digitalMamaID — Terjadinya gempa tidak dapat dicegah karena sifat bumi yang terus bergerak. Akan tetapi, dapat dimitigasi sebagai bentuk persiapan saat gempa tiba.
Berada di ring of fire membuat Indonesia ada dia dua titik ekstrim. Subur loh jinawi tanahnya, sekaligus menyimpan potensi bencana geologi yang tertidur.
Laman Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendefinisikan bencana geologi adalah peristiwa alam akibat aktivitas dari dalam bumi (endogen) seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, dan tsunami. Bencana ini seringkali menyedihkan karena timbulnya korban jiwa dan menyebabkan kerusakan.
Jika pengetahuan mengenai mitigasi sudah dijalankan, kerusakan tersebut dapat diminimalisir dan korban jiwa dapat ditekan. Ini pula yang menjadi kepedulian Pusat Studi Kajian Pembelajaran STEM Universitas Parahyangan (Unpar) melalui edukasi dan mitigasi bencana gempa bagi masyarakat yang tinggal di area terdampak pergerakan sesar lembang.
Bersiap lewat simulasi
Sore itu, puluhan anak-anak usia sekolah, mulai SD hingga SMA di sekitar kampus Unpar mengikuti simulasi bencana gempa ketika sedang berada di dalam bangunan tinggi. Selain mereka, hadir pula komunitas masyarakat termasuk kelompok ibu dari kelurahan Hegarmanah.
Diceritakan, masing-masing orang sudah mengunduh aplikasi peringatan dini gempa. Aplikasi ini akan mengeluarkan bunyi sirine yang menandakan kedatangan gempa.
Saat sirine berbunyi, ramai-ramai mereka merunduk, berlindung, dan bertahan di kolong meja. Ini adalah langkah utama kedaruratan gempa saat berada di dalam ruangan.
Setelah goncangan mereda, dengan tertib, tanpa berteriak dan berlari, seluruh peserta turun menggunakan tangga dari lantai 12 ke area terbuka di lantai paling bawah. “Simulasi ini sudah baik. Namun tentunya saat gempa betulan terjadi, mungkin ada sedikit kepanikan. Itu alamiah,” ujar peneliti dari Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN Dr. Nuraini Rahma Hanifa.
Dia ditemui saat memandu edukasi mitigasi dan simulai bencana gempa dalam kegiatan ELING Eco-STEM Unpar di Lecture Theatre, Gedung PPAG Lt 1 Unpar, Jalan Ciumbuleuit, Jumat, 18 September 2026. Kegiatan yang bertajuk “Edukasi dan Simulasi Mitigasi Bencana untuk Meningkatkan Kesiapsiagaan Masyarakat di Kawasan Sesar Lembang” ini digelar demi meningkatkan kewaspadaan masyarakat terutama yang berada di kawasan terdampak pergerakan sesar lembang.
Menurut Rahma, Indonesia diapit oleh tiga lempeng tektonik utama, yaitu Lempeng Indo-Australia di selatan, Lempeng Eurasia di utara, dan Lempeng Pasifik di timur. Kondisi geologis ini menjadikan wilayah Indonesia sangat rawan terhadap bencana gempa bumi dan tsunami. Berdasarkan data pemantauan, Indonesia memiliki sedikitnya 401 sesar aktif yang tersebar dari Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
Potensi kebencanaan dan pelajaran dari peristiwa gempa
Peristiwa gempa bumi dan tsunami besar di Aceh (2004) dengan magnitudo 9,0, serta Tsunami Pangandaran (2006), membuktikan besarnya dampak kerugian jiwa dan material yang dapat ditimbulkan. Peristiwa serupa juga terjadi di Jepang pada Maret 2011 saat gempa magnitudo 9,0 melanda wilayah tersebut.
Meskipun kekuatan gempanya setara dengan Tsunami Aceh, tingkat korban jiwa di Jepang jauh lebih rendah, yakni sekitar 20.000 jiwa atau 10 persen dari korban Tsunami Aceh. Perbedaan signifikan ini dipengaruhi oleh faktor ketahanan infrastruktur serta respons kesiapsiagaan masyarakat.
Di Jepang, bangunan publik seperti sekolah dan rumah sakit telah diperkuat dengan standar tahan gempa, dan masyarakat dilatih untuk langsung berlindung di bawah meja saat terjadi guncangan.
Di Jawa Barat, potensi risiko gempa bumi antara lain bersumber dari Sesar Lembang. Sesar ini memiliki siklus pergerakan berulang antara 170 hingga 600 tahun. Pergerakan besar terakhir tercatat terjadi sekitar 500 tahun lalu. Dengan kecepatan pergerakan sekitar 4 milimeter per tahun, akumulasi pergeseran Sesar Lembang saat ini telah mencapai kurang lebih 2 meter. Aktivitas sesar ini berpotensi memicu bahaya lanjutan berupa tanah longsor, likuifaksi, dan kebakaran.
Penerapan sains dan teknologi dalam peringatan dini
Pemahaman mengenai gempa bumi ternyata bisa melibatkan pendekatan lintas disiplin STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics). Dijelaskan Rahma, gempa bumi terjadi akibat proses konveksi di mantel bumi yang cair dan panas. Perbedaan suhu mendasar ini menggerakkan lempeng-lempeng tektonik, yang kemudian melepaskan energi secara mendadak dalam bentuk gelombang seismik.
“Pelepasan energi ini akan menghasilkan dua jenis gelombang utama. Yakni gelombang primer yang merambat lebih cepat antara 5-8 km/detik dan bertindak sebagai peringatan awal dan biasanya tanpa sifat merusak. Kedua adalah gelombang sekunder yang merambat lebih lambat 3-5 km/detik dan membawa energi yang berpotensi merusak bangunan,” kata Rahma.
Di sinilah riset berperan. Perbedaan kecepatan antara gelombang primer dan sekunder dimanfaatkan dalam pengembangan sistem peringatan dini. Pemerintah melalui BMKG sedang menguji prototipe aplikasi Indonesia Earthquake Early Warning System (INA EEWS).
Berbeda dengan sistem informasi gempa biasa yang baru memberikan data beberapa menit setelah kejadian, INA EEWS dirancang untuk memberikan peringatan beberapa detik sebelum gelombang sekunder sampai di lokasi pengguna. Sistem ini ditargetkan beroperasi secara penuh pada tahun 2030.
Langkah mitigasi dan kesiapsiagaan masyarakat
Pengurangan risiko bencana geologi memerlukan langkah konkrit dalam aspek ketahanan bangunan dan edukasi evakuasi mandiri. Antara lain melalui penguatan infrastruktur dengan menerapkan 7 standar bangunan tahan gempa yang dirilis oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada bangunan pemukiman dan publik.
Lainnya, menyosialisasikan secara masih prosedur evakuasi mandiri. Antara lain saat terjadi guncangan, segera berlindung di bawah meja dengan melindungi kepala dan leher menggunakan tangan serta memegang kaki meja. Apabila berada di gedung bertingkat, gunakan tangga darurat dan hindari penggunaan lift. Setelah guncangan mereda, keluar menuju titik kumpul di area terbuka.
Yang juga bisa disiapkan dari sekarang adalah penyediaan tas siaga bencana. “Orang Sunda bisa menyebutnya dengan kantong sagala aya. Idealnya setiap rumah tangga dianjurkan menyiapkan tas siaga bencana untuk mendukung kelangsungan hidup pada 24 jam pertama pascabencana. Tas tersebut berisi dokumen penting, pakaian, air minum, makanan tahan lama, kotak P3K, senter, peluit, radio portable, ponsel, dan uang tunai,” ujar Rahma.
Peningkatan edukasi kebencanaan sejak usia dini serta integrasi teknologi pemantauan geologi merupakan pilar utama dalam membangun ketangguhan masyarakat menghadapi potensi gempa bumi di masa mendatang. Ini juga yang menjadi perhatian Unpar.
Ketua Pusat Studi Kajian Pembelajaran STEM SCIENCE, Christina Ester M. Hutabarat menjelaskan, kegiatan ini dilakukan dalam rangka pelaksanaan Program Semesta In-Saintek 2026 melalui kegiatan Eco-STEM Sustainability for Community: Model Diseminasi Sains Berbasis STEM untuk Membangun Masyarakat Sadar Ekologi dan Tangguh Bencana.
“Ini merupakan kegiatan edukasi dan diseminasi sains yang bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai isu lingkungan, keberlanjutan, dan kesiapsiagaan bencana melalui pendekatan STEM. Kegiatan ini mencakup pemaparan hasil penelitian, inovasi dan praktik baik, serta pertukaran pengetahuan dan pengalaman antara perguruan tinggi, sekolah, komunitas, pemerintah, dan masyarakat untuk mengembangkan gagasan serta solusi yang relevan dengan kebutuhan lingkungan dan masyarakat,” katanya.
Wakil Rektor Unpar Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Prof. Dr. Ir. Henky Muljana mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mereka membawa pengetahuan dan pengembangan STEM agar dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Kami berusaha selalu hadir menjawab persoalan-persoalan terkait pengembangan STEM dan penerapannya langsung pada masyarakat. Isu mitigasi bencana, khususnya terkait Sesar Lembang, perlu menjadi perhatian bersama. Kami siap membantu,” tuturnya.
Di penghujung simulasi, peserta diajak bernyanyi lagu gempa sama-sama. Mungkin ini lagu yang cocok untuk murid TK. Tapi tak ada salahnya kita semua mengingatnya.
Ada dua lagu gempa, lagu yang pertama dinyanyikan dengan nada lagu ‘Dua Mata Saya’. Begini liriknya:
kalau ada gempa, lindungi kepala
kalau ada gempa, masuk kolong meja
kalau ada gempa, jauhi kaca-kaca,
kalau ada gempa, jalan ke tempat terbuka
Dan lagu gempa kedua, nyanyikan dengan nada lagu ‘potong bebek’. Begini liriknya:
kalau ada gempa, lindungi kepala
kalau ada gempa, ingat B-B-M-K,
jangan berlari
jangan berisik
jangan mendorong
dan jangan kembali
Berada di daerah dengan risiko bencana, kesiapsiagaan tak bisa ditawar. [*]









