digitalMamaID – Mitigasi gempa Sesar Lembang tidak cukup hanya membangun kesiapsiagaan warga. Memastikan rumah sebagai tempat berlindung memiliki struktur yang memadai juga menjadi langkah penting. Seperti apakah rumah tahan gempa itu?
Tim dari Fakultas Teknik, yang terdiri atas Program Studi Arsitektur dan Teknik Sipil Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) melakukan pengabdian masyarakat bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berupa pendataan 1.000 rumah di Bandung. Dari jumlah tersebut, sebanyak 100 rumah kemudian dijadikan sampel untuk melihat kesiapan struktur bangunan menghadapi ancaman gempa.
Hasil asesmen menunjukkan, 46 persen rumah dalam sampel tersebut belum memenuhi tujuh elemen struktur bangunan yang dinilai penting untuk menghadapi gempa. Sementara 54 persen lainnya dinilai telah memenuhi elemen tersebut.
Temuan itu, menurut dosen Arsitektur UNPAR Galuh Kresnadian Tedjawinata S.Ars., M.Ars. menunjukkan, kesiapan bangunan menjadi salah satu hal yang perlu mendapat perhatian. Apalagi kawasan Bandung berada di sekitar Sesar Lembang yang merupakan sesar aktif.
“Ancaman di kawasan Sesar Lembang ini sebenarnya lumayan parah gitu ya. Kita kan berada di jalur Sesar Lembang yang aktif. Panjangnya kurang lebih 29 km dengan kemungkinan kekuatan gempanya bisa sampai 6,5 sampai 7 Skala Richter. Sebenarnya ini lumayan ekstrem dan kita kan nggak tahu kira-kira kapan terjadi bencana ini. Maka preventifnya ini, harapannya bisa oleh teman-teman sekalian diimplementasikan baik nanti di bangunannya atau nanti waktu kejadian harus ngapain,” kata Galuh dalam rangkaian kegiatan ELING ECO-STEM Edukasi dan Simulasi Mitigasi Bencana untuk Meningkatkan Kesiapsiagaan Masyarakat di Kawasan Sesar Lembang, Pusat Studi Kajian Pembelajaran STEM UNPAR, Jumat 8 September 2026.

Bukan sekadar bangunan yang kokoh
Menurut Galuh, salah satu paradigma keliru yang masih kerap ditemukan di masyarakat adalah anggapan bahwa bangunan rumah tahan gempa jika memiliki struktur yang terlihat besar dan kokoh. Padahal, risiko saat gempa tidak hanya berasal dari guncangan. Bagian bangunan maupun benda di dalam rumah yang dapat roboh dan menimpa penghuni juga harus diwaspadai.
Dinding, plafon, hingga furnitur seperti lemari dan rak dapat menjadi sumber bahaya apabila tidak terpasang atau terikat dengan baik. Karena itu, kekuatan bangunan tidak hanya ditentukan oleh ukuran kolom atau ketebalan struktur, tetapi juga oleh keterikatan antarelemen bangunan.
“Jadi terkadang dibangun secara swadaya terus akhirnya tidak tahan gempa dan akhirnya menjadi risiko tersendiri. Sebenarnya sih tidak apa-apa kalau memang mau swadaya gitu ya. Cuman kalau menurut saya, memang diperlukan tenaga ahli yang memang kalau membuat bangunan itu nggak asal jadi bangunan. Ada komponen-komponen tertentu yang pada akhirnya itu harus ada supaya bangunannya tahan dari bencana gitu,” katanya.
Menurut Galuh, sebenarnya dari BNPB sendiri sudah ada teori turunan dari FEMA P-154. Jadi ada tujuh komponen struktur kritis yang perlu diperhatikan dari bangunan, yaitu pondasi, sloof, kolom, balok atas, rangka atap, angkur struktural, serta angkur dinding-rangka.
“Jadi kalau semuanya ada, logikanya adalah harusnya rumah teman-teman bisa menahan gempa. Misal, ‘tapi kan rumah saya udah jadi bangunan ini’, nggak apa-apa, bisa ditambahkan sebenarnya, tinggal pergi ke konsultan atau kontraktor terdekat untuk direnovasi, ditambahkan aspek yang tujuh itu,” lanjutnya.
Pentingnya bentuk denah rumah
Selain elemen struktur, bentuk denah rumah juga perlu diperhatikan. Bangunan dengan bentuk denah yang lebih sederhana dan teratur dinilai lebih mudah mengantisipasi gaya gempa dibandingkan bangunan dengan banyak patahan atau sudut pada denahnya.

Semakin banyak patahan pada denah, semakin banyak pula titik yang berpotensi menjadi lokasi kegagalan struktur. Karena itu, saat membangun atau merenovasi rumah, bentuk denah yang lebih teratur dan simetris perlu menjadi pertimbangan. “Mohon untuk dibuat menjadi bentuk yang reguler sebenarnya antara kotak, persegi panjang atau persegi panjangnya ya dua sisi aja. Kenapa? Karena dengan dengan banyaknya patahan-patahan itu akan meningkatkan terjadinya kegagalan,” ungkapnya.
Namun, perhatian terhadap bangunan tidak berhenti pada struktur utamanya. Sambungan antara dinding, balok, plafon, atap, hingga furnitur juga perlu diperiksa.
Warga bisa melakukan asesmen mandiri
Untuk itu, Galuh mendorong masyarakat untuk mulai membuat daftar periksa asesmen rumah secara mandiri. Tujuannya, untuk memeriksa kondisi bangunan.
Beberapa hal yang dapat diperiksa antara lain kondisi pondasi, apakah terdapat retakan atau pergeseran, kondisi sloof, kolom dan rangka atap, serta kemungkinan retakan diagonal di sekitar pintu atau jendela.
Pemilik rumah juga perlu memastikan lemari dan rak-rak telah terikat dengan baik ke dinding, jalur keluar tidak terhalang barang, serta kaca atau jendela besar memiliki lapisan pengaman silen untuk mengurangi risiko pecah dan jatuh.
Selain kondisi fisik rumah, keluarga juga perlu menentukan titik kumpul yang disepakati bersama. Jalur evakuasi harus dipastikan dapat digunakan oleh seluruh anggota keluarga, termasuk anak-anak dan anggota keluarga lainnya yang membutuhkan akses lebih mudah.
“Yang bisa kita sesegera mungkin, kita lakukan nanti pas pulang, yang pertama ikat kemari dan rak-rak ke dinding, gitu ya. Kalau nggak, jauhin dari di mana posisinya kalau kita lagi di tempat tidur. Terus juga simpan-simpan barang-barang berat di bagian bawah. Kenali jalur keluar tercepat dari tiap ruangan. Sepakati titik kumpul keluarga di luar rumah dan ini siapkan tas darurat,” imbuhnya.
Saat gempa terjadi
Jika tidak sempat keluar dari bangunan saat gempa terjadi, warga dianjurkan menerapkan prinsip drop, cover, hold on, yakni menjatuhkan diri ke posisi aman, berlindung di bawah meja atau perlindungan yang kokoh, kemudian bertahan hingga guncangan berhenti.
Setelah berhasil keluar dari rumah, warga juga perlu memperhatikan potensi kebakaran dengan mematikan listrik dan gas apabila kondisi memungkinkan. Warga diminta tidak terburu-buru kembali ke rumah karena gempa susulan dapat terjadi setelah gempa utama.
Kesiapsiagaan juga dapat dilakukan dengan menyiapkan tas darurat, mengenali jalur keluar dari setiap ruangan, serta menyepakati titik kumpul keluarga di luar rumah.
Pada akhirnya, kesiapsiagaan menghadapi gempa tidak hanya menjadi persoalan infrastruktur berskala besar. Keselamatan juga dimulai dari rumah masing-masing dan kemampuan warga untuk saling membantu ketika bencana terjadi.
“Ketahanan kita itu memang ditentukan oleh infrastruktur yang besar. Tapi juga ditentukan oleh keselamatan setiap rumah yang menopang kehidupan warganya,” pungkasnya. [*]






