digitalMamaID — Di tengah kelelahan menghadapi algoritma yang terasa selektif dan tak transparan inilah, Upscrolled menawarkan angin segar. Platform baru yang diklaim hadir sebagai ruang digital tanpa shadowban. Sebuah harapan bagi mereka yang suaranya kerap “ditenggelamkan”.
Pernah merasa unggahan kita “tidak sampai” ke siapa pun, padahal biasanya banyak dilihat orang? Dalam beberapa tahun terakhir, banyak pengguna media sosial mengeluhkan hal semacam ini. Konten tiba-tiba sepi, jangkauan turun drastis, atau bahkan tidak muncul di pencarian. Fenomena ini sering dikaitkan dengan istilah shadowban, yaitu kondisi ketika sebuah platform membatasi distribusi konten tanpa pemberitahuan jelas.
Isu shadowban kembali ramai terutama saat banyak orang mengunggah konten sensitif, misalnya yang masih ramai hingga saat ini, yaitu genosida di Palestina oleh Israel, konflik kemanusiaan, atau isu politik yang sedang hangat. Banyak pengguna merasa konten mereka “tenggelam”, sementara konten lain yang dianggap lebih aman justru lebih terlihat.
Di tengah rasa lelah terhadap algoritma dan moderasi yang tidak transparan inilah, muncul nama baru yang mulai sering dibicarakan: UpScrolled.
Apa itu Upscrolled?
Belakangan ini, UpScrolled mulai sering muncul di berbagai reels. Banyak orang menyebutnya sebagai alternatif TikTok dan Instagram, terutama setelah berbagai isu soal pembatasan konten, perubahan kebijakan platform, sampai kekhawatiran soal sensor. UpScrolled hadir sebagai angin segar.
UpScrolled adalah platform media sosial yang menggabungkan format video pendek, foto, dan teks dalam satu aplikasi. Aplikasi ini diluncurkan pada Juni 2025 oleh perusahaan Recursive Methods Pty Ltd dari Australia.
Secara tampilan, interface UpScrolled terasa cukup familiar. Bila dilihat di aplikasinya, interface-nya seperti gabungan X (Twitter) dan Instagram, sehingga ini cukup memudahkan saat kita menggunakannya.
UpScrolled didirikan oleh Issam Hijazi, seorang keturunan Palestina–Yordania–Australia yang sebelumnya bekerja di perusahaan teknologi besar seperti IBM dan Oracle.
Alasan Hijazi membuat UpScrolled cukup personal juga berangkat dari keresahannya. Ia mengaku frustrasi dengan cara platform arus utama memperlakukan konten dengan isu-isu sensitif, terutama genosida yang terjadi di Palestina oleh Israel.
Menurutnya, banyak konten yang membahas konflik atau solidaritas kemanusiaan sering “tenggelam” atau dibatasi tanpa transparansi dan ia tak bisa berdiam lagi apalagi dengan latar belakang ilmu yang ia punya, teknologi.
“Saya tak ingin berkompetisi dengan perusahaan besar, saya hanya ingin membuat ruang di mana semua orang bisa bersuara dengan sama,” jelasnya dalam unggahan di Instagram resmi UpScrolled, 29 Januari 2026.
Dari situ, Hijazi ingin membangun ruang digital yang menurutnya lebih adil: tanpa shadowban, tanpa algoritma yang “memilihkan” konten tertentu, dan memberikan kesempatan yang sama bagi semua pengguna.
Laporan Digital Watch Observatory yang menyebut bahwa UpScrolled mengalami lonjakan pengguna dari sekitar 150.000 pengguna di awal Januari 2026 menjadi lebih dari 1 juta dalam beberapa minggu, lalu berkembang hingga lebih dari 2,5 juta pengguna global setelah perubahan dinamika TikTok akibat restrukturisasi kepemilikan di Amerika Serikat. Dari hal ini, UpScrolled tampak menjadi harapan baru bagi banyak orang.
Fitur menarik

Dilansir dari situs resminya, terdapat prinsip-prinsip Upscrolled yang menjadi hal menarik bagi pengguna, di antaranya:
1. Pendekatan moderasi dan sensor
UpScrolled menegaskan bahwa mereka tidak melakukan shadowban. Bila konten melanggar pedoman komunitasnya (misalnya ujaran kebencian, kekerasan, atau konten ilegal), konten tersebut hanya akan dibatasi secara transparan sesuai aturan.
2. Kebijakan moderasi & batasan yang jelas
Meskipun menolak shadowban, UpScrolled tetap membatasi konten yang melanggar hukum atau standar etika umum seperti ujaran kebencian, eksploitasi seksual, ancaman kekerasan, serta pelanggaran hak cipta demi menjaga ruang yang aman untuk semua pengguna.
3. Penggunaan algoritma dan feed
UpScrolled membagi tampilan kontennya menjadi dua:
- Following Feed: Menampilkan konten secara kronologis, tanpa manipulasi.
- Discover Feed : Menampilkan konten berdasarkan interaksi nyata (likes, komentar, reshares), dengan tambahan unsur acak ringan agar konten baru tetap punya kesempatan muncul.
Saat ini UpScrolled sedang mengembangkan fitur rekomendasi opsional artificial intelligence/machine learning yang akan selalu opt-in dan dirancang transparan.
4. Privasi dan data pengguna
UpScrolled menekankan bahwa data pengguna tidak dibagikan kepada pihak ketiga untuk tujuan pemasaran, profil, atau keuntungan komersial. Data hanya akan diungkapkan bila diminta secara sah berdasarkan hukum Australia misalnya melalui surat perintah pengadilan.
5. Aplikasi mobile saat ini
Hingga sekarang, UpScrolled tersedia hanya melalui aplikasi mobile di Apple App Store dan Google Play Store. Versi web dan desktop masih dalam roadmap pengembangan.
6. Infrastruktur teknologi
Server utama UpScrolled berada di Dublin, Irlandia, dengan dukungan jaringan distribusi konten global (CDN) untuk performa cepat. Meskipun saat ini masih bergantung pada beberapa penyedia cloud besar untuk kebutuhan awal, mereka berencana mengurangi ketergantungan ini seiring waktu.
7. Semua bisa menggunakan UpScrolled
Meskipun sebagian pengguna awalnya berasal dari komunitas aktivis yang merasa dibatasi oleh algoritma media sosial lain, dalam FAQ resmi, UpScrolled menegaskan bahwa aplikasi mereka bukan hanya untuk aktivis. Semua bisa menggunakannya.
Banyak platform mainstream hari ini mengklaim memberi ruang kebebasan berpendapat bagi pengguna. Namun publik juga sering melihat contoh bagaimana konten tertentu bisa “hilang” atau tidak mendapatkan distribusi yang adil, karena diduga terkena shadowban atau kebijakan internal yang tidak transparan.
Apakah masyarakat mau menambah aplikasi lagi?
UpScrolled hadir ketika masyarakat sudah memiliki banyak aplikasi media sosial di handphone mereka: WhatsApp, Instagram, TikTok, X, YouTube, dan lain-lain. Bertahun-tahun platform-platform arus utama ini bertahan karena media sosial alternatif sangat sulit menandingi mereka.
Namun, dengan realita yang banyak pengguna media sosial hadapi saat ini, shadowban misalnya yang dilakukan dengan tidak transparan, kehadiran UpScrolled sangat mungkin menjadi jawaban atas hal itu.
UpScrolled menunjukkan, di era digital ini ruang baru media sosial masih bisa tumbuh, terutama ketika banyak pengguna merasa kebutuhan mereka tidak lagi terpenuhi oleh platform besar. [*]






