digitalMamaID — Krisis iklim sering dipandang sebagai persoalan para ilmuwan atau aktivis lingkungan. Padahal, ia hadir di meja makan, dapur, hingga ruang keluarga. Harga pangan yang naik, cuaca yang semakin sulit diprediksi, anak yang lebih rentan sakit, hingga tumpukan sampah rumah tangga menjadi bagian dari kenyataan yang dihadapi banyak keluarga. Di tengah situasi ini, perempuan menjadi salah satu kelompok yang paling rentan.
Merespons situasi itu, digitalMamaID merangkul 10 ibu kreator mengikuti Co-Creation Day: Creators for Climate dalam rangkaian Mama Mingle Fest Vol. 3, Sabtu, 25 Juli 2026 di NuArt Sculpture Park, Bandung. Mereka tidak dilatih menjadi ahli iklim, melainkan menjadi penerjemah isu lingkungan melalui konten yang dekat dengan kehidupan para ibu.
Sesi ini merupakan kelanjutan dari kelas literasi iklim Creators for Climate yang digelar secara daring sepekan sebelumnya bersama Puty Puar, seorang content creator dan ilustrator. Sepuluh kreator konten peserta Creators for Climate adalah Syarifa Tika Irmasari, Riana Puji Rahayu, Rahma Maryama, Finna Yudharisman, Oktarina Prasetyowati, Leli Azizah, Irvina Anissa Meisari, Aretha Johanna Lim, Eka Kurnia Sari, dan Susanti Ainul Fitri.

Keterlibatan content creator dalam menyuarakan krisis iklim sangat penting. Mereka dinilai dekat dengan audiensnya, memahami keresahan mereka, dan mampu berkomunikasi menggunakan bahasa yang mudah dipahami.
Aksi kecil berdampak besar
Fasilitator Co-Creation Day, science communicator Hera Diani menuturkan, workshop ini penting untuk menghubungkan antara isu krisis iklim dengan para ibu dan perempuan. Konten yang diproduksi kreator atau influencer ini menjadi jembatannya.
Para pemengaruh yang hadir falam workshop ini berasal dari berbagai bidang (niche), seperti pengasuhan anak (parenting), food review, keseharian (daily), hingga otomotif. Menurut Hera, keberagaman ini dinilai sangat baik untuk memperluas jangkauan kampanye dan advokasi lingkungan.
“Pada akhirnya, isu ini tidak hanya terbatas pada kalangan ilmuwan atau aktivis lingkungan saja. Sebelum mengikuti pelatihan dan lokakarya (workshop), peserta mungkin merasa isu iklim tidak sesuai dengan niche mereka. Namun, setelah pelatihan, mereka menyadari bahwa mereka sebenarnya telah melakukan tindakan ramah lingkungan dan isu tersebut sangat dekat dengan kehidupan mereka serta audiens,” tuturnya.
Dari lokakarya ini, Hera berharap audiens dari pemengaruh (terutama perempuan) menjadi lebih sadar dan tergerak untuk melakukan tindakan nyata. Langkah yang diharapkan tidak harus besar. Tindakan kecil seperti memilah sampah, peduli terhadap masa depan anak, hingga berani menuntut pihak berwenang atau pemerintah untuk menyediakan infrastruktur dan regulasi yang mendukung pelestarian bumi.
Irvine Jasta, selaku konten kreator perempuan dan juga ibu asal Bandung melihat isu lingkungan sebagai hal yang bisa dilakukan sedari sekarang dan dimulai dari diri sendiri. “Isu krisis iklim sangat dekat dengan kehidupan saya. Contohnya saya mulai menggunakan pembalut kain sejak 7 tahun lalu dan berusaha menularkan kebiasaan ini ke anak perempuan saya,” katanya.
Dalam pengelolaan rumah pun ia sudah memilah sampah organik dan plastik, serta membiasakan diri membawa wadah sendiri dan tumbler saat bepergian. Ia juga berusaha menghabiskan makanan agar tidak bersisa.
Menerjemahkan isu besar
Dari lokakarya ini, Irvine mendapat banyak data, fakta, serta wawasan baru. Ia juga berjejaring dengan ibu-ibu konten kreator lain yang memiliki niche dan audiens berbeda-beda, mulai dari remaja hingga ibu-ibu.
“Terinspirasi dari lokakarya tersebut, saya berencana menyisipkan isu lingkungan ke dalam konten harian (daily life) dengan menggunakan teknik bercerita (storytelling). Pendekatan ini dipilih agar audiens tidak merasa digurui atau dihakimi, mengingat saya sendiri merasa masih menggunakan motor dan berbelanja daring,” tuturnya.
Rupanya, ada motivasi besar Irvine untuk lebih peduli pada isu lingkungan. Ia ingin bumi yang akan menjadi masa depan anak-anaknya tetap terjaga kelestariannya.

Meski kadang muncul keraguan tentang efektivitas usahanya, dia berpandangan menyebarkan isu krisis iklim lebih luas lagi merupakan usaha positif. Indikatornya tak perlu yang hebat-hebat, cukup dari interaksi audiens yang tertarik dan minta tautan saat menonton konten tentang gerakan hijau ini, ia sudah senang.
Dalam lokakarya tersebut, peserta tidak dilatih untuk jadi ahli iklim. Melainkan jadi penerjemah yang dipercaya audiens untuk menemukan titik temu antara isu iklim, niaga, dan keresahan audiens.
Peserta juga dibiasakan untuk membangun cerita yang personal, sederhana, dan tidak menghakimi. Isi konten pun tidak harus hal yang besar, tetapi mulai dari kebiasaan sehari-hari di rumah, misalnya.
Krisis iklim dan keuangan keluarga
Kreator lain yang juga hadir dalam lokakarya adalah Rahma Maryama yang juga merupakan seorang ibu dan Certified Financial Planner. Meski terlihat jauh dari isu krisis iklim, ia baru menyadari bahwa hal tersebut justru terasa dekat dalam keseharian seorang ibu.
“Hal kecil yang para mama rasakan, bisa jadi akibat dari krisis iklim. Misalnya anak jadi mudah batuk pilek karena virus, atau sayuran jadi sulit didapat,” katanya saat menjadi pembicara dalam talkshow di Mama Mingle Fest Vol 3 bertema Bumi Terdesak Saatnya Ibu Bertindak.
Sebagai seorang perencana keuangan, Rahma berpandangan krisis iklim dekat juga dengan dompet rumah tangga. Perilaku konsumtif yang boros bahan baku dan kemasan, misalnya, jika dihemat dan digunakan lebih bijaksana bisa membuat upaya positif dalam menahan perburukan iklim ekstrim.
“Perempuan dinilai kerap berlaku impulsif dalam belanja. Padahal perilaku ini bisa jadi hanya menghasilkan sampah karena sebetulnya kita tidak membutuhkannya. Dengan lebih sadar saat hendak membelanjakan uang, kita jadi berperan positif untuk dua hal, keselamatan lingkungan dan keselamatan neraca keuangan keluarga,” ujar Rahma.
Dia juga memberikan tips agar setiap orang bisa belanja dengan kesadaran atau mindful. Pertama, setiap belanja harus sudah ada anggarannya. Kedua, bisa membedakan mana keinginan dan kebutuhan.
“Ketiga, tunggu 72 jam sebelum dibeli. Diingat lagi kalau belanja online, itu bisa jadi sampahnya banyak dari kemasan hingga bubble wrap. Belum bicara transportasinya yang berdampak pada kenaikan emisi karbon. Jadi salah satu tips lainnya lebih bijak dalam belanja adalah membeli di UMKM lokal atau toko di sekitar kita,” tuturnya.
Perlu insentif
Hanya saja sebagian masyarakat masih menganggap melakukan upaya gerakan hijau ini berbiaya mahal. Makanan yang lebih sehat, selalu lebih mahal. Untuk membawa botol minum sehari-hari, juga mahal. Membeli produk dalam ukuran besar, kerap terasa mahal dibanding sachetan yang jelas menghasilkan banyak sampah.
Menanggapi hal ini Co-founder dan CEO Jaga Bumi Nusantara Nur Afif Aulia berpandangan gerakan hijau ramah lingkungan harus dijadikan kultur terlebih dahulu. Karena sesuai teori pasar, jika demand meningkat, maka otomatis harga supply akan turun.
“Impian saya, pemerintah juga berperan meregulasi sama seperti halnya logo halal. Sekarang sudah waktunya melabeli produk dengan logo hijau. Saat ini yang membuat produk ramah lingkungan terasa mahal karena biaya produksinya yang tinggi, sehingga wajar jika kemasan kecil kelihatan lebih murah,” kata Afif dalam kegiatan talkshow yang sama.
Langkah lainnya, juga bisa digunakan pemerintah dengan pemberian insentif bagi pelaku upaya ramah lingkungan. Bayangkan jika pelaku UMKM atau produsen yang sudah menggunakan logo hijau bisa mendapat insentif pajak, rasanya mereka akan lebih terpacu menciptakan produk lain yang lebih ramah lingkungan lagi.
Krisis iklim bisa dipandang erat berkaitan dengan keputusan yang dibuat ibu di rumah. Keputusan itu bisa berdampak ke kehidupan sehari-hari, sehingga kesadaran dari domestik penting untuk dimulai.
“Sesederhana memikirkan bagaimana mencari sumber makanan untuk keluarga, bagaimana memilih sumber makanan lokal dan tidak tercemar oleh mikroplastik, hingga cara mama mengelola sampah di rumah,” tuturnya.
Perubahan pola pikir
Maka dari itu, kata Afif, berbicara soal kesadaran masalah iklim sudah bukan narasi besar. Terlebih di era sosial media, informasi mudah didapat termasuk upaya penyebarluasan tindakan untuk menahan krisis iklim agar tidak bertambah parah.
Oleh karena itu, penting bagi kaum ibu untuk terus menambah pengetahuannya. Dan pastikan memperolehnya dari sumber yang terpercaya.

Afif juga menilai, tugas bagi masyarakat Indonesia masih besar karena masih ada paradigma yang perlu diganti. Salah satunya terkait pengolahan sampah di mana masih ada mindset masyarakat yang menyerahkan begitu saja sampah mereka kepada petugas kebersihan yang kemudian berakhir tak terpilah di landfill seperti TPA sampah.
Jika pola pikirnya belum diperbaiki, tugas untuk mengadvokasi bisa terasa jalan di tempat. Masyarakat perlu diarahkan untuk memilah sendiri sampah dan mendaur ulangnya.
Dalam hal ini, edukasi kepada kaum ibu bisa lebih efektif karena mereka memiliki daya untuk mengupayakannya bersama dengan seluruh anggota keluarga.
Terlalu murah
Persoalan pengolahan sampah di Indonesia khususnya di Bandung memang jadi tidak sederhana. Co-founder Plastavfall Solution Bea Bethari menyimpulkan jika waste management di Indonesia terlalu murah.
Plastavfall Solution memiliki gagasan untuk mendaur ulang sampah setelah dipilah, termasuk komposting dari sampah organik. Tujuannya, untuk menyeleksi sejauh mungkin sebelum dibuang ke TPA sampah.
Dikatakan Bea, sampah Kota Bandung sendiri sebagian besar berupa sampah organik baik dari sektor pertanian dan juga domestik sisa makanan, sekitar 60%. Kemudian sampah yang bisa didaur ulang sekitar 30%, dan sisanya adalah residu yang sudah tidak bisa diolah sehingga masuk ke TPA.
“Saat ini di Kota Bandung diwajibkan memiliki petugas pemilah sampah (gaslah) di setiap RW. Mereka bertugas memilah sampah untuk didaur ulang dan juga membuat kompos dari sampah organik,” kata Bea yang juga seorang Pendamping Kawasan Bebas Sampah (PKBS) di salah satu kelurahan di Bandung.
Dari pengamatannya, keengganan masyarakat mengolah sampahnya sendiri karena ada rantai pengolahan yang terputus. Bisa jadi dari rumah sudah dipilah, tapi oleh petugas kebersihan digabungkan dengan sampah jenis lain.
Petugas kebersihan pun tak punya banyak pilihan karena SDM dan perlengkapan yang terbatas. Belum lagi jika angkutan truk sampah tersendat baik karena kenaikan harga BBM atau kemacetan lalu lintas, membuat sampah banyak menumpuk di TPS.
“Menurut aku waste management kita tuh terlalu murah. Sedangkan tarif gerbong sampah pakai ukuran meteran jadi sebaiknya aturan ini harus cepat-cepat direvisi. Dan masyarakat juga butuh transparansi dalam sistem waste management ini,” ujar Bea.
Para ibu memang tidak harus menjadi ilmuwan iklim. Namun ketika mereka mulai bercerita, mengubah kebiasaan, dan mengajak keluarganya mengambil langkah-langkah kecil, mereka sedang menerjemahkan krisis iklim menjadi aksi yang bisa dimulai dari rumah. [*]






