Festival Aksi Adaptasi Perubahan Iklim Dorong Kolaborasi Multipihak untuk Ketahanan Iklim di Kabupaten Bandung

Share

digitalMamaID — Fenomena perubahan iklim yang diindikasikan dengan meningkatnya frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem, memberikan dampak negatif bagi masyarakat Jawa Barat, termasuk Kabupaten Bandung. Oleh karena itu, upaya memperkuat ketahanan masyarakat dan anak terhadap dampak perubahan iklim terus didorong melalui pendekatan kolaboratif dan berbasis komunitas.

Berangkat dari sana, sejak Maret 2023 Save the Children Indonesia bekerja sama dengan LPBI-NU Jawa Barat dan Yayasan IDEP Selaras Alam melaksanakan Program Adaptasi Perubahan Iklim Berbasis Masyarakat (Community-Based Climate Change Adaptation/CBCCA). Festival Aksi Adaptasi Perubahan Iklim bertajuk: “Ngajaga Alam Ngabentang Kahirupan (Menjaga Alam untuk Melestarikan Kehidupan)” menandai berakhirnya masa program yang mengemas hasil pembelajaran bersama.

Chief Operating Officer Save the Children Indonesia Agni Kristia Pratama mengatakan, festival ini bukan sekadar ajang perayaan, tetapi juga menjadi ruang bagi anak-anak untuk menyampaikan pengalaman, ide, dan aspirasi mereka terkait dampak perubahan iklim. “Anak-anak adalah kelompok yang paling terdampak oleh krisis iklim. Melalui festival ini, suara, kepentingan, dan peran anak diperkuat agar menjadi bagian penting dalam perencanaan pembangunan dan kebijakan daerah. Festival ini sekaligus menjadi momen refleksi dan meneguhkan kembali komitmen agar praktik baik yang sudah berjalan dapat diperluas dan berkelanjutan,” ujar Agni Kamis, 5 Februari 2026.

Festival ini menyediakan ruang bagi penyebarluasan pembelajaran, praktik baik, serta menyerukan kembali pentingnya kolaborasi multipihak dalam menghadapi dampak perubahan iklim dan bencana. Sejak diimplementasikan, Program CBCCA telah berhasil menjangkau delapan desa, dua kelurahan, dan sepuluh sekolah di tiga kecamatan, yaitu Rancaekek, Ibun, dan Baleendah, dengan fokus pada peningkatan kapasitas adaptasi iklim yang inklusif dan ramah anak.

Beragam kegiatan yang dilakukan dalam festival ini antara lain pameran hasil program, cerita sukses komunitas dan sekolah, pemanfaatan sistem peringatan dini, diskusi kebijakan publik, hingga Ruang Suara Anak yang memberi kesempatan pada anak-anak untuk menyampaikan pandangan dan rekomendasi terkait krisis iklim secara langsung pada pemangku kebijakan.

Pameran hasil program dari berbagai sekolah di Kabupaten Bandung

Ruang suara anak

Dalam rangkaian festival, Save the Children juga mengadakan talkshow bersama tiga pelajar mulai dari SD, SMP hingga SMA. Mereka bertiga diberi ruang untuk bersuara tentang pengalaman masing-masing terkait isu perubahan iklim yang di alami. Salah satunya adalah Azalia, pelajar SMA di Kabupaten Bandung.

Azalia berbagi pengalaman mengenai sekolahnya yang sering tergenang banjir. “Ketika hujan turun saat kegiatan belajar mengajar, guru-guru terhambat dalam mengajar. Bukan karena mereka tidak ingin mengajar tetapi, dalam jangka waktu sekitar 30 menit, air akan mulai masuk ke kelas sehingga ruang kelas tergenang,” ungkapnya.

Talkshow bersama tiga perwakilan anak membicarakan isu perubahan iklim

Menurutnya, tidak sedikit anak yang justru senang bermain di banjir karena berpikir banjir itu menyenangkan. Namun, bermain banjir tidak selalu aman. Pernah ada satu kejadian dimana seorang anak jatuh dan harus dijahit hingga delapan jahitan, padahal sudah diperingatkan sejak awal agar tidak bermain banjir.

Setelah adanya program adaptasi perubahan iklim, Azalia dan teman-teman di sekolahnya lebih sadar dan siap siaga menghadapi segala bencana. Bekerja sama dengan dengan Save the Children, LPBI NU, IDEP, SIM Indonesia, Siaga Warga Rancaekek, Desa Rancaekek Wetan, Desa Rancaekek Kencana, Desa Bojongloa, BPBB, Bapak TNI, dan juga Kelompok Wanita Tani, Azalia mendapat ilmu-ilmu baru.

“Di mana Bapak dan Ibu di sana memberikan kami informasi dan juga ilmu-ilmu baru tentang bagaimana cara mengidentifikasi banjir, bagaimana cara menanam, dan banyak hal lainnya. Dan selain itu di sekolah saya sekarang ada sumur resapan, bekerja sama dengan desa untuk memperbarui drainase agar air bisa berjalan dengan lancar saat hujan,” ungkapnya.

Selain itu Azalia juga membentuk komunitas Sahabat Tanaman dan Operasi Pengurangan Sampah STOPS, yang berdiri sejak 7 Desember 2024. Saat ini, komunitasnya sudah beranggotakan sekitar 130 siswa yang fokus untuk menjaga dan merawat lingkungan. STOPS sendiri terbagi menjadi tiga tim.

Yang pertama ada tim penghijauan di mana mereka merawat dan juga menanam tanaman di sekitar sekolah dan juga di greenhouse. Lalu ada dari tim sampah, bertugas memilih sampah organik dan non-organik, lalu bisa dialihkan menjadi suatu barang bernilai ekonomis atau misalkan dijadikan pupuk organik. Lalu yang terakhir ada dari juru kesehatan atau jurmatik, juru pemantau jentik.

“Karena belakangan ini di sekolah saya juga banyak yang terjangkit DBD, maka tugas dari Duta Jurmatik itu untuk memperhatikan di sekitar sekolah apakah ada genangan air yang berpotensi melahirkan jentik. Jika ada, mereka akan melakukan tindakan seperti membuang air tersebut atau dimanfaatkan menjadi hal lain,” katanya.

Pemerintah: pentingnya adaptasi dan pencegahan dini

Festival ini juga menjadi bentuk apresiasi pada pemerintah Kabupaten Bandung, desa dan kelurahan, serta sekolah dan komunitas dampingan atas dukungan dan kolaborasi dalam pelaksanaan Program CBCCA. Berbagai kegiatan yang dilakukan dalam festival ini diharapkan dapat mendorong integrasi aksi adaptasi perubahan iklim ke dalam perencanaan pembangunan daerah dan desa, sejalan dengan kebijakan nasional penguatan ketahanan iklim dan pengurangan risiko bencana.

Direktur Adaptasi Perubahan Iklim, Kementerian Lingkungan Hidup Franky Zamzani mengatakan bahwa perubahan iklim telah menjadi tantangan pembangunan yang nyata dan semakin dirasakan di tingkat lokal. Oleh karena itu, penguatan adaptasi perubahan iklim harus dilakukan secara sistematis, inklusif, dan berbasis pada kebutuhan masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak.

“Program Adaptasi Perubahan Iklim Berbasis Masyarakat yang dilaksanakan di Kabupaten Bandung menunjukkan praktik baik bagaimana kebijakan nasional adaptasi perubahan iklim dapat diimplementasikan secara konkret melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, masyarakat, sekolah, dan organisasi masyarakat sipil,” ungkap Franky.

Hal serupa juga disampaikan oleh Bupati Kabupaten Bandung Dadang Supriatna melalui pesan tertulis yang dibacakan oleh Kepala Bapperida Kabupaten Bandung H. Marlan yang menekankan pentingnya membangun ketahanan terhadap perubahan iklim dari tingkat masyarakat, dengan melibatkan anak-anak sebagai bagian penting dalam adaptasi dan pencegahan risiko bencana.

“Perubahan iklim berdampak langsung pada kehidupan masyarakat Kabupaten Bandung, terutama anak-anak dan kelompok rentan. Meningkatnya risiko banjir, longsor, dan cuaca ekstrem menuntut kita untuk tidak hanya merespons saat bencana terjadi, tetapi juga memperkuat upaya adaptasi dan pencegahan sejak dini. Kami mengapresiasi pelaksanaan Program Adaptasi Perubahan Iklim Berbasis Masyarakat yang telah memperkuat kolaborasi antara pemerintah daerah, desa, sekolah, dan komunitas. Program ini membuktikan bahwa ketahanan iklim dapat dibangun dari bawah, yaitu masyarakat, dengan melibatkan anak-anak sebagai bagian penting dari solusi,” ungkapnya. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE