Mama, bayangkan jika suatu hari secangkir kopi yang biasanya menemani pagi atau menjadi jeda di tengah padatnya kesibukan tiba-tiba menjadi barang mewah. Bukan karena tren, melainkan karena biji kopinya semakin sulit dipanen.
Ini bukan angan-angan belaka. Krisis iklim perlahan mengancam tanaman kopi di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Cuaca yang semakin sulit diprediksi membuat panen menurun, kualitas kopi berubah, dan harga terus merangkak naik. Jika dibiarkan, bukan tidak mungkin kopi akan semakin sulit dinikmati.
Bagi banyak mama, kopi adalah “bahan bakar” untuk menghadapi hari. Secangkir kopi membantu mengembalikan fokus di tengah kesibukan mengurus anak, bekerja, atau menyelesaikan pekerjaan rumah. Menariknya, tubuh perempuan memproses kafein sedikit berbeda dengan laki-laki. Kafein dan hormon estrogen sama-sama dimetabolisme oleh enzim hati. Pada fase tertentu dalam siklus menstruasi, efek kafein pada sebagian perempuan dapat bertahan lebih lama. Di otak, kafein juga bekerja dengan menghambat sinyal rasa lelah. Tubuh jadi terasa lebih waspada dan suasana hati menjadi lebih baik.

Inilah yang dirasakan Charlene Carissa atau yang akrab dipanggil Icha. Mama dari sepasang anak kembar ini mengatakan, kopi bukan cuma soal tegukan kafein saja.
“Bagi saya, minum kopi jadi semacam take a break di tengah aktivitas harian. Saya bisa mengisi ulang energi sosial sekaligus merapikan rencana-rencana harian agar semua pekerjaan selesai lebih efisien,” katanya dalam pertemuan minum kopi di suatu siang di coffeeshop Jalan Pajajaran, Bandung.
Ada yang hilang jika satu hari tak bertemu kopi. ia membatasi minum kopi 1-2 gelas kopi panas yang bold seperti hot magic atau double shot cappucino extra hot.
“Jika pasokan kopi hilang atau sulit didapat, sepertinya kenyamanan saya akan terganggu karena sudah menjadi kebiasaan. Dan jika salah satu penyebabnya akibat krisis iklim, kita sebagai ibu seharusnya bisa berbuat sesuatu meski mulai dari rumah untuk tidak memperparahnya,” tuturnya.
Permintaan membeludak, harga melejit
Dampak krisis iklim terhadap kopi diamini oleh Adi Taroepatjeka, orang Indonesia pertama yang menjadi Q Grader Instructor dan juga penguji cita rasa kopi selama lebih dari 25. Mulai dari penurunan produktivitas hingga penurunan kualitas kopinya.
Dalam 4-5 tahun terakhir, produktivitas kopi di Indonesia turun drastis hingga 30 persen per tahun. Penyebabnya cuaca ekstrem yang tidak menentu. Hal ini membingungkan tanaman kopi dalam menentukan masa berbunga dan berbuah.
“Penurunan suplai tadi memicu lonjakan harga kopi. Kondisi ini memicu kriminalitas berupa pencurian buah hingga pohon kopi di kebun. Demi menghindari pencurian, petani terpaksa memetik kopi yang belum matang. Pencampuran buah matang dan mentah menurunkan kualitas rasa secara signifikan. Advokasi petik merah (matang) yang diperjuangkan sejak 2008/2009 kini hancur dalam tiga tahun terakhir,” tuturnya.
Adi yang juga Direktur 5758 Coffeelab menjelaskan, perubahan suhu dan pola hujan akibat krisis iklim membuat produktivitas kopi terus menurun. Jika sebelumnya 5 kilogram cherry kopi dapat menghasilkan 1 kilogram green bean, kini dibutuhkan hingga 8 kilogram cherry untuk menghasilkan jumlah yang sama. Kondisi ini membuat biaya produksi meningkat dan berdampak pada harga kopi di pasaran.
“Hal ini memicu kenaikan harga. Meski permintaannya membeludak, tapi harganya tidak bisa murah karena harga di hulunya sudah tinggi,” tuturnya.
Untuk beradaptasi, petani mulai beralih ke varietas kopi yang lebih tahan terhadap perubahan iklim. Di Jawa Barat, misalnya, pola cuaca yang kini lebih menyerupai Sumatera membuat varietas Gayo 1 dan Gayo 2 lebih cocok ditanam dibandingkan Sigararutang dan Kartika yang sebelumnya mendominasi.
“Meskipun Belanda mulai menanam kopi di Jawa Barat sejak tahun 1696, industri komersialnya sempat mati total akibat penyakit karat daun pada tahun 1800-an, lalu digantikan oleh teh dan kina. Kopi Jawa Barat baru diseriusi kembali secara komersial sekitar tahun 2000-an, awalnya sebagai penyangga (buffer) produksi kopi Sumatera,” kata Adi.
Cerita dari Wanoja
Di Kamojang, Kabupaten Bandung, dampak krisis iklim terasa nyata. Pemilik Wanoja Coffee 1954, Satrea Amimbi, mengatakan hasil panen cherry kopi turun drastis. Jika sekitar lima tahun lalu produksi mencapai sekitar 2.000 ton, kini hanya tersisa sekitar 800 ton.

Menurutnya, perubahan pola hujan dalam tiga hingga lima tahun terakhir membuat musim berbunga dan panen menjadi tidak menentu. Curah hujan yang tinggi meningkatkan kelembapan sehingga tanaman lebih rentan terserang jamur dan penyakit, sementara sebagian varietas Arabika seperti Sigararutang dan Kartika mulai sulit beradaptasi. “Saat ini, varietas yang dinilai lebih tahan adalah Lini S 795, Andungsari hibrid, dan Yellow Katura,” ujarnya saat ditemui di Kamojang Coffee, Rabu, 29 Juli 2026.
Dampaknya tidak hanya dirasakan petani, tetapi juga konsumen. Satrea mengatakan harga cherry kopi naik dari sekitar Rp16.000–Rp18.000 menjadi Rp21.500 per kilogram. Namun kenaikan harga tersebut tidak otomatis meningkatkan pendapatan petani karena hasil panen mereka justru berkurang drastis.
“Di tingkat konsumen, harga es kopi susu di perkotaan juga naik dari Rp18.000 menjadi Rp20.000–Rp25.000,” katanya.
Efisiensi semua lini
Meski harga kopi dunia terus berfluktuasi mengikuti hasil panen negara-negara produsen seperti Brasil, kopi specialty dari Kamojang masih diminati pasar ekspor, termasuk Arab Saudi. Namun, tingginya biaya produksi membuat usaha perkebunan kopi semakin menantang. Satrea mengatakan, perubahan iklim dan meningkatnya serangan penyakit tanaman membuat masa balik modal yang semula sekitar lima tahun kini bisa mundur menjadi tujuh tahun.
Menurutnya, seluruh rantai industri kopi juga perlu beradaptasi agar kenaikan harga bahan baku tidak sepenuhnya dibebankan kepada konsumen.
“Untuk menyiasati tingginya harga cherry basah (yang dibeli seharga Rp21.500 hingga Rp23.000 per kg), tak hanya produsen (petani dan prosesor) kopi yang harus melakukan efisiensi. Tapi setiap lini di industri ini harus mau saling menahan agar harga produk akhir tidak terlalu mahal bagi konsumen (tetap menjaga pasar),” ujarnya.
Satrea menambahkan, tantangan krisis iklim juga dihadapi petani kopi di berbagai negara. Bedanya, negara seperti Vietnam lebih maju dalam menerapkan teknologi dan strategi mitigasi. Di Indonesia, hasil penelitian sering kali belum diterapkan secara berkelanjutan di tingkat petani.
Sebagai petani kopi, ia berharap ada dukungan nyata dari pemerintah berupa teknologi dan penelitian yang akurat. “Serta regulasi dan arahan yang jelas dari pemerintah seperti yang diterapkan di Vietnam, guna membantu petani menghadapi ketidakpastian iklim,” kata Satrea.
Konsumen perlu memahami
Di tengah ancaman krisis iklim, pelaku industri kopi terus mencari cara untuk bertahan. Bagi pelaku usaha yang memiliki ilmu pengetahuan, mereka mulai memetakan (plotting) varietas tunggal untuk menghasilkan cita rasa yang lebih spesifik dan konsisten. Adaptasi juga dilakukan melalui inovasi pascapanen, mulai dari teknik fermentasi seperti anaerobic, anoxic, hingga penggunaan ragi (yeast). Di sisi lain, maraknya racikan es kopi susu turut membantu menjaga stabilitas harga karena kopi dengan kualitas yang lebih beragam masih dapat dimanfaatkan.

Namun, menurut Adi, upaya beradaptasi tidak hanya menjadi tanggung jawab petani dan pelaku industri kopi. Konsumen juga perlu memahami bahwa perubahan iklim membuat biaya produksi terus meningkat, sementara hasil panen justru menurun. Karena itu, harga secangkir kopi berkualitas kemungkinan akan semakin mahal di masa depan.
“Terakhir untuk konsumen. Turunkan ekspektasinya. Jika ingin kopi dengan cita rasa berkualitas, ya, harganya mungkin akan mahal,” ujarnya.
Di balik setiap tegukan kopi, ada petani yang berjuang menghadapi cuaca yang kian tak menentu. Krisis iklim ternyata tidak selalu datang dalam bentuk bencana besar. Ia hadir mengancam secangkir kopi yang selama ini menjaga kewarasan Mama menjalani hari. [*]







One thought on “Ketika Krisis Iklim Mengancam Secangkir Kopi”
Pingback: Warga Bandung Piknik Tanpa Plastik, dari Bawa Wadah hingga Belajar Mengolah Sampah - digitalMamaID