Anak Kini Bisa Punya WhatsApp, Ini Penjelasan Fitur dan Keamanannya

Share

digitalMamaID – WhatsApp resmi memperkenalkan fitur baru bernama parent-managed account atau akun yang dikelola orangtua. Fitur ini memungkinkan anak di bawah usia 13 tahun memiliki akun WhatsApp, tetapi tetap berada dalam pengawasan orangtua.

Satu hal yang perlu disadari, anak-anak hari ini memang sudah hidup di dunia digital. Komunikasi, pembelajaran, hingga hiburan mereka kini banyak berlangsung secara online. Namun, tingginya penggunaan internet pada anak ternyata tidak selalu diimbangi dengan pemahaman soal keamanan digital.

Anak sudah aktif online, tapi belum sepenuhnya siap

Laporan UNICEF tahun 2023 tentang perilaku daring anak di Indonesia menunjukkan,  sebagian besar anak sudah aktif menggunakan internet dalam keseharian mereka, terutama untuk bersosialisasi dan mengakses media sosial.

Namun, di balik tingginya aktivitas tersebut, ada celah besar dalam aspek keamanan, di antaranya:

  • Hanya 37,5% anak yang pernah mendapat edukasi keamanan digital
  • 50,3% anak pernah terpapar konten tidak pantas di media sosial
  • 42% anak merasa tidak nyaman atau takut saat online

Artinya, anak sudah terbiasa berada di dunia digital, tetapi belum memiliki bekal yang cukup untuk melindungi diri.

Minimnya literasi digital membuat anak lebih rentan terhadap berbagai risiko. Mulai dari paparan konten tidak sesuai usia, interaksi dengan orang asing, hingga cyberbullying. Dalam beberapa kasus, anak juga berpotensi mengalami eksploitasi di ruang digital. 

Kondisi ini menegaskan, kehadiran anak di dunia digital tidak cukup hanya dilihat dari sisi akses semata. Lebih dari itu, anak membutuhkan perlindungan yang memadai serta pendampingan dari orangtua agar dapat beraktivitas secara aman, memahami risiko yang ada, dan mampu mengambil keputusan yang tepat saat berinteraksi di ruang digital.

Fitur ini muncul di saat yang tepat

Melihat kondisi tersebut, peluncuran fitur akun anak oleh WhatsApp sebenarnya bukan tanpa alasan. Anak-anak sudah aktif di internet, tetapi belum sepenuhnya terlindungi. Di sisi lain, melarang anak sepenuhnya dari teknologi juga bukan solusi yang realistis.

WhatsApp menghadirkan pendekatan baru, yaitu memberikan akses, tetapi tetap dengan kontrol dari orangtua. Fitur seperti pembatasan kontak, penyaringan pesan dari orang asing, hingga kontrol grup dirancang untuk menjawab risiko-risiko yang selama ini dihadapi anak.

Sejalan dengan PP TUNAS

Langkah WhatsApp ini juga sejalan dengan arah kebijakan pemerintah Indonesia. Melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), pemerintah baru-baru ini memperkenalkan turunan dari kebijakan PP TUNAS (Tata Kelola untuk Anak Aman dan Sehat Digital) yang berfokus pada perlindungan anak di ruang digital yaitu pembatasan penggunaan media sosial untuk anak di bawah usia 16 tahun.

Dalam kebijakan tersebut, platform digital didorong untuk meningkatkan sistem keamanan bagi pengguna anak, membatasi akses terhadap fitur berisiko dan memberikan ruang kontrol yang lebih besar kepada orangtua.

Dalam konteks ini, fitur akun anak di WhatsApp bisa dilihat sebagai bagian dari tren global menuju desain platform yang lebih ramah anak (child-safe design).

Namun demikian, regulasi dan teknologi tetap memiliki batas. Tanpa literasi digital di tingkat keluarga, perlindungan anak tidak akan berjalan optimal.

Apa itu akun anak WhatsApp?

Akun anak atau parent-managed account adalah akun khusus yang dibuat oleh orangtua, terhubung langsung dengan akun orangtua, dan seluruh pengaturannya dikontrol oleh orangtua. Dengan sistem ini, anak tidak lagi menggunakan WhatsApp secara bebas seperti pengguna dewasa.

Adapun fitur-fitur keamanan yang dapat dikontrol orangtua, di antaranya:

  1. Kontak lebih terbatas
    Orangtua bisa menentukan siapa saja yang boleh menghubungi anak.
  2. Pesan dari orang tak dikenal disaring
    Pesan dari nomor asing tidak langsung masuk ke chat utama, tetapi harus melalui persetujuan orangtua.
  3. Kontrol grup
    Anak tidak bisa sembarangan masuk grup. Semua undangan harus disetujui orangtua.
  4. Pengaturan dikunci
    Seluruh pengaturan dilindungi PIN, sehingga anak tidak bisa mengubahnya sendiri.

Untuk menjaga keamanan, WhatsApp membatasi beberapa fitur pada akun anak, yaitu tidak ada akses ke channel, tidak ada fitur AI dan interaksi lebih sederhana, sehingga penggunaan akun anak hanya difokuskan pada chat dan panggilan saja.

WhatsApp untuk sekolah, anak perlu batasan

Di tengah kekhawatiran soal keamanan digital, ada satu realitas yang tidak bisa diabaikan, yaitu banyak anak saat ini memang membutuhkan aplikasi pesan seperti WhatsApp untuk keperluan sekolah.

Dalam keseharian, grup chat sering digunakan untuk berbagi informasi tugas dari guru, diskusi kelompok, hingga koordinasi kegiatan sekolah. Bahkan, tidak sedikit sekolah yang menjadikan WhatsApp sebagai media komunikasi utama antara guru, orangtua, dan siswa.

Kondisi ini membuat orangtua berada dalam dilema. Di satu sisi ingin melindungi anak dari risiko digital, tetapi di sisi lain anak juga perlu tetap terhubung untuk kebutuhan belajar.

Melihat situasi ini, fitur akun anak dari WhatsApp bisa menjadi jalan tengah. Anak tetap dapat mengakses komunikasi penting terkait sekolah sekaligus berinteraksi dengan teman sebaya, namun tetap dalam pengawasan orangtua.

Meski begitu, orangtua tidak bisa lepas tangan. Penggunaan aplikasi tetap perlu dibatasi dan didampingi. Orangtua perlu menentukan waktu penggunaan gadget, memastikan grup yang diikuti anak relevan, serta mengajarkan etika komunikasi digital.

Satu hal yang juga penting dipahami, WhatsApp tetap menggunakan sistem end-to-end encryption. Artinya, isi pesan tetap privat dan tidak dapat dibaca oleh siapa pun, termasuk orangtua. Dalam hal ini, peran orangtua adalah mengatur akses dan membimbing anak, bukan mengawasi isi percakapan.

Fitur akun anak di WhatsApp adalah respons terhadap realitas digital saat ini. Fitur ini memberi akses komunikasi yang lebih aman sekaligus membantu orangtua mengontrol interaksi anak.

Namun, risiko tetap ada. Oleh karena itu, pendampingan orangtua tetap menjadi kunci utama. Pada akhirnya, pertanyaannya bukan hanya soal boleh atau tidak, tetapi apakah anak sudah siap, dan apakah orangtua siap mendampingi? [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE