digitalMamaID – Mama, jangan tinggalkan anak di bawah usia lima tahun (balita) sendirian! Kemampuan balita masih terbatas. Prefrontal cortex pada otak balita juga belum berkembang sempurna. Orangtua sebaiknya tidak meninggalkan anaknya sendirian. Apapun alasannya.
Dua peristiwa yang menimpa balita belakangan ini benar-benar menjadi pelajaran pahit bagi kita semua. Seorang anak usia 3 tahun yang terjatuh dari balkon hotel di Samarinda, Kalimantan Timur, dan balita yang sempat ditinggalkan orangtuanya sekitar satu jam di dalam tenda saat summit di Gunung Prau, Jawa tengah.
Kedua kejadian ini membawa kedukaan serta keprihatinan mendalam. Tanpa mengurangi empati kepada orangtua balita, ada penjelasan dari sudut pandang psikologis mengenai peristiwa tersebut.
Menurut psikolog dari Universitas Jenderal Achmad Yani (UNJANI) Miryam Ariadne Sigarlaki, peristiwa ini perlu dipahami bukan sekadar kelalaian orangtua saja. Kejadian ini akibat adanya miskonsepsi mengenai kemampuan balita. Dia sebelumnya mengungkapkan rasa duka mendalam atas kejadian ini.
“Dari perspektif psikologi, hal ini perlu dilihat sebagai kekeliruan memahami kemampuan anak balita. Saya tidak ingin langsung menghakimi karena kemungkinan para orangtua memiliki alasan tersendiri saat memutuskan untuk meninggalkan anaknya walau hanya sementara,” tuturnya saat dihubungi Senin, 19 Oktober 2026.
Banyak orangtua yang kerap beranggapan, anaknya sudah pintar, nurut saat diminta diam (anteng), atau bahkan mahir mengambilkan barang. Padahal, terdapat perbedaan besar antara anak yang sedang belajar mandiri dengan anak yang sudah siap diberi tanggung jawab menjaga keselamatan dirinya sendiri.
Keterbatasan kemampuan pada balita
Secara psikologis, anak usia balita sebenarnya belum memiliki tiga kemampuan penting. Kemampuan pertama yang belum dimiliki balita adalah pemahaman sebab dan akibat.
Anak belum bisa mengaitkan tindakan memanjat dengan risiko terjatuh dan terluka. Miryam menjelaskan, latihan yang kita berikan sehari-hari hanyalah sebatas membentuk kebiasaan, bukan berarti anak sudah benar-benar memahami dampaknya.
Kemampuan kedua adalah pengendalian diri yang masih sangat lemah. Di usia balita, dorongan rasa ingin tahu anak jauh lebih besar daripada rasa takutnya, sehingga mereka akan mencoba banyak hal baru tanpa memikirkan risikonya.
Kemampuan ketiga yang belum berkembang adalah penilaian terhadap bahaya. Anak-anak bukan berarti nakal saat mendekati hal yang membahayakan. Otak mereka memang belum siap dititipi tanggung jawab untuk menjaga dirinya sendiri.
“Oleh karena itu, keputusan meninggalkan balita sendirian di hotel lantai lima maupun di dalam tenda pendakian merupakan keputusan yang melebihi kapasitas perkembangan usia anak,” ujar Miryam yang juga Co-founder Jatidiri.app tersebut.
Mengenai batasan usia, secara psikologis tidak ada acuan saklek karena tingkat kematangan setiap anak berbeda. Namun, anak di bawah usia lima tahun sudah sangat jelas tidak boleh ditinggal sendirian sama sekali. Walau hanya sebentar, terlebih di tempat baru atau lingkungan yang tidak aman.
Untuk anak usia sekolah dasar awal, yaitu enam sampai delapan tahun, mereka baru boleh ditinggal dalam durasi sangat singkat antara lima hingga sepuluh menit di dalam rumah yang sudah aman. Sementara orangtua berada di area dekat seperti pergi ke warung depan rumah yang masih terlihat.
Sementara anak usia dua belas tahun ke atas baru mulai bisa ditinggal selama satu hingga dua jam dengan syarat sudah memahami aturan keselamatan dan tahu cara menghubungi nomor darurat. Orangtua juga harus mengingat bahwa menitipkan balita kepada kakaknya yang masih berusia sekolah dasar sangat tidak disarankan.
Saat situasi mendesak
Bagaimana jika orangtua menghadapi situasi darurat (kepepet) untuk meninggalkan anaknya sendirian? Berarti orangtua harus sangat jeli dalam memberikan pembekalan ketika anak hendak ditinggalkan keluar rumah.
“Kemampuan membuat keputusan yang matang itu baru berkembang optimal di usia 12 tahun ke atas, seiring matangnya prefrontal korteks atau otak di bagian depan yang berfungsi untuk logika dan menimbang risiko. Jadi, bukan soal anak sudah berani atau mandiri tapi apakah otaknya sudah siapa atau belum untuk menilai bahaya,” ujar Miryam.
Situasi saat berada di rumah kerap kali menghadirkan dilema bagi seorang ibu, misalnya ketika sedang memasak tiba-tiba tabung gas habis sementara tidak ada orang dewasa lain di rumah. Namun, kata Miryam, prinsip utama yang harus dipegang adalah jangan pernah meninggalkan balita sendiri tanpa pengawasan orang dewasa.
Jika menghadapi kondisi terdesak, opsi paling aman yang bisa diambil adalah membawa serta anak meskipun terasa merepotkan. Opsi lainnya adalah menitipkan anak kepada orang dewasa terpercaya seperti tetangga depan rumah atau saudara. Cara lainnya, bisa meminta bantuan suami untuk memantau anak melalui panggilan video di ponsel saat ibu harus keluar sebentar.
Jika lokasi warung sangat dekat dan rumah masih dalam jangkauan pandangan mata, ibu harus memastikan kondisi rumah aman total sebelum melangkah keluar, seperti mengunci pintu kamar mandi, jendela, dan balkon, mencabut colokan listrik, menjauhkan benda tajam, serta memastikan anak berada di posisi aman seperti di dalam boks bayi atau kursi makan khusus anak. Sebelum pergi sebentar, wajib memberitahukan kepada anak mengenai keberangkatan tersebut agar terekam oleh otaknya sebagai bagian dari proses belajar.
Mengubah pola pikir
“Langkah paling bijak yang perlu dilakukan orangtua saat menghadapi dilema ini adalah mengubah pola pikir pengasuhan. Orangtua sebaiknya tidak lagi berpikir tentang bagaimana caranya agar anak bisa ditinggal, melainkan berpikir tentang bagaimana caranya agar tetap bisa mengawasi anak sambil menyelesaikan keperluan harian,” kata Miryam.
Ada tiga sikap penting yang perlu dibangun oleh orangtua. Pertama, selalu mengutamakan antisipasi daripada sekadar bereaksi dengan cara menyiapkan rencana cadangan sebelum kondisi darurat terjadi, seperti mencatat nomor kontak warung yang menyediakan layanan antar atau membangun hubungan baik dengan tetangga.
Kedua, tidak mengandalkan teknologi seperti kamera pemantau atau pemantau bayi sebagai pengasuh, karena teknologi hanyalah alat bantu dan pengawasan terbaik harus tetap berada dalam jangkauan pandangan mata serta jangkauan tangan. Ketiga, menghilangkan rasa tidak enak hati untuk meminta bantuan kepada orang lain. Ini karena masih banyak orangtua, terutama ibu, yang sungkan untuk meminta tolong orang lain karena merasa akan merepotkan.
Miryam menegaskan, rasa bersalah karena merepotkan orang lain selama lima menit masih jauh lebih ringan daripada rasa bersalah seumur hidup jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada anak. “Dalam pengasuhan balita, memang butuh support system. Tidak apa-apa minta tolong tetangga lima menit. Itu jauh lebih baik daripada mengambil resiko meninggalkan anak sendiri,” tuturnya. [*]






