunyit untuk keluhan lambung atau Rempah Kencur untuk batuk. Pendekatan ini dipilih bukan tanpa alasan. Saat awal berjualan, Desti mendapati banyak konsumen, terutama dari kalangan milenial dan Gen Z, yang bahkan tidak mengenali bentuk dasar rempah dapur.

Oleh karena itu, MRI menjadikan outlet sebagai ruang edukasi. Rempah-rempah dipajang dalam etalase, ornamen bertema rempah hadir di berbagai sudut, dan menu ditulis menggunakan nama asli tanaman yang digunakan. Tujuannya agar pelanggan dapat melihat, mencium, dan mengenali langsung bahan yang mereka konsumsi. “Biar mereka juga bisa merasakan, melihat. Jadi kami ingin banget ketika orang datang ke outlet, merasakan semua panca inderanya aktif. Mulai dari mata, hidung, telinga semuanya bisa terasa rempah-rempahnya,” kata Desti.

Feedback hangat dari konsumen

Suasana di outlet MRI Dipatiukur

MRI lahir di masa sulit, yaitu saat pandemi Covid-19. Sebelumnya, Desti dan suami menjalankan bisnis keripik pisang. Bisnis itu berada di ujung tanduk karena toko oleh-oleh tutup saat itu. MRI pun menjadi salah satu jalan bertahan sekaligus harapan baru baginya.

Kini, setelah lima tahun berjalan, MRI telah berkembang dari gerobak menjadi jaringan outlet di Bandung, dengan sekitar 60 karyawan dan omzet rata-rata mencapai 150 sampai 200 cup per outlet per hari. Ke depan, MRI menargetkan peningkatan kualitas produk serta layanan sebagai fokus utama, sekaligus merencanakan penambahan outlet baru di Bandung dalam waktu dekat.

Feedback yang kami terima luar biasa. Hampir setiap pelanggan yang datang selalu bercerita kalau minuman yang mereka konsumsi benar-benar memberi manfaat bagi tubuh,” ujanya.

Testimoni-testimoni hangat itulah yang menjadi alasan utama MRI terus ada. Melalui MRI, Desti merasa menemukan makna baru dalam berbisnis, bukan sekadar mengejar keuntungan, tetapi memberikan manfaat yang dapat langsung dirasakan oleh pelanggannya. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE