digitalMamaID — Sebagai ibu, hari-hari dipenuhi dengan kekhawatiran dan rasa bersalah sekaligus. Khawatir tidak bisa memenuhi kebutuhan anak, orangtua bekerja mati-matian. Tapi nyatanya, mau bekerja sekeras apapun lingkungan yang ideal untuk anak itu tidak mudah diwujudkan. Bukan sepenuhnya salah orangtua, parenting di negara gagal memang luar biasa sulitnya.
Kalis Mardiasih menerbitkan buku terbarunya berjudul “Parenting di Negara Gagal”. Judulnya membuat ingin cepat-cepat “check out” dari keranjang belanja virtual. Setelah sabar menunggu periode pemesanan awal selesai, akhirnya buku bersampul kuning dengan corak pink hijau yang sangat akrab bagi Warga Negara Indonesia WNI) ini sampai juga di tangan.
Anak tak punya ruang
Buku Kalis ini seperti memvalidasi perasaan orangtua yang merasakan sulitnya mengasuh anak saat ini. Kesulitan itu bukan karena perkembangan teknologi yang sering dijadikan momok atas banyak perilaku anak-anak yang meresahkan. Lebih dari itu, segala kesulitan orangtua itu berasal dari pemerintah yang tidak kompeten mengasuh warganya, terutama generasi masa depan.
Gawai dan internet sering jadi alasan saat anak tak lagi bermain di luar rumah. Sehinga anak zaman sekarang dianggap kurang piawai berkomunikasi, dan sederet dampak negatif lainnya. Mari kita ingat-ingat, waktu kecil di mana Mama sering bermain? Di setiap area pemukiman, biasanya ada tanah lapang yang cukup untuk main bola, layang-layang atau bermain apa saja. Luasnya cukup untuk jadi tempat berkumpul anak-anak sekampung. Ada pula yang suka bermain di sungai dekat rumah. Airnya masih jernih. Terlihat jelas ikan-ikan kecil yang sedang berusaha menghindar dari tangakapan anak-anak.
Sekarang lapangan itu sudah tidak ada, berubah menjadi bangunan. Sungai juga sudah mengering. Tidak ada lagi ikan yang bisa ditangkap. Dengan situasi begitu, bagaimana mungkin menyuruh anak bermain di luar? Selain berpotensi mencelakakan, ada juga kekhawatiran anak akan jadi incaran penjahat. Ah, seandainya saja pemerintah mau menyisihkan lahan di area pemukiman sebagai area bermain anak.
Dalam urusan menata ruang publik saja, pemerintah tidak menunjukkan keberpihakan pada anak. Anak-anak beradaptasi pada lingkungan yang tidak pernah didesain untuk mereka.
Ketimpangan sosial terpampang nyata
Menjadi orangtua, apalagi dari kelas menengah di negeri ini, rasanya ampun-ampunan! Kelas menengah merupakan kelompok yang dibiarkan berjuang sendirian. Mereka tidak cukup kaya untuk bisa hidup mewah, tapi tidak cukup miskin untuk mendapat bantuan pemerintah. Sehari-hari yang dilakukan adalah berjuang bertahan hidup. Harapannya, sih, bisa naik kelas, tapi tidak tergelincir jadi miskin saja sudah bersyukur.
Akan tetapi, dari layar gawai, anak-anak menyaksikan ada orang yang bisa membeli tas yang lebih mahal dari harga sepeda motor. Ada orang yang begitu mudah mendapatkan uang sehingga bisa membeli apapun yang dia mau.
Seorang figur publik yang juga anggota DPR menertawakan warga yang mengkritik kenaikan tunjangan sewa rumah. Padahal warga biasa harus bekerja banting tulang untuk bisa membayar cicilan rumah. Si pejabat lupa, di setiap uang yang mereka terima dari negara terdapat keringat warga biasa pembayar pajak.
Belakangan, media sosial ramai dengan konten flexing pemilik dan pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Begitu mudah mendapatkan uang dari proyek prioritas pemerintah MBG (Makanan Bergizi Gratis). Sedangkan para bapak ibu guru harus mengabdi bertahun-tahun tanpa upah layak. Cukup dengan gelar pahlawan tanpa tanda jasa.
Masih di negeri yang sama, seorang anak memilih mengakhiri hidupnya karena tak bisa membeli buku dan pena seharga Rp10 ribu. Mengapa pemerintah sulit melihat kemiskinan warganya? Mengapa pejabat bisa hidup mewah sedangkan warganya bahkan untuk hidup sewajarnya saja harus bersusah payah?
Begitu lebar ketimpangan di negeri ini. Seperti jurang yang lebar dan dalam. Lalu, bagaimana kita bisa menjelaskan semua ini kepada anak-anak? Bagaimana kita bisa mengajari anak untuk peka terhadap lingkungan, memiliki empati, dan peduli pada sesama?
Tugas orangtua makin berat
Tugas orangtua makin berat. Ketika orangtua berusaha menanamkan kejujuran sejak kecil, korupsi jadi tontonan sehari-hari.
Ketika orangtua mendorong anak berani menyuarakan isi hati dan kebenaran, pemerintah menyuguhkan pembungkaman. Mereka yang bersuara ditangkap dan dipenjarakan.
Saat orangtua mengajarkan anak hidup bersahaja sesuai kemampuan, gaya hidup mewah pejabat hadir di beranda media sosial.
Bahkan, saat orangtua menekankan nilai kerja keras dan pentingnya sebuah proses, akrobat politik terjadi di depan mata. Utak-atik hukum dibiarkan terjadi hanya untuk memberi jabatan pada kerabat. Kolusi dan nepotisme tumbuh subur.
Di negara gagal ini, rasanya mustahil membesarkan generasi yang memiliki idealisme, memegang teguh prinsip kebaikan dan welas asih. Tapi menurut Kalis, kita masih punya harapan.
“Saya berdoa, dalam situasi politik yang tidak berpihak pada tumbuh kembang generasi muda, anak-anak kita dapat sintas dan bangkit, dan selalu punya celah alernatif untuk melihat harapan,” tulis Kalis.
Harapan itu, kata Kalis, teretak pada orangtua yang bersolidaritas dengan orangtua lainnya. Orangtua yang tidak putus asa menghidupkan ekosistem alternatif yang menolak tunduk pada pertunjukans sesat dan akrobat kekuasaan para elit negara yang nirempati.
“Para orangtua yang percaya pada keadilan dan kesetaraan. Para orangtua yang percaya bawa mereka yang kuat mestinya mebagi daya keada mereka yang lebih lemah,” kata Kalis.
Buku “Parenting di Negara Gagal” penting dibaca orangtua yang ingin mewariskan masa depan yang lebih baik kepada anak-anaknya. Bukan dengan memberikan harta yang melimpah, tapi dengan membangun kesadaran dan menanamkan nilai-nilai kebaikan. Mengantarkan anak-anak yang menyadari bahwa kita adalah bagian dari masyarakat yang punya hak yang setara. [*]






