5 Tips Decluttering agar Rumah Lega dan Hati Bahagia

Ilustrasi tips decluttering. Foto: Oksana Krasiuk/Canva.
Share

digitalMamaID – Rumah terasa sesak dengan berbagai barang? Saatnya beberes, nih! Mama bisa gunakan tips decluttering ini agar rumah lega dan hidup bahagia!

Mama sudah pernah mendengar istilah decluttering? Apa sebenarnya decluttering itu? Menurut Dictionary.com,  declutter [dee-kluht-er] : 1. to remove mess or clutter from (a place), 2. To  organize and prioritize (one’s commitments, material possesions, etc). Sedangkan definisi clutter adalah semua barang yang disimpan di dalam atau di sekitaran rumah yang tidak menambah nilai atau memberikan manfaat dalam hidup kita. Decluttering adalah kegiatan membersihkan, mengurangi, dan menyingkirkan barang-barang yang sudah tidak terpakai lagi.

Aktivitas decluttering ini sempat dipopulerkan oleh Marie Kondo, konsultan tata ruang, penulis, dan penyiar TV asal Jepang pencetus metode KonMari.  Metode KonMari adalah sebuah upaya untuk menyingkirkan barang yang sudah tidak memiliki tujuan dan makna. Dalam bukunya yang berjudul “The Life Changing Magic of Tidying Up: The Japanese Art of Decluttering and Organizing”, Marie Kondo sendiri mendefinisikan decluttering sebagai kegiatan menyingkirkan barang-barang yang tidak memercikkan kebahagiaan bagi empunya.

Bagaimana cara memulai decluttering?

Melakukan decluttering untuk pertama kalinya bisa jadi membingungkan. Kita tidak tahu harus mulai dari mana, jumlah barang yang begitu banyak dan tersebar di seluruh area bisa sangat mengintimidasi. Karena itu, yuk, cari tahu beberapa tips decluttering yang bisa membantu Mama!

1. Tentukan waktu memulai, buat jadwal, serta rentang waktu yang dibutuhkan

Tidak mudah untuk memutuskan kapan waktu yang tepat untuk memulai membereskan barang, apalagi jika kita memiliki banyak kesibukan, atau anak-anak yang masih kecil. Namun, Mama harus segera memulainya atau rumah akan semakin penuh sesak dengan barang. Pengalaman banyak orang, saat menempati rumah baru, rumah terasa kosong dan rapi, namun saat mulai memiliki anak, kita makin sering membeli barang dan lupa untuk menyortir secara rutin. Akibatnya kita kesulitan membereskan karena barang sudah terlanjur menumpuk di mana-mana, dan menjadi malas memulai.

Ilustrasi jadwal decluttering
Ilustrasi jadwal decluttering

Mengapa harus dibuat jadwal?

  1. Dengan membuat jadwal dan waktu yang sudah ditentukan, Mama tidak akan bingung lagi kapan memulai, berapa lama, dan area mana saja yang akan dibereskan.
  2. Membantu Mama supaya tidak mengalami kewalahan, kelelahan fisik dan mental, dan tetap bisa menikmati decluttering dengan menyenangkan.
  3. Bisa disesuaikan dengan aktivitas Mama yang lain.

Ingat ya Mama, jika sudah membuat jadwal waktu melakukan decluttering, kita harus memiliki komitmen untuk melakukannya.

2. Membuat checklist berdasarkan kategori (jenis ruangan dan barang)

Pada dasarnya ada dua pilihan dalam melakukan decluttering, yaitu berdasarkan jenis barang yang ingin disingkirkan atau berdasarkan ruangan yang ada di rumah. Mama bisa memakai contoh daftar di atas sebagai panduan. Sesuaikan dengan ruangan dan barang yang ada di masing-masing ruangan di dalam rumah. Beri tanda silang setiap menyelesaikan satu item, begitu seterusnya hingga selesai satu ruangan. Segera singkirkan barang / produk yang masuk list decluttering untuk menghindari penumpukan di bagian rumah yang lain.

Ilustrasi decluttering checklist/Vian Anjarsari
Ilustrasi decluttering checklist

3. Sediakan wadah untuk menyortir barang

Setelah tahu harus mulai membersihkan dari mana, tips decluttering selanjutnya ialah persiapkan empat buah wadah atau kotak untuk menyortir barang-barang yang akan Mama singkirkan.

Decluttering. Foto: Andrey Popov/Getty Images.
Decluttering. Foto: Andrey Popov/Getty Images.

Beri label tulisan pada setiap kotak untuk memudahkan klasifikasi. Keempat wadah tersebut antara lain :

Dibuang (trash): untuk barang-barang yang betul-betul rusak, kadaluwarsa, atau sudah tidak bisa diapa-apakan lagi bisa ditaruh di kategori ini untuk kemudian segera dibuang.

Disumbangkan (donate): barang-barang yang jarang atau tidak pernah Mama dan keluarga gunakan tetapi masih dalam kondisi bagus ada baiknya dipisahkan ke dalam wadah kemudian didonasikan kepada orang-orang yang lebih membutuhkan. Mulai dari mainan, buku, pakaian yang kekecilan/kebesaran, produk kosmetik yang tidak cocok di kulit, dan masih banyak lagi.

Didaur ulang (recycle): wadah ini untuk barang-barang yang ingin Mama buang tetapi bisa didaur ulang, misalnya majalah dan kertas-kertas bekas, botol plastik dan kaca, serta kaleng bekas.

Disimpan (keep): Gunakan wadah ini untuk menaruh barang yang masih aktif digunakan namun butuh diperbaiki . Misalnya baju dengan kancing yang hilang atau celana dengan ritsleting yang rusak, atau tas yang lepas pengaitnya, dll.

4. Minta bantuan orang lain

Mama juga bisa meminta bantuan anggota keluarga lain, sahabat atau asisten ruah tangga untuk menentukan kira-kira tumpukan barang apa dan dimana yang terlihat harus disingkirkan. Pemikiran orang lain lebih obyektif dan akan membantu kita melepaskan dengan rela barang-barang yang tidak terlalu berguna meski memiliki nilai sentimental.

5. Foto sebelum dan sesudah sebagai perbandingan

Ilustrasi tips decluttering
Decluttering: before after. Foto: Andrey Popov/Getty Images.

Seperti halnya foto make up ada before dan after, Mama juga perlu mengambil foto area ruangan sebelum dibereskan dan sesudah dibereskan. Percayalah ini akan menjadi motivasi untuk semakin bersemangat melakukan decluttering karena area yang kita bereskan nampak lebih rapi, bersih, lapang, dan nyaman dilihat. Mama juga bisa berkreasi medesain ulang ruangan agar terlihat fresh.

Adakah tips decluttering ini yang sudah pernah Mama coba?

Manfaat melakukan decluttering

Decluttering mungkin sekilas terlihat sekedar kegiatan bersih-bersih biasa, namun dari kegiatan tersebut ada beberapa manfaat yang bisa kita peroleh antara lain :

1. Berhenti menjadi konsumtif dan impulsive buyer

Kita disadarkan untuk berpikir seribu kali  setiap kali akan memutuskan untuk membeli barang. Apakah memang benar-benar diperlukan atau hanya sekedar tindakan impulsif belaka tanpa mempertimbangkan manfaat dan dampaknya bagi kehidupan kita.

2. Lebih peduli pada lingkungan dan sesama yang membutuhkan

Kita juga harus membuka mata dan pikiran bahwa semakin banyak barang yang kita beli, berarti semakin banyak sampah yang akan menambah beban bumi. Begitu susah membuang barang-barang tersebut karena harus memiikirkan juga dampaknya bagi lingkungan. Sementara data Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan tahun 2022 menunjukkan, sampah nasional  mencapai 21.1 juta ton dan sebanyak 34,29% (7,2 juta ton) belum terkelola dengan baik.

Saat ini sudah sudah ada beberapa inisiatif yang membantu kita mengelola sampah ini. Misalnya saja aplikasi Rekosistem yang tersedia di Google Play yang menerima sampah anorganik seperti botol dan jar bekas skincare atau kosmetik. Ada pula Mesin Reverse Vending Machine (RVM) yang terpasang di EIGER Store.

Reverse Vending Machine (RVM) Di EIGER, Jalan Sumatera, Kota Bandung.
Reverse Vending Machine (RVM) Di EIGER, Jalan Sumatera, Kota Bandung.

Selain itu, di Jawa Tengah juga ada komunitas bernama Joli-Jolan yang memfasilitasi masyarakat untuk berdonasi. Konsepnya menyerupai pasar yang menerima berbagai barang preloved dan mempersilakan siapapun untuk mengambil sesuai kebutuhan. Konsep berdonasi yang cukup unik ya, Mama!

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Mewalik (@mewalik)

3. Bisa menghasilkan uang

Kok bisa decluttering menghasilkan uang? Jawabannya bisa, Mama!

Apakah Mama pernah membeli suatu produk dan mendapatkan banyak hadiah berupa produk travel size atau produk yang baru release? Atau Mama punya pakaian, sepatu atau tas yang masih sangat bagus namun tidak dipakai lagi ?

Kabar baiknya, di Indonesia ada beberapa platform dan komunitas yang memfasilitasi masyarakat yang ingin menjual barang preloved atau hasil decluttering. Sebut saja Komunitas Bersaling silang, aplikasi Carousell, dll. Mama juga bisa menjual melalui market place. Lumayan, kan, kalau berhasil terjual.

4. Hidup lebih bahagia

Semakin sedikit barang di rumah kita, semakin lega dan nyaman hidup kita. Mental kita pun akan tetap sehat karena kita tidak perlu stres mencari barang yang kita cari atau kesulitan menggunakan ruangan akibat penuh sesak barang. Rumah lebih bersih, rapi, dan nyaman ditinggali.

Jadi Mama, alih-alih mewariskan sampah untuk anak cucu kita, mari kita belajar hidup dengan merasa cukup pada apa yang sudah ada. Semoga tips decluttering ini membantu Mama memulai, ya! Selamat beberes!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *