Dua hari lalu aku tiba di Tasikmalaya, tepatnya di wilayah kabupaten. Semua tampak hangat. Rumah yang kini ramai pengunjung dan koleksi lukisan yang bertambah banyak menjadi alasanku ingin segera pulang. Langit biru seolah melambat; perjalanan pulang ini tidak mengharuskanku berlari, melainkan berjalan dengan penuh kehati-hatian. Di sini, aku memiliki lima kawan dekat sejak bangku SMP dan SMA. Kepulanganku menjadi momentum bertukar sapa, berbagi kisah, hingga menumpahkan keluh kesah tentang beratnya kehidupan dewasa. Masing-masing dari mereka membawa selusin masalah dan kebingungan akan masa depan. Belum lagi, rata-rata perempuan seumuranku di sini sudah berumah tangga, padahal kami merasa baru lahir kemarin sore. Tuntutan ekonomi hingga tekanan sosial menjadi sumber kebingungan mereka. Di sini semua tampak begitu kontras dan transparan, apalagi bagi kami yang tumbuh besar di desa.
Sejak SMA, aku sudah banyak menelan ragam asumsi dan gosip—yang tak lain adalah mitos dan tabu yang mengikat perempuan. Aku ingat betul ketika mengomentari gosip tentang seorang janda di koridor sekolah. Saat itu, tanpa bisa mengontrol diri, kata-kata meluncur begitu saja dari mulutku, “Memang kenapa kalua janda? Bukankah mereka juga sama saja seperti kita, perempuan utuh yang punya pilihan atas hidupnya?” Kurang lebih begitu. Seketika suasana menjadi hening. Mereka rupanya tidak setuju karena janda yang dibicarakan dianggap memiliki tabiat buruk dan merugikan orang lain. Batinku, jika memang begitu, bahas saja persoalan moralitasnya, bukan status jandanya. Sejak saat itu, aku merasa seperti spesies alien di tengah manusia-manusia “normal”. Aku lantas berpikir, mau sampai kapan status janda terus memikul stigma buruk? Mengapa kita senang sekali mengadili hak dan keputusan orang lain, lalu membenarkan pilihan hidup sendiri hanya karena kita berada di pihak mayoritas
Sebetulnya, ada banyak fenomena terkait perempuan yang kutemui semasa sekolah. Lambat laun aku menyadari bahwa ini bukan masalah sepele; akarnya bukan pada individu perempuan itu sendiri, melainkan pada sistem dan budaya. Patriarkilah yang membuat perempuan bungkam dan hanya mampu bergosip, karena gosip sering kali menjadi satu-satunya ruang aman bagi mereka untuk menyampaikan opini, informasi, dan perasaannya. Patriarki membuat perempuan tunduk pada standar kecantikan yang sejatinya fana, menyuburkan rasa iri terhadap sesama perempuan yang memiliki kebebasan atas dirinya, mengurung mereka dalam ilusi bahwa ruang domestik adalah satu-satunya dunia, serta membuat mereka merasa serba salah dan terancam oleh pilihan hidupnya sendiri. Bayangkan jika perempuan memiliki hak mutlak atas dirinya: berani bersuara, berani membuat keputusan, dan percaya pada diri sendiri. Mungkin kawan-kawanku tidak akan lagi menghakimi perempuan lain, apalagi menertawakan tubuh perempuan yang dianggap tidak ideal oleh konstruksi masyarakat.
Kemarin malam, kawan-kawanku datang ke rumah. Selain penasaran dengan galeri seni bapak yang kian ramai, mereka juga ingin melepas rindu padaku yang kini jarang singgah lama di Tasik. Semua berjalan menyenangkan; rinduku terbayar tuntas. Namun, di tengah obrolan seru itu, aku kembali dihadapkan pada gosip-gosip tentang perempuan—orang-orang yang sudah lama tidak kutemui dan tidak kuketahui kabarnya. Selama ini aku terlalu sibuk mengurusi diri sendiri yang juga tak kalah kacau. Gosip intim dan rahasia yang tak bisa kujelaskan di sini rupanya hanya menjadi pengantar untuk pergunjingan lain, salah satunya perihal tubuh perempuan.
Perhatian mereka tertuju pada unggahan seorang kawan yang sudah menikah. Alih-alih membahas kehidupannya, yang disorot justru bentuk tubuhnya yang tak lagi kurus atau ideal. “Pantatnya besar banget!” seru mereka, disusul derai tawa. Aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Bagiku, tidak ada yang konyol atau patut ditertawakan dari hal itu. Pada akhirnya, aku hanya bisa menyesuaikan reaksi demi menghindari cap “tidak asyik”. Aku takut peristiwa di koridor sekolah dulu terulang; aku malu dan lelah jika harus terus menjadi alien di tengah mereka.
Kejadian itu menyentilku. Aku tak semestinya terus diam dan mengikuti arus saat melihat banyak sekali ketimpangan yang terpampang nyata. Namun, apa yang bisa kulakukan? Aku hanya bisa menulis. Itupun terasa urung dan sulit jika tujuanku adalah mengedukasi desa-desa kecil, terlebih mengedukasi lingkaran pertemananku sendiri. Kini aku sadar, bagian tersulit dari menuntut ilmu adalah membagikannya. Bukan di kelas formal atau di atas lembar ujian, melainkan kepada orang-orang di sekitarku: kawan, keluarga, saudara, hingga skala yang lebih luas, masyarakat desaku. Untuk apa buku-buku yang kubaca tuntas jika kawanku masih gemar mengadili hidup orang lain? Apa guna diskusi-diskusi yang kuhadiri jika mereka masih merundung tubuh perempuan? Langkah ini terasa begitu berat. Aku kini benar-benar percaya bahwa belajar adalah proses sepanjang hayat—termasuk belajar memahami fenomena, mendengarkan orang lain, dan berjalan pelan untuk menyelami isi kepala mereka yang masih terasa asing bagiku.
Kesadaranku akan ketimpangan—sosial, ekonomi, politik, hak, dan gender—tidak muncul secara tiba-tiba. Saat baru masuk SMA, aku bergabung dengan sebuah komunitas membaca perempuan di Kota Tasikmalaya. Sebagai satu-satunya anak sekolah di antara kakak-kakak mahasiswa, sempat ada rasa gentar menjadi “anak bawang”. Nyatanya, mereka tidak memandangku sebelah mata; mereka justru melihat keberdayaan dan potensi yang kumiliki. Aku bertahan cukup lama di sana, hingga akhirnya aku masuk kuliah dan komunitas tersebut perlahan pudar. Di sanalah aku meraup banyak perspektif baru yang kelak menjadi bahan bakar utamaku dalam membaca dan menulis. Aku terdorong untuk menelusuri lebih jauh isu-isu keperempuanan. Itulah perkenalan pertamaku dengan feminisme, meski baru di permukaannya saja. Buku-buku menyadarkanku betapa lingkungan sekitarku diselimuti rentetan ketimpangan. Ia mengantarkanku menuju pintu-pintu kesadaran yang sebelumnya tak pernah kubuka.
Namun, aku tidak ingin munafik. Aku juga pernah berada di posisi mereka yang membicarakan perempuan lain, memandang buruk sebuah perbedaan, sibuk bersaing secara toksik, hingga menghakimi keputusan sesama perempuan. Semua itu adalah fase dari pertumbuhanku di desa kecil yang amat rentan akan gesekan.
Oleh karena itu, aku mengerti mengapa kawan-kawanku masih bersikap begitu, dan aku juga paham mengapa kini aku bisa berubah. Aku beruntung menjadi salah satu dari sekian perempuan yang memiliki previlese. Keluargaku membebaskanku menjadi apa saja, mendukung penuh minat dan bakatku, serta tak pernah mengomel ketika aku menghabiskan waktu dengan buku. Aku punya akses lebih untuk membeli bacaan, meski kami bukan keluarga kaya. Tanpa beban ekonomi yang menghimpit, aku bebas mengikuti komunitas apa pun, bebas menulis mulai dari puisi erotis hingga kritik pemerintah. Aku diberi izin merantau jauh untuk mencari ilmu. Dan di atas semua itu, ada keberanian dalam diriku yang menolak untuk stagnan di tempat dan isi kepala yang sama.
Sejak SMA, aku menyimpan asa untuk membagikan manfaat—sekecil apa pun, harus ada jejak yang kutinggalkan. Maka, bersama dua sahabatku, kami membangun komunitas membaca di desa. Awalnya sangat sulit, kami terseok-seok mencari audiens. Namun, ketika kami menggelar lapak baca gratis di alun-alun, orang-orang perlahan berdatangan. Dari obrolan dengan mereka, terungkap keluhan yang seragam: ketiadaan ruang baca, minimnya akses buku, hingga kondisi perpustakaan sekolah yang koleksinya membosankan dan tak pernah diperbarui. Dengan modal buku-buku pribadi dan donasi kawan-kawan, aku menyadari satu hal penting. Masyarakat desa sebenarnya memiliki kesadaran literasi yang tinggi dan gemar membaca; mereka hanya terbentur oleh akses. Persoalan desa memang selalu berkutat pada akses yang sempit. Meski langkahku kecil, paling tidak aku memilih untuk menjadi salah satu dari mereka yang peduli.
Kembali pulang ke desa tempatku bertumbuh akan selalu mendatangkan kebahagiaan tersendiri. Ada banyak dinamika dan perubahan-perubahan militant yang terjadi. Di luar ruang gosip yang kerap menjadi alat komunikasi perempuan serta isu literasi yang kugeluti, masyarakat desa sejatinya menyimpan potensi luar biasa. Mereka adalah roda penggerak ekonomi sejati: para pelaku UMKM, pendiri usaha, pemilik warung, pengrajin tangan, hingga peracik hasil bumi menjadi produk bernilai tinggi. Mereka hidup dalam ritme saling bahu-membahu. Sayangnya, perempuan di desa masih terbelenggu beban ganda. Mereka dituntut menjadi pengurus rumah tangga, pengasuh anak, sekaligus pekerja.
Realitas ini memunculkan lapisan isu yang sangat kompleks. Di sela-sela mengamati itu semua, keseharianku di sini juga diisi dengan menjaga galeri seni milik bapak, galeri yang juga merangkap sebagai rumahku. Setiap hari, pengunjung silih berganti dengan ragam karakternya; ada yang sekadar mampir berfoto, jajan, hingga meminang lukisan. Sebagai satu-satunya galeri seni di desa ini, kehadirannya menumbuhkan kekagumanku pada masyarakat sekitar yang ternyata amat menghargai karya seni. Pernah suatu hari, lukisan bapak terjual melalui sistem barter—ditukar dengan sekarung beras atau kelapa. Kelak, di lain waktu, aku akan mencoba menuliskan secarik kisah khusus tentang pengalamanku bersinggungan dengan dunia seni, dan tentang bapakku sebagai seorang seniman di desa ini.
Begitulah sekeping cerita yang bisa kubagikan. Sudah hampir seminggu aku bernapas di desa yang sarat akan kisahnya ini. Kisah tentang narasi keperempuanan, geliat literasi, buku-buku, ambisi, dan keresahan-keresahanku sebagai seorang perempuan. Feminisme mengajarkanku untuk melangkah tanpa terburu-buru, lebih banyak mengamati, dan tidak gegabah menghakimi. Sudut pandang ini merawat nalar, membantuku berdamai dengan diri sendiri, sekaligus mengasah empati pada sesama. Di sini, aku belajar menyemai ilmu. Walau suaraku belum lantang, walau tindakanku belum besar, dan walau kaki ini masih tertatih mengeja langkah. Ini semua masih sangat jauh, begitu jauh, dan rasanya tak akan pernah ada akhirnya.
Penggemar sastra, penulis puisi dan prosa, sesekali menggambar dan melukis. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @gkeisyarais.





