All Eyes on Rafah, Seruan Protes dari Seluruh Dunia

Ilustrasi All Eyes on Rafah/Foto:Pixelshot
Share

digitalMamaID – Israel lagi-lagi melakukan serangan udara pada Minggu malam, 26 Mei 2024 di kamp pengungsian Tel Al Sultan, barat laut Rafah, dekat gudang Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA). Gelombang protes dari seluruh dunia berkumandang lewat “All Eyes on Rafah”.

Serangan Israel itu diklaim sebagai serangan balasan atas rentetan roket Hamas di Tel Aviv, menyasar tempat pengungsian bagi lebih dari 1,4 juta warga Palestina. Sebelumnya pejabat Israel sendiri menyatakan Rafah sebagai zona aman, dan memaksa jutaan warga Palestina pindah kesana. Namun, pada kenyataannya Rafah tetap dibombardir tanpa ampun.

Rafah sendiri merupakan kota di selatan Jalur Gaza, dekat dengan perbatasan Mesir. Kota ini berbatasan langsung dengan Laut Mediterania. Rafah adalah tiga kota besar setelah Gaza City dan Khan Younis. Bagi warga Palestina, Rafah dianggap menjadi tempat perlindungan terakhir bagi mereka. Di sisi lain, pihak Israel menganggap Kota Rafah sebagai benteng terakhir dari pasukan Hamas.

Sejak awal Mei, Israel telah melakukan operasi terbatas di Rafah. Puncaknya adalah serangan udara yang menewaskan setidaknya 45 orang dan ratusan orang luka-luka termasuk anak-anak dan perempuan. Hal ini tentu menuai banyak kecaman dan kemarahan dari dunia. Slogan “All Eye on Rafah” pun digaungkan dimana-mana.

Makna All Eyes on Rafah

Dilansir dari Forbes, slogan tersebut berasal dari komentar Rick Peeperkorn, Direktur World Health Organization’s Office of the Occupied Palestinian Territories, yang pada bulan Februari lalu, setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan dibuatnya rencana evakuasi ke Rafah, menjelang serangan yang direncanakan untuk melenyapkan apa yang di klaim Netanyahu sebagai benteng terakhir kelompok militan Hamas.

Ungkapan ini dimaksudkan agar dunia tidak berpaling dari apa yang terjadi di kota Rafah. Sebanyak 1,4 juta orang, warga sipil, berlindung setelah melarikan diri dari serangan Israel. Organisasi dan kelompok lobi seperti Save The Children, Oxfam, American for Justice in Palestine Action, Jewish Voice for Peace dan Palestine Solidarity Campaign kemudian mengulangi slogan tersebut, dan menjadi kampanye seruan protes di Paris, London, Belanda, New York, Los Angeles dan belahan dunia lainnya.

Sudah lebih dari 195.000 postingan dengan jutaan penayangan dengan tagar #AllEyesOnRafah di TikTok dan topik tersebut menjadi trending di Instagram pada hari Selasa, dan hampir 100.000 postingan lainnya telah dibuat. Video paling popular di TikTok berasal dari penyanyi pop Palestina-Amerika, Zach Matari dan sejumlah pembuat konten pro-Palestina lainnya termasuk Lubna Alhilo, Liz Kuhn, dan Reema Bassoumi juga beberapa akun lainnya.

Dilansir dari Newsweek, The Palestine, akun X milik seorang warga Gaza, pertama kali memposting slogan tersebut di platform sosial media pada Rabu sore dan telah digunakan7,1 juta kali. Menurutnya gambar dan pesan slogan ini sangat efektif.

“Saya melihat banyak selebritas dari berbagai bidang membagikan hal ini terutama para pemain sepak bola, aktor, dan aktris. Kita semua membutuhkan dukungan ini dan ini akan sangat membantu di masa depan untuk mendapatkan hak-hak kita,” ungkapnya.

Di tengah gencarnya seruan ini juga, sebuah langkah besar dan bersejarah, tiga negara Eropa yaitu Spanyol, Irlandia dan Norwegia secara resmi mengakui negara Palestina.

Serangan di Rafah

Dilansir dari Al Jazeera , Kantor Media Pemerintah Gaza melaporkan, Israel menjatuhkan tujuh bom seberat 900 kg dan juga rudal ke kamp pengungsian. Tentara Israel mengklaim bahwa mereka menggunakan “amunisi presisi”. Mereka berdalih bahwa kebakaran terjadi karena sebuah tangki bahan bakar di dekatnya meledak.

Di sisi lain, Badan Verifikasi Sanad Al Jazeera berhasil memperoleh gambar pecahan yang diyakini sebagai persenjataan yang digunakan dalam serangan tersebut. Gambar yang diperoleh lembaga tersebut menunjukkan ekor bom berdiameter kecil GBU-39/B, yang diproduksi oleh Boeing. GBU-39/B memiliki mesin jet yang diambil dari peluru kendali M26.

Pemerintah Israel tidak mengeluarkan peringatan untuk mengevakuasi daerah tersebut sebelum menyerang. Akibatnya, menurut Philippe Lazzarini, Komisaris Jenderal UNRWA, banyak orang “dilaporkan mati terbakar” dalam serangan ini.

Dikutip dari Reuters, para korban selamat mengatakan, saat serangan menghantam kawasan Tel Al-Sultan, kebanyakan dari mereka sedang bersiap-siap untuk tidur. “Kami sedang berdoa… dan kami sedang menyiapkan tempat tidur anak-anak kami untuk tidur. Tidak ada yang aneh, kemudian kami mendengar suara yang sangat keras, dan api meletus di sekitar kami,” kata Umm Mohamed Al-Attar, seorang ibu Palestina.

Sementara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan serangan itu adalah kesalahan yang tragis. “Meskipun kami berupaya sebaik mungkin untuk tidak merugikan pihak-pihak yang tidak terlibat, sayangnya kesalahan tragis terjadi tadi malam. Kami sedang menyelidiki kasus ini,” dalih Netanyahu.

International Criminal Court (ICC) pekan lalu telah mengkonfirmasi, mereka sedang meminta surat perintah penangkapan bagi para pejabat Hamas dan Israel. Termasuk diantaranya Benjamin Netanyahu, atas dugaan kejahatan perang. Namun, sampai hari ini pengadilan tidak memiliki cara untuk merealisasikan surat perintah tersebut bahkan setelah surat perintah tersebut dikeluarkan.[*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *